“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
Mobil melaju pelan meninggalkan kawasan rumah Wulan. Sementara di luar jendela, langit siang terlihat mendung. Awan abu-abu menggantung rendah seolah ikut menekan suasana hati Rania yang sejak tadi terasa sesak.
Perempuan itu duduk diam di kursi belakang sambil menyandarkan kepala ke kaca mobil. Tubuhnya benar-benar terasa lelah hari ini.
Bukan hanya karena penyakitnya yang semakin parah, tapi juga karena hatinya terus dipaksa menerima kenyataan yang tidak ingin ia lihat.
Tentang Harsa, tentang perhatian lelaki itu pada Wulan dan Gavin. Tntang senyum hangat yang tak lagi menjadi miliknya.
Rania memejamkan mata perlahan. emakin mencoba tenang, dadanya justru terasa makin berat. Napasnya mulai sesak dan tenggorokannya gatal.
Lalu beberapa detik kemudian,
“Uhuk! Uhuk!” Rania langsung terbatuk keras sambil membekap mulutnya.
Pak Darto refleks melihat ke kaca spion. “Nona Rania?”
Batuk Rania semakin menjadi. Tubuhnya sampai sedikit membungkuk menahan sesak dan rasa hangat itu kembali muncul.
Darah segar mengalir dari hidungnya. Tetes demi tetes jatuh ke punggung tangannya.
Deg!
Pak Darto langsung panik.
“Ya Allah, Non!” pria itu buru-buru menepikan mobil ke sisi jalan. “Hidung Nona berdarah?!”
Rania cepat mengambil tisu dari tasnya lalu menutupi hidungnya buru-buru. “Saya nggak apa-apa, Pak…”
“Nggak apa-apa gimana? Darahnya banyak begitu!” Suara Pak Darto terdengar benar-benar khawatir sekarang.
Pria paruh baya itu bahkan sampai turun dari kursi kemudi lalu membuka pintu belakang mobil dengan wajah panik.
“Non pusing? Sesak? Kita ke rumah sakit aja ya?”
Rania langsung menggeleng cepat. “Nggak usah.”
“Tapi wajah Nona pucat banget.”
“Saya cuma kecapekan.” Jawaban itu terdengar lemah bahkan di telinga Rania sendiri.
Pak Darto menatapnya tidak yakin. Karena ini bukan pertama kalinya. Beberapa minggu terakhir, ia mulai sering melihat Rania terlihat lemas. Kadang wanita itu tiba-tiba diam di mobil sambil memejamkan mata. Kadang wajahnya pucat sekali seperti orang sakit.
Dan sekarang mimisan begini…
Mana mungkin hanya karena lelah biasa?
“Nggak enak badan jangan dipaksa terus, Non,” ucap Pak Darto pelan. “Saya takut Nona sakit serius.”
Kalimat itu membuat jantung Rania berdegup pelan.
Sakit serius? Kalau saja Pak Darto tahu…
Rania tersenyum kecil sambil menghapus darah di hidungnya perlahan. “Bapak lebay deh.”
“Nggak lebay, Non.” Pak Darto terlihat sungguh-sungguh khawatir. “Kalau kenapa-kenapa gimana?”
Rania memalingkan wajah ke arah jendela. Matanya mulai panas lagi. Kadang perhatian sederhana dari orang lain justru terasa lebih hangat dibanding perhatian suaminya sendiri.
“Kita langsung ke rumah sakit aja ya, Non?” bujuk Pak Darto lagi. “Biar saya yang jemput Ibu di terminal.”
“Nggak usah, Pak.”
“Tapi—”
“Saya sudah bilang, saya nggak apa-apa,” potong Rania cepat. Nada suaranya sedikit meninggi tanpa sadar.
Pak Darto langsung diam.
Rania mengembuskan napas pelan lalu menunduk. “Maaf…” Ia terlalu sensitif akhir-akhir ini.
Tubuhnya sakit, hatinya juga.
“Saya cuma capek,” lanjutnya lirih. “Nanti juga sembuh sendiri.”
Pak Darto menatap majikannya lama. Perempuan itu tersenyum, tapi matanya terlihat sangat lelah.
Dan entah kenapa, hati kecil Pak Darto merasa ada sesuatu yang disembunyikan Rania.
“Nona yakin nggak mau periksa?” tanyanya hati-hati sekali lagi.
Rania mengangguk kecil. “Iya.”
Padahal sebenarnya ia baru saja dari rumah sakit. Baru saja mendengar sisa hidupnya mungkin tinggal beberapa bulan.
Namun anehnya, Rania justru lebih takut orang lain tahu dirinya sakit daripada menghadapi penyakit itu sendiri.
Ia tidak mau dikasihani. Tidak mau dianggap beban. Terutama oleh Harsa. Membayangkan suaminya menatapnya dengan rasa iba saja sudah membuat dada Rania terasa sakit.
Pak Darto akhirnya menghela napas panjang.
“Kalau begitu kita jemput Ibu dulu ya, Non.”
“Iya, Pak.”
Pria itu kembali masuk ke kursi kemudi lalu menjalankan mobil perlahan. Sepanjang perjalanan setelah itu, Pak Darto terus beberapa kali melihat ke kaca spion. Mengawasi Rania diam-diam.
Dan semakin dilihat, semakin terlihat jelas kalau perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Rania sendiri hanya menatap kosong ke luar jendela.
Tisu di tangannya masih dipenuhi bercak darah merah. Tangannya gemetar kecil. Tubuhnya perlahan benar-benar mulai menyerah.
Tapi yang paling menyakitkan, orang yang paling ingin ia jadikan tempat bersandar justru sedang sibuk menjaga orang lain.
Rania memejamkan mata perlahan. Satu tetes air mata jatuh tanpa suara. Ia buru-buru menghapusnya sebelum Pak Darto melihat.
“Aku harus segera memberitahu tuan Harsa,” batin Pak Darto.
******
Terminal siang itu ramai dan bising.
Suara klakson kendaraan bercampur dengan teriakan para kernet memenuhi udara yang panas dan pengap. Rania turun perlahan dari mobil sambil memegangi tasnya erat. Tubuhnya masih terasa lemas setelah mimisan tadi di perjalanan.
Namun begitu matanya menemukan sosok ibu mertuanya berdiri di dekat tiang terminal dengan wajah kesal, Rania langsung mencoba tersenyum sopan.
“Ibu…”
Belum sempat mendekat, suara Ratna sudah lebih dulu terdengar tajam.
“Kamu kemana saja?!” bentak Ratna.
Rania langsung diam.
“Astaga, kenapa lama sekali?!” Ratna mengomel sambil menghentakkan tasnya kesal. “Ibu sampai mau jamuran nunggu di sini kayak orang bodoh!”
“Ibu, maaf tadi—”
“Sengaja bikin ibu berdiri hampir satu jam, hmm?!” potongnya ketus.
Rania menunduk cepat. Padahal mereka tidak terlambat selama itu. Namun Ratna memang selalu seperti ini padanya. Sedikit salah saja, semuanya jadi besar.
“Maaf, Bu,” ucap Rania pelan. “Tadi aku sempat ke rumah Gavin dulu.”
Mendengar nama itu, ekspresi Ratna langsung berubah.
“Oh, Gavin?” nada suaranya mendadak melunak.
Rania mengangguk kecil.
“Dia demam sedikit.”
“Aduh kasihan cucu ganteng nenek.” Ratna langsung terlihat khawatir. “Wulan pasti kerepotan sendirian.”
Rania hanya diam. Dadanya terasa semakin sesak.
“Untung Wulan perempuan cekatan,” lanjut Ratna tanpa sadar menusuk hati menantunya sendiri. “Belum lama nikah udah cepat kasih keturunan buat keluarga.”
Kalimat itu sukses membuat senyum tipis di wajah Rania perlahan memudar. Tangannya tanpa sadar mengepal kecil.
“Tuh kan, untung masih ada peninggalan Bima.” Ratna menghela napas panjang. “Coba kalau nggak ada Gavin. Kamu juga sampai sekarang belum ngasih cucu ke Ibu!”
Rania cepat menunduk agar ekspresi matanya tidak terlihat.
Lagi-lagi soal anak. Pasti setelah ini dirinya dibandingkan dengan Wulan.
Padahal Ratna tidak tahu, bahwa Rania mungkin bahkan tidak akan pernah punya kesempatan menjadi seorang ibu. Dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada semua sindiran ibu mertuanya.
“Ya sudah, ayo pulang,” ucap Ratna akhirnya sambil menyerahkan tasnya begitu saja pada Rania. “Ibu capek.”
Rania menerimanya pelan meski tubuhnya sendiri terasa lelah.
“Iya, Bu.”
Ratna sudah lebih dulu berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi. Sementara Rania berdiri beberapa detik di belakangnya. Menarik napas panjang sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
Seperti biasa, ia tetap memilih diam. Tetap tersenyum sopan. Dan tetap menjadi menantu baik meski hatinya perlahan hancur sedikit demi sedikit.
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣
gilaaa