Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part II
Esok harinya, pagi masih sangat muda, kabut tipis masih menyelimuti jalanan desa saat Dika sudah bangun. Dia tidak menunggu Ibu memanggil seperti biasanya. Dia bangun sendiri, mandi, dan sudah rapi berpakaian seragam saat Ibu baru keluar dari kamar tidur utama.
"Lho? Dika? Kok sudah siap semua? Matahari saja belum terbit penuh lho, Le," tanya Ibu heran sambil mengucek matanya yang masih berat. Biasanya Ibu harus berteriak berkali-kali baru Dika mau bangun.
Dika tersenyum sambil mengikat tali sepatunya. "Iya, Bu. Hari ini aku mau berangkat lebih pagi. Mau lari pagi sebentar sekalian jalan ke sekolah. Badan rasanya segar banget habis kemarin main hujan-hujanan."
Ibu menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum bahagia, lalu berjalan mendekat merapikan kerah baju anaknya. "Anak Ibu ini berubah banget ya semalam saja. Jadi rajin, jadi sopan, jadi semangat. Ibu jadi makin yakin, nanti kamu pasti jadi orang hebat. Sarapan dulu sana, Ibu sudah siapkan nasi uduk kesukaanmu."
Di meja makan, Ayah dan Rina juga sudah ada. Ayah sedang membaca koran seperti biasa, sementara Rina sedang meminum susunya sambil menguap.
"Pagi, Yah, Rin," sapa Dika ceria.
"Pagi, Nak. Semangat sekali hari ini," jawab Ayah sambil meletakkan koran sejenak. "Kemarin kan sudah menang, hari ini masih mau latihan keras? Jangan sampai kelelahan sampai sakit, ingat?"
"Siap, Yah! Justru karena kemarin menang, hari ini harus latihan lebih giat biar kemenangannya bisa diulang terus. Yang kemarin itu cuma kebetulan kalau aku malas-malasan, kalau aku rajin, hasilnya bakal jauh lebih bagus lagi," jawab Dika mantap sambil mengunyah sarapannya dengan cepat namun sopan.
Rina yang duduk di seberang tiba-tiba berhenti minum susu, menatap kakaknya dengan pandangan curiga namun lucu.
"Kakak... Kakak yakin nggak diculik alien? Kakak yang aku kenal biasanya kalau pagi itu ngomel-ngomel kalau disuruh bangun, kalau makan lama, kalau disuruh belajar ngelamun. Sekarang kok jadi sempurna begini? Kakak asli kan?" tanya Rina polos, membuat Ayah dan Ibu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol namun lucu itu.
Dika tertawa sambil mencubit pipi adiknya pelan. "Ini Kakak asli kok, Rin. Cuma... Kakak baru sadar saja, kalau jadi rajin itu rasanya enak banget. Badan sehat, hati senang, Ayah Ibu juga senang kan? Nanti kalau Rina besar, ikut Kakak saja jadi rajin ya."
"Ah, dasar Kakak gombal!" seru Rina sambil menjulurkan lidah, tapi matanya bersinar senang.
Setelah sarapan dan berpamitan, Dika melangkah keluar rumah dengan tas punggung yang berisi buku pelajaran, tapi juga menyimpan niat besar di dalam dadanya. Di ujung jalan, Rio sudah menunggu seperti biasa. Rio tampak masih mengantuk, berjalan sempoyongan sambil menguap lebar-lebar.
"Ya ampun... Dik... kamu beneran bangun pagi-pagi buta cuma buat lari-lari ini? Kaki aku masih pegal-pegal semua lho karena kemarin jatuh-jatuh di lumpur," keluh Rio begitu Dika mendekat, lalu langsung merangkul bahu sahabatnya itu sambil berjalan beriringan.
Dika tertawa sambil mempercepat langkahnya menjadi lari pelan, memaksa Rio ikut berlari.
"Pegal itu bukti kalau otot kita bekerja, Rio. Kalau diam saja, nanti ototnya mengeras dan jadi sakit beneran. Lari pelan saja, buat pemanasan. Denger, Rio... mulai hari ini, jadwal kita berubah. Nggak ada lagi pulang sekolah terus main-main atau nongkrong nggak jelas. Kita latihan sepulang sekolah, kita latihan fisik sore hari, dan kita belajar taktik sama-sama. Kamu mau ikut aku sampai kapan pun, kan?"
Rio mengerutkan kening, berusaha mengimbangi langkah Dika sambil mengatur napas. Wajahnya yang bulat mulai memerah sedikit.
"Ya ampun... kamu beneran mau jadi tentara apa jadi pemain bola sih? Tapi... ya sudahlah. Aku janji kan kemarin? Ke mana pun kamu pergi, aku ikut. Asal jangan sampai aku jadi kurus kering begini caranya," jawab Rio sambil tertawa, meski napasnya mulai agak terengah. "Eh, tapi Dik... kamu aneh juga lho. Kemarin-kemarin kalau ngomong soal masa depan itu sekadar mimpi-mimpi konyol. Tapi sekarang... setiap kali kamu ngomong, aku rasanya percaya aja. Ada wibawa kamu yang beda banget."
Dika menoleh menatap Rio, senyumnya melebar.
"Karena kali ini aku serius, Rio. Aku serius banget. Dan denger satu hal lagi... selain bola, aku lagi nyusun rencana lain. Rencana biar nanti kita nggak cuma jago main bola, tapi juga punya bekal hidup yang kuat. Aku baru ingat sesuatu... sesuatu yang harganya sekarang murah banget, tapi nanti bakal jadi mahal luar biasa. Kalau kita nabung dikit-dikit sekarang, beli barang itu, simpan... nanti pas kita besar, kita bisa jadi orang yang cukup, bahkan lebih dari cukup."
Rio melongo bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Barang apa? Emangnya ada barang begitu? Emas? Tanah? Atau... apa?"
Dika menggeleng pelan, matanya berbinar misterius. "Bukan barang fisik, Rio. Sesuatu yang ada di dunia maya. Namanya Bitcoin. Mata uang digital. Kamu denger nggak?"
Rio mengerutkan kening makin dalam, wajahnya penuh kebingungan total. "Bit... apa? Koin bit? Emangnya ada koin begituan? Di dunia maya kok ada uang? Itu uangnya bentuknya gambar apa gimana? Kamu jangan sampai kena tipu ya Dik, denger-denger banyak penipuan baru-baru ini. Ayahku sering bilang, kalau nggak ada bentuk fisiknya, itu nggak ada harganya."
Dika tertawa lepas melihat reaksi polos sahabatnya itu. Wajar saja Rio tidak percaya, tahun 2010 memang tahun di mana konsep uang digital terdengar seperti dongeng atau penipuan bagi kebanyakan orang. Bahkan orang dewasa pun belum paham. Tapi Dika tahu kebenarannya.
"Aku nggak kena tipu, percaya sama aku. Nanti kamu bakal lihat sendiri. Intinya, mulai sekarang kalau kamu ada uang sisa jajan, jangan dihabisin buat beli jajan atau kartu telpon aja. Sisain sedikit, kasih ke aku atau kita kumpulin bareng. Nanti pas waktunya pas, aku bakal belikan barang itu buat kita berdua. Dijamin, sepuluh tahun lagi, kita bakal ketawa bahagia lihat hasilnya," janji Dika dengan penuh keyakinan.
Rio mengangkat kedua tangannya tanda menyerah sambil tersenyum pasrah. "Ya sudah, ya sudah! Aku percaya sama kamu. Kamu itu kalau sudah ngomong begini, pasti ada alasannya. Aku ikut saja. Uang jajanku aku sisain lima ratus sehari ya? Cuma itu yang bisa aku kasih. Kalau kurang, ya kamu cari sendiri."
"Lima ratus cukup, Rio. Yang penting konsisten. Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit," jawab Dika senang. Dia tidak membutuhkan uang besar sekarang. Yang penting masuk di awal, selisih nilainya nanti akan sangat jauh.
Sesampainya di sekolah, suasana di gerbang terasa berbeda dari biasanya. Banyak siswa yang menoleh dan berbisik-bisik saat melihat Dika dan Rio lewat. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada yang berbisik "Itu dia lho, Dika yang kemarin cetak dua gol pas hujan", ada juga anak perempuan yang berbisik sambil tertawa malu-malu.
Ternyata, berita kemenangan dan penampilan gemilang Dika kemarin sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Di SMA Merdeka, jarang ada siswa yang mainnya begitu cerdas dan berani memimpin tim sepertinya.
Rio menyenggol lengan Dika sambil menyeringai bangga. "Denger nggak itu? Sudah jadi artis sekolah nih kamu, Dik. Hahaha! Nanti jangan sombong ya kalau ada yang minta tanda tangan."
Dika hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Artis sekolah nggak ada gunanya, Rio. Aku mau jadi artis dunia nanti. Ayo masuk kelas, Pak Guru pasti sudah nunggu."
Di dalam kelas, hal yang sama terjadi. Begitu Dika masuk, teman-teman sekelas langsung bersorak riuh. Doni langsung berlari menghampiri, merangkul bahu Dika seolah mereka adalah pahlawan perang yang baru pulang dari medan tempur.
"Woy! Bintang lapangan datang! Gila, Dik! Kamu tahu nggak? Kemarin pas pulang, semua anak-anak di koridor cuma ngomongin kamu. Katanya kamu kayak pemain pro yang masuk sekolah kita. Pak Guru sampai komentar lho, katanya 'Wah, ternyata ada bakat terpendam di kelas ini ya'!" seru Doni dengan semangat meluap.
Dika duduk di bangkunya, mengeluarkan buku tulis dengan tenang. "Ah, biasa saja kok, Don. Cuma kebetulan lagi hoki kemarin. Hari ini kita harus fokus pelajaran dulu ya. Jangan sampai nilai kita jatuh gara-gara bola. Ingat pesan orang tua masing-masing."
Sikap rendah hati dan kedewasaan Dika semakin membuat teman-temannya takjub. Biasanya kalau ada yang dipuji sedikit saja, sudah langsung besar kepala dan pamer. Dika malah semakin tenang dan fokus.
Jam pelajaran berjalan seperti biasa, tapi bagi Dika, rasanya sangat berbeda. Dia bisa mengikuti pelajaran dengan sangat mudah, karena sebagian besar materi ini sudah pernah dia pelajari dulu. Dia tidak perlu pusing memikirkan ulangan atau tugas, jadi pikirannya bebas untuk menyusun rencana lain. Di sela-sela jam istirahat, saat teman-temannya sibuk makan atau bermain kartu, Dika duduk diam di bangkunya, menggoreskan pena di buku tulisnya.
Dia membuat jadwal latihan rinci. Pagi: lari jarak jauh dan latihan fisik. Siang: latihan teknik dasar dan kerja sama tim. Sore: latihan taktik, tendangan bebas, dan penguasaan bola. Dia juga mencatat nama-nama pemain potensial di sekolah, termasuk Raka, dan bagaimana cara mengembangkan kemampuan mereka.
Dan di halaman terakhir buku itu, terselip catatan kecil yang ditulis dengan huruf miring: Cari info Bitcoin, cara beli, cara simpan. Kunjungi warnat sore ini.
Bel berbunyi menandakan jam sekolah usai. Biasanya siswa akan langsung berhamburan pulang atau berkumpul di kantin. Tapi hari ini, Dika berdiri di depan kelas dan memanggil teman-teman satu timnya, termasuk Raka yang datang menghampiri dengan senyum lebar dan hormat kepadanya.
"Teman-teman," kata Dika lantang, menarik perhatian mereka semua. "Kemarin kita menang, tapi itu cuma satu pertandingan kecil. Tahun depan ada Kejuaraan Antar Sekolah Tingkat Provinsi. Kalau kita mau menang di sana, kalau kita mau membawa nama sekolah kita harum, kita nggak boleh santai lagi. Mulai hari ini, sepulang sekolah, kita tetap di sini. Kita latihan tambahan. Tanpa disuruh Pak Budi, atas kemauan kita sendiri. Siapa yang mau ikut, angkat tangan."
Seketika, semua tangan terangkat tinggi. Semangat mereka terbakar melihat keteladanan Dika. Raka bahkan berteriak paling keras, "Aku mau banget! Aku siap kapan saja! Ajari aku semua yang kamu tahu, Dik!"
Dika tersenyum puas. Ini adalah awal dari tim yang hebat.
"Bagus! Sekarang, ganti baju olahraga, kumpul di lapangan lima menit lagi. Dan dengar... kita nggak cuma latihan fisik. Kita belajar memahami permainan. Sepak bola itu seni, kawan. Mari kita buat karya seni di lapangan itu," ucap Dika dengan mata berbinar.
Saat semua berlarian keluar kelas dengan semangat, Rio menghampiri Dika yang masih membereskan tasnya.
"Kamu beneran luar biasa ya, Dik. Dulu aku kira kamu cuma anak yang suka mimpi di siang bolong. Sekarang... kamu kayak pemimpin sejati. Ayo, aku ikut. Dan nanti habis latihan, kita ke warnet ya? Aku penasaran sama 'Koin Bit' itu. Siapa tahu aku juga jadi ikut kaya raya," kata Rio sambil tertawa, matanya berbinar antusias.
Dika menepuk bahu sahabatnya itu dengan mantap. "Pasti. Nanti aku jelasin semuanya. Mulai hari ini, kita nggak cuma bangun mimpi di lapangan, tapi juga bangun masa depan kita dari segala sisi. Ayo, saatnya bekerja!"
Mereka berdua berjalan keluar kelas, menuju koridor yang mulai sepi, menuju lapangan tempat mimpi-mimpi itu mulai dibangun satu per satu. Di hati Dika, dia merasa lengkap. Dia punya rencana untuk sepak bola, dia punya rencana untuk keuangan, dia punya dukungan keluarga dan sahabat. Perjalanan panjang ini semakin menarik, semakin menantang, dan semakin dekat menuju puncak.
Dia tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Akan ada rintangan, akan ada kegagalan, akan ada hari-hari yang berat. Tapi dengan ingatan masa depan yang menjadi kompasnya, Dika yakin, tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya menuju menjadi yang terbaik di dunia.