Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 4 - Tak Sejalan
Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari yang Aluna bayangkan. Waktu seolah dipaksa berlari tanpa memberinya kesempatan untuk berhenti dan berpikir.
Persiapan pernikahan dimulai dengan begitu cepat, seakan seluruh dunia ikut bergerak hanya untuk menyempurnakan satu acara yang bahkan tidak benar-benar Aluna inginkan.
Dari pemilihan gedung, dekorasi, hingga daftar tamu, semuanya ditentukan dengan standar terbaik. Nama keluarga Myles dan Harold terlalu besar untuk membiarkan satu detail pun terlewat.
Aluna kini berdiri di depan cermin ruang fitting dengan gaun putih yang menjuntai indah di tubuhnya, kain mahal membentuk siluet anggun yang begitu memukau.
"Nona Aluna, anda sangat cantik," puji sang desainer. Ini bahkan bukan pujian pertama yang ia lontarkan. Sudah berulang kali beliau mengatakan tentang kecantikan Aluna tersebut. Bahkan menyebutnya seperti putri yang turun dari negeri dongeng.
Namun di balik pantulan cermin itu, Aluna justru menatap dirinya sendiri dengan perasaan yang entah. Senyum itu tetap ada, lembut dan sempurna, tetapi matanya nampak kosong, tak ada sedikitpun kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan.
Di sisi lain Davion berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan setelan jas yang dibuat khusus untuknya. Ia tampak sempurna seperti biasa, wajah tampan dengan wibawa yang tak terbantahkan, pria yang menjadi impian banyak wanita.
Namun sejak awal hingga akhir sesi fitting, tidak sekali pun Davion benar-benar menatap Aluna dengan ketertarikan.
Tatapannya hanya sekilas, bahkan cenderung acuh. Karena baginya semua ini hanyalah formalitas yang harus ia lalui.
Momen pemilihan cincin pun tak jauh berbeda. Di tengah kilauan berlian yang memantul di bawah cahaya lampu butik perhiasan, Aluna berdiri di samping Davion dengan sikap anggun yang tak pernah goyah.
Para staf dengan antusias menawarkan berbagai pilihan cincin terbaik, menyebutkan desain eksklusif dan makna simbolis di baliknya. Tapi bagi Aluna, cincin itu terasa seperti lingkaran yang akan mengikatnya pada sesuatu yang tidak pasti.
“Yang ini saja,” ucap Davion singkat tanpa banyak pertimbangan, menunjuk salah satu cincin yang terlihat paling tak mencolok di matanya.
Aluna menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya lembut, tanpa penolakan sedikit pun.
Sikap itu kembali membuat Davion mengerutkan kening. Padahal sejak tadi Aluna memandang cincin yang lain, tapi tetap saja dia tetap patuh pada pilihannya.
Tidak ada bantahan, tidak ada keinginan dan bahkan tidak ada pendapat. Dan entah kenapa hal itu justru membuatnya semakin tidak nyaman. Dia benci Aluna yang patuh, dia benci betapa Aluna sangat sempurna tanpa ada kekurangan sedikitpun.
Kabar perjodohan mereka pun dengan cepat menyebar ke publik. Media sosial dipenuhi dengan pujian, artikel, dan spekulasi tentang dua keluarga besar yang akhirnya bersatu.
Nama Davion Harold dan Aluna Myles menjadi perbincangan hangat. Banyak yang menyebut mereka sebagai pasangan sempurna, setara dalam status, seimbang dalam penampilan, dan dianggap sebagai definisi nyata dari pernikahan impian.
Foto-foto Aluna yang selalu terlihat anggun dan lembut tersebar luas, membuat banyak orang iri pada kehidupan yang tampak begitu sempurna.
Gaun mahal, perhiasan berkilau, senyum yang tak pernah luntur, semuanya membentuk citra yang begitu indah di mata dunia.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa di balik semua itu, Aluna sedang berjalan di atas perasaan yang rapuh. Bahwa setiap senyum yang ia tampilkan adalah hasil dari kebiasaan, bukan kebahagiaan. Bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah bentuk kepatuhan, bukan pilihannya sendiri.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya hanya tersisa satu minggu sebelum hari pernikahan.
Pagi ini Aluna dipanggil kedua orang tuanya untuk menghadap di ruang keluarga. Mama Sarah membawa satu set perhiasan yang kemudian ia serahkan pada putrinya.
"Sayang, di pesta pernikahan nanti kamu harus menggunakan perhiasan ini. Sejak dulu Mama selalu bermimpi Jesselyn menggunakan perhiasan ini dihari pernikahannya," ucap mama Sarah dengan sendu, bercampur bahagia karena keinginannya akan dikabulkan oleh sang anak angkat.
Aluna menatap satu set perhiasan itu dengan tatapan nanar, selalu saja tentang Jesselyn.
"Iya, Ma. Aku akan melakukan apapun untuk membuat Mama bahagia," jawab Aluna tulus.
Mama Sarah segera memeluk Aluna dengan lembut, papa Pieter yang melihat pemandangan itupun ikut tersenyum juga. Bersyukur semuanya berjalan dengan baik seperti rencana mereka sejak awal.
"Aluna, nanti setelah menikah kamu tidak perlu menunda momongan. Mama justru ingin kamu secepatnya hamil," kata mama Sarah lagi.
Jantung Aluna makin berdenyut nyeri saat mendengar hal itu. Mana mungkin dia bisa hamil disaat Davion bahkan tak pernah benar-benar menerimanya. Bahkan Davion telah merencanakan perpisahan mereka.
Tapi... apakah Aluna memiliki keberanian untuk menolaknya? Tentu saja jawabannya adalah tidak.
"Pernikahan kalian akan semakin sempurna jika kamu secepatnya hamil, iya kan?" tanya mama Sarah dan akhirnya Aluna hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Benar apa kata mamamu, Sayang. Jika kamu hamil, Aston Harold dan Ivana juga pasti akan semakin menyayangi mu," sahut papa Pieter.
Namun bukannya merasa senang, Aluna justru sangat ingin menangis sekarang. Hatinya terasa sangat hampa, seolah di dunia ini dia hanya sendirian.
Sarah kemudian memeluk Aluna sekali lagi, "Mama sangat bangga padamu Sayang, sangat," ucapnya lirih.
Air mata Aluna akhirnya jatuh juga, namun dengan cepat segera dia hapus. Karena kata mama Sarah, Jesselyn bahkan tak pernah menangis.
"Iya Ma, Pa. Aku akan melakukan yang terbaik," jawab Aluna.
Tak berselang lama kemudian Aluna menerima kabar dari pelayan bahwa ia diminta untuk bersiap. Asisten pribadi Davion datang menjemputnya. Tidak ada penjelasan apapun, hanya permintaan singkat yang tidak memberinya ruang untuk menolak.
Perjalanan menuju Harold Kingdom terasa sangat panjang, ini adalah kali pertama Aluna akan menginjakkan kaki di tempat itu. Gedung perusahaan menjulang megah, mencerminkan kekuasaan dan pengaruh keluarga Harold yang tak terbantahkan.
Saat Aluna melangkah masuk, banyak pasang mata yang langsung memperhatikannya dengan kagum. Calon nyonya muda Harold, begitulah bisikan yang terdengar di sekitarnya.
Langkah Aluna akhirnya berhenti di depan ruang kerja Davion. Pintu besar itu terbuka setelah diketuk pelan, memperlihatkan sosok pria yang duduk di balik meja dengan aura dingin yang sama seperti biasanya.
Davion bahkan tidak menyambutnya dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat pandangannya sekilas, lalu melemparkan sebuah map ke atas meja di hadapan Aluna.
Map itu bergeser pelan, berhenti tepat di depan tangannya. "Apa ini?" tanya Aluna.
“Bacalah,” ucap Davion singkat, selalu bicara tanpa minat.
Aluna menatap map itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambilnya. Jarinya yang halus membuka perlahan, dan saat matanya mulai membaca isi di dalamnya, napasnya seketika tertahan.
Surat kontrak pernikahan.
Isinya tertulis dengan jelas bahwa pernikahan ini bukan tentang hubungan, bukan tentang perasaan, melainkan kesepakatan.
Batasan, kewajiban, dan bahkan perpisahan sudah tertulis rapi di dalamnya, seolah semuanya telah direncanakan sejak awal tanpa pernah melibatkan hati.
Jari Aluna sedikit gemetar saat memegang kertas itu, namun ia berusaha keras untuk tetap tenang. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Davion.
Tatapan mereka bertemu seperti garis lurus. Pikiran dan hati Aluna kini benar-benar bimbang, karena keinginan kedua orang tuanya tak sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh Davion.
Sementara Aluna hanyalah bidak yang tak punya kuasa.
"Baik, dimana aku harus tanda tangan?" tanya Aluna akhirnya.
woooy Maesaroh kamu tuh udah ga ada hak atas Aluna
aluna bukan bagian dari Myles lagi
aluna sekarang bagian dari dari horas,,eh salah
kamu udah menjual Aluna ko enak banget masih pengen Aluna patuh sama kamu terus,,gemes daah aaah
ini si sabun DAV juga kenapa seh kamu ga selidiki Aluna