NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Ujian Pertama

Musim gugur tahun itu terasa berbeda.

Daun-daun menguning berguguran seperti biasa, tapi ada kehangatan aneh di udara—atau mungkin hanya perasaanku sebagai ayah yang melihat anak-anaknya tumbuh.

Hyun kini empat belas tahun. Tingginya sudah mencapai bahuku, dengan bahu bidang dan lengan berotot dari latihan keras. Wajahnya mulai menunjukkan ketampanan—hidung mancung, mata tajam, senyum yang bisa membuat gadis desa tersipu. Tapi yang paling kusukai darinya adalah caranya memandang dunia: dengan rasa ingin tahu dan keberanian, tapi tanpa kesombongan.

Bi tiga belas tahun. Dia mewarisi kecantikan ibunya—kulit halus, rambut panjang hitam legam, dan mata yang dalam. Tapi di balik kecantikan itu, ada otak yang encer. Dia sudah menguasai semua ilmu yang kuajarkan, dan sekarang mulai mengembangkannya sendiri. Beberapa minggu lalu, dia menemukan cara membuat tinta yang tidak luntur—sederhana, tapi berguna.

Mereka berdua seperti sisi berbeda dari koin yang sama: Hyun kekuatan, Bi kecerdasan. Bersama, mereka tak terhentikan.

---

Suatu sore, Jin-wook datang dengan kabar.

"Ada turnamen antar klan di ibu kota," katanya, meletakkan undangan di mejaku. "Diadakan setiap sepuluh tahun. Semua klan besar dan kecil diundang. Ini kesempatan untuk menunjukkan kekuatan kita... atau setidaknya, menjalin hubungan."

Aku membaca undangan itu. Dari Klan Pusat—penguasa wilayah tengah, yang selama ini netral dalam semua konflik.

"Kau pikir kita harus ikut?"

"Bukan kita. Mereka." Jin-wook menunjuk ke arah paviliun tempat Hyun dan Bi belajar. "Ini saatnya generasi baru tampil."

Aku diam, memikirkan.

Hyun dan Bi belum pernah keluar dari wilayah kita. Mereka tidak tahu dunia luar. Tapi mereka harus belajar. Cepat atau lambat.

"Kau benar. Aku akan bicara dengan mereka."

---

Malam itu, aku memanggil Hyun dan Bi ke ruang kerjaku.

Mereka duduk berhadapan, Hyun dengan tenang, Bi dengan rasa ingin tahu.

"Ada undangan dari Klan Pusat," aku memulai. "Turnamen antar klan. Aku ingin kalian berdua ikut."

Hyun mengangkat alis. "Kami? Berdua?"

"Kau ikut turnamen pertarungan. Bi ikut turnamen akademik—mereka punya lomba pengetahuan juga."

Bi matanya berbinar. "Lomba pengetahuan? Seperti apa?"

"Seperti ujian. Siapa paling pintar."

"Aku mau!"

Hyun diam. Lalu bertanya, "Ayah, apa aku harus menang?"

"Tidak harus. Yang penting kau belajar. Bertemu orang baru. Lihat dunia luar." Aku menatapnya. "Tapi kalau bisa menang, itu nilai plus."

Dia tersenyum tipis. "Baik. Aku usahakan."

---

Persiapan dimulai.

Hyun berlatih lebih keras dengan Hyerin. Setiap hari, mereka berduel di halaman belakang. Aku sering menonton, bangga melihat kemajuan putraku. Dia sudah bisa mengimbangi ibunya—kadang bahkan menang, meskipun jarang.

Bi sibuk dengan buku. Perpustakaanku jadi medan perangnya. Dia membaca semua yang bisa dibaca, mencatat, bertanya. Kadang pertanyaannya sulit kujawab.

"Ayah, kalau bumi itu bulat, kenapa kita tidak jatuh?"

"Gravitasi."

"Apa itu gravitasi?"

"Gaya tarik bumi."

"Kenapa bumi punya gaya tarik?"

Aku menyerah. "Nanti kalau besar, kau bisa cari tahu sendiri."

Dia cemberut, tapi lalu tersenyum. "Baik, Ayah. Aku akan temukan jawabannya."

---

Dua minggu kemudian, kami berangkat.

Rombongan kecil: aku, Hyerin, Hyun, Bi, Jin-wook, dan sepuluh prajurit pengawal. Perjalanan ke ibu kota memakan waktu lima hari—melewati hutan, sungai, dan perbukitan.

Hyun dan Bi takjub melihat dunia luar. Mereka belum pernah sejauh ini.

"Lihat, Ayah! Gunung itu besar sekali!"

"Itu Gunung Batu, Nak. Di baliknya ada Klan Batu."

"Wah... ada klan di balik gunung?"

"Banyak."

Bi lebih tertarik pada tanaman dan hewan yang mereka temui. Dia mencatat semuanya di buku kecil—nama, bentuk, warna. "Untuk penelitian," katanya.

Hyerin tersenyum melihat mereka. "Oppa, mereka seperti kita dulu."

"Seperti kita? Aku dulu tidak seaktif itu."

"Tapi sama-sama ingin tahu."

---

Ibu kota Klan Pusat adalah kota terbesar yang pernah kulihat di Murim.

Seratus ribu penduduk. Tembok setinggi dua puluh meter. Istana megah di tengah. Pasar yang ramai siang malam.

Hyun dan Bi terpana.

"Ini... ini seperti mimpi," bisik Bi.

"Ini nyata, Nak. Selamat datang di dunia luar."

Kami check in di penginapan yang sudah dipesan. Besok, turnamen dimulai.

---

Hari pertama: pembukaan.

Ribuan orang berkumpul di stadion besar. Perwakilan dari seratus klan—beberapa besar, beberapa kecil, beberapa asing. Bendera berkibar di mana-mana.

Kami duduk di area khusus untuk klan sekelas Gong. Tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang. Posisi aman.

Upacara pembukaan panjang dan membosankan. Tapi saat pengumuman peserta turnamen, Hyun dan Bi tegang.

"Peserta turnamen pertarungan remaja: Jin Hyun dari Klan Gong!" Teriakan penonton biasa saja.

"Peserta turnamen pengetahuan remaja: Jin Bi dari Klan Gong!" Kali ini ada beberapa tepuk tangan—mungkin karena namanya lucu.

Bi tersipu. Hyun hanya tersenyum tipis.

---

Hari kedua: turnamen pengetahuan.

Bi bersaing dengan tiga puluh peserta lain dari berbagai klan. Mereka duduk di ruangan besar, masing-masing di meja dengan kertas dan tinta. Pengawas membacakan soal, mereka menulis jawaban.

Aku dan Hyerin menonton dari balkon. Hyun di samping kami, tegang.

Soal pertama: "Sebutkan lima klan besar di Murim dan ibu kotanya."

Bi menulis cepat. Dia hafal itu.

Soal kedua: "Jelaskan proses terjadinya hujan."

Bi tersenyum. Ini gampang.

Soal ketiga, keempat, kelima... semakin sulit. Tapi Bi menjawab semua dengan tenang.

Soal terakhir: "Jika sebuah batu dijatuhkan dari ketinggian, berapa kecepatannya saat menyentuh tanah? Jelaskan rumusnya."

Aku terkesiap. Ini soal fisika! Dari mana mereka tahu?

Bi terdiam sejenak. Lalu menulis. Panjang. Detail.

Waktu habis. Kertas dikumpulkan.

---

Hari ketiga: pengumuman pemenang.

Kami duduk tegang. Hyun menggenggam tanganku erat. Bi di sampingnya, wajah pucat.

"Pemenang ketiga turnamen pengetahuan: Park So-yeon dari Klan Park!"

Tepuk tangan.

"Pemenang kedua: Jin Bi dari Klan Gong!"

Aku melompat. HYERIN BERTERIAK. Bi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca.

Dia naik ke panggung, menerima hadiah—satu set buku kuno dan medali emas.

Saat turun, dia berlari ke arahku. "Ayah! Ayah! Aku dapat nomor dua!"

"Ayah bangga padamu, Nak. Sangat bangga."

Dia menangis di pelukanku. Tangis bahagia.

---

Hari keempat: turnamen pertarungan Hyun.

Ini yang lebih menegangkan. Aku tahu Hyun hebat, tapi lawan-lawannya juga. Beberapa bahkan lebih besar dan lebih berpengalaman.

Babak pertama: Hyun melawan anak dari Klan Batu. Pria besar, hampir dua kepal lebih tinggi. Tapi Hyun lincah. Dia menghindar, mencari celah, dan menang dalam tiga menit.

Babak kedua: melawan pendekar muda dari Klan Air. Lebih seimbang. Pertarungan berlangsung sepuluh menit. Akhirnya Hyun menang dengan poin tipis.

Babak ketiga: perempat final. Lawannya dari Klan Api—cepat, agresif. Hyun kewalahan. Tapi di menit terakhir, dia berhasil melakukan jurus rahasia yang diajarkan Hyerin—dan menang.

Semifinal. Lawannya dari Klan Pusat sendiri. Anak kesayangan tuan rumah. Penonton bersorak untuknya.

Hyun bertarung dengan tenang. Tidak terpengaruh sorakan. Lima menit. Sepuluh. Lima belas.

Akhirnya, wasit mengangkat tangan Hyun. Pemenang!

Final besok.

---

Malam final, Hyun gelisah.

"Ayah, aku takut."

"Takut apa?"

"Besok lawanku dari Klan Pedang. Mereka terkenal dengan ilmu pedangnya. Aku bisa kalah."

Aku duduk di sampingnya. "Nak, kau sudah sampai sejauh ini. Itu sudah lebih dari yang Ayah harapkan. Menang atau kalah, Ayah tetap bangga."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi. Yang penting kau sudah berusaha. Sisanya, serahkan pada takdir."

Dia diam. Lalu mengangguk.

---

Hari final.

Stadion penuh. Ribuan pasang mata tertuju pada arena. Hyun berdiri di satu sisi, lawannya—pemuda jangkung dengan pedang panjang—di sisi lain.

Pertarungan dimulai.

Mereka bergerak cepat. Pedang beradu. Suara benturan logam memekakkan telinga.

Hyun bertahan dengan baik. Tapi lawannya luar biasa. Setiap serangan balasannya selalu bisa ditangkis.

Lima menit. Sepuluh. Dua puluh.

Keduanya kelelahan. Tapi tidak ada yang menyerah.

Di menit ke dua puluh lima, Hyun melakukan gerakan nekat. Dia menjatuhkan diri, berpura-pura jatuh. Lawannya terkejut, lengah. Hyun bangkit, menusuk dari bawah.

Skor! Poin untuk Hyun!

Tapi lawannya cepat. Dia balas menyerang. Hyun terluka di lengan. Tapi tetap bertahan.

Waktu habis. Wasit menghitung poin.

Hyun menang—satu poin selisih.

Stadion gempar. Pemenangnya bukan dari klan besar, tapi dari Klan Gong!

Aku dan Hyerin berlari ke arena. Hyun sudah roboh, kelelahan. Tapi dia tersenyum.

"Ayah... aku... menang..."

Aku menggendongnya. "Kau hebat, Nak. Kau luar biasa."

---

Malam harinya, kami berpesta kecil di penginapan.

Hanya keluarga dan Jin-wook. Tapi itu cukup. Hyun dan Bi tertawa, bercerita tentang pengalaman mereka. Hyerin menangis haru. Jin-wook tersenyum bangga.

Aku duduk di sudut, mengamati mereka.

Dua anakku—satu pemenang turnamen pertarungan, satu juara kedua turnamen pengetahuan. Dalam waktu singkat, mereka sudah menorehkan prestasi.

Tapi lebih dari itu, mereka tumbuh jadi manusia baik. Rendah hati, berani, dan saling menyayangi.

Di luar, bintang-bintang bersinar. Angin malam berhembus sejuk.

Aku menarik napas dalam-dalam. Bahagia.

---

[Bersambung ke Bab 35]

1
Q. Zlatan Ibrahim
terimakasi atas semangatnya
SR07
semangat updatenya bro
.
halo semua.. saya pembaca baru 👋😊
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih atas dukunganya
total 1 replies
SR07
ayo semangat updatenya 💪
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!