Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Bayangan Bertopeng Emas di Bawah Langit Awan Putih
Debu dari puing-puing batu lambang Perguruan Awan Putih yang hancur belum sepenuhnya mengendap, melayang-layang di udara seperti abu pemakaman.
Sue Lie Ceng masih terduduk lemas di tanah, matanya kosong, meratapi hilangnya seluruh kekuatannya dalam sekejap.
Para murid di sekeliling arena terdiam membatu. Dada mereka masih terasa sesak, bergetar hebat akibat sisa-sisa energi naga emas yang barusan menyapu gelanggang. Suasana hening itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa badai telah usai.
Namun, alam semesta punya rencana lain.
Tiba-tiba—
Sreettt!
Suara tipis membelah udara, tajam dan dingin. Suaranya begitu halus hingga nyaris tak terdengar oleh telinga manusia biasa.
Sesosok hitam melesat turun dari atap aula utama yang tinggi, berputar satu kali di udara dengan keseimbangan yang mustahil, sebelum mendarat tepat di tengah gelanggang yang retak.
Tidak ada suara hentakan saat kakinya menyentuh bumi. Tidak ada debu yang beterbangan. Hanya desir angin aneh yang seolah tersedot ke dalam pusaran kecil di bawah kakinya, seakan ia adalah lubang hitam yang menelan cahaya.
Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang yang menyapu lantai. Wajahnya tertutup sepenuhnya oleh topeng emas mengilap, tanpa ekspresi, beku dalam kemewahan yang mengerikan.
Lubang mata pada topeng itu tampak gelap gulita dan sangat dalam, seolah tidak memantulkan cahaya matahari sedikit pun.
Beberapa murid spontan mundur setengah langkah, wajah mereka pucat pasi. Seorang tetua di balkon berdiri dengan lutut gemetar, berbisik dengan suara tercekat yang penuh ketakutan.
“Topeng Emas…”
Nama itu seperti kutukan yang menyebar cepat. Sejak dua tahun terakhir, jagat persilatan diguncang oleh satu bayangan misterius.
Pendekar bertopeng emas; ia datang tanpa diundang, membunuh tanpa suara, dan menghilang tanpa jejak. Tak pernah diketahui dari mana asalnya, tak pernah diketahui apa tujuannya. Satu hal yang pasti: ia tak pernah gagal.
Ketua Perguruan Awan Putih menegang, rahangnya mengeras meski ia masih berusaha mengatur napasnya yang sesak. “Kenapa kau muncul di sini?” tuntutnya dengan wibawa yang tersisa.
Sosok itu tidak segera menjawab. Ia hanya memutar kepalanya perlahan, sebuah gerakan yang sunyi namun mengancam.
Tatapannya—atau apa pun yang tersembunyi di balik lubang gelap topeng emas itu—menyapu seluruh arena. Lalu, ia berhenti tepat pada satu titik: Wang Long.
Sunyi kembali menguasai. Angin gunung mendadak terasa lebih dingin, membawa aroma maut yang samar.
Semua orang di sana merasakan tekanan tak kasat mata yang sangat berat menekan dada mereka. Aura hitam yang pekat mulai menyelimuti sosok itu; berat dan menyesakkan seperti kabut rawa yang beracun.
Beberapa murid muda yang mentalnya tak kuat langsung jatuh terduduk, napas mereka terengah-engah.
Sin Yin menyipitkan mata, tangannya menggenggam hulu pedang hingga buku jarinya memutih. “Dia jauh lebih kuat dari kabar yang beredar selama ini…” batinnya waspada.
Yue Lan merapatkan jubah peraknya, wajahnya yang cantik tampak tegang. “Tenaga dalamnya… seperti jurang tak berdasar yang haus akan nyawa.”
Namun, di tengah tekanan aura yang mampu meremukkan mental itu, Wang Long tetap berdiri biasa saja. Ia tidak memasang kuda-kuda bertarung.
Tangannya tergantung santai di sisi tubuh, jubahnya berkibar pelan ditiup angin. Tatapannya tenang, jernih, dan tidak gentar sedikit pun.
Sosok Topeng Emas akhirnya berbicara. Suaranya berat dan parau, terdengar seperti gesekan besi pada batu asahan tua yang kasar.
“Jadi… kau yang disebut-sebut sebagai naga itu.”
Wang Long menjawab singkat, suaranya tenang tanpa nada menantang. “Orang-orang memanggilku begitu.”
Topeng emas itu sedikit memiringkan kepala, seolah sedang menilai kualitas mangsanya. “Aku ingin melihat… apakah naga legendaris ini bisa berdarah atau tidak.”
Ketua Awan Putih, merasa harga diri perguruannya dipertaruhkan, melangkah maju dengan gagah berani. “Ini wilayah Perguruan Awan Putih! Jika kau ingin menantang, tantang aku lebih dulu!”
Topeng Emas bahkan tidak menoleh ke arah sang Ketua. Namun, secara tiba-tiba tubuhnya bergerak. Begitu cepat—hingga di mata penonton, hanya bayangan hitam yang tertinggal di tempat semula.
Ketua Awan Putih terkejut bukan main. Ia segera menghimpun seluruh tenaga dalamnya, Jurus Inti Awan Putih berputar liar di kedua lengannya.
“Telapak Awan Penjuru!” teriaknya sambil mendorong kedua tangannya ke depan. Tenaga dalam putih pekat membentuk pusaran angin dahsyat selebar satu tombak.
Namun, dari balik pusaran angin itu, muncul sebuah kepalan tangan hitam yang memadat. Tanpa suara, tanpa pendaran cahaya. Hanya kegelapan yang mematikan.
Braak!
Benturan itu terdengar seperti ledakan petir yang tertahan di bawah tanah. Pusaran awan putih yang kuat itu hancur berkeping-keping dalam sekejap mata. Ketua Awan Putih terpental mundur tiga langkah, darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Namun, semangat sang Ketua belum padam. Ia meraung keras, mengerahkan seluruh sisa tenaga di dantian-nya hingga urat-urat di lehernya menonjol. “Awan Menutup Langit!”
Ia melesat maju, kedua lengannya membentuk lingkaran besar. Angin di arena berputar liar, menyedot daun-daun kering ke angkasa.
Namun, Topeng Emas hanya berdiri mematung. Saat Ketua Awan Putih tiba tepat satu langkah di depannya, sosok hitam itu mengangkat tangan kanannya.
Gerakannya terlihat lambat, hampir seperti orang malas yang sedang mengusir lalat. Namun, dari telapak tangan itu terpancar gelombang hitam tipis, seperti riak kecil di permukaan air tenang. Tak terlihat mengerikan, namun saat gelombang itu menyentuh dada sang Ketua—
Dum!
Suara dentuman berat itu seolah mengguncang rongga dada semua orang yang hadir.
Ketua Awan Putih terhentak di udara, tubuhnya seakan dihantam oleh gunung tak kasat mata. Ia terlempar belasan langkah secara horizontal, menghantam pilar batu raksasa hingga pilar itu retak memanjang.
Sang Ketua terjatuh berlutut, darah muncrat dari mulutnya, membasahi jubah putihnya yang kini kotor. Beberapa tetua berteriak histeris, “Ketua!”
Arena menjadi kacau balau dalam kepanikan. Namun, Topeng Emas tetap tenang, melangkah maju perlahan. Setiap langkah kakinya terasa seperti menekan tanah dengan berat ribuan ton.
“Awan Putih…” suaranya terdengar dingin dan meremehkan, “…hanya sebuah nama kosong yang tak berarti.”
Ia mengangkat tangannya sekali lagi. Tenaga hitam pekat mulai terkumpul di ujung jarinya.
Udara di sekitarnya bergetar hebat, membuat napas siapa pun yang berada dekat dengannya menjadi sesak. Sin Yin hendak melompat maju untuk membantu—namun Wang Long sudah melangkah lebih dulu dengan kecepatan yang melampaui logika.
Topeng Emas mengarahkan pukulan maut itu langsung ke arah kepala Ketua Awan Putih yang sudah tak berdaya. Itu adalah pukulan pembunuh yang tidak menyisakan ampun.
Tenaga hitam itu memadat sekeras batu karang hitam. Jika terkena, kepala sang Ketua dipastikan akan hancur seketika.
Dalam sepersekian detik yang menentukan—
Wang Long sudah berada di posisi berdiri di depan Ketua. Tidak ada yang melihat kapan ia berpindah tempat. Ia seolah-olah hanya tiba-tiba ada di sana.
Tangannya terangkat, telapaknya terbuka lebar. Pukulan hitam yang membawa maut itu turun dengan deras. Dan—
Tap!
Suara benturannya ringan, hampir tak terdengar. Seperti dua telapak tangan yang bertemu dalam jabatan tangan biasa.
Namun, efeknya mengerikan. Gelombang kejut dahsyat menyapu seluruh arena. Lantai batu di bawah kaki mereka retak hebat, membentuk garis panjang yang mengular.
Jubah biru tua Wang Long berkibar keras, dan rambutnya terangkat ke atas oleh angin tenaga dalam yang saling berbenturan. Namun, kakinya tidak bergeser satu inci pun dari posisinya.
Tenaga hitam dari Topeng Emas tertahan sepenuhnya di telapak tangan Wang Long.
Kedua kekuatan yang bertolak belakang itu saling menekan dengan hebat. Udara di antara telapak tangan mereka bergetar seperti kaca tipis yang hampir pecah.
Topeng Emas menatap Wang Long melalui lubang gelap topengnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak langsung menarik tangannya.
“Akhirnya… ada yang menarik,” gumamnya pelan, suaranya mengandung sedikit gairah bertarung.
Wang Long menatap balik dengan mata yang dalam, tenang tanpa emosi. “Jangan sekali-kali menyentuh orang yang sudah tidak bisa melawan,” ucapnya dingin.
Tekanan di antara mereka kian meningkat. Tanah di bawah kaki keduanya mulai amblas dan retak-retak.
Sin Yin menahan napas, tangannya gemetar melihat intensitas energi di tengah arena. Yue Lan mengepalkan tangan kuat-kuat, matanya tak berkedip.
Seluruh Perguruan Awan Putih menjadi saksi bisu atas pertemuan dua kutub kekuatan besar. Naga dan Bayangan. Telapak emas yang hangat beradu langsung dengan pukulan hitam yang sedingin kematian.
Bersambung...