Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri di Balik Doa
Lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala, memancarkan aura mencekam yang seolah membekukan waktu. Di ruang tunggu yang sunyi, Aira duduk di pojok kursi besi yang dingin. Ia meremas sapu tangan pemberian Kara, bibirnya tak henti menggumamkan doa yang selama ini jarang ia ucapkan.
Tak jauh dari sana, orang tua Kara duduk dengan raut wajah yang tegang. Ibu Kara—wanita dengan setelan mahal yang tampak kontras dengan seragam sekolah Aira yang mulai lusuh—sesekali melirik ke arah Aira dengan tatapan tidak suka. Baginya, Aira adalah variabel asing yang merusak keteraturan hidup putranya.
"Mas, apa benar anak itu yang terus menemani Yasa di rumah sakit?" bisik Ibu Kara kepada suaminya, namun suaranya cukup tajam untuk menembus keheningan. "Lihat dia. Sejak Yasa mengenalnya, Yasa jadi tidak fokus, sakit-sakitan, dan sekarang sampai harus operasi. Dia seperti... pembawa awan mendung."
Ayah Kara hanya diam, namun rahangnya mengeras, menandakan persetujuan diam-diam. Ibu Kara berdiri, hendak melangkah menuju Aira dengan niat mengusirnya dari sana, namun sebuah tangan tua yang kokoh menahan lengannya.
Itu sang Kakek.
"Jangan sekarang," bisik Kakek Kara tegas namun tenang. "Ini bukan tempat untuk bertengkar. Yasa butuh energi positif, bukan kebencian di depan pintu operasinya."
Ibu Kara mendengus, namun ia kembali duduk. Sang Kakek kemudian berjalan perlahan menghampiri Aira. Ia melihat ketulusan yang hancur di mata gadis itu. Sebagai orang yang paham akan mitos dan energi, sang Kakek tahu kehadiran Aira saat ini hanya akan memperkeruh suasana hati orang tua Kara yang sedang kalut.
Kakek duduk di samping Aira, memberikan kehangatan yang tak terduga.
"Nduk," panggil Kakek lembut. "Operasi ini mungkin akan memakan waktu sangat lama. Bisa sampai dini hari."
Aira mendongak, matanya sembab. "Saya ingin menunggu sampai Kara bangun, Eyang."
Kakek tersenyum tipis, lalu mengusap bahu Aira. "Eyang tahu. Tapi lihat dirimu, kamu belum makan dan seragammu sudah berantakan. Yasa pasti sedih kalau dia bangun nanti dan melihat kekasihnya—iya, Eyang tahu soal itu—tampak seperti orang yang habis hanyut ditelan badai."
Kakek menjeda sejenak, menatap ke arah orang tua Kara yang masih memperhatikan mereka. "Pulanglah dulu. Bersihkan dirimu, istirahat sejenak, dan bawakan pakaian ganti untuk Yasa besok pagi. Biarkan malam ini Yasa berjuang bersama dokter dan doa orang tuanya. Besok pagi, saat matahari terbit, datanglah kembali. Yasa butuh kamu yang segar untuk membantunya melihat dunia lagi."
Kata-kata itu terdengar seperti perhatian seorang kakek kepada cucunya, namun Aira cukup peka untuk menangkap maksud tersiratnya. Ini adalah pengusiran paling halus yang pernah ia terima—sebuah permintaan agar ia menyingkir demi menjaga kedamaian keluarga Kara.
"Baik, Eyang," bisik Aira parau. "Saya... saya pulang dulu. Tolong kabari saya kalau ada apa-apa."
Aira berjalan pulang dengan hati yang kosong. Namun, setibanya di gang rumahnya, kedamaian yang ia harapkan justru tidak ada.
Di depan warung Bu RT, beberapa warga tampak berkumpul meski malam sudah larut. Begitu sosok Aira muncul di bawah lampu jalan, suasana mendadak senyap, sebelum akhirnya berubah menjadi bisik-bisik yang pedas.
"Itu dia," suara Ibu Rini terdengar paling nyaring. "Kalian dengar kan? Nak Yasa, anak emas sekolah itu, sekarang dioperasi matanya. Hampir buta!"
"Iya, gara-gara sering boncengan sama si Aira," timpal warga lain. "Belum lagi Pak Mulyono yang kecelakaan semalam. Benar-benar ya, rumah nomor 13 itu kutukannya makin merajalela. Anak ini benar-benar 'punggelan'. Siapa pun yang dekat, langsung dipatahkan nasibnya."
Aira mencoba mempercepat langkahnya, namun kata-kata mereka mengejarnya seperti belati.
"Hee, Aira! Mending kamu pindah saja dari sini sebelum lingkungan ini kena sial semua!" teriak seorang pria dari kegelapan. "Gara-gara kamu, aura kampung ini jadi gelap!"
Aira membanting pintu rumahnya dan langsung menguncinya rapat-rapat. Ia merosot di balik pintu, menutup telinganya dengan kedua tangan. Di luar, suara warga masih terdengar samar, menghakiminya sebagai penyebab segala bencana. Di dalam, rumahnya terasa sangat dingin.
Ia menatap foto keluarganya yang sudah berdebu. Benarkah ia yang menarik semua kesialan ini? Ataukah dunia memang hanya butuh seseorang untuk disalahkan atas ketidakberuntungan yang terjadi?
"Kara..." isak Aira. "Apa janjimu benar-benar lebih kuat dari semua kebencian ini?"
Malam itu, Aira meringkuk di lantai, terjepit di antara ketakutan akan kehilangan Kara dan kenyataan bahwa seluruh dunianya kini menganggapnya sebagai musuh.
**
Aira masih meringkuk di balik pintu kayu rumahnya yang mulai lapuk. Suara warga di luar perlahan mereda, digantikan oleh suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyahkan ranting pohon mangga di halaman. Namun, di dalam kepala Aira, suara-suara itu justru semakin nyaring.
Punggelan.
Pembawa sial.
Penyebab kegelapan.
Ia menoleh ke arah meja kecil tempat ia meletakkan pot teratai pemberian Kara setelah aksiden di lab setelah berita kematian pak Mulyono. Batang yang kemarin patah kini ia ikat dengan benang tipis, berusaha ditegakkan di dalam air. Tapi airnya tampak keruh, dan daunnya mulai menguning.
"Apa aku benar-benar harus pergi, Kara?" bisiknya pada keheningan. "Apa dengan menjauh, matamu bisa sembuh?"
Ia mengambil ponselnya yang retak. Tidak ada pesan masuk. Kakek Kara belum memberinya kabar. Setiap detik terasa seperti tetesan air yang jatuh ke batu, lambat namun menghancurkan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat.
Pesan: "Jauhi anak saya. Jika kamu benar-benar menyayanginya, jangan biarkan dia kehilangan masa depannya hanya karena kehadiranmu. Biarkan dia melihat dunia, bukan kegelapanmu."
Aira tahu itu pesan dari Ibu Kara. Kalimatnya tidak kasar, tapi dingin dan mematikan. Pesan itu merobek sisa-sisa harapan yang sempat dibangun Kara di kamar rumah sakit tadi sore.
Aira berjalan menuju cermin di sudut kamar. Ia menatap matanya sendiri—mata yang kata orang membawa kutukan. Ia tidak melihat monster di sana. Ia hanya melihat seorang gadis yang sangat kelelahan, yang hanya ingin dicintai tanpa harus mencelakai.
Ia teringat janji Kara: "Aku adalah matahari. Aku tidak akan tenggelam."
"Tapi matahari bisa gerhana, Kara," gumam Aira. "Dan gerhana itu... adalah aku."
Malam itu, Aira tidak tidur. Ia menghabiskan waktunya dengan membereskan kamar, mencuci seragamnya dengan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, dan menyiapkan tas kecil berisi pakaian ganti Kara sesuai pesan sang Kakek. Ia melakukannya dengan mekanis, seolah-olah jika ia berhenti bergerak, kesedihan akan menelannya bulat-bulat.
Menjelang subuh, Aira duduk di teras rumahnya. Langit masih kelabu. Ia menatap jalanan gang yang sepi, tempat warga baru saja memakinya semalam. Ia merasa seperti orang asing di tanah kelahirannya sendiri.
Namun, di tengah keputusasaan itu, ia melihat kuncup teratai di dalam kamarnya—yang ia bawa keluar ke teras agar terkena embun—sedikit merekah. Hanya sedikit, namun warna merah mudanya mulai terlihat di balik lapisan kelopak yang layu.
Aira menyentuh kelopak itu dengan ujung jarinya. "Kalau kamu bisa bertahan di air keruh ini, apakah aku juga bisa?"
Ia berdiri, menyampirkan tasnya, dan mulai berjalan menuju halte bus. Ia tidak peduli jika warga kembali menatapnya dengan benci. Ia tidak peduli jika Ibu Kara ingin mengusirnya. Ia harus tahu apakah mataharinya masih ada di sana, atau apakah malam ini telah benar-benar menghapus cahaya yang ia puja.
Langkah Aira mantap, namun hatinya hancur berkeping-keping. Ia sedang berjalan menuju sebuah jawaban yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰