NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.17 Abu di atas salju

Stasiun kereta api Amsterdam Centraal di pagi hari adalah sebuah orkestra kekacauan yang teratur.

Ribuan kaki melangkah dengan terburu-buru, aroma kopi pahit bercampur dengan uap dingin dari rel kereta, dan suara pengumuman keberangkatan dalam berbagai bahasa menggema di langit-langit kaca yang megah.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Sekar berdiri seperti sebuah titik yang diam. Ia mengenakan mantel wol panjang berwarna abu-abu kusam, tudung kepalanya ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya.

Di dalam dekapannya, sebuah tas ransel kulit tua terasa begitu berat. Bukan karena pakaian atau barang bawaan, melainkan karena sebuah guci keramik kecil yang terbungkus kain sutra biru—satu-satunya hal fisik yang tersisa dari Lukas.

Sekar merasa seolah-olah ia sedang membawa jantungnya sendiri di luar tubuhnya. Setiap kali seseorang menyenggol bahunya, ia tersentak, bukan karena takut tertangkap, tetapi karena takut guci itu akan retak.

Ia bukan lagi Dr. Sekar sang ahli bedah vaskular yang terkenal; ia hanyalah seorang wanita yang membawa sisa pembakaran dari harapannya sendiri.

Ia melangkah menuju peron kereta api yang akan membawanya ke selatan, menuju perbatasan Jerman dan kemudian Austria.

Paspor di sakunya adalah hasil kerja Steiner—sebuah identitas palsu atas nama Maria Muller, seorang perawat asal Swiss.

Ini adalah ironi terakhir; ia harus berpura-pura menjadi perawat, seseorang yang merawat kehidupan, padahal ia baru saja melepaskan satu nyawa yang paling berarti.

Di dalam kereta yang bergerak cepat membelah padang rumput Belanda yang berkabut, Sekar duduk di dekat jendela.

Ia mengeluarkan ponsel baru yang hanya memiliki satu nomor di daftar kontaknya. Layarnya menyala, menampilkan berita terbaru dari Jakarta.

Headline media daring berteriak: "SKANDAL WIJAYA: RUNTUHNYA DINASTI FARMASI BERDARAH."

Ada foto Ibu Wijaya yang menutupi wajahnya dengan selendang saat digiring masuk ke mobil tahanan.

Ada pula kabar bahwa Tuan Wijaya masih dalam kondisi koma, sebuah keadaan yang menurut Sekar adalah sarkasme terbaik dari takdir—pria itu dipaksa tetap hidup dalam kegelapan, persis seperti yang ia lakukan pada Lukas selama sepuluh tahun.

Namun, perhatian Sekar tertuju pada sebuah kolom kecil di pojok berita.

"Rahman Wijaya secara resmi dijatuhi hukuman penjara sementara di Hamburg sambil menunggu ekstradisi. Pengacaranya menyatakan bahwa Rahman tidak akan mengajukan banding dan menerima semua tuduhan."

Sekar memejamkan mata. Ia bisa membayangkan wajah Rahman di balik jeruji besi itu. Dingin, kosong, dan penuh dengan penebusan dosa yang terlambat.

Rahman memilih untuk hancur bersama keluarganya agar Sekar bisa memiliki kesempatan untuk menghilang. Namun, Rahman tidak tahu bahwa tidak ada tempat di dunia ini bagi Sekar untuk bersembunyi dari rasa kehilangannya.

"Permisi, Nona? Apa kursi ini kosong?"

Sekar tersentak. Seorang pria paruh baya dengan tas jinjing menatapnya dengan sopan.

Sekar hanya mengangguk kecil tanpa suara, lalu memalingkan wajah kembali ke jendela. Ia tidak ingin bicara.

Ia takut jika ia membuka mulutnya, yang keluar bukanlah kata-kata, melainkan jeritan yang selama ini ia kunci di pangkal tenggorokan.

Sementara Sekar melintasi perbatasan negara, di sebuah kondominium mewah di Jakarta yang kini telah disita oleh negara, Viona berdiri di depan cermin besar.

Ruangan itu berantakan. Botol-botol minuman keras yang mahal berserakan di lantai, dan gaun pengantin yang seharusnya ia kenakan bulan depan terkoyak di sudut ruangan.

Viona menatap pantulannya sendiri. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi ditutupi oleh concealer terbaik sekalipun.

Ia telah kehilangan segalanya. Nama baiknya hancur karena keterlibatannya dalam membantu penculikan medis Lukas.

Ayahnya melarikan diri ke luar negeri, meninggalkannya dengan tumpukan hutang dan ancaman penjara.

"Semua karena dia..." desis Viona, suaranya parau dan pecah. "Semua karena dokter sialan itu."

Ia meraih sebuah botol obat penenang—produk dari laboratorium Wijaya yang kini sudah ditarik dari peredaran.

Ia tertawa pahit. Obat yang seharusnya menyembuhkan kecemasan kini menjadi satu-satunya pelarian baginya. Viona menyadari bahwa dalam perang ini, ia bukanlah sang pemenang. Ia hanyalah pion yang dibuang saat raja dan ratunya tumbang.

Ia mulai mengonsumsi pil-pil itu satu per satu, sambil menatap foto Rahman di layar ponselnya. "Kamu lebih memilih mati bersama mereka daripada hidup bersamaku, Rahman..."

Kehancuran Viona adalah sisi gelap dari dendam Sekar. Sekar ingin mereka semua menderita, dan takdir memberikan lebih dari yang ia minta. Namun, melihat musuhnya hancur ternyata tidak memberikan kepuasan yang ia bayangkan. Hanya ada rasa pahit yang tertinggal di lidah.

Dua hari kemudian, Sekar sampai di sebuah desa kecil di pegunungan Alpen, Austria. Tempat ini adalah tempat tinggal kakek dan neneknya sebelum mereka pindah ke Indonesia puluhan tahun lalu. Sebuah tempat yang hanya ada dalam cerita pengantar tidur ayahnya.

Salju mulai mencair, menyisakan bercak-bercak cokelat tanah dan rumput yang mulai menguning. Udara di sini sangat tipis dan murni, jauh dari bau antiseptik rumah sakit atau bau knalpot Jakarta.

Sekar berjalan mendaki bukit menuju sebuah pemakaman tua di belakang gereja kayu yang sederhana. Di sana, ia menemukan sebuah nisan batu yang sudah berlumut, tertulis nama keluarga besarnya.

Ia berlutut di depan nisan itu. Tangannya yang gemetar membuka ransel dan mengeluarkan guci biru itu.

"Kita sudah sampai, Lukas," bisik Sekar. "Ini rumah kita yang sebenarnya. Bukan di laboratorium, bukan di rumah besar yang penuh kebohongan."

Sekar menggali tanah yang masih setengah membeku itu dengan tangannya sendiri. Ia tidak peduli kuku-kukunya pecah atau tangannya berdarah karena gesekan batu. Ia merasa harus merasakan sakit fisik ini untuk mengimbangi rasa sakit di jiwanya.

Setelah lubang itu cukup dalam, ia meletakkan guci itu di sana. Di sampingnya, ia meletakkan sepasang sepatu bayi putih yang selama sepuluh tahun ia bawa melintasi benua.

"Maafkan Ibu karena terlambat," air matanya jatuh, hangat di atas tanah yang dingin. "Ibu menghancurkan mereka semua untukmu, Lukas. Tapi ternyata, dunia tanpa kamu tetap terasa gelap," bisiknya parau.

Saat ia menimbun kembali tanah itu, Sekar merasakan sebuah kehadiran di belakangnya. Ia tidak menoleh. Ia tahu siapa itu. Aroma parfum yang tidak asing dan langkah kaki yang berat namun ragu.

"Bagaimana kamu menemukanku, Alvin?" tanya Sekar tanpa berbalik.

Alvin berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan jaket tebal hitam. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kesombongan korporat. Ia tampak lelah.

"Keluarga Pratama punya mata di mana-mana, Sekar. Bahkan di desa terpencil ini," jawab Alvin pelan.

Pria itu menatap Sekar dengan rasa bersalah dan kasihan. Sejujurnya ia benar-benar menyukai wanita ini, bahkan ia telah jatuh cinta. Tapi takdir yang keras membuatnya harus berkorban demi kelangsungan keluarga besarnya.

Alvin mencintainya tapi orang tuanya juga sebagian dari hidupnya. Dia bukan orang bodoh yang akan menghancurkan segalanya demi cinta, setidaknya itulah yang ia pikirkan sebelumnya.

Tapi sekarang, rasanya ia menyesal. Melihat Sekar yang serapuh ini membuatnya ingin mendekapnya, setidaknya berbagi sedikit kesedihan yang wanita itu rasakan.

"Aku datang bukan untuk membawamu kembali. Aku ingin mengajakmu pulang bersamaku. Polisi internasional sudah mengeluarkan surat perintah penangkapanmu. Dalam hitungan jam, tempat ini akan dikepung," ujarnya penuh harap.

Sekar tersenyum tipis, masih menatap gundukan tanah baru itu. "Aku tidak akan lari lagi, Alvin. Aku sudah lelah."

Alvin menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya. "Rahman memintaku memberikan ini padamu. Kuharap kamu akan pergi bersamaku Sekar. Sungguh."

Alvin mengulurkan sebuah amplop cokelat. Sekar menerimanya dengan tangan yang kotor oleh tanah.

Di dalamnya ada sebuah kunci dan sertifikat kepemilikan sebuah panti asuhan di pinggiran Berlin, atas nama Sekar.

"Rahman mengalihkan semua aset pribadinya yang tersisa untuk panti itu sebelum disita. Dia ingin kamu punya tempat untuk pulang, untuk melanjutkan hidupmu sebagai dokter... bagi anak-anak yang tidak seberuntung Lukas," kata Alvin.

Sekar meremas surat itu. Rahman mencoba memberinya masa depan di saat pria itu sendiri sudah tidak memilikinya.

Ini adalah bentuk cinta yang paling tragis—sebuah upaya penebusan yang tidak akan pernah bisa menghapus dosa masa lalu, namun setidaknya memberikan alasan bagi Sekar untuk tetap bernapas.

"Pergilah, Alvin. Terima kasih untuk segalanya, meski aku tahu kamu juga punya andil dalam kehancuranku," kata Sekar.

Alvin terdiam sejenak, lalu berbalik. "Selamat tinggal, Sekar. Kamu adalah satu-satunya orang yang pernah membuatku merasa bahwa uang tidak bisa membeli segalanya."

Setelah Alvin pergi, Sekar duduk sendirian di samping makam Lukas hingga matahari mulai tenggelam di balik puncak pegunungan. Langit berubah menjadi warna ungu dan jingga yang menyakitkan.

Ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya—anestesi dosis tinggi yang ia ambil dari tas medisnya. Ia menatap botol itu cukup lama.

Sangat mudah baginya untuk mengakhiri semuanya di sini. Tidur di samping Lukas dan orang tuanya, meninggalkan dunia yang hanya memberinya luka.

Namun, ia teringat pada tangan Lukas yang mungil saat memegang jemarinya di gudang Amsterdam. Ia teringat pada binar mata anak-anak di panti asuhan yang mungkin membutuhkannya.

“Lukas tidak mati agar ibunya menyerah,” bisik sebuah suara di dalam hatinya.

Sekar berdiri, membuang botol itu ke dalam jurang di bawah pemakaman. Ia menyeka air matanya, membersihkan tanah dari jasnya, dan menatap nisan Lukas untuk terakhir kalinya.

"Ibu akan hidup, Lukas. Ibu akan hidup untuk menceritakan namamu, bukan sebagai subjek eksperimen, tapi sebagai anak yang sangat dicintai," ucapnya penuh keyakinan.

Sekar melangkah menuruni bukit. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu mobil polisi mulai merayap naik ke desa itu.

Ia tidak lari. Ia berjalan perlahan menuju lampu-lampu itu, siap menghadapi konsekuensi dari dendam yang telah ia tuntaskan.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!