Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Belajar Biologi
Setelah mandi dan makan malam dengan cepat, Ge akhirnya masuk ke kamarnya.
Kamarnya tidak besar. Hanya ada kasur tipis di lantai, meja belajar yang lebih sering dipakai buat naruh helm, dan kipas angin yang bunyinya seperti helikopter mau lepas landas.
TRRRRKKK… TRRRRKKK…
Ge menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Dia mengambil ponselnya dari saku celana. Beberapa detik kemudian dia memasang headset.
Layar ponsel menyala. Ge melirik ke arah pintu kamar dulu. Sepi... Dia lalu membuka video yang jelas bukan video pelajaran. Lebih tepatnya video bokep.
“Bismillah…” gumamnya pelan.
Video itu mulai diputar. Beberapa detik kemudian, Ge langsung menyeringai. “Hehe… penelitian biologi malam hari.”
Dia bersandar ke dinding sambil menonton dengan serius seperti mahasiswa yang sedang belajar. Namun tidak lama kemudian, pikirannya tiba-tiba melayang.
Bayangan Tantri muncul di kepalanya. Terutama saat gadis itu tiba-tiba mencium bibirnya. Ge langsung berhenti menonton sebentar.
“Anjir…” Dia menyentuh bibirnya sendiri. Masih terasa aneh. “Tu cewek emang gila,” gumamnya.
Dia mengingat lagi kata-kata Tantri.
"Gue punya tubuh gue…"
Ge langsung menggeleng keras. “Jangan aneh-aneh lu, Ge.” Dia menghela napas. “Lu emang badung… tapi jangan sampai jadi bajingan.”
Dia menggaruk kepala. “Lagipula kalau gue nerima… ribet urusannya.”
Ge memang sering bikin masalah. Bolos sekolah, mabuk, dan balapan motor. Namun ada satu hal yang dia tahu jelas. Ada batas yang tidak boleh dilewati. Meski orang tuanya rentenir, Marni dan Tarno selalu mengajarkan Ge untuk menghargai perempuan.
“Resikonya gede banget,” gumamnya.
Setelah beberapa detik berpikir, Ge kembali menatap ponselnya. “Yaudah… lanjut penelitian.”
Video bokep kembali diputar. Ge fokus lagi menonton. Dia mulai larut. Kepalanya mengangguk-angguk kecil. Satu tangannya mulai mengelus sang junior yang terbungkus celana pendek. Namun tiba-tiba pintu terbuka.
KREEET!
Ge langsung menoleh panik.
“GE!” Itu suara Marni.
Karena kaget, Ge refleks berdiri. Namun tangannya tanpa sengaja menyenggol kabel headset.
PLAK!
Headset tercabut dari ponsel. Dalam sepersekian detik, suara dari video langsung keluar lewat speaker ponsel dengan volume penuh.
“AHH… AA… LEBIH CEPAT…!”
Kamar langsung hening. Ge membeku. Marni juga membeku di pintu. Beberapa detik tidak ada yang bergerak. Lalu Marni menatap ponsel di kasur.
Suara dari video masih terdengar.
“AAHHH…!”
Marni perlahan menoleh ke Ge. Matanya menyipit.
“Ge…”
Ge langsung panik. “Mak… ini bukan yang Mamak pikirin!”
Marni menunjuk ponsel. “ITU APA?!”
Ge buru-buru mengambil ponsel dan mematikan videonya. Keringat langsung muncul di dahinya. “Itu… itu…”
“OPO IKI?!”
“Pelajaran biologi!”
Marni melotot. “BIOLOGI PALAMU!”
Ge langsung lari keluar kamar. “MAK TUNGGU!”
Namun Marni sudah mengambil sandal. “ANAK SETAN!”
Ge langsung sprint melewati ruang tamu. “MAK! INI PENDIDIKAN!”
“PENDIDIKAN APANYA ITU DESAH-DESAH?!”
Ge berlari ke arah kamar sebelah. “PENELITIAN REMAJA!”
BRAK!
Dia masuk kamar kosong dan mengunci pintu.
Marni menggedor dari luar. “GE! BUKA!”
Ge bersandar di pintu sambil terengah. “Nggak mau!”
“BUKA!”
“Nggak!”
Marni menggedor lagi.
“ANAK NAKAL!”
Ge menjawab dari dalam. “Mak! Itu normal!”
“APA YANG NORMAL?!”
“Anak remaja belajar!”
Marni hampir meledak. “BELAJAR DARI MANA ITU?!”
Ge berpikir cepat. “Internet!”
Marni terdiam dua detik. Lalu berteriak lebih keras. “MAKANYA JANGAN INTERNET TERUS!”
Ge menutup wajahnya sambil menahan tawa. “Mak…”
“APA?!”
“Maaf.”
Marni mendengus dari luar pintu. “Besok HP lu gue sita!”
Ge langsung panik. “JANGAN!”
“KENAPA?!”
“Itu buat belajar!”
Marni langsung menjawab. “BELAJAR APA LAGI?!”
Ge berpikir cepat lagi. “Matematika!”
Marni hening beberapa detik.
Lalu berkata datar. “Kalau buka lagi video aneh-aneh…”
Ge menelan ludah. “Kenapa, Mak?”
“HP lu gue jual.”
Ge langsung kaget. “MAK JANGAN!”
“Terus duitnya gue pakai buat bayar listrik!”
Ge terdiam. Lalu berkata pelan. “Yaudah Mak… jangan dijual…”
Marni menghela napas panjang. “Tidur sana!”
Langkah kakinya menjauh. Ge akhirnya bersandar di pintu lagi.
Dia menghembuskan napas panjang. “Nyaris mati gue.”
Beberapa detik kemudian Ge kembali ke kamarnya. Dia mengambil ponselnya. Layar masih menyala. Ge menatapnya lama. Lalu menggeleng.
“Udah deh… cukup. Untung belum ngac*eng," gumam Ge. Dia meletakkan ponsel di meja. Lalu menjatuhkan diri ke kasur. Namun sebelum tidur, pikirannya kembali ke Tantri.
Ciuman itu. Tawaran gila itu. Ge menatap langit-langit kamar.
“Cewek itu emang masalah. Dan dia udah ngerampas ciuman pertama gue. Yang bisa gue ingat dari ciuman itu cuman bau air liurnya. Hiii..." gumamnya.