NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Langkah Pertama

Kerentanan di Balik Sel Besi

Suhu rendah dari lantai batu merambat tanpa hambatan melalui kulit tipis raga Elara yang ringkih, menusuk hingga ke sumsum tulang. Aurelia, yang kini menghuni struktur biologis yang rapuh itu, membuka matanya secara bertahap. Ruang isolasi ini masih didominasi oleh kegelapan yang pekat. Hanya ada pendar cahaya obor yang bergetar dari koridor jauh, menciptakan distorsi bayangan yang menari-nari pada dinding batu yang sudah jenuh oleh kelembapan dan koloni jamur.

Napas Aurelia terasa berat dan pendek; residu sesak dari memori radiasi panas di panggung eksekusi masa lalu masih menghimpit rongga dadanya, membuat setiap tarikan oksigen terasa seperti menghirup abu.

"Raga ini benar-benar rongsok," desisnya dengan suara yang parau, nyaris tidak terdengar di antara tetesan air limbah. Setiap kali ia mencoba menelan saliva, tenggorokannya bereaksi dengan rasa nyeri yang tajam, seolah-olah ia baru saja menelan serpihan kaca.

Ia mencoba untuk memosisikan tubuhnya duduk, namun jaringan ototnya yang malnutrisi terasa kaku dan gemetar secara spontan akibat kelelahan saraf. Tubuh Elara tidak memiliki massa otot yang cukup untuk menahan beban penderitaan ini dalam waktu lama. Di dalam saku kainnya yang kotor, butiran garam kasar terasa mengganjal di kulit pahanya. Garam itu adalah jangkarnya; sebuah pengingat fisik yang nyata bahwa ia bukan lagi permaisuri yang habis dikonsumsi api, melainkan jiwa yang sedang menunggu momentum untuk meledak dan membalas dendam.

Suara langkah kaki mendekat dari ujung lorong yang gelap. Frekuensinya ringan, cepat, dan terburu-buru—bukan ritme langkah berat sepatu besi milik pasukan penjaga kekaisaran yang arogan. Aurelia segera memosisikan tubuhnya meringkuk di sudut yang paling gelap, memejamkan mata, dan mengatur napasnya agar terdengar sesak serta payah. Dalam kondisi biologis yang sangat terbatas ini, akting adalah instrumen pertahanan yang paling logis untuk menipu predator yang mengintai.

Pintu besi sel mengeluarkan bunyi gesekan nyaring yang memuakkan saat ditarik paksa.

"Nona Elara? Nona... Anda tidak pingsan lagi, kan? Tolong jawab saya," suara bisikan itu mengandung getaran kecemasan yang tinggi, hampir pecah oleh isak tangis yang tertahan. Itu Rina, pelayan muda yang wajahnya selalu tampak seperti kelinci yang terpojok.

Aurelia membuka matanya sedikit, memberikan tatapan yang sengaja ia buat sayu, kosong, dan tidak fokus. "Rina... air... aku sangat haus," rintihnya dengan suara yang pecah.

Rina masuk dengan gestur tubuh yang ragu, bahunya menyusut seolah takut dinding sel akan menelannya. Ia membawa nampan kayu tua berisi air dalam cangkir besi berkarat serta sepotong roti yang telah mengeras. "Hanya ini yang bisa saya selundupkan dari dapur bawah, Nona. Rotinya... maaf, sudah agak keras dan ada bintik jamur di pinggirnya. Saya sangat takut Nona makin sakit kalau makan ini, tapi tidak ada makanan lain yang tersisa."

Aurelia menatap objek di depannya tanpa emosi yang terlihat, namun kognisinya mulai menimbang setiap kemungkinan dengan kecepatan seorang jenderal. "Apakah Elena tidak memberikan perintah lain untuk malam ini? Tumben sekali wanita itu membiarkan asupan makanan masuk ke lubang ini."

"Selir Elena..." Rina menelan ludah dengan susah payah, matanya bergerak gelisah menatap ke arah koridor yang sepi. "Beliau yang menyuruh penjaga memberikan ini secara langsung. Tapi... saya tidak sengaja mendengar mereka berbisik di lorong. Roti ini sengaja diberikan supaya Nona tidak mati terlalu cepat karena kelaparan, tapi tetap dibuat lemas dan tidak bisa bangun untuk melawan."

Aurelia mendengus pelan dalam batinnya, sebuah senyum sinis yang tersembunyi di balik rambut kusutnya. Cara lama yang murahan dan sangat mudah ditebak. "Rina, mendekatlah sebentar. Ada yang ingin kutanyakan."

Rina memosisikan tubuhnya lebih dekat, meski seluruh tubuhnya tampak bergetar seperti daun yang ditiup angin kencang. Udara di dalam sel terasa mendingin saat Aurelia menatapnya.

"Kau sangat takut padaku, Rina?" tanya Aurelia dengan suara rendah yang mengintimidasi secara alami.

"T-tidak, Nona. Saya cuma sangat takut kalau ketahuan oleh tangan kanan Selir Elena. Mereka tidak segan-segan mencambuk pelayan yang tidak patuh," jawab Rina dengan jujur, jemarinya meremas kain celemeknya yang kotor.

"Pertahankan rasa takut itu pada Elena; ketakutan akan membuatmu tetap waspada dan hidup lebih lama di istana ini," Aurelia berbisik, suaranya kini terdengar lebih tajam dan penuh otoritas meski volumenya rendah. "Aku butuh tahu sesuatu. Penjaga-penjaga itu... apa mereka bicara soal jadwal patroli malam ini?"

Wajah Rina mendadak pucat pasi, seolah-olah oksigen di sekitarnya menghilang. "Nona, itu sangat bahaya. Kalau ada yang tahu saya membocorkan jadwal, saya bisa digantung di gerbang istana besok pagi."

Aurelia meraba sakunya, mengambil beberapa butiran garam dapur Asteria dan menunjukkannya pada Rina di bawah cahaya obor yang redup. "Garam ini... kau tahu betapa berharganya rasa asin di penjara yang pengap ini. Kau bisa menggunakannya untuk membersihkan luka rahasiamu, atau menjadikannya alat barter dengan penjaga lain untuk mendapatkan sedikit keringanan."

Rina menatap kristal garam itu dengan mata membelalak, seolah melihat tumpukan berlian. Di penjara bawah tanah, bumbu dasar adalah kemewahan yang mustahil didapatkan.

"Tukarkan risiko yang kau ambil dengan apa yang kau dengar secara tidak sengaja," kata Aurelia, mengunci pandangannya pada mata Rina dengan intensitas yang tidak bisa ditolak. "Aku tidak memintamu untuk memegang pedang atau berkelahi, Rina. Aku hanya minta telingamu."

Rina mengambil garam itu dengan tangan yang gemetar hebat, menyembunyikannya di dalam lipatan bajunya. "B-baik, Nona. Lorong bawah tanah ini... ada jalan kecil yang tembus langsung ke dapur utama. Penjaga jarang lewat sana jam tiga pagi. Mereka lebih suka berkumpul di koridor depan yang lebih hangat dan dekat dengan tong ara."

"Lorong dapur pukul tiga pagi," ulang Aurelia dalam benaknya, mengunci informasi itu ke dalam peta strateginya. Sebuah catatan taktis yang krusial untuk langkah berikutnya.

Panggilan Void

Setelah Rina pergi dengan langkah terburu-buru yang ketakutan, Aurelia duduk dengan posisi bersila di tengah sel. Seluruh sendinya terasa seperti habis dihantam benda tumpul berulang kali, namun amarah yang membara di kepalanya jauh lebih dominan daripada rasa sakit fisik. Ia harus memicu sihir Void dalam raga ini, berapa pun harganya. Ia memejamkan mata, mencoba mencari celah energi dalam kegelapan batinnya yang luas.

"Void," bisiknya ke dalam keheningan yang menyesakkan. Ia memanggil jenis kekuatan kuno yang dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensinya sebagai permaisuri.

Hening yang mematikan. Tidak ada aliran energi yang merespons panggilannya. Raga Elara ini benar-benar kosong dari bakat sihir elemen apa pun, sebuah wadah yang hampir mati. Namun, jiwa Aurelia memiliki kunci untuk membuka paksa gerbang tersebut.

"Ayo, bangunlah! Aku tidak punya waktu untuk kelemahan ini!" tuntutnya dalam batin dengan kemarahan yang terkendali.

Ia mencoba menyerap sisa-sisa radiasi energi dari panas obor yang bergoyang di luar sel. Ia memfokuskan seluruh pandangannya pada lidah api kecil yang bergerak liar. Seketika, dadanya terasa sesak seolah-olah ada batu besar yang ditumpuk di atas paru-parunya. Jantungnya berdenyut liar, menciptakan suara gaduh di telinganya. Jemarinya bergetar tanpa kendali saat proyeksi visual tentang api yang melahap kulitnya di masa lalu muncul kembali dengan sangat nyata. Aroma daging terbakar seolah memenuhi lubang hidungnya.

"Tetap pada fokus! Jangan biarkan trauma ini memakanmu lagi!"

Ia tidak lari dari ketakutan tersebut; ia menjadikannya bahan bakar murni. Ia tidak mencoba memadamkan api secara mental seperti yang dilakukan orang lemah, ia mencoba menganalisis strukturnya dan mengonsumsi energinya. Ia membayangkan sebuah kehampaan yang menelan seluruh cahaya dan panas ke dalam satu titik di dadanya.

Setelah keringat dingin membasahi dahinya dan napasnya tersengal-sengal, ia merasakan aliran dingin yang tipis, setajam es, di ujung saraf jarinya. Sangat kecil, mungkin hanya fraksi minimal dari kekuatan aslinya. Namun, itu adalah permulaan yang sudah lebih dari cukup.

Aurelia menggunakan energi dingin itu untuk menyentuh dinding sel yang kasar. Ia merasakan residu energi kotor yang menempel di sana—jejak sihir hitam yang digunakan para penyihir Elena untuk memperkuat penderitaan para tawanan Asteria. Cara kerja Void adalah menganalisis, menyerap, dan mengasimilasi.

"Elena..." desis Aurelia dengan kebencian yang dalam. Ia mengenali bau energi yang menjijikkan ini; bau yang sama dengan yang ia lihat di pupil Valerius sebelum ia mati.

Langkah kaki berat ksatria penjara kembali terdengar, memecah konsentrasinya. Aurelia segera memutus aliran energinya dan menjatuhkan diri ke lantai yang dingin, berpura-pura tidak berdaya seperti tumpukan kain kotor. Penjaga itu menghantam jeruji sel dengan pedangnya yang tumpul, menciptakan bunyi dentang yang memekakkan telinga.

"Bangun, sampah Asteria! Makan itu rotinya kalau kau tidak mau mampus kelaparan di sini dan menyusahkan kami!" teriak pria itu dengan suara yang serak karena minum ara.

Aurelia tetap diam, menahan napasnya sesaat. Ia membiarkan tubuhnya terasa mendingin dan pasif di atas permukaan batu yang keras.

"Dasar tikus Asteria yang merepotkan," gumam penjaga itu sebelum menjauh dengan langkah yang menyeret.

Aurelia membuka matanya secara bertahap setelah suara langkah itu benar-benar hilang di telan kegelapan lorong. Ia menatap roti berjamur yang tergeletak di lantai di hadapannya.

"Rina," bisiknya pelan, memanggil sisa energinya. Ia menggunakan sedikit pendar energi Void untuk memeriksa struktur molekuler roti itu. Benar saja, terdapat kandungan racun organik yang ringan. Bukan jenis yang mematikan secara instan, melainkan dirancang secara licik untuk memicu perut melilit, demam tinggi, dan membuat raga Elara jatuh sakit parah selama beberapa hari ke depan.

"Pilihan ketiga," Aurelia tersenyum tipis yang sangat dingin di tengah kegelapan. Ia tidak akan membuang roti tersebut ke sudut sel. Ia akan menyerap racunnya menggunakan Void, menetralisirnya, lalu menyimpan esensi zat tersebut di dalam sel raga ini sebagai senjata biologis yang bisa ia lepaskan kapan saja melalui sentuhan.

Sihir dalam Bayang-Bayang

Aurelia mengulurkan tangannya yang gemetar, meraih roti berjamur itu dengan ujung jemari yang pucat. Rasa mual yang hebat mulai timbul di pangkal perutnya hanya karena mencium aroma asam dari jamur yang berpadu dengan bau samar racun metalik, namun ia memaksakan diri untuk bertahan. Ia memejamkan mata, mengarahkan telapak tangannya tepat di atas roti tersebut, membiarkan energi dingin Void merambat keluar dari pori-porinya.

"Rina tidak perlu tahu soal beban ini," bisiknya pada kesunyian yang mencekam.

Ia membayangkan sebuah pusaran hitam kecil yang menarik seluruh zat berbahaya dari serat-serat roti tersebut. Sensasi dingin yang menusuk, seolah ribuan jarum es sedang dipaksakan masuk ke dalam pembuluh darah lengannya, menjalari saraf-sarafnya saat racun itu berpindah tempat. Rasanya perih sesaat, sebuah tekanan yang membuat sarafnya terasa diregangkan hingga batas maksimal, sebelum akhirnya sensasi itu menjadi netral dan menyatu dengan aliran jiwanya.

Energi Void-nya kini terasa sedikit lebih stabil, seolah baru saja mendapatkan asupan "makanan" meski dalam bentuk yang kotor. Kini ia memiliki cadangan energi racun yang tersimpan di dalam sel-sel tubuhnya—sebuah amunisi tersembunyi yang bisa ia gunakan untuk melumpuhkan lawan hanya dengan sebuah goresan kuku.

Langkah kaki lain kembali berhenti di depan selnya, lebih kasar dari sebelumnya.

"Makan, bodoh! Jangan mati dulu sebelum Kaisar bosan menyiksamu dengan tangannya sendiri!" penjaga itu berteriak kasar, lalu dengan gerakan provokatif, ia melemparkan sebuah botol air keramik ke dalam sel.

Wadah itu menghantam sudut dinding batu dan pecah berkeping-keping, mencipratkan air ke lantai yang kotor. Aurelia menunjukkan reaksi kaget yang dibuat-buat; ia meringkuk gemetar di pojokan sel, menutupi wajahnya dengan tangan seolah-olah ia adalah seekor hewan yang ketakutan setengah mati.

"A-ampun, Tuan... jangan sakiti hamba lagi," suaranya dibuat serak, bergetar, dan penuh nada permohonan yang menyedihkan.

Penjaga itu tertawa puas melihat pemandangan "putri" yang hancur itu, lalu berjalan menjauh sambil bersiul meremehkan. Aurelia menunggu dengan sabar hingga suara langkah itu benar-benar lenyap di ujung lorong bawah tanah yang pengap. Begitu sunyi kembali berkuasa, ia menurunkan tangannya. Ekspresi ketakutan itu menghilang seketika, digantikan oleh tatapan sedingin es.

"Intimidasi yang sangat payah," batinnya sambil berusaha bangkit pelan-pelan, menahan rasa perih yang menjalar di punggungnya akibat gerakan yang mendadak. Ia merangkak ke arah pecahan botol keramik tersebut, memastikan tidak ada mata penjaga yang memantau dari celah pintu.

Ia mengambil sisa butiran garam di sakunya, lalu menaburkannya dengan hati-hati ke arah tumpahan air di lantai batu yang retak. Ia memperhatikan reaksinya dengan mata tajam. Garam dari Asteria bukan sekadar bumbu; mineral murninya memiliki properti untuk menstabilkan energi Void yang liar. Air itu mulai berdesis halus, sebuah tanda bahwa energinya mulai terikat dengan benar.

"Informasi dari Rina benar-benar berguna," pikirnya. Lorong dapur bukan cuma sekadar jalan kabur yang potensial, tapi merupakan akses langsung ke jantung logistik istana tempat ia bisa melakukan sabotase lebih besar nanti.

Perang Batin dan Tekad yang Mengkristal

Lagi-lagi, trauma itu menyerang tanpa peringatan. Saat ia menatap cahaya obor yang bergoyang di koridor, ia mendadak teringat wajah Valerius—wajah pria yang ia cintai—saat pria itu berdiri diam mengawasinya terbakar hidup-hidup. Napas Aurelia memburu, jemarinya mulai bergetar tak terkendali di atas lantai batu. Secara halusinasi, ia seolah merasakan kulit di lengannya mulai melepuh dan mengeluarkan aroma hangus lagi.

"Bukan. Itu tidak nyata. Itu masa lalu yang sudah menjadi abu," ia membentak logikanya sendiri agar tetap bekerja di bawah tekanan PTSD. "Api itu cuma alat fisik. Dan aku yang akan memegang kendali atas alat itu nanti untuk membakar balik segala pengkhianatan mereka."

Ia memfokuskan seluruh kesadarannya pada sensasi dingin yang nyata dari lantai batu, mengabaikan bayangan panas yang mencoba menguasai kepalanya. Ia melawan ketakutan primordial itu dengan ketenangan dingin seorang penguasa yang telah melewati kematian. Ia menolak untuk menjadi korban untuk kedua kalinya.

"Aku adalah Aurelia. Dan raga Elara ini akan menjadi monumen kehancuranmu, Valerius," bisiknya dalam hati dengan intensitas yang mampu membekukan udara di sekitarnya.

Setelah badai traumanya mereda, ia mulai menggerakkan tubuhnya secara sistematis. Raga Elara ini memang sangat lemah dan kurang gizi; ia harus melatih kembali koordinasi otot-ototnya meski setiap gerakan kecil memicu rasa sakit yang menyayat. Senjata yang sudah tumpul dan berkarat harus diasah pelan-pelan dengan kesabaran yang luar biasa.

"Sebentar lagi, aku akan keluar dari lubang pembuangan ini," janjinya pada kegelapan.

Rina muncul lagi beberapa jam kemudian, wajahnya masih penuh dengan kecemasan yang tampak permanen. "Nona Elara? Anda masih punya kekuatan untuk bicara?"

"Rina," panggil Aurelia. Suaranya sudah jauh lebih stabil dan mengandung resonansi yang dalam. "Ada kabar baru dari istana atas?"

"Selir Elena... beliau berencana mengadakan pesta besar di taman istana besok malam untuk merayakan kemenangan ekspedisi militer. Penjaga-penjaga pasti akan banyak yang mabuk atau sibuk mengurus tamu di sana," Rina berbisik cepat, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada.

Aurelia tersenyum tipis yang sangat dingin, sebuah ekspresi yang tidak akan pernah dimiliki oleh Elara yang asli. "Pesta kemenangan. Sangat menarik. Kau telah bekerja dengan sangat baik, Rina. Jauh lebih baik dari yang kubayangkan."

"Nona... apa yang sebenarnya akan kita lakukan? Apakah kita akan lari?"

"Kita? Tidak, Rina. Kau tidak boleh terlibat lebih jauh dalam tindakan fisik," kata Aurelia, martabat permaisurinya kembali terasa kuat dalam nada suaranya yang tenang. "Kau cukup lakukan bagianmu sebagai mataku. Bawakan makanan lagi besok pagi, dan bersikaplah seperti pelayan yang ketakutan seperti biasanya. Jangan tunjukkan perubahan apa pun pada siapa pun."

Rina mengangguk cepat dengan patuh, lalu segera pergi menghilang ke dalam kegelapan lorong. Aurelia menatap lurus ke depan, ke arah pintu besi yang mengurungnya. Permainan catur ini telah dimulai, bidak-bidaknya sudah bergerak, dan ia akan memastikan bahwa setiap rasa sakit yang ia rasakan di penjara ini akan dibayar dengan keruntuhan total Valerius dan Elena, satu per satu, tanpa ada yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!