Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di unit apartemen mewah milik Hadi, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat.
Hadi berdiri di dekat jendela sambil menyesap kopi hitamnya, matanya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit.
Pikirannya masih tertahan pada kejadian di restoran semalam.
Suara dingin Aisyah yang menyebut Intan "anak pungut" dan ancaman pembekuan aset terus terngiang di telinganya. Namun, Hadi menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa cemas yang mulai menggerogoti nyalinya.
"Mungkin itu cuma gertakan," gumam Hadi pada dirinya sendiri.
"Aisyah hanya emosi karena melihat Rizal dihina. Mana mungkin dia tega membuang Intan yang sudah belasan tahun jadi anak kesayangan Taufik Baskoro. Itu cuma drama untuk menakut-nakuti."
Hadi tersenyum sinis. Baginya, selama Intan masih memiliki nama belakang Baskoro, maka akses menuju kekayaan itu tidak akan benar-benar tertutup.
Tepat saat itu, Intan menggeliat di atas tempat tidur yang empuk.
Ia membuka matanya perlahan, menguceknya, dan melihat sosok Hadi yang sudah rapi.
Kejadian memalukan semalam seolah sudah ia lupakan sepenuhnya.
Baginya, Rizal adalah sampah yang sudah ia buang di tempat yang tepat.
"Sayang, kamu sudah bangun?" suara Intan manja, serak khas bangun tidur.
Ia duduk bersandar, membiarkan rambutnya yang berantakan terurai.
"Badanku pegal semua. Semalam itu benar-benar menguras emosi karena si miskin itu."
Intan beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Hadi, lalu memeluk pria itu dari belakang.
"Temani aku belanja, ya? Aku butuh tas baru untuk menghilangkan stres. Setelah itu kita makan siang di hotel berbintang yang baru buka itu. Aku yang bayar, pakai kartu platinum-ku."
Hadi berbalik dan mengelus pipi Intan. "Tentu saja. Apa pun untukmu. Tapi, apa kamu tidak takut dengan ucapan Mama Aisyah semalam?"
Intan tertawa meremehkan, tawa yang penuh kesombongan.
"Mama Aisyah itu hanya gila hormat, Hadi. Dia butuh aku supaya tetap terlihat seperti ibu tiri yang baik di mata kolega Papa. Dia tidak akan berani menyentuh fasilitas pribadiku. Ayo, bersiaplah. Aku mau beli koleksi terbaru hari ini."
Intan segera melangkah ke kamar mandi dengan angkuh, tanpa menyadari bahwa di luar sana, tim hukum Aisyah dan Pak Wijaya telah menyelesaikan proses pemblokiran seluruh akses finansial yang ia banggakan.
Badai yang sesungguhnya baru saja akan dimulai saat ia menggesek kartunya di meja kasir nanti.
Setelah mandi dan bersiap dengan pakaian bermerek mereka, Intan dan Hadi turun ke lobi apartemen dengan langkah angkuh.
Intan sudah membayangkan deretan tas limited edition yang akan ia borong hari ini untuk mengobati kekesalannya pada Rizal.
Namun, begitu mereka sampai di area parkir khusus, langkah Intan terhenti seketika.
Matanya membelalak, wajahnya yang penuh riasan itu mendadak merah padam.
"Hentikan!! Itu mobilku!!" teriak Intan histeris.
Di depannya, sebuah mobil derek dari perusahaan keluarga Baskoro sedang mengaitkan rantai ke roda mobil Mercedes-Benz putih kesayangannya.
Beberapa pria berbadan tegap dengan seragam sekuriti perusahaan berdiri berjaga di sana.
"Maaf, Nona Intan," ucap salah satu sekuriti dengan nada dingin tanpa rasa hormat.
"Kami hanya menjalankan perintah dari Ibu Aisyah. Semua aset kendaraan atas nama perusahaan ditarik kembali ke kediaman utama."
"Sialan! Berani-beraninya kalian!" Intan berteriak seperti orang kesetanan.
Ia segera merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan menghubungi nomor Aisyah dengan jemari gemetar karena amarah.
Begitu panggilan tersambung, Intan bahkan tidak memberikan kesempatan bagi Aisyah untuk mengucap salam.
"Heh, wanita tua! Apa-apaan ini?! Kenapa mobilku diderek? Kamu pikir kamu siapa, hah?" maki Intan tanpa saringan.
"Kamu itu cuma orang asing yang menumpang hidup di rumah Papaku! Jangan merasa jadi nyonya besar setelah Papa meninggal! Kamu nggak lebih dari sekadar pelayan yang beruntung dinikahi Papa!"
Hadi yang berdiri di samping Intan ikut memanas-manasi.
"Bilang sama dia, Intan, kalau dia nggak tahu diri!"
Di seberang telepon, suasana hening sejenak sebelum terdengar suara tawa kecil yang sangat tenang—suara Aisyah yang terdengar begitu berwibawa, kontras dengan jeritan Intan.
"Sudah selesai bicaranya, Intan?" tanya Aisyah tenang.
Ia saat ini sedang duduk di samping ranjang Rizal, membelai tangan suaminya yang baru saja resmi dinikahinya itu.
Aisyah sengaja menghidupkan fitur loudspeaker agar Rizal bisa mendengar bagaimana watak asli wanita yang dulu dicintainya.
"Dengar baik-baik, Intan. Statusmu sebagai ahli waris sedang dalam peninjauan ulang karena kelakuan amoralmu semalam. Dan tentang siapa yang 'menumpang' hidup. Kamu akan segera tahu siapa yang sebenarnya memiliki segalanya di sini."
Aisyah masih merahasiakan pernikahannya dengan Rizal.
Ia ingin kejutan itu menjadi bom atom yang meledak tepat di wajah Intan pada saat yang paling menyakitkan nanti.
"Mulai sekarang, kamu harus bisa hidup dengan kakimu sendiri, Intan. Bukankah kamu merasa hebat karena cantik dan kaya? Sekarang buktikan kalau kamu bisa bertahan tanpa uang dari perusahaan Papamu," ucap Aisyah dingin.
"Mama! Mama jangan bercanda! Aku—"
"Klik!"
Aisyah memutus sambungan telepon secara sepihak.
Intan menatap layar ponselnya yang menggelap dengan napas memburu.
Ia mencoba menghubungi asisten pribadinya, namun nihil.
Kemudian ia mencoba membuka aplikasi mobile banking-nya, dan sebuah pesan muncul di layar: 'Account Suspended'.
"Hadi, kartu-kartuku diblokir," bisik Intan, suaranya mulai bergetar karena panik.
Hadi yang tadinya bersemangat, kini wajahnya mulai berubah tegang.
"Semuanya? Coba cek kartu yang satunya lagi, Tan!"
"Semuanya, Hadi! Semuanya!"
Sementara itu di rumah sakit, Rizal menatap Aisyah dengan pandangan yang sulit diartikan. Il
Ia baru saja mendengar betapa kasarnya Intan pada wanita yang kini menjadi istrinya.
"Dia akan datang mencarimu, Aisyah," ucap Rizal pelan.
Aisyah meletakkan ponselnya, lalu tersenyum manis pada Rizal.
"Biarkan saja dia datang. Saat dia sampai di sini, dia akan melihat pria yang dia hina sebagai 'miskin' telah menjadi Tuan di rumahnya sendiri."
Setelah mobilnya diderek dan seluruh akses perbankannya lumpuh total, Intan berdiri di pinggir jalan dengan wajah yang hancur karena amarah. Hadi, yang biasanya tampil necis, kini tampak gelisah karena dompetnya sendiri pun tak seberapa isinya jika harus menanggung gaya hidup Intan.
"Hanya ini yang lewat, Tan!" keluh Hadi sambil melambaikan tangan ke arah angkutan umum tua yang berasap hitam.
Terpaksa, pasangan yang semalam menghina kemiskinan Rizal itu kini harus berdesakan di dalam angkutan umum yang sempit.
Intan dan Hadi serempak mengeluarkan sapu tangan, menutup hidung mereka rapat-rapat dengan wajah jijik.
Bau keringat penumpang lain dan aroma bensin yang menyengat membuat nyali "sosialita" Intan menciut.
"Sialan! Aisyah benar-benar ingin bermain-main denganku," geram Intan di balik sapu tangannya.
Satu jam perjalanan yang terasa seperti neraka bagi mereka akhirnya berakhir.
Begitu turun di pinggir jalan raya dekat kompleks perumahan mewahnya, wajah Intan mendadak pucat pasi.
"Hoeeekk!"
Intan membungkuk, muntah-muntah di pinggir jalan raya.
Perutnya yang terbiasa dengan hidangan hotel bintang lima tidak sanggup menahan guncangan dan aroma angkutan umum tadi.
Hadi hanya mematung di sampingnya, merasa malu dilihat oleh orang-orang yang lewat.
Dengan sisa tenaga, mereka berjalan menuju gerbang besar rumah keluarga Baskoro. Namun, langkah mereka dihentikan oleh barisan petugas keamanan yang biasanya membungkuk hormat pada Intan.
"Minggir! Aku mau masuk!" bentak Intan sambil menyeka bibirnya.
"Maaf, Nona Intan," ucap kepala keamanan dengan tegas.
"Atas perintah Ibu Aisyah, Anda dilarang masuk ke dalam rumah. Anda harus menunggu di luar sampai beliau pulang dari rumah sakit."
Intan terdiam sejenak. Alih-alih marah, sebuah senyum sinis perlahan muncul di bibirnya.
Ia menoleh ke arah Hadi dengan mata berbinar jahat.
"Rumah sakit?" Intan tertawa kecil, tawa yang penuh kemenangan.
"Hadi, kamu dengar itu? Wanita tua itu di rumah sakit! Pasti dia terkena stroke atau serangan jantung karena terlalu emosi menghadapiku tadi telepon."
Hadi ikut menyeringai, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Mungkin Tuhan memang ingin memberikan jalan padamu, Tan. Kalau dia mati, semua harta ini kembali ke tanganmu tanpa hambatan."
Intan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga! Kita cari tahu di mana dia dirawat. Aku ingin melihat wajah sekaratnya dan merayakannya tepat di depan hidungnya!"
Tanpa mereka sadari, mereka sedang menuju ke rumah sakit bukan untuk melihat kematian Aisyah, melainkan untuk menyaksikan kelahiran "penguasa baru" dalam hidup mereka.