Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Bayangan di Balik Tembok
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haneen mengangkat satu tangannya. Lima jari terbuka. Lalu turun satu per satu.
Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu.
Nol.
Haneen gerak duluan. Pistol silent di tangan kanan muncul dari balik lengan baju. ‘Syut.! Syut.!’ Dua tembakan cepat. Dua penjaga di ujung terowongan roboh sebelum sempat tarik napas. Mereka jatuh lemas, kena obat bius sistem.
Yan Ling ikut gerak. Pedangnya keluar dari sarung tanpa suara. Dia memotong tali lonceng alarm yang tergantung di dekat pintu keluar. ‘Sret’ Tali putus. Lonceng tidak bunyi.
"Aman," bisik Haneen. Dia melangkah keluar dari terowongan.
Udara di luar lebih dingin. Bau dupa bakar tercium kuat. Ini aroma khas Sekte Pedang Langit. Wangi yang dulu bikin Haneen muak, sekarang jadi penanda medan perang.
Mereka ada di area belakang sekte. Dekat tempat pembuangan limbah. Tidak ada bangunan besar di sini. Hanya gudang penyimpanan dan tembok tinggi.
Haneen cek peta sistem. Titik merah patroli bergerak di depan. Jarak mereka ke gedung arsip utama sekitar lima ratus meter. Lima ratus meter di wilayah musuh terasa seperti lima kilometer.
"Kita lari atau jalan?" tanya Yan Ling. Dia sudah siap di samping Haneen.
"Jalan," jawab Haneen. "Lari bikin suara. Kita pakai bayangan."
Mereka bergerak menempel tembok. Langkah kaki diinjak pelan. Setiap ada cahaya obor, mereka berhenti. Menunggu penjaga lewat. Baru lanjut lagi.
Haneen panggil sistem. [Aktifkan Drone Intai Mini.]
Sebuah benda seukuran koin terbang keluar dari saku Haneen. Drone itu naik tinggi, nyaru jadi kelelawar. Kamera kecil di drone kirim gambar langsung ke retina Haneen.
"Ada tiga patroli di depan," lapor Haneen. "Satu regu lewat kiri. Dua orang lewat kanan. Kita ambil tengah."
"Tenaga mereka kuat?" tanya Yan Ling.
"Tingkat menengah. Bisa kita habisi. Tapi kita biarkan saja. Menimbulkan Mayat bakal ketahuan," kata Haneen.
Mereka sampai di persimpangan taman batu. Di sini terbuka. Tidak ada tembok untuk sembunyi. Bulan bersinar terang di atas kepala.
"Kita tunggu awan nutupin bulan," kata Haneen. Dia lihat langit. Awan hitam bergerak lambat.
Yan Ling nodong. Dia tahan napas. Tangannya keringetan meski udara dingin. Ini lebih tegang dari bertarung terbuka. Musuh tidak kelihatan. Bahaya ada di setiap sudut.
Awan geser. Bulan tertutup. Gelap sebentar.
"Sekarang!" perintah Haneen.
Mereka lari cepat menyeberangi taman. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai di sisi lain. Masuk lagi ke area gelap.
Haneen hela napas. "Bagus. Kau cepat."
"Latihan dulu," jawab Yan Ling singkat. Dia tidak mau puji-pujian saat misi belum selesai.
Mereka lanjut jalan. Gedung arsip mulai kelihatan. Bangunan dua lantai. Kayu tua. Jendela tertutup rapat. Ada dua penjaga berdiri di depan pintu.
"Penjaga pintu," bisik Haneen. "Tidak bisa ditembak. Nanti mayat jatuh ke depan pintu. Orang dalam bakal lihat."
"Kalau begitu gimana?" tanya Yan Ling.
Haneen senyum tipis. "Kita bikin mereka tidur tanpa jatuh."
Haneen keluarkan dua jarum suntik mini dari sistem. Isinya obat tidur kuat. Dia pasang di ujung panah kecil. Pakai blowpipe sederhana.
‘Fiuh. Fiuh.’
Dua panah terbang di kegelapan. Menancap tepat di leher penjaga. Mereka goyang sebentar. Mata merem. Tapi tetap berdiri karena obatnya bikin otot kaku sebentar.
Haneen lari maju. Menangkap tubuh penjaga sebelum jatuh. Pelan-pelan taruh ke samping.
"Masuk," kata Haneen.
Mereka naik tangga depan. Pintu kayu besar terkunci. Haneen keluarkan alat pembuka kunci elektronik. Tempel di lubang kunci.
‘Bip.’ Lampu hijau nyala. Kunci putar sendiri.
‘Mretak.’ Pintu terbuka.
Mereka masuk. Gelap di dalam. Bau kertas tua dan debu. Rak-rak tinggi penuh gulungan kitab berdiri rapi di kiri kanan.
Haneen nyalakan senter mode merah. Cahaya tidak terlalu terang, cukup untuk baca.
"Kita cari catatan transaksi lima tahun terakhir," kata Haneen. "Fokus pada aliran dana keluar sekte."
"Aku ambil sisi kiri," kata Yan Ling. Dia mulai buka laci meja dekat sana.
Haneen jalan ke rak tengah. Jarinya menyusuri judul gulungan. "Laporan Keuangan... Daftar Murid... Logistik..."
Dia cari yang tidak wajar. Biasanya korupsi sembunyi di bagian logistik. Pembelian barang fiktif. Harga digelembungkan.
Tiba-tiba, sistem bunyi. [Peringatan: Getaran Terdeteksi. Ada orang naik tangga.]
Haneen matiin senter. "Sembunyi!" bisik dia keras.
Mereka lari ke belakang rak besar. Jongkok di celah sempit antara rak dan dinding.
Suara langkah kaki terdengar jelas. ‘Dug. Dug. Dug.’ Berat. Bukan penjaga biasa. Ini kultivator tingkat tinggi.
Langkah itu berhenti di tengah ruangan. Ada suara helaan napas.
"Siapa di sana?" suara berat itu bertanya.
Haneen tahan napas. Yan Ling pegang erat pedangnya. Siap kalau-kalau ketahuan.
Tidak ada jawaban. Ruangan hening.
Orang itu jalan lagi. Mendekati meja tempat Yan Ling tadi buka laci. Laci itu belum ditutup rapat.
"Hmm," gumam orang itu. Dia tutup laci itu. "Tikus sudah masuk ya?"
Jantung Haneen berdegup kencang. Dia tahu. Orang ini tahu ada penyusup.
Tapi orang itu tidak cari mereka. Dia jalan menuju pintu keluar. "Biarkan saja. Mereka akan cari sendiri jalan keluaranya."
Pintu tertutup. Langkah kaki menjauh.
Haneen tunggu satu menit penuh. Baru dia berdiri. "Dia pergi."
"Kenapa dia tidak mencari kita?" tanya Yan Ling bingung. Dia keluar dari persembunyian.
"Dia yakin kita tidak bisa keluar," jawab Haneen. "Mungkin ada formasi pengunci di gedung ini. Atau dia punya rencana lain."
Haneen cek sistem. [Scan Formasi. Terdeteksi: Array Pengunci Area. Tingkat: Menengah.]
"Benar," kata Haneen. "Gedung ini dikunci dari luar. Kita masuk bisa, keluar susah."
"Jebakan?" tanya Yan Ling.
"Bisa jadi. Tapi kita sudah di dalam. Tidak ada pilihan mundur," kata Haneen. Dia balik ke rak buku. "Cepat cari. Sebelum dia balik bawa bantuan."
Mereka kerja lebih cepat sekarang. Haneen buka gulungan demi gulungan. Yan Ling cek buku catatan di meja.
"Haneen," panggil Yan Ling tiba-tiba. Suaranya bergetar.
"Apa?" Haneen langsung datang.
Yan Ling pegang sebuah buku kecil. Sampulnya hitam. Tidak ada judul. "Ini... ini catatan pribadi Tetua Zhao."
Haneen ambil buku itu. Buka halaman pertama. Tulisan tangan kasar. Isinya bukan soal kultivasi. Tapi soal pembayaran.
"Bayar ke Serikat Naga Merah... Lima ribu batu spiritual..."
"Bayar ke Penjaga Kota Kabut Perak... Tiga ribu batu spiritual..."
"Proyek Tambang Ilegal... Laba bersih sepuluh ribu..."
Haneen mata menyipit. Ini bukti. Bukti yang mereka cari selama ini. Zhao bukan cuma korup. Dia menjual sekte ke organisasi luar.
"Ini cukup buat menghancurkan dia," kata Haneen. Dia masukin buku ke tas dimensi.
"Tapi kita masih terjebak," ingat Yan Ling. "Kitaa terkunci."
Haneen lihat jendela. Ada kaca tebal. Ada formasi cahaya tipis di sana.
"Sistem, ada cara buka formasi ini?" tanya Haneen dalam hati.
[Opsi: Bom EMP Mini. Bisa lumpuhkan formasi selama satu menit. Harga: 1000 IP.]
"Mahal," gumam Haneen. Tapi dia tetap membelinya. Nyawa lebih penting dari poin.
Dia keluarkan bola kecil seukuran kelereng. Warna hitam pekat.
"Lempar ke jendela," perintah Haneen pada Yan Ling. "Saat aku bilang."
"Siap," jawab Yan Ling. Dia ambil bola itu.
"Tiga. Dua. Satu. Lempar!"
Yan Ling lempar bola itu. Bola nempel di kaca jendela.
‘Bzzzt!’
Cahaya biru di jendela mati seketika. Formasi lumpuh.
"Lompat!" teriak Haneen.
Mereka lari ke jendela. Pecahkan kaca dengan siku. Lompat keluar ke taman bawah.
Mendarat dengan berguling. Tidak ada waktu untuk merasa sakit. Haneen langsung menarik Yan Ling. "Lari! Efeknya cuma satu menit!"
Mereka lari menyeberangi taman. Belakang mereka, lampu-lampu gedung arsip nyala semua. Orang-orang sudah bangun.
"Penyusup!" teriak seseorang dari atas balkon.
Panah mulai terbang. ‘Sret! Sret!’ Menancap di tanah dekat kaki mereka.
"Jangan berbalik!" perintah Haneen. "Kejar target utama!"
Mereka lari menuju tembok belakang. Tempat mereka masuk tadi. Tapi di sana, sudah ada orang yang menunggu.
Sosok tinggi berdiri di depan pintu terowongan. Jubah putih berkibar. Pedang panjang di tangan.
"Tetua Zhao," bisik Yan Ling. Wajahnya pucat.
Zhao tersenyum. Senyum dingin. "Aku sudah tahu kalian akan ke sini. Buku itu memang umpan."
Haneen berhenti lari. Dia hadapi Zhao. Napas teratur. Tidak kelihatan takut.
"Umpan?" tanya Haneen. Dia tangan sudah di dekat pistol.
"Isi buku itu sudah aku ubah," kata Zhao santai. Dia jalan mendekat. "Kalau kalian bawa keluar, itu justru jadi bukti palsu. Kalian yang bakal dituduh memalsukan data."
Haneen cek buku di tas. Dia buka cepat. Halaman yang tadi dibaca berubah. Tulisan nya beda.
"Kau curang," kata Haneen.
"Ini dunia kultivasi, Nak," kata Zhao. "Kekuatan itu hukum. Bukan kertas."
Zhao angkat pedang. Aura tingkat Tinggi meledak. Angin kencang bikin debu beterbangan.
"Siap mati?" tanya Zhao.
Haneen senyum. Senyum yang sama saat dia punya rencana cadangan.
"Aku jarang mati, Pak Tua," kata Haneen. Dia klik alat di pergelangan tangan. "Karena aku selalu punya jalan keluar."
‘Bum!’
Asap tebal meledak dari alat di tangan Haneen. Bukan asap biasa. Asap ini bikin sistem sensor aura buta.
Zhao batuk. "Di mana kalian?"
Haneen dan Yan Ling sudah tidak ada di situ. Mereka lari ke arah lain. Menuju menara lonceng.
"Kejar!" teriak Zhao.
Tapi Haneen sudah punya rencana baru. Kalau tidak bisa keluar lewat bawah, mereka akan buat keributan di atas. Biar seluruh sekte tahu kebenaran sebenarnya.
"Lari ke menara!" perintah Haneen.
"Untuk apa?" tanya Yan Ling sambil lompat atap.
"Umumkan kebenaran," jawab Haneen. "Kalau buku tidak bisa bicara, kita yang akan bicara."
Mereka lari di atas atap. Di belakang, puluhan cultivator mengejar. Tapi Haneen tahu jalan pintas. Sistem sudah tunjukkan rute tercepat.
Permainan kucing-kucingan belum selesai. Malah baru mulai babak kedua. Dan kali ini, taruhannya bukan cuma nyawa mereka. Tapi nama baik seluruh sekte.
Haneen lompat dari atap satu ke atap lain. Angin malam menerpa wajah.
"Tahan sedikit lagi," gumam Haneen. "Hampir sampai."
Di depan, menara lonceng utama berdiri tinggi. Tempat di mana pengumuman penting selalu dibacakan.
Malam ini, Haneen akan pakai itu untuk mengumumkan kejahatan Zhao ke seluruh gunung. (Seluruh wilayah dan Penghuni Sekte Pedang Langit)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share 😄