NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan cepat, diwarnai oleh persiapan yang matang untuk pertemuan kedua dengan Haesung Group yang tinggal beberapa hari lagi.

Kim Ae Ra bekerja dengan semangat yang baru, didukung oleh kepercayaan diri yang meningkat drastis setelah mengetahui ikatan masa lalunya dengan Jae Hyuk.

Hubungan mereka berdua kini terasa begitu kuat dan solid; di tempat kerja mereka tetap profesional, namun di balik layar, ada pemahaman dan dukungan emosional yang tak terputus.

Setiap kali Ae Ra merasa ragu atau lelah, ia hanya perlu melihat senyum Jae Hyuk atau mendengar suaranya, dan semangatnya akan kembali lagi.

Namun, di tengah kesibukan dan kebahagiaan itu, pesan dari Lee Seo Jun yang ia terima beberapa hari lalu terus menghantui pikirannya.

Ia tidak membalas pesan itu, dan Seo Jun juga tidak mengirimkan pesan lain setelahnya. Tapi kata-kata Seo Jun—bahwa ia tidak tahu menahu soal klausul-klausul mencurigakan itu dan sudah berdebat dengan ayahnya—terus berputar di kepalanya.

Ae Ra ingin sekali mempercayainya, ingin sekali percaya bahwa teman yang selama ini ia kenal di toserba itu tidak mungkin berniat jahat padanya.

Tapi pengalaman baru-baru ini tentang kebohongan identitas membuatnya sulit untuk begitu saja memberikan kepercayaannya kembali.

Suatu sore, saat jam kerja sudah usai dan sebagian besar karyawan sudah pulang, Ae Ra masih duduk di mejanya, menyelesaikan beberapa administrasi terakhir sebelum pulang.

Gedung itu mulai sepi, hanya terdengar suara ketikan keyboardnya sendiri dan sesekali suara langkah orang yang lewat di koridor jauh.

Tiba-tiba, layar ponselnya yang terletak di meja menyala, menandakan ada panggilan masuk.

Ae Ra meliriknya dan melihat nama yang tertera di sana—"Tuan Lee".

Jantungnya berdegup kencang. Seo Jun. Dia menelepon.

Ae Ra terdiam, jemarinya terhenti di atas keyboard. Ia bingung harus melakukan apa.

Apakah ia harus mengangkatnya? Atau biarkan saja panggilan itu berakhir? Namun, rasa penasaran dan mungkin juga sedikit rasa sayang sebagai teman lama membuatnya akhirnya memberanikan diri.

Ia mengambil ponsel itu, menarik napas panjang, dan menggeser tombol jawab.

"Halo," ucapnya pelan, suaranya terdengar ragu.

Di seberang sana, hening sejenak sebelum akhirnya suara yang sangat familiar terdengar, suara yang selama ini ia rindukan namun juga hindari.

"Ae Ra…" suara Seo Jun terdengar lembut, penuh dengan rasa lega seolah ia sudah menunggu lama untuk mendengar suara gadis itu.

"Terima kasih sudah mengangkat teleponku. Aku… aku tidak menyangka kau akan menjawab."

Ae Ra menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan dirinya.

"Ada apa, Tuan Lee? Kenapa Anda menelepon saya saat ini? Jika ini soal pekerjaan, seharusnya Anda bisa menghubungi tim kami atau Tuan Hyun."

"Aku tahu, Ae Ra. Aku tahu," jawab Seo Jun cepat, suaranya terdengar sedikit putus asa.

"Tapi ini bukan hanya soal pekerjaan. Ini soal kita. Soal kau dan aku. Aku tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut begitu saja tanpa aku mencoba menjelaskan semuanya secara langsung. Aku tahu aku salah karena menyembunyikan identitasku, dan aku tidak berharap kau memaafkanku dengan mudah. Tapi aku mohon, berikan aku kesempatan sekali saja untuk berbicara denganmu, untuk menjelaskan segalanya. Tatap muka. Bukan lewat telepon, bukan lewat pesan."

Ae Ra terdiam. Hatinya bergejolak. Ia tahu bertemu dengan Seo Jun sekarang mungkin akan membingungkan dirinya lebih lagi, tapi di sisi lain, ia juga ingin mendengar penjelasannya langsung.

Ia ingin tahu kebenarannya. Ia ingin tahu apakah Seo Jun benar-benar orang yang ia kenal atau tidak.

"Tapi…" Ae Ra ragu.

"Saya tidak tahu apakah itu ide yang baik, Tuan Lee. Situasinya sudah rumit seperti ini."

"Aku tahu ini memintamu terlalu banyak, Ae Ra. Tapi aku mohon. Hanya sebentar. Aku tidak akan memakan waktumu lama. Kita bisa bertemu di tempat yang netral, di mana pun kau mau. Atau… jika kau masih ingat, bagaimana jika di toserba kita? Tempat di mana kita pertama kali bertemu, tempat di mana aku merasa paling nyaman menjadi diriku sendiri. Bagaimana?" tawar Seo Jun pelan, suaranya penuh harap.

Sebutan "toserba kita" itu membuat hati Ae Ra terasa perih. Kenangan indah di tempat itu kembali menyeruak.

Tempat di mana Seo Jun selalu menyuguhkan minuman hangat, tempat di mana mereka tertawa bersama, tempat yang selama ini menjadi pelariannya.

"Ae Ra? Apakah kau masih di sana?" tanya Seo Jun pelan setelah beberapa saat hening.

Ae Ra menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia membuat keputusannya.

"Baik. Saya akan bertemu dengan Anda. Tapi hanya sebentar. Dan saya akan datang ke toserba itu nanti sore setelah jam kerja selesai."

"Terima kasih, Ae Ra! Terima kasih banyak!" suara Seo Jun terdengar begitu lega dan bahagia.

"Aku akan menunggumu di sana. Aku akan memastikan tidak ada orang lain yang mengganggu kita. Terima kasih, Ae Ra."

"Sampai nanti," jawab Ae Ra pelan, lalu menutup teleponnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ia meletakkan ponselnya kembali di meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap langit-langit ruangan. Ia baru saja membuat keputusan besar. Ia akan bertemu Seo Jun lagi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, apa yang akan ia dengar, atau bagaimana perasaannya nanti setelah bertemu. Tapi ia tahu, ini adalah langkah yang harus ia ambil untuk menutup babak keraguan ini. Ia harus tahu kebenarannya.

Namun, di saat yang sama, ia juga merasa sedikit bersalah. Rasanya seolah ia sedang menyembunyikan sesuatu dari Jae Hyuk.

Padahal, mereka baru saja saling membuka hati dan mengungkapkan segalanya. Apakah ia harus memberitahu Jae Hyuk tentang rencananya ini?

Pikiran itu baru saja muncul di kepalanya ketika pintu ruangan CEO terbuka dan Jae Hyuk keluar. Pria itu tampak siap untuk pulang, namun saat melihat Ae Ra yang masih duduk di sana dengan ekspresi yang campur aduk, langkahnya berhenti.

"Ae Ra? Kau belum pulang?" tanya Jae Hyuk pelan, berjalan mendekat ke meja gadis itu. Matanya menyapu wajah Ae Ra dengan tatapan penuh perhatian.

"Kau terlihat sedikit pucat. Ada apa? Apakah ada masalah?"

Ae Ra menoleh ke arah Jae Hyuk, dan melihat tatapan pria yang begitu peduli dan tulus itu, rasa bersalah itu semakin kuat.

Ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Jae Hyuk. Tidak lagi.

"Tuan…" panggil Ae Ra pelan, menelan ludahnya yang terasa tercekat.

"Sebenarnya… saya baru saja menerima telepon. Dari Tuan Lee. Dia meminta saya untuk bertemu dengannya. Dia ingin menjelaskan beberapa hal secara langsung. Dan… saya sudah setuju untuk bertemu dengannya nanti sore di toserba tempat dia bekerja."

Jae Hyuk terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Ae Ra dengan tatapan yang sulit dibaca.

Ada kilatan cemburu yang mungkin muncul sejenak, namun dengan cepat digantikan oleh pengertian dan rasa hormat terhadap keputusan Ae Ra.

"Begitu ya…" gumam Jae Hyuk pelan, lalu ia menghela napas panjang. Ia menarik kursi di hadapan Ae Ra dan duduk, membuat posisi mereka setara.

"Aku tidak akan membohongimu, Ae Ra. Jujur saja, aku tidak terlalu senang kau bertemu dengannya sendirian. Aku khawatir, aku cemas, dan aku juga tidak bisa menipu bahwa ada rasa cemburu yang muncul. Tapi…" ia berhenti sejenak, menatap mata Ae Ra dengan serius.

"Ini adalah hakmu. Kau berhak mendengar penjelasannya, kau berhak mengetahui kebenaran dari mulutnya sendiri. Dan aku percaya padamu, Ae Ra. Aku percaya pada kedewasaanmu dan pada apa yang kita miliki."

Kata-kata itu membuat hati Ae Ra terasa lega sekaligus terharu.

Jae Hyuk begitu pengertian, begitu percaya padanya. Itu justru membuatnya semakin yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.

"Tuan tidak marah?" tanya Ae Ra pelan, hampir berbisik.

Jae Hyuk tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ae Ra yang tergeletak di meja.

"Aku tidak marah, Ae Ra. Aku hanya ingin kau berjanji satu hal padaku."

"Apa itu, Tuan?"

"Berjanjilah padaku, jika kau merasa tidak nyaman, atau jika ada sesuatu yang membuatmu takut atau tertekan saat berbicara dengannya, kau akan segera menghubungku. Aku akan datang secepat mungkin menjemputmu. Dan ingat, kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk mendengarkan atau memaafkan apa pun yang tidak kau anggap benar. Kau punya hak untuk memilih apa yang terbaik untuk dirimu sendiri," kata Jae Hyuk tegas namun penuh kelembutan.

Ae Ra mengangguk pelan, matanya sedikit berkaca-kaca karena terharu.

"Siap, Tuan. Saya berjanji. Dan terima kasih… terima kasih sudah mengerti dan mempercayai saya sepenuhnya."

"Itu tugasku, Ae Ra. Untuk melindungimu dan mempercayaimu," jawab Jae Hyuk lembut.

"Nah, sekarang ayo pulang. Kau harus bersiap-siap jika kau ingin bertemu dengannya nanti. Dan jangan lupa, makan yang cukup ya. Jangan biarkan perutmu kosong saat menghadapi situasi yang berat."

Ae Ra tertawa kecil, merasa suasana hatinya membaik berkat candaan lembut Jae Hyuk.

"Iya, Tuan. Saya tahu. Ayo kita pulang."

Mereka pun berjalan keluar dari gedung kantor bersama-sama, berpisah di halte bus dengan senyum dan salam yang hangat. Ae Ra pulang ke rumahnya dengan perasaan yang campur aduk—ada rasa gugup, ada rasa cemas, tapi juga ada rasa percaya diri yang baru karena dukungan Jae Hyuk.

Ia tahu, pertemuan nanti sore akan menjadi momen yang penting. Ia akan mendengar sisi lain dari cerita Seo Jun, dan ia harus memutuskan apa yang harus ia percayai mulai sekarang.

Namun, satu hal yang pasti: ia tidak sendirian. Apapun hasil pertemuan itu nanti, ia tahu ada Jae Hyuk yang akan selalu ada di sisinya, siap menerima dan mendukungnya apa pun keputusannya.

1
Lisa
Moga pertemuannya dgn Tn. Lee lancar y Aera..semangat ya 💪😊
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!