NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Jejak

Minggu pagi di kos Mika terasa sunyi. Biasanya akhir pekan adalah waktu untuk bersantai atau jalan-jalan ke Malioboro. Tapi minggu ini, suasana berbeda. Kay masih duduk di lantai, memeluk buku sketsa Bima seperti barang paling berharga di dunia. Di sekelilingnya, tisu bekas air mata berserakan.

Mika baru saja selesai memasak mi instan—satu-satunya hidangan yang bisa ia buat. Ia meletakkan dua mangkok di atas meja kecil, lalu duduk di samping Kay.

"Kay, lo harus makan. Udah dua hari lo cuma minum air putih."

Kay menggeleng lemah. "Gue nggak selera, Mik."

Mika menghela napas. Ia meraih tangan Kay, memaksanya menatap.

"Kay, dengerin gue. Lo boleh sedih. Lo boleh nangis. Tapi lo nggak boleh hancur. Bima pergi bukan karena dia nggak sayang. Dia pergi justru karena dia terlalu sayang sama lo."

Air mata Kay jatuh lagi. "Tapi Mik, gue nggak kuat. Rasanya... rasanya dunia runtuh."

"Itu wajar. Tapi lo harus ingat, Bima pasti nggak mau liat lo kayak gini. Dia udah berkorban pergi demi lo. Kalo dia tahu lo hancur, dia bakal jatuh lagi. Dia bakal nyalahin dirinya sendiri. Lo mau itu terjadi?"

Kay menggeleng pelan.

"Nah." Mika mengusap punggung Kay. "Jadi lo harus bangkit. Bukan berarti lo nggak boleh sedih, tapi lo harus tetap jalan. Minimal, buat Bima. Biar nanti kalo lo ketemu dia lagi, lo bisa bilang, 'Gue kuat, Bim. Gue nunggu lo.'"

Kay tersenyum tipis di tengah air mata. "Lo jago banget jadi motivator, Mik."

"Gue kan anak Psikologi. Walaupun baru semester 5, setidaknya teori-teori ini berguna." Mika tersenyum. "Sekarang, makan. Lo butuh energi."

Kay mengambil mangkok, mulai menyendok mi dengan malas. Rasanya hambar di lidah, tapi ia paksa masuk.

Mika melihatnya dengan lega. "Nah, gitu dong."

Setelah beberapa suap, Kay berhenti. "Mik, gimana caranya cari Bima? Jogja gede, kampus banyak. Dia bisa di mana aja."

Mika menghela napas. "Gue udah nyebarin info ke temen-temen di berbagai kampus. UII, UMY, UIN, Atma Jaya, Amikom... tapi belum ada yang lihat dia. Mungkin dia pake nama samaran? Atau mungkin dia emang sengaja ngumpet."

"Tapi dia bilang di surat, dia pindah kampus. Masih di Jogja. Berarti dia di suatu tempat."

"Iya. Tapi Jogja nggak cuma UGM. Ada puluhan kampus lain. Kalo dia sengaja menghilang, susah banget nemuinnya."

Kay menunduk. "Gue harus tetep cari, Mik. Sampai ketemu."

Mika mengangguk. "Gue bantu. Tapi sambil cari, lo juga harus urus diri. Lo juga harus baikin hubungan sama mama lo."

Kay langsung mengerutkan kening. "Jangan mulai, Mik."

"Kay, denger gue." Mika menatap serius. "Gue tahu mama lo salah. Tapi dia tetep ibu lo. Dan dia sedih, Kay. Gue liat sendiri pas di rumah sakit. Dia nangis. Untuk pertama kalinya gue liat Tante Lydia nangis."

Kay diam.

"Lo nggak harus langsung maafin. Tapi jangan musuhin dia. Coba ngomong baik-baik. Siapa tahu dia bisa bantu cari Bima. Koneksi mama lo luas."

Kay menghela napas. "Gue... gue belum siap, Mik."

"Oke. Gue nggak maksa. Tapi pikirin, ya."

Mereka makan dalam diam. Di luar, matahari mulai bersinar. Hari baru, harapan baru.

---

Sementara di kampus Sanata Dharma, Bima berjalan menuju gedung Fakultas Desain. Wajahnya masih lebam, bibir masih bengkak, tapi ia sudah bisa tersenyum kecil. Hari ini ia menepati janji pada Laras—membantu membuat website portofolio.

Laras sudah menunggu di depan ruang desain. Melihat Bima, ia langsung tersenyum lega.

"Bim! Lo dateng! Kirain lo nggak bakal dateng setelah kejadian kemarin."

Bima mengangkat bahu. "Janji harus ditepati."

Laras tersenyum. "Masuk, yuk. Aku udah siapin konsepnya."

Mereka masuk ke ruang desain—sebuah ruangan luas dengan komputer-komputer canggih, poster-poster karya mahasiswa di dinding. Laras mempersilakan Bima duduk di depan salah satu komputer.

"Ini draft yang aku buat," Laras menunjukkan beberapa sketsa layout. "Aku mau website yang simpel tapi elegan. Portfolio desain grafis aku. Ada foto-foto karya, bio, sama kontak."

Bima mengamati sebentar. "Bisa. Lo punya domain?"

"Udah. Aku beli beberapa bulan lalu tapi belum sempet bikin."

"Oke. Gue bikin struktur dasar dulu."

Bima mulai mengetik. Jari-jarinya lincah di keyboard, matanya fokus ke layar. Laras mengamati dengan kagum. Laki-laki ini benar-benar serius dan profesional. Tidak ada basa-basi, tidak ada godaan, hanya kerja.

Satu jam kemudian, Bima sudah menyelesaikan kerangka dasar. Ia menunjukkan pada Laras.

"Ini homepage, ini galeri, ini tentang aku, ini kontak. Lo bisa upload karya lo sendiri lewat dashboard nanti."

Laras membelalak. "Cepet banget! Biasanya aku bayar orang berminggu-minggu."

Bima mengangkat bahu. "Udah biasa."

"Bim, lo jago banget. Makasih ya." Laras menatapnya dengan kagum. "Oh iya, soal kemarin... maafin Gerry ya. Dia emang agak... posesif. Padahal aku udah bilang berkali-kali aku nggak suka dia."

Bima hanya mengangguk. "Nggak apa."

Laras menghela napas. "Bim, aku lihat lo anaknya pendiem. Tapi kelihatan lo baik. Boleh tahu cerita lo? Kok bisa pindah ke sini?"

Bima diam. Pikirannya melayang pada Kay, pada UGM, pada semua yang ditinggalkan.

"Panjang," jawabnya singkat.

Laras mengerti. "Oke, nggak usah dipaksa." Ia tersenyum. "Tapi kalo butuh temen ngobrol, aku ada."

Bima menatapnya sebentar. Ada ketulusan di mata Laras. "Makasih."

---

Selesai membantu, Bima duduk di perpustakaan kampus. Ia membuka laptop, memeriksa email. Dr. Hartono mengirim pesan singkat: "Project AI berjalan lancar. Siapkan laporan mingguan."

Bima membalas singkat, lalu berpikir. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Tadi ia membantu Laras membuat website dalam waktu singkat. Ia bisa melakukan itu untuk orang lain. Jasa pembuatan website.

Ia mulai mengetik rencana di notepad:

Jasa pembuatan website:

- Website portfolio: 500k

- Website UMKM: 800k

- Website toko online: 1.5jt

Angka-angka itu realistis. Dengan kemampuan codingnya, ia bisa selesaikan dalam beberapa hari. Dan permintaan pasti ada—teman-teman Laras tadi lihat hasilnya dan langsung tertarik.

Ia ingat kata-kata ibunya: "Rezeki itu nggak akan tertukar." Mungkin ini jalannya.

Bima segera membuat akun media sosial khusus jasa, dengan portofolio beberapa website dummy yang pernah ia buat. Ia juga minta tolong Laras untuk promosi ke teman-temannya.

Tak butuh waktu lama, dalam seminggu ia sudah mendapat tiga order. Lumayan, bisa nutup biaya hidup dan cicil utang.

---

Malam harinya, Bima duduk di kos, menghitung pemasukan. Dua website selesai, satu masih proses. Uang masuk 1,3 juta. Ia menyisihkan untuk bayar kos, makan, dan sisanya ditabung untuk bayar utang ke Kay.

Ia membuka dompet, mengeluarkan foto Kay. Foto itu sudah lusuh karena sering diraba.

"Kay, gue mulai bangkit. Pelan-pelan. Tapi gue janji, suatu hari nanti, gue akan lunasin semua utang. Dan gue akan jadi orang yang layak buat lo."

Di luar, bulan purnama bersinar terang. Bima berharap, di suatu tempat, Kay juga melihat bulan yang sama. Dan berharap, di lain waktu, mereka bisa bersama lagi.

---

Di kos Mika, Kay terbangun tengah malam. Ia meraih ponsel, membuka foto Bima—satu-satunya foto yang ia punya, diambil diam-diam saat Bima sedang menggambar.

"Mik," bisiknya.

Mika yang tidur di sebelahnya bergerak. "Hm?"

"Gue mimpiin dia. Dia lagi nulis sesuatu. Di komputer. Banyak angka."

Mika setengah sadar. "Mungkin dia lagi kerja. Mimpi itu pertanda baik. Mungkin dia baik-baik aja."

Kay tersenyum tipis. "Semoga."

Ia memejamkan mata, berdoa dalam hati. Tuhan, tolong jagain dia. Dia lagi berjuang. Tolong kasih dia kekuatan. Dan tolong... pertemukan kami lagi.

Di luar, angin malam berhembus pelan. Dua insan di dua tempat berbeda, menatap langit yang sama, berharap pada cinta yang tak pernah padam.

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!