Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan di Bawah Radar
Pagi harinya, suasana di Universitas Negeri Moskow masih sedingin biasanya. Cahaya matahari musim dingin yang pucat menembus jendela kaca kafetaria, menyinari meja marmer hitam tempat sirkel elit itu kembali berkumpul.
Anastasia tampak sibuk bercermin, memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala. Di sampingnya, Sky duduk dengan aura tenang yang sulit dibaca, sementara Shan, Luke, dan Phoenix terlibat perdebatan seru tentang pertandingan hoki es semalam.
Stevani dan Beatrix sibuk membolak-balik majalah edisi terbaru. Di ujung meja, Ozora duduk dengan buku catatan di pangkuannya, berusaha keras untuk terlihat tidak terpengaruh oleh kejadian semalam.
"Sky, kamu terlihat sangat lelah pagi ini. Apa tugas dari Profesor Volkov sesulit itu sampai kamu kurang tidur?" tanya Anastasia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sky.
"Hanya riset biasa, Ana," jawab Sky pendek. Suaranya datar, namun matanya justru bergerak ke arah Ozora yang sedang menunduk.
Luke tertawa keras, menyikut lengan Phoenix. "Volkov memang gila. Dia memberikan tugas yang bisa membuat otak Remington sekalipun berasap," ucapnya santai, sama sekali tidak menyadari bahwa Sky sedang tidak memikirkan soal hukum internasional.
Saat itu, Ozora hendak mengambil gelas tehnya, namun tangannya sedikit gemetar karena rasa gugup yang masih tersisa. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah sentuhan hangat dan kokoh di sisi pinggangnya.
Itu tangan Sky. Pria itu sedikit bergeser untuk mengambil gula di dekat Ozora, dan tanpa sengaja, atau mungkin secara naluriah telapak tangannya mendarat tepat di pinggang Ozora, menahannya sejenak seolah ingin memastikan gadis itu tidak goyah dari kursinya.
Ozora tersentak, napasnya tertahan. "Terima kasih," bisiknya sangat pelan, hampir menyerupai hembusan angin.
Sky tidak segera menarik tangannya. Ia justru membiarkannya di sana selama beberapa detik ekstra, merasakan tekstur kain kasmir Ozora di bawah jemarinya. "Hati-hati, tehnya masih panas," gumamnya rendah, hanya bisa didengar oleh Ozora di tengah kebisingan tawa Shan dan Phoenix.
Di seberang meja, Stevani mendongak dari majalahnya. "Ozora, kudengar kau pulang cukup malam kemarin? Supirku bilang dia melihat mobil Mercedes hitam melintas di area rumahmu," ucapnya penasaran.
Jantung Ozora seolah berhenti berdetak. Ia melirik Sky melalui sudut matanya.
"Mungkin itu mobil tamu ibuku," jawab Ozora cepat, berusaha menormalkan nada suaranya. "Kau tahu ibuku selalu mengadakan jamuan kecil."
"Ah, benar juga," sahut Beatrix tanpa curiga sedikit pun. "Keluarga Bellvania memang sangat tertutup, tapi pergaulannya sangat luas."
Anastasia sama sekali tidak menoleh. Ia terlalu sibuk mengagumi pantulan dirinya sendiri, merasa sangat aman di posisi kekasih Sky. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pria di sampingnya, pria yang tangannya masih sesekali menyentuh pinggang Ozora saat mereka pura-pura berdiskusi soal buku, sedang memikirkan cara untuk terus berada di dekat si gadis bayangan.
"Aku harus ke kelas lebih awal," gumam Ozora tiba-tiba. Ia merasa udara di kafetaria menjadi terlalu sesak.
"Aku juga," sahut Sky segera. Ia berdiri dan merapikan jaketnya. "Ada beberapa berkas yang harus ku pastikan dengan Ozora sebelum kelas dimulai."
"Selalu soal tugas," keluh Anastasia manja, tapi ia membiarkan Sky pergi. "Jangan terlalu lama, Sky! Kita ada janji makan siang dengan ibuku nanti!"
"Aku tahu," ucap Sky singkat tanpa menoleh.
Saat mereka berjalan keluar dari kafetaria, Sky berjalan sedikit di belakang Ozora.
Di lorong yang mulai sepi, Sky mempercepat langkahnya hingga ia sejajar dengan Ozora. Ia tidak bicara, tapi matanya terus tertuju pada profil wajah Ozora yang memerah karena dingin, dan mungkin karena kehadirannya.
Langkah Sky terhenti di koridor fakultas saat ponsel di saku mantelnya bergetar. Ia merogoh benda itu, sementara Ozora sudah berjalan beberapa langkah di depannya, masih tampak canggung.
Satu pesan masuk dari Phoenix.
Phoenix: “Sentuhan di pinggang tadi? Sangat tidak profesional, Remington. Kalau butuh bantuan untuk mengalihkan perhatian Anastasia atau butuh alasan buat kerja kelompok tambahan, hubungi aku. Aku mendukungmu, kawan.”
Sky menatap layar itu selama beberapa detik. Ia tidak membalas, tapi ia tidak juga menghapusnya. Ada sedikit rasa lega karena setidaknya ada satu orang yang memahami gejolak di bawah permukaan air yang tenang ini.
"Sky?" panggil Ozora pelan, menyadari pria itu tertinggal di belakang. "Ada apa?"
Sky memasukkan kembali ponselnya. "Bukan apa-apa. Hanya Phoenix yang sedang kurang kerjaan," gumamnya datar, namun matanya kembali tertuju pada Ozora.
Mereka sampai di depan ruang kelas yang masih kosong. Sky membuka pintu dan membiarkan Ozora masuk lebih dulu. Saat Ozora duduk di kursinya, ia tampak sibuk merapikan buku-bukunya yang sedikit berantakan.
"Ozora," panggil Sky rendah. Suaranya hampir menyerupai bisikan di tengah keheningan ruang kelas.
Ozora mendongak. "Ya?"
"Jangan terlalu dipikirkan soal ucapan Stevani tadi pagi. Rahasiamu aman bersamaku," ucap Sky. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, tangan kanannya bertumpu pada sandaran kursi Ozora, mengurung gadis itu secara halus. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun di sirkel kita mengusik ketenanganmu."
Ozora menelan ludah, merasa wajahnya menghangat. "Kenapa kamu melakukan ini, Sky? Kamu tahu kan, jika Anastasia tahu kamu mengantarku pulang semalam, segalanya akan hancur."
"Biarlah hancur," gumam Sky tanpa ragu. Matanya menatap bibir Ozora sejenak sebelum kembali ke mata cokelat gadis itu. "Terkadang, kehancuran diperlukan untuk membangun sesuatu yang benar-benar nyata."
Di kafetaria, Phoenix masih duduk santai sambil menyesap kopinya. Ia melihat Anastasia yang mulai tampak gelisah karena Sky tak kunjung kembali.
"Ke mana sih Sky? Kenapa lama sekali?" keluh Anastasia sambil menghentakkan kakinya.
Phoenix tersenyum tipis, lalu dengan lihai ia menyahut, "Tadi kulihat Profesor Volkov mencegat mereka di jalan, Ana. Sepertinya soal revisi tugas yang sangat mendesak. Kau tahu kan bagaimana perfeksionisnya Sky kalau soal nilai?"
"Ugh, membosankan sekali," gerutu Anastasia, akhirnya kembali tenang dan fokus pada ponselnya lagi.
Phoenix menghela napas panjang, menatap ke arah pintu keluar kafetaria. Ia tahu bahwa badai besar sedang menuju ke arah sirkel mereka, dan Sky sedang berjalan tepat ke tengah-tengahnya demi seorang gadis yang selama ini tak dianggap.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰