"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - ARKAN MENCOBA MENDEKATI
Satu bulan setelah Lenna diusir, kehidupan di rumah keluarga Adisaputra berubah drastis. Nyonya Devi yang dulu dingin dan merendahkan, sekarang mencoba bersikap lebih baik pada Kiara. Tidak hangat, tapi setidaknya tidak memusuhi lagi. Dia bahkan mulai bertanya tentang kehamilan, menawarkan dokter terbaik, memastikan Kiara makan dengan cukup.
Tapi yang paling berubah adalah Arkan.
Pria itu sekarang seperti bayangan, selalu ada di dekat Kiara tapi tidak berani terlalu dekat. Dia memperhatikan dari jauh, mencoba membantu tanpa diminta, berusaha keras menunjukkan penyesalan.
Pagi itu, Dara bangun dan menemukan sarapan sudah tersedia di mejanya bukan dari pembantu, tapi disiapkan langsung oleh Arkan. Ada catatan kecil di sampingnya.
[Aku tidak tahu kamu suka apa untuk sarapan, jadi aku siapkan semuanya. Maaf kalau tidak sesuai selera. - Arkan]
Dara menatap catatan itu lama.
Sebagian darinya... bagian Kiara yang asli, yang dulu mencintai Arkan merasa tersentuh.
Tapi bagian Dara yang pernah dikhianati, yang tahu bagaimana manipulasi bekerja... tetap waspada.
Dia bisa saja sedang akting, seperti Salma dulu.
Tapi kemudian dia melihat menu sarapannya, ada bubur ayam (Kiara suka), roti panggang dengan selai stroberi (favorit Kiara), jus alpukat (yang direkomendasikan untuk ibu hamil), dan bahkan sup kimchi (yang Dara bukan Kiara suka dari kehidupan lamanya).
Tunggu, bagaimana dia tahu aku suka sup kimchi?
Ketukan di pintu.
"Masuk."
Arkan masuk dengan hati-hati, seperti takut mengusik. "Kamu sudah bangun, maaf kalau aku ganggu..."
"Bagaimana kamu tahu aku suka sup kimchi?"
Arkan terlihat bingung sebentar. "Karena... seminggu lalu aku lihat kamu pesan itu waktu kita makan di luar. Kamu habiskan sampai bersih, jadi aku pikir kamu suka."
Oh... Memang waktu itu Dara pesan sup kimchi tanpa sadar, kebiasaan dari kehidupan lama. Arkan memperhatikan.
"Kamu... kamu memperhatikan apa yang aku makan?"
"Aku memperhatikan segalanya tentangmu sekarang." Arkan duduk di ujung sofa, menjaga jarak. "Aku tahu itu terlambat, aku tahu aku seharusnya melakukan ini sejak awal. Tapi aku... aku bodoh, aku buta."
Dara tidak menjawab, hanya memakan bubur ayamnya perlahan.
"Kiara," Arkan melanjutkan, suaranya pelan. "Aku tidak mengharapkan kamu langsung memaafkanku, aku tahu apa yang aku lakukan tidak bisa dimaafkan begitu saja. Tapi aku mau kamu tahu, aku serius mau memperbaiki semuanya."
"Dengan membuat sarapan?"
"Dengan apapun yang kamu butuhkan." Arkan menatapnya. "Kalau kamu butuh aku menjauh, aku akan menjauh. Kalau kamu butuh aku dekat, aku akan ada. Kalau kamu butuh aku meminta maaf setiap hari, aku akan lakukan. Apapun..."
Dara menatapnya mencari tanda-tanda kebohongan, manipulasi. Tapi yang dia lihat hanya... penyesalan tulus.
Atau dia memang jago akting seperti Lenna?
"Arkan, aku mau tanya sesuatu. Dan aku mau kamu jujur."
"Apapun."
"Kenapa kamu lebih percaya Lenna daripada aku waktu itu?"
Arkan terdiam lama, pertanyaan yang dia takutkan.
"Karena... karena aku kenal Lenna sejak lama. Sejak dia berumur lima belas tahun dan aku menyelamatkannya dari jalanan. Dia selalu terlihat rapuh, butuh perlindungan. Jadi aku terbiasa melindunginya." Arkan menunduk. "Tapi sebenarnya... aku juga takut."
"Takut apa?"
"Takut pada kamu."
Dara mengerutkan kening. "Takut padaku?"
"Bukan takut dalam arti itu. Tapi... kamu istri yang dijodohkan keluarga padaku. Kita menikah tanpa cinta, dan aku merasa bersalah karena aku tidak bisa mencintaimu." Arkan menatapnya. "Jadi aku menjauh... Aku lebih memilih dekat dengan Lenna yang sudah aku kenal, daripada mencoba mengenal istriku sendiri. Aku pengecut."
Pengakuan yang jujur, menyakitkan... tapi jujur.
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku tahu, aku kehilangan banyak waktu. Aku tidak pernah mencoba mengenalmu. Aku tidak tahu kamu suka apa, benci apa, takut apa, impianmu apa." Arkan tersenyum pahit. "Aku bahkan tidak tahu kamu sebenarnya sekuat ini."
"Kuat karena terpaksa."
"Aku tahu dan itu salahku." Arkan berdiri. "Aku tidak akan ganggu kamu lebih lama lagi. Aku cuma mau kamu tahu mulai hari ini, aku akan berusaha mengenal istriku yang sebenarnya. Bukan Kiara yang aku bayangkan, tapi Kiara yang nyata."
Dia berjalan ke pintu, berhenti sebentar.
"Oh ya, nanti sore ada pemeriksaan kehamilan rutin di rumah sakit. Aku sudah atur jadwalnya, boleh aku antar?"
Dara ragu sebentar. Tapi kemudian mengangguk. "Boleh."
Wajah Arkan terlihat lega seperti anak kecil yang diberi izin bermain.
"Terima kasih, aku akan tunggu di bawah jam tiga."
Setelah dia keluar, Dara menatap sarapannya yang sudah setengah habis.
Dia berubah atau dia cuma akting yang lebih baik?
Ketukan lagi di pintu, kali ini Regan yang masuk.
"Kak, aku lihat Arkan keluar dengan wajah sumringah. Ada apa?"
"Dia minta izin antar aku ke dokter nanti sore."
"Dan Kakak setuju?"
"Iya."
Regan duduk, menatapnya serius. "Kak, apa Kakak mulai... melunakkan hatimu pada Arkan?"
Dara terdiam lama. "Aku tidak tahu, Regan. Sebagian dariku masih sangat marah padanya. Tapi sebagian lain..." dia menyentuh perutnya, "...bagian yang Kiara yang asli, yang dulu mencintainya masih ada. Dan bagian itu... masih berharap."
"Berharap apa?"
"Berharap dia benar-benar berubah, berharap dia layak jadi ayah untuk anakku. Berharap... mungkin kita bisa jadi keluarga yang sebenarnya."
Regan tersenyum lembut. "Itu bukan hal buruk, Kak. Memberi kesempatan pada orang untuk berubah."
"Tapi aku pernah memberi kesempatan pada Salma, dan dia membunuhku."
"Arkan bukan Salma."
"Bagaimana aku bisa yakin?"
"Kakak boleh tidak yakin sekarang, tapi Kakak bisa mengamati, Kakak bisa memberi dia kesempatan kecil demi kecil. Dan kalau dia gagal, kakak bisa stop kapan saja."
Dara mengangguk perlahan, mungkin Regan benar.
***
Sore itu, Arkan mengantarnya ke rumah sakit dengan hati-hati... menyetir perlahan, memastikan Kiara nyaman, bahkan membawakan air minum dan cemilan kalau-kalau Kiara lapar di jalan.
Di ruang tunggu dokter kandungan, mereka duduk berdampingan.
"Kamu gugup?" tanya Arkan.
"Sedikit, ini pemeriksaan pertama kita berdua datang bersama."
Arkan menatapnya. "Maafkan aku, aku seharusnya ada sejak awal."
"Sudahlah... Yang penting kamu ada sekarang."
Mereka dipanggil masuk. Dokter kandungan, Dr. Sinta, wanita ramah berusia empat puluhan menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Nyonya Kiara, sudah lima bulan ya kehamilannya. Mari kita lihat perkembangan bayinya."
Pemeriksaan dimulai, layar pemindai suara ultra menunjukkan bayangan kecil... janin yang sudah mulai berbentuk jelas.
"Ini kepalanya, ini tangannya, ini kakinya..." Dr. Sinta menunjuk. "Semuanya berkembang dengan baik, detak jantung juga sangat kuat."
Suara detak jantung bayi terdengar lewat pengeras suara... cepat, berirama, seperti kuda berlari.
Dara menatap layar itu, merasakan emosi yang tidak bisa dijelaskan. Ini anaknya, anak yang hampir dia kehilangan berkali-kali.
Dia melirik Arkan, pria itu menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
"Itu... itu anakku..." bisiknya.
"Anak kita," koreksi Dara tanpa sadar.
Arkan menatapnya, mata penuh air mata. "Anak kita."
Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini, Dara merasa ada harapan.
Mungkin mereka bisa memperbaiki ini, mungkin mereka bisa jadi keluarga.
Mungkin...
"Oh, ada yang mau tahu jenis kelaminnya?" tanya Dr. Sinta.
Dara dan Arkan menatap satu sama lain.
"Mau?" tanya Arkan.
"Terserah kamu."
"Aku mau tahu, kalau kamu juga mau."
Dara mengangguk.
Dr. Sinta tersenyum. "Selamat, kalian akan punya anak perempuan."
Anak perempuan.
Arkan menangis, menangis sungguhan, tidak malu. "Anak perempuan... kita akan punya anak perempuan..."
Dara tersenyum, senyum tulus pertamanya untuk Arkan.
"Ya, kita akan punya putri."
Dan untuk sekilas... sekilas singkat Dara melupakan semua trauma, semua kebencian, semua amarah.
Untuk sekilas, dia hanya ibu hamil yang bahagia dengan suaminya, menunggu kelahiran anak pertama mereka.
Tapi di sudut hatinya...
Bayangan Salma dan Lenna masih mengintai. Mengingatkannya... Kebahagiaan bisa hilang dalam sekejap. Dan dia harus tetap waspada.
Selalu.
lupita namanya siapa ya