cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22
Pembagian kelompok yang diumumkan dosen membuat suasana kelas sedikit riuh. Beberapa mahasiswa langsung berpindah tempat duduk, membentuk lingkaran kecil bersama kelompoknya masing-masing. Aura menatap daftar yang tertulis di papan. Namanya dan Harry memang berada dalam kelompok yang sama, bersama dua mahasiswa lain, Rian dan Dita.
“Aku ke sini ya,” ucap Harry sambil memindahkan kursinya sedikit lebih dekat ke meja Aura, tetap menyisakan jarak yang wajar.
Rian langsung membuka laptop. “Kita bagi tugas aja biar cepat.”
Aura mengangguk dan mulai membaca instruksi tugas. Mereka harus membuat presentasi analisis kasus dan memaparkannya minggu depan. Diskusi berjalan cukup lancar. Harry beberapa kali menyampaikan pendapatnya dengan tenang, sementara Aura menambahkan sudut pandang lain yang membuat pembahasan mereka lebih lengkap.
Tanpa mereka sadari, kerja sama itu kembali terasa natural. Tidak kaku. Tidak canggung.
“Bagian latar belakang kamu aja, Ra,” kata Dita. “Kamu biasanya paling detail.”
Aura sempat melirik Harry sebelum mengangguk. “Oke.”
“Aku ambil analisis hukumnya,” tambah Harry.
Aura tidak berkomentar, tapi ia tahu Harry memang selalu memilih bagian yang berat tanpa banyak bicara.
Diskusi selesai menjelang sore. Rian dan Dita pamit lebih dulu karena ada urusan lain. Tinggal Aura dan Harry yang masih merapikan buku.
“Kita lanjut kerjainnya di mana besok?” tanya Aura pelan.
Harry terdiam sebentar sebelum menjawab, “Kalau kamu nggak keberatan, di kosan aku aja. Lebih tenang. Laptop sama buku lengkap di sana.”
Aura mengangkat wajahnya. “Di kosan kamu?”
“Iya. Rian sama Dita juga bisa datang kalau mau. Tapi biasanya mereka cuma kirim revisi.”
Nada suaranya tetap datar, tidak ada maksud tersembunyi. Hanya menawarkan tempat yang menurutnya nyaman untuk bekerja.
Aura berpikir beberapa detik. “Jam kosong setelah mata kuliah kedua ya?”
Harry mengangguk. “Iya. Aku jemput kamu.”
Perjalanan pulang sore itu terasa sedikit berbeda. Di tengah suara angin dan deru kendaraan, Aura memikirkan keputusan kecil yang baru saja ia ambil. Pergi ke kosan Harry mungkin terdengar sederhana, tapi bagi dirinya itu seperti melangkah satu tingkat lebih dekat.
Sampai di depan rumah, Aura turun dan melepas helm. Langit mulai berubah gelap.
“Besok kamu serius mau ke kosan aku?” tanya Harry memastikan.
Aura mengangguk pelan. “Kita cuma ngerjain tugas.”
Harry tersenyum tipis. “Iya. Kita cuma ngerjain tugas.”
Jawaban itu sederhana, tapi membuat suasana terasa hangat.
Malamnya Aura sulit tidur. Bukan karena takut. Bukan juga karena ragu. Tapi karena ia sadar, semakin ia membiarkan dirinya dekat, semakin tipis dinding yang selama ini ia bangun.
Keesokan harinya setelah kelas kedua selesai, Harry berjalan berdampingan dengannya menuju parkiran. Kali ini Aura tidak banyak menolak.
Kosan Harry tidak terlalu jauh dari kampus. Bangunannya sederhana, dua lantai, dengan lorong panjang dan beberapa pot tanaman kecil di depan kamar.
Saat pintu terbuka, Aura sedikit terkejut. Ruangan itu rapi. Meja belajar penuh buku tersusun rapi, laptop terbuka, beberapa catatan tertempel di dinding. Tidak berantakan seperti yang sering ia bayangkan.
“Kamu kira kosan aku kayak apa?” tanya Harry sambil menutup pintu.
Aura tersenyum tipis. “Nggak tahu. Cuma nggak nyangka serapi ini.”
Harry menarik kursi untuknya. “Duduk. Kita mulai aja biar cepat selesai.”
Mereka duduk berdampingan di meja belajar. Jaraknya cukup dekat untuk berbagi layar laptop. Aura membuka file latar belakang yang sudah ia susun, sementara Harry mulai menambahkan poin analisis hukum.
Sesekali tangan mereka hampir bersentuhan saat menunjuk layar, tapi keduanya sama-sama pura-pura tidak menyadari.
“Bagian ini bisa kamu tambahin teori pendukung,” ucap Harry.
Aura mengangguk dan mulai mengetik. “Kamu jelasin di presentasi nanti?”
“Kita bagi dua aja.”
Waktu berjalan tanpa terasa. Diskusi mereka serius, penuh fokus, tapi ada keheningan nyaman yang tidak canggung.
Saat Aura berhenti mengetik dan menatap layar, ia berkata pelan, “Aneh ya.”
“Apa?”
“Kita bisa kayak gini, padahal kemarin rasanya ribet banget.”
Harry tidak langsung menjawab. Ia menatap Aura sebentar sebelum berkata, “Mungkin karena kita berhenti lari.”
Kalimat itu membuat jantung Aura berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menatap meja, lalu berkata pelan, “Aku nggak tahu nanti akhirnya gimana.”
“Aku juga nggak tahu,” jawab Harry tenang. “Tapi hari ini cukup.”
Aura menoleh padanya. “Cukup?”
“Iya. Cukup kita bisa duduk bareng tanpa pura-pura.”
Hening sejenak memenuhi ruangan kecil itu. Tidak ada sentuhan. Tidak ada pengakuan. Hanya dua orang yang mulai belajar menerima perasaan mereka tanpa tekanan.
Di luar, suara kendaraan samar terdengar dari jalan.
Dan untuk pertama kalinya, berada di ruang pribadi Harry tidak membuat Aura merasa terjebak.
Justru terasa seperti ia sedang melangkah pelan menuju sesuatu yang selama ini ia hindari.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣