NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: KONSTELASI YANG TAK LAGI SEMBUNYI

Pintu ruang Bimbingan Konseling tertutup dengan bunyi *klik* yang terasa jauh lebih keras dari seharusnya, seolah menjadi tanda baca titik bagi satu babak kehidupan Keyla yang melelahkan. Di dalam sana, isak tangis Vanya yang tertahan dan suara berat Pak Burhan yang menelepon orang tua Vanya menjadi latar suara yang samar-samar tertinggal di belakang.

Keyla berdiri di lorong yang sepi, kakinya terasa seperti jeli. Adrenalin yang tadi memompanya untuk membela diri kini surut, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa. Dinda, yang berdiri di sampingnya, menghela napas panjang lalu menepuk bahu Keyla dengan keras—kebiasaan yang kali ini terasa melegakan.

"Gila, Cuk!" Dinda berseru, matanya berbinar-binar penuh kemenangan. "Sumpah, waktu kamu ngomong soal 'Sirius' yang diterawang itu, merinding aku! Vanya langsung *kicep*. Mukanya pucat kayak mayat kena formalin! Rasakno iku!"

Keyla mencoba tersenyum, tapi sudut bibirnya terasa kaku. Matanya tidak tertuju pada Dinda, melainkan pada sosok jangkung yang berdiri dua langkah di hadapan mereka. Bintang Rigel.

Bintang tidak melihat ke arah Dinda. Tatapannya terkunci pada Keyla. Intens, hangat, dan mengandung pertanyaan yang menuntut jawaban segera. Tangan kirinya masih menggenggam erat buku draf milik Keyla yang baru saja diselamatkan, sementara tangan kanannya setengah masuk ke saku celana—tempat amplop biru itu bersembunyi.

"Ehem," Dinda berdehem keras, menyadari atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Ia melirik Keyla, lalu Bintang, dan nyengir lebar. "Oke, tugasku sebagai *bodyguard* selesai. Kayaknya ada urusan negara yang lebih penting daripada dengerin aku misuh-misuh soal Vanya."

"Din..." Keyla mencoba menahan, kepanikan kecil melanda dirinya.

"Wes, gak usah manja," potong Dinda sambil mengedipkan sebelah mata. "Aku mau ke kantin, laper. Kalian... selesaikan apa yang perlu diselesaikan. Ingat Key, jangan jadi siput lagi! Keluar dari cangkangmu!"

Tanpa menunggu jawaban, Dinda berbalik dan melangkah pergi, langkahnya ringan seolah beban dunia baru saja diangkat dari pundaknya. Meninggalkan Keyla dan Bintang berdua di koridor lantai dua yang senyap.

Angin sore berhembus pelan dari ventilasi, membawa aroma hujan yang belum turun. Surabaya sedang mendung sore ini, namun anehnya, bagi Keyla, dunia terasa lebih terang.

"Ikut aku," ucap Bintang pelan. Bukan perintah, lebih terdengar seperti permohonan.

Keyla mengangguk. Mereka berjalan bersisian tanpa bicara. Langkah kaki mereka menggema di lorong sekolah yang mulai kosong karena jam pulang sudah lewat satu jam yang lalu. Bintang tidak membawanya ke parkiran, melainkan menaiki tangga menuju *rooftop* gedung utama—tempat favorit Keyla, tempat di mana sebagian besar surat-surat Cassiopeia lahir.

Ketika pintu besi *rooftop* terbuka, pemandangan kota Surabaya menyapa mereka. Langit di ufuk barat berwarna oranye kemerahan bercampur ungu lebam, kontras dengan gedung-gedung bertingkat yang mulai menyalakan lampu-lampunya. Suara klakson kendaraan di jalan raya terdengar jauh di bawah sana, seperti dengungan lebah yang tak berbahaya.

Bintang berjalan menuju pagar pembatas, meletakkan buku draf Keyla di atas beton pembatas, lalu berbalik menghadap gadis itu. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan amplop biru tua yang tadi dilihat Keyla.

Jantung Keyla berdegup kencang, seirama dengan detak detik jam yang tak terlihat. Ia menatap amplop itu. Tulisan tangan Bintang di sana terlihat nyata. *Untuk Keyla Aluna.*

"Kamu tanya sejak kapan?" Bintang memulai, suaranya rendah namun jernih melawan desau angin.

Keyla mengangguk, tenggorokannya terlalu kering untuk bersuara.

Bintang menatap amplop di tangannya, lalu menatap mata Keyla dalam-dalam. "Tiga minggu lalu. Saat pelajaran Fisika Pak Bambang."

Keyla mengernyit. Tiga minggu lalu? Itu jauh sebelum Vanya mulai mengklaim dirinya sebagai Cassiopeia. Itu saat Keyla merasa posisinya masih sangat aman sebagai pengagum rahasia.

"Waktu itu," lanjut Bintang, melangkah setapak mendekat, "Aku sedang membaca surat Cassiopeia yang ke-tujuh belas. Surat tentang bagaimana dia membandingkan rotasi bumi dengan rutinitas membosankan yang entah kenapa jadi indah kalau dilihat dari jauh. Di surat itu, Cassiopeia menulis dia tidak sengaja menumpahkan tinta biru di ujung lengan seragamnya saat menulis surat itu."

Bintang tersenyum tipis, senyum yang membuat lutut Keyla lemas. "Hari itu, aku nggak sengaja noleh ke belakang, ke bangku pojok dekat jendela. Dan aku lihat ada noda tinta biru di lengan seragam kamu, Key. Persis seperti yang ditulis Cassiopeia."

Keyla refleks memegang lengan seragamnya, meski noda itu sudah hilang dicuci berminggu-minggu lalu. "Cuma... gara-gara itu? Bisa saja kebetulan..."

"Awalnya aku pikir begitu," sela Bintang lembut. "Tapi setelah itu aku mulai memperhatikan. Aku mulai melihat kamu, Keyla. Bukan sebagai teman sekelas yang pendiam, tapi sebagai... kamu. Aku perhatikan caramu menatap langit waktu istirahat, caramu mengetuk-ngetukkan pulpen saat berpikir, caramu tersenyum tipis waktu Dinda melucu. Semuanya. Dan semakin aku perhatikan, semakin aku sadar... jiwa yang ada di surat-surat itu, kecerdasan itu, kelembutan itu... itu semua terpancar dari kamu, bukan Vanya, bukan siapa pun."

Air mata menggenang di pelupuk mata Keyla. Selama ini ia berpikir dirinya transparan, tak terlihat, hanya sebutir debu di galaksi kehidupan Bintang Rigel. Ternyata, ia telah diamati. Ia telah dilihat.

"Kenapa..." Keyla menelan ludah, memberanikan diri bertanya. "Kenapa kamu nggak langsung bilang? Kenapa membiarkan Vanya..."

"Karena aku takut," aku Bintang jujur. Raut wajahnya berubah sendu. Sang Kapten Basket yang dipuja satu sekolah itu kini terlihat seperti anak laki-laki biasa yang sedang gugup. "Aku takut kalau aku konfrontasi kamu tiba-tiba, kamu malah lari. Di suratmu, kamu selalu bilang kalau kamu nyaman dalam bayangan. Kamu bilang kamu 'takut terbakar matahari'. Aku nggak mau maksa kamu keluar sebelum kamu siap. Aku mau nunggu momen yang pas... sampai akhirnya Vanya mengacaukan semuanya."

Bintang mengulurkan amplop biru itu ke hadapan Keyla. "Ini surat balasanku. Aku tulis semalam, setelah aku lihat kamu nangis di koridor karena poster-poster di mading itu. Aku berencana ngasih ini hari ini, apa pun yang terjadi. Aku nggak peduli soal Vanya. Aku cuma peduli sama kamu."

Dengan tangan gemetar, Keyla menerima surat itu. Ia tidak membukanya. Ia hanya mendekapnya di dada, merasakan tekstur kertas yang nyata. Ini bukan mimpi. Bintang Rigel menulis surat untuknya. Untuk Keyla Aluna.

"Key," panggil Bintang. Kali ini ia menghilangkan jarak di antara mereka. Ia berdiri cukup dekat hingga Keyla bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan wangi sabun—aroma yang selama ini hanya bisa ia bayangkan saat menyelipkan surat di laci meja.

"Ya?" cicit Keyla.

"Vanya bilang, pemenang adalah mereka yang berani mengambil kesempatan," ujar Bintang, mengutip kata-kata Vanya di ruang BK tadi dengan nada ironi. "Tapi dia salah. Pemenang adalah mereka yang tulus. Dan kamu... kamu menang, Key. Kamu memenangkan hatiku tanpa perlu menjadi orang lain."

Keyla mendongak, menatap manik mata Bintang yang sekelam langit malam namun berbinar ramah. Rasa takut dan rendah diri yang selama dua tahun ini membelenggunya perlahan rontok, digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh.

"Aku bukan bintang yang terang, Bin," bisik Keyla, mengulang ketakutan terbesarnya. "Aku cuma... Keyla. Biasa aja. Nggak populer, nggak cantik kayak Vanya, nggak..."

Bintang meletakkan jari telunjuknya di bibir Keyla, menghentikan racauan itu. "Ssst. Kamu itu Cassiopeia. Ratu di utara. Dan buat aku, kamu jauh lebih bersinar daripada Vanya atau siapa pun. Kamu punya gravitasimu sendiri, Key. Buktinya, aku tertarik masuk ke orbitmu, kan?"

Keyla terkekeh pelan di sela air matanya yang menetes. Metafora astronomi itu terdengar konyol tapi sangat manis. "Kamu gombal."

"Aku serius," Bintang tersenyum lega melihat Keyla akhirnya tertawa. Ia menurunkan tangannya, lalu dengan ragu namun pasti, ia meraih jemari Keyla. Genggaman yang hangat dan kokoh. "Jadi, Keyla Aluna... maukah kamu berhenti jadi pengagum rahasia? Karena jujur aja, aku capek jatuh cinta sendirian sama tulisan kertas. Aku mau jatuh cinta sama orangnya langsung."

Keyla menatap tautan tangan mereka. Tangannya yang kecil dan pucat terlihat pas dalam genggaman tangan Bintang yang besar dan kasar karena sering memegang bola basket. Rasanya benar. Rasanya seperti pulang.

Ia menarik napas panjang, menghirup udara Surabaya yang berdebu namun terasa manis. Ia ingat kata-kata Dinda: *Ngomong cinta aja kok susah kayak ngerjain kalkulus.*

Keyla mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Bintang Rigel. Tidak ada lagi persembunyian. Tidak ada lagi nama samaran.

"Aku mau, Bin," jawabnya mantap, suaranya tidak lagi bergetar. "Aku nggak mau jadi bayangan lagi. Aku mau ada di sampingmu."

Senyum Bintang merekah sempurna, senyum paling tulus yang pernah Keyla lihat selama dua tahun mengamatinya dari jauh. Bintang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan genggaman tangannya dan menarik Keyla mendekat ke sisi pagar pembatas.

Di bawah mereka, lampu-lampu kota Surabaya mulai menyala satu per satu, menciptakan lautan cahaya yang menyaingi bintang di langit. Tapi bagi Keyla, cahaya paling terang ada tepat di sampingnya.

"Mulai sekarang," bisik Bintang sambil menatap cakrawala, "Surat-suratnya dikasih langsung aja ya? Biar aku bisa lihat ekspresi kamu waktu nulisnya."

Keyla tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. "Deal. Tapi kamu harus balas pakai tulisan tangan juga. Tulisanmu jelek, butuh latihan."

Bintang tertawa lepas, suara tawanya memecah kesunyian *rooftop*. Tawa yang bebas, tanpa beban citra 'anak populer' yang selama ini ia pikul.

Di saku Bintang, surat balasan itu mungkin tak perlu lagi dibaca sekarang. Karena isinya sudah tersampaikan lewat tatapan mata dan genggaman tangan yang tak ingin lepas. Masa lalu sebagai pengagum rahasia telah ditutup rapat-rapat bersama pintu ruang BK tadi. Kini, lembaran baru telah terbuka. Bukan sebagai Bintang dan Cassiopeia yang terpisah jarak tahun cahaya, melainkan sebagai Bintang dan Keyla, dua manusia bumi yang baru saja menemukan semestanya masing-masing.

Namun, saat mereka berbalik hendak meninggalkan *rooftop* untuk pulang, ponsel Bintang bergetar panjang. Ia merogoh saku lainnya dan melihat layar. Keningnya berkerut.

"Siapa?" tanya Keyla.

"Grup basket," gumam Bintang, namun matanya menyipit membaca pesan yang masuk. "Ada yang ngirim foto... foto Vanya dijemput mobil jemputan, tapi bukan mobil orang tuanya. Dan... tunggu, ini siapa?"

Keyla ikut melongok. Di layar ponsel itu, terlihat foto buram Vanya yang sedang masuk ke dalam mobil sedan hitam mewah. Di kursi kemudi, samar-samar terlihat sosok pria yang mengenakan seragam sekolah lain—SMA pesaing Cakrawala.

"Itu... Rio?" bisik Bintang tak percaya. "Kapten basket SMA Pelita Bangsa? Musuh bebuyutan kita di final minggu depan?"

Keyla merasakan firasat buruk yang dingin menyergap tengkuknya. Vanya memang kalah hari ini, tapi Keyla lupa satu hal tentang Vanya: dia tidak pernah benar-benar pergi tanpa meninggalkan bom waktu. Dan sepertinya, Vanya baru saja menyeberang ke kubu lawan untuk memastikan Bintang—dan sekolah mereka—hancur di pertandingan final nanti.

Kebahagiaan mereka baru berumur lima menit, tapi badai baru sepertinya sudah menunggu di tikungan.

1
Mariana Silfia
😍😍😍
Mariana Silfia
eh ya ampun si othor iki sllu bisa bikin dag dig dug kok w🤣🤣 ok ok lanjut kak q setia menunggu bab selanjutnya
Mariana Silfia
kak q nunggu'n bab lanjut nya yak tolong jangan di gantung🤭q gak bisa tdr ini klo blm tau ending nya
Mymy Zizan
bagussssssssss
S. Sage: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!