NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas Kotor Seldin

Ruang kerja Seldin Aeru di lantai paling atas kediaman Aeru adalah tempat di mana cahaya matahari seolah enggan masuk sepenuhnya. Ruangan itu didominasi oleh panel kayu gelap dan aroma tembakau mahal yang samar. Seldin duduk di balik meja mahoninya, menatap layar hologram yang menampilkan data fluktuasi pasar modal di Aeruland.

"Kau memanggil saya, Tuan?"

Dareen Christ berdiri di ambang pintu. Dia telah menanggalkan ransel mahasiswanya dan kembali mengenakan jas hitam kaku, meskipun kemeja di baliknya masih sedikit kusut akibat insiden di mobil bersama Seraphina satu jam yang lalu. Tatapannya lurus ke depan, menjaga jarak yang tepat dan penuh hormat.

Seldin tidak segera menjawab. Dia menyesap wiski di gelas kristalnya, membiarkan keheningan yang mengintimidasi merayap di antara mereka. Setelah beberapa saat, dia mematikan layar hologram dan menatap Dareen dengan mata yang tajam seperti elang.

"Bagaimana kuliahmu, Dareen? Aku dengar Profesor Maxwell sangat menyukai analisismu," tanya Seldin, suaranya halus namun mengandung nada ancaman yang tak kasat mata.

"Berjalan lancar, Tuan. Saya berusaha memberikan yang terbaik," jawab Dareen pendek.

Seldin berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke gemerlap lampu distrik Skytown. "Bagus. Aku senang investasiku tidak sia-sia. Namun, jangan lupa tujuan utamamu berada di sana. Kau bukan hanya penjaga Seraphina, kau adalah perpanjangan tanganku."

Seldin berbalik, wajahnya kini terlihat sangat dingin. "Ayah Julian—pemilik Bank Central Aeruland—baru saja mencoba menyabotase akuisisi lahan kita di wilayah Elysium. Dia pikir dia bisa bermain-main dengan keluarga Aeru karena putranya sedang mendekati adikku."

Dareen merasakan firasat buruk merayap di tengkuknya. "Apa yang Anda inginkan dari saya, Tuan?"

Seldin tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Beri anak itu pelajaran. Sesuatu yang akan membuat ayahnya sadar bahwa menyentuh Aeru Group adalah kesalahan fatal. Aku tidak ingin dia cacat secara fisik, tapi aku ingin dia ketakutan setengah mati setiap kali mendengar nama Aeru. Dan aku ingin kau melakukannya secara diam-diam, di luar pengawasan Seraphina."

Dareen terdiam. Di dalam tasnya, masih ada buku teks Hukum Pidana yang baru saja dia pelajari tentang hak asasi dan keadilan. Dia baru saja mulai merasakan kehidupan sebagai manusia yang beradab, sebagai seorang mahasiswa yang bercita-cita membangun masa depan. Namun, di hadapan Seldin, dia kembali diingatkan bahwa dia hanyalah seekor "anjing penjaga"—seorang algojo yang tugasnya hanyalah melakukan pekerjaan kotor yang tidak ingin disentuh oleh tangan suci sang CEO.

"Saya mengerti, Tuan," bisik Dareen. Suaranya terdengar seperti besi yang bergesekan.

"Bagus. Pergilah. Jangan biarkan Seraphina curiga. Dia sangat ... menyukai drama, dan aku tidak ingin dia terlibat dalam masalah ini," perintah Seldin sebelum kembali duduk.

Malam itu, hujan turun membasahi jalanan aspal di area belakang kampus yang sepi. Julian baru saja keluar dari sebuah bar eksklusif di pinggiran kampus, langkahnya sedikit gontai karena pengaruh alkohol. Dia mencari kunci mobil sport-nya, bersiap untuk pulang dan membayangkan bagaimana dia akan menaklukkan Seraphina besok.

Tiba-tiba, lampu jalan di atasnya berkedip lalu padam total.

Julian tersentak. Dia merogoh ponselnya, namun sebuah tangan besar tiba-tiba muncul dari kegelapan dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

"Siapa—"

Kalimat Julian terputus saat tubuhnya dihempaskan dengan keras ke dinding gang yang lembap. Napasnya tercekat. Sebelum dia bisa berteriak, sebuah pisau lipat taktis yang sangat tajam berkilat di bawah cahaya bulan yang redup, ujungnya menekan tepat di bawah jakun Julian.

"Jika kau mengeluarkan suara sedikit saja, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa bicara lagi selamanya," bisikan itu terdengar sangat tenang, namun sangat mematikan.

Julian membelalak. Di balik kegelapan, dia mengenali wajah itu. Wajah yang tadi siang duduk dengan tenang di baris belakang kelas hukum. Wajah yang dia ejek sebagai pria beasiswa rendahan.

"Dareen?" gagap Julian, tubuhnya gemetar hebat. "Apa ... apa yang kau lakukan? Aku bisa memberimu uang! Berapa pun!"

Dareen tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru menekan ujung pisau itu sedikit lebih dalam, cukup untuk membuat luka gores tipis yang mengeluarkan setetes darah di leher Julian.

"Dengarkan aku dengan baik, Pewaris Bank," desis Dareen, suaranya rendah dan penuh otoritas militer yang kelam. "Kau pikir kau bisa mendekati Seraphina Aeru hanya karena kau punya uang? Kau hanyalah serangga kecil yang sedang merayap di wilayah macan. Mulai besok, kau akan menjauhi dia. Kau tidak akan menyentuhnya, kau tidak akan menatapnya, dan kau akan menyuruh ayahmu untuk berhenti mencampuri urusan Tuan Seldin."

"Atau apa?" tanya Julian dengan sisa keberanian yang hancur.

Dareen mendekatkan wajahnya ke telinga Julian, aroma hujan dan bahaya menguar dari tubuhnya. "Atau aku akan melupakan bahwa aku adalah seorang mahasiswa. Aku akan menjadi pria yang tidak mengenal belas kasihan. Aku tahu di mana ibumu tinggal, Julian. Aku tahu jam berapa dia pergi ke salon, dan aku tahu rute yang diambil adikmu setiap hari menuju sekolahnya."

Julian terisak. Air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Tolong ... jangan ...."

"Satu langkah salah darimu atau ayahmu, maka kau akan belajar bahwa di Aeruland, uang tidak bisa membeli nyawa yang sudah menjadi target," Dareen melepaskan cengkeramannya dan menarik pisaunya.

Dalam sekejap, Dareen menghilang kembali ke dalam kegelapan malam, seolah-olah dia adalah bagian dari bayangan itu sendiri. Julian merosot ke lantai gang, menangis histeris sambil memegangi lehernya yang perih.

Keesokan paginya, suasana di depan gerbang kampus tampak seperti biasa. Seraphina keluar dari mobil dengan gaun kuning cerah yang mencolok, wajahnya terlihat segar meski dia sedang merencanakan cara baru untuk menggoda Dareen.

Dareen keluar dari sisi pengemudi, membukakan pintu untuk Seraphina dengan sikap yang sangat sopan. Dia membawakan tas kuliah Seraphina dan berdiri di sampingnya dengan wajah "robot" yang sempurna—tanpa emosi, tanpa cela.

"Kau terlihat sangat mengantuk hari ini, Dareen. Apa kau bergadang untuk belajar hukum lagi?" ejek Seraphina sambil berjalan masuk.

"Hanya menyelesaikan beberapa tugas tambahan, Nona," jawab Dareen datar.

Saat mereka melewati lobi, Julian tampak sedang berdiri bersama teman-temannya. Namun, begitu mata Julian menangkap sosok Dareen yang berjalan di belakang Seraphina, wajahnya seketika menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar, dan dia segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Bahkan saat Seraphina melambaikan tangan padanya, Julian justru berbalik dan berjalan cepat ke arah berlawanan seolah-olah dia baru saja melihat hantu.

Seraphina menghentikan langkahnya, keningnya berkerut heran. "Ada apa dengan Julian? Dia biasanya sangat agresif. Kenapa dia terlihat seperti baru saja melihat malaikat maut?"

Dareen tetap berdiri tegak di belakang Seraphina, menyesuaikan letak kacamatanya dengan gerakan yang tenang. "Mungkin dia baru menyadari bahwa belajar hukum jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan, Nona."

Seraphina menyipitkan mata, menoleh menatap Dareen. "Kau melakukan sesuatu padanya, kan?"

Dareen menatap mata Seraphina dengan kejujuran yang dibuat-buat. "Saya bersama Anda sepanjang hari kemarin, Nona. Bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu tanpa Anda ketahui? Bukankah saya hanya seorang pengawal yang selalu berada di bawah perintah Anda?"

Seraphina terdiam sejenak. Ada sesuatu yang aneh. Julian tidak pernah setakut itu. Tapi melihat wajah Dareen yang begitu tenang dan santun, dia merasa tidak mungkin pria ini memiliki sisi seburuk itu. Namun, di dalam hatinya, Seraphina merasakan sensasi dingin. Dia menyadari bahwa meskipun Dareen adalah pengawalnya, ada bagian dari pria ini yang tetap menjadi misteri yang tidak terjangkau—bagian yang dikendalikan oleh kakaknya, Seldin.

"Tugas kotor," gumam Seraphina lirih.

"Mari kita masuk ke kelas, Nona. Profesor Maxwell benci keterlambatan," ajak Dareen, memberikan isyarat agar Seraphina berjalan lebih dulu.

Saat Seraphina melangkah maju, Dareen melirik ke arah Julian yang masih menjauh di kejauhan. Sebuah kilatan dingin muncul di matanya sebelum dia kembali menunduk, menjadi mahasiswa beasiswa yang rajin dan pengawal yang setia. Dia telah berhasil menjadi algojo Seldin, namun dia tahu, setiap kali dia melakukan tugas kotor ini, jarak antara dirinya dan kehidupan "normal" yang diimpikannya semakin menjauh, dan tembok rahasia di antara dirinya dan Seraphina semakin tinggi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!