Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 IKATAN DUA DINASTI
Selasa, 15 April 2025, Musim Semi
Gemerlap lampu kristal di aula utama hotel terbaru milik Aurevyn Global Group seolah menjadi saksi bisu atas peristiwa panas yang baru saja terjadi di balik pintu tertutup. Olivia Elenora Aurevyn melangkah keluar dari area privat dengan napas yang perlahan mulai teratur, meski jantungnya masih berdegup kencang setiap kali memori tentang sentuhan Liam melintas di benaknya. Ia mengenakan gaun baru yang dibawakan oleh Marcus sebuah gaun mahakarya berwarna emerald green yang sangat elegan dan tertutup, membungkus tubuh indahnya dengan sopan sesuai tuntutan posesif sang Monarch.
Olive mencoba berjalan sesantai mungkin, menahan rasa perih yang masih terasa di area sensitifnya. Ia mengernyitkan dahi dalam hati, merasa aneh. Padahal ia sudah memiliki Alex, namun kenapa serangan Liam yang dominan tadi masih terasa begitu kuat dan membuat tubuhnya terasa seperti baru pertama kali disentuh? Mungkin karena Liam memang seekor predator yang tahu benar bagaimana cara menaklukkan mangsanya.
Di sudut aula, ia melihat Geng The Royal Lustre sedang berkumpul. Zee dan Vera sedang sibuk mengajak Alex bermain, sementara Brian dan Kenzo tampak berdiri tegap di dekat pintu masuk, menyapa para tamu konglomerat yang mulai memadati ruangan.
Saat Olive mendekat, Vera adalah orang pertama yang menyadarinya. Mata tajam Vera memindai penampilan Olive dari ujung kepala hingga ujung kaki. Zee, yang baru saja membalikkan badan, langsung berteriak histeris untungnya suara musik klasik meredam teriakannya.
"Olive! Kau berubah pikiran?!" seru Zee dengan mata melotot. "Mana riasan monster tadi? Dan gaun ini... ya Tuhan, kau terlihat sangat cantik dan... sangat tertutup? Apakah kau baru saja mendapatkan pencerahan dari surga untuk menerima pria tua bangka itu?"
Tanpa menunggu jawaban, Zee dan Vera langsung menarik lengan Olive dengan paksa, menjauh dari kerumunan tamu. Mereka menitipkan Alex secara sepihak kepada Kenzo dan Brian yang jelas-jelas sedang sibuk beramah-tamah dengan para investor.
"Cepat jelaskan!" tuntut Vera dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. "Kami sudah menyiapkan rencana pelarian, dan sekarang kau muncul seperti bidadari yang siap menikah?"
BAB 14 : INTEROGASI DAN KEDATANGAN SANG DEWA
Di sebuah sudut yang cukup tersembunyi, Zee mulai mengomel tanpa henti. "Olive, dengerin aku! Kalau kau terpaksa, mending kita kabur sekarang. Aku tidak rela gadis secantik The Golden Butterfly harus berakhir di ranjang pria tua jelek yang mungkin perutnya lebih besar dari bola basket! Ih, ngeri!"
Olive merasakan pipinya memanas hebat. Ia teringat bagaimana ia baru saja "mendesah nikmat" di bawah tubuh pria yang justru sangat tampan dan jauh dari kata tua. Namun, ia harus menjaga rahasia itu sampai pengumuman resmi.
"Tenanglah, Zee. Aku... aku hanya merasa riasan tadi terlalu berlebihan. Dan soal pria itu, mungkin dia tidak seburuk yang kita pikirkan," jawab Olive mencoba menenangkan sahabatnya.
"Mending kau lari ke Liam saja, Olive!" Zee menyarankan dengan menggebu-gebu. "Meskipun dia dingin dan sedikit menyeramkan, setidaknya dia seksi dan seumuran dengan kita. Daripada pria misterius pilihan Paman Bram?"
Olive memaksakan senyum tipis, mencoba menahan tawa yang hampir pecah. "Liam? Mana mungkin Liam mau denganku, Zee. Dia itu pasti masih perjaka ting-ting yang mencari wanita sempurna, bukan janda satu anak sepertiku," bohong Olive dengan lancar, padahal "keperjakaan" yang ia maksud sudah hilang bersamaan dengan gaun sutranya yang robek di kamar mandi tadi.
Setelah interogasi lucu yang berlangsung lebih dari dua puluh lima menit di mana Vera terus menganalisis ekspresi Olive dan Zee terus memberikan saran pelarian yang tidak masuk akal mereka akhirnya kembali ke aula utama.
Aula kini sudah dipenuhi oleh kaum elit Monako dan Eropa. Alex menjadi pusat perhatian; meskipun statusnya sebagai anak Olive sudah mulai dibicarakan di belakang, di depan umum semua orang tetap memasang wajah penjilat. Mereka memuji Alex sebagai bibit unggul, meski di balik itu mereka berbisik-bisik menghina tentang siapa ayah dari anak tersebut.
Zee, yang memiliki insting tajam terhadap kepalsuan, langsung menarik Alex menjauh dari sekelompok wanita sosialita yang mencoba mencubit pipi Alex. "Maaf, ya, Tante-Tante. Alex ada jadwal main mobil-mobilan, jangan diganggu polusi udara dulu," ucap Zee ketus, membuat Vera dan Olive hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah protektif sahabat mereka itu.
Tiba-tiba, suasana aula yang bising mendadak sunyi senyap. Pintu utama terbuka lebar, memperlihatkan kedatangan keluarga Valerius yang sangat berwibawa. Hendrik dan Vanya Valerius melangkah masuk dengan keanggunan penguasa, namun perhatian semua orang terutama para gadis muda konglomerat langsung tertuju pada sosok pria di belakang mereka.
Liam Maximilian Valerius.
Pria itu benar-benar definisi dewa ketampanan dalam balutan setelan jas tiga lapis yang baru. Aura dinginnya yang dominan membuat semua orang menahan napas. Para gadis yang tadi sibuk bergosip kini tampak seperti lebah yang melihat bunga paling manis, mata mereka berbinar penuh birahi.
Zee memutar bola matanya malas melihat tingkah para penjilat itu. Ia menyenggol lengan Olive. "Lihat, Olive. Itu Liam. Mumpung dia ada di sini, mending kau dekati dia daripada menunggu pria tua bangka itu muncul di panggung."
Olive tidak menanggapi. Ia duduk tenang di kursinya, memangku Alex yang sedang asyik memainkan mobil-mobilan di paha ibunya. Olive hanya fokus mengusap rambut lembut putranya, mencoba menutupi kegugupan karena tatapan Liam yang terus melirik ke arahnya dengan intensitas yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
Acara dimulai dengan pidato megah dari Bramasta Yudha Aurevyn. Ia menceritakan tentang visi hotel tersebut sebagai simbol kemewahan baru di Monako. Namun, puncak dari pembukaan itu adalah saat Bram memanggil cucunya ke atas panggung.
"Dan inilah masa depan Aurevyn, cucu pertamaku, Leon Alexander Aurevyn," ucap Bram dengan bangga.
Semua orang bertepuk tangan. Alex, dengan keberanian yang luar biasa, memegang gunting besar bersama kakeknya dan memotong pita merah. Di bawah panggung, banyak orang mulai berbisik, menyalahkan pria "tidak bertanggung jawab" yang telah meninggalkan Olive, tanpa menyadari bahwa pria yang mereka bicarakan sedang berdiri tegak dengan tatapan bangga di barisan depan : Liam.
Acara berjalan lancar hingga tiba saat penutupan. Bramasta, Hendrik Valerius, beserta istri mereka masing-masing maju ke depan panggung. Suasana mendadak menjadi sangat formal dan serius.
"Malam ini, bukan hanya peresmian hotel yang ingin kami bagikan," suara Bram menggema di seluruh aula. "Untuk mempererat hubungan dua dinasti besar, Aurevyn dan Valerius... kami dengan bangga mengumumkan perjodohan antara putri kami, Olivia Elenora Aurevyn, dengan putra keluarga Valerius, Liam Maximilian Valerius."
Hening total.
Satu detik... dua detik... lalu aula itu meledak dalam bisik-bisik histeris. Zee dan Vera melotot ke arah Olive dengan mulut terbuka lebar, tidak percaya bahwa pria yang mereka sarankan untuk "pelarian" ternyata adalah sang calon suami itu sendiri.
Para gadis konglomerat di ruangan itu seolah merasakan patah hati masal; impian mereka untuk bersanding dengan sang Monarch runtuh seketika. Begitu pula dengan para pria yang selama ini mengejar Olive, mereka hanya bisa tertunduk lesu mengetahui bahwa lawan mereka adalah penguasa keamanan global.
Olive menatap Liam dari kejauhan. Liam memberikan sebuah senyum tipis hanya untuknya sebuah senyum yang seolah berkata, "Sudah kukatakan, kau tidak akan pernah bisa lari dariku."
Pertunangan ini bukan sekadar politik bisnis. Bagi Liam, ini adalah klaim resmi atas wanita yang telah ia tandai di kamar mandi satu jam yang lalu. Dan bagi Olive, ini adalah awal dari kehidupan baru sebagai pendamping sang Monarch, di mana ia tidak lagi perlu bersembunyi di balik identitas palsu.