NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Retakan yang Tidak Bisa Ditutup

Pagi itu kota bangun dengan rasa yang berbeda.

Tidak ada suara perang.

Tidak ada lonceng bahaya.

Tidak ada jeritan.

Namun udara terasa lebih berat dari biasanya.

Pasar timur yang biasanya ramai sejak fajar kini bergerak lambat. Pedagang membuka lapak satu per satu. Beberapa saling bertukar pandang sebelum mengangkat tirai kain mereka. Ada yang memilih diam. Ada yang memilih pergi.

Para penjaga kekaisaran berdiri lebih banyak dari hari sebelumnya.

Bukan dalam formasi perang.

Bukan dengan senjata terangkat.

Mereka hanya berdiri.

Namun keberadaan itu cukup untuk membuat orang menunduk.

Di dinding batu dekat gerbang pasar, kertas pengumuman baru terpasang. Cap merah kekaisaran jelas terlihat. Tulisannya rapi. Bahasanya tenang. Tidak ada ancaman.

Namun semua orang berhenti membaca di bagian yang sama.

Nama.

Beberapa nama yang sebelumnya hanya dibicarakan di balik pintu kini tercetak jelas. Tidak semua tokoh besar. Bahkan sebagian hanyalah pejabat tingkat rendah. Pedagang penghubung. Penulis catatan. Orang-orang yang selama ini dianggap tidak penting.

Seorang pria tua membaca pengumuman itu lama sekali. Tangannya gemetar saat melihat satu nama yang dikenalnya.

Ia melipat kertas kecil di sakunya... lalu pergi tanpa membeli apa pun.

Seorang ibu menarik anaknya menjauh dari papan itu.

Seorang pemuda pura-pura tidak melihat dan berjalan cepat.

Beberapa orang berdiri terlalu lama... lalu sadar dan segera menyebar.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada keributan.

Namun ketakutan menyebar lebih cepat dari suara.

Di dalam istana, suasana tidak kalah sunyi.

Lorong-lorong marmer dipenuhi langkah para pejabat. Mereka berjalan cepat. Tidak banyak bicara. Setiap orang membawa map tipis dengan segel administratif.

Chen Long berdiri di ruang samping aula utama.

Ia tidak berada di singgasana.

Ia juga tidak ikut dalam rapat terbuka.

Posisinya sengaja seperti itu.

Ia ingin mendengar... bukan berbicara.

Dari balik tirai, suara laporan mengalir tanpa henti.

“Beberapa wilayah kota luar mulai menolak pemeriksaan lanjutan...”

“Rakyat bertanya mengapa penyelidikan diperluas tanpa dekrit baru...”

“Beberapa pejabat lokal meminta perlindungan hukum tertulis...”

Nada suara para pelapor terkontrol. Terlalu terkontrol.

Chen Long menutup mata sejenak.

Ia tahu pola ini.

Ketika kata-kata mulai rapi...

itu berarti niat di baliknya tidak lagi bersih.

Ia membuka mata saat satu laporan berhenti di tengah.

“Yang Mulia...” suara itu ragu sejenak.

“Jika tekanan ini diteruskan, akan muncul kesan bahwa istana telah menetapkan kesalahan sebelum pengadilan.”

Hening.

Beberapa pejabat saling menatap.

Tidak ada yang langsung membantah.

Chen Long menyadari satu hal yang lebih berbahaya daripada tuduhan itu sendiri.

Mereka menunggu reaksinya.

Di sisi lain istana, Yin Sunxin berada di ruang arsip administratif.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada simbol kekuasaan.

Hanya meja panjang, tumpukan dokumen, dan catatan hukum yang disusun berlapis.

Ia membaca satu berkas... lalu meletakkannya.

Berisi laporan saksi tambahan.

Tidak kuat.

Tidak cukup.

Namun jika digabungkan... bisa dipelintir.

Ia membaca berkas kedua.

Laporan ketiga.

Keempat.

Polanya terlihat jelas.

Tekanan administratif diarahkan agar rakyat sendiri yang menuntut kejelasan. Agar opini terbentuk sebelum hukum bergerak.

Yin Sunxin menutup map terakhir.

“Ini bukan penegakan hukum...” gumamnya pelan.

“Ini pembentukan kesalahan.”

Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Dari sana, sebagian kota terlihat. Atap-atap rapat. Jalan yang mulai dipenuhi patroli.

Ia tahu... jika ia menahan proses ini terlalu lama, ia akan dituduh melindungi pihak tertentu.

Namun jika ia membiarkan...

rakyat sipil akan menjadi korban pertama.

Sementara itu, di luar lingkar kekuasaan, seseorang berdiri di lorong sempit dekat pasar.

Ia mengenakan pakaian sederhana. Tidak mencolok. Tidak membawa simbol apa pun. Namun matanya mengamati setiap reaksi dengan teliti.

Ketakutan.

Keraguan.

Kemarahan terpendam.

Semua dicatat.

Ia melihat seorang pria merobek pengumuman itu diam-diam.

Ia melihat penjaga menegur seorang pedagang tanpa alasan jelas.

Ia melihat bagaimana rasa tidak aman tumbuh tanpa perlu kekerasan.

“Bagus...” gumamnya lirih.

Langkah pertama selalu seperti ini.

Bukan menghancurkan.

Tapi mengikis.

Ketika matahari naik lebih tinggi, kota tetap berjalan. Orang-orang tetap bekerja. Anak-anak tetap bermain.

Namun sesuatu telah berubah.

Rakyat mulai bertanya... bukan kepada istana, tapi kepada sesama mereka.

Dan ketika pertanyaan itu tidak dijawab...

mereka akan mencari jawaban sendiri.

Chen Long akhirnya meninggalkan ruang samping.

Ia tidak mengeluarkan perintah hari itu.

Namun keheningannya menjadi sinyal.

Bahwa badai berikutnya...

tidak lagi bisa dicegah dengan kata-kata.

Bayangan di Balik Ketertiban

Langit sore menggantung rendah di atas kota.

Awan tidak gelap.

Tidak ada hujan.

Namun sinar matahari terasa redup... seolah tertahan sesuatu.

Chen Long berdiri di beranda bangunan penginapan kecil tempat rombongan mereka sementara tinggal. Dari atas, ia bisa melihat jalan utama yang membelah distrik ini. Pedagang masih lalu-lalang. Penjaga masih berpatroli. Segalanya tampak normal.

Terlalu normal.

Ia menarik napas pelan.

Sejak pagi, ia merasakan tekanan yang sulit dijelaskan. Bukan tekanan kultivasi. Bukan ancaman langsung. Melainkan rasa diawasi... namun tanpa arah yang jelas.

Di bawah, dua penjaga kekaisaran berhenti di depan sebuah lapak. Mereka berbicara singkat dengan pemiliknya. Tidak ada bentakan. Tidak ada kekerasan. Namun setelah mereka pergi, sang pemilik langsung menutup lapaknya.

Chen Long memperhatikan itu lama.

Bukan satu kejadian.

Bukan kebetulan.

Di dalam penginapan, beberapa tamu berbisik pelan. Ketika Chen Long melangkah masuk, suara-suara itu langsung terhenti. Beberapa orang menunduk. Beberapa pura-pura sibuk.

Ia tidak menyalahkan mereka.

Ketakutan sering kali bekerja seperti itu... diam-diam.

Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya sedang menyesap teh. Wajahnya biasa saja. Pakaiannya sederhana. Namun sejak tadi, pandangannya beberapa kali mengarah ke luar jendela... bukan ke jalan... melainkan ke arah penjaga yang berpatroli.

Chen Long duduk tidak jauh darinya.

“Tehnya dingin,” kata Chen Long pelan.

Pria itu tersenyum tipis. “Teh hangat menarik perhatian. Teh dingin tidak.”

Jawaban yang aneh.

Namun cukup jelas.

Chen Long tidak melanjutkan. Ia hanya mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian, pria itu berdiri dan pergi tanpa membayar. Pemilik penginapan tidak menegur.

Sore bergeser ke malam.

Lampu-lampu mulai dinyalakan di sepanjang jalan. Patroli penjaga bertambah. Tidak agresif. Tidak mencolok. Namun jarak antar regu menjadi lebih rapat.

Di sudut gang sempit, dua warga berbincang pelan.

“Apa kau dengar...”

“Jangan bicara di sini...”

“Tapi ini aneh...”

“Semua jadi aneh sekarang.”

Percakapan itu terputus ketika langkah penjaga mendekat.

Malam itu, Chen Long tidak langsung beristirahat.

Ia duduk di kamar sederhana dengan jendela terbuka. Udara malam masuk perlahan. Dari kejauhan, terdengar suara kota yang mencoba tetap hidup.

Langkah kaki.

Pintu ditutup.

Suara kain digeser.

Lalu senyap.

Beberapa saat kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu.

Tiga kali.

Ritmenya tidak teratur.

Chen Long berdiri. Ia tidak langsung membuka. Tangannya berhenti di gagang pintu sejenak... lalu ia membuka sedikit.

Seorang pemuda berdiri di luar. Usianya tidak jauh darinya. Pakaiannya sederhana. Wajahnya tegang.

“Aku tidak punya banyak waktu,” kata pemuda itu cepat.

“Apa pun yang kau lakukan... jangan keluar malam ini.”

Chen Long menatapnya tenang. “Kenapa.”

Pemuda itu menelan ludah. “Karena malam ini bukan tentang aturan. Tapi tentang contoh.”

Chen Long membuka pintu sedikit lebih lebar. “Contoh untuk siapa.”

“Untuk rakyat,” jawabnya lirih.

“Dan untuk istana.”

Sebelum Chen Long bisa bertanya lagi, pemuda itu sudah pergi. Langkahnya cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang tidak ketakutan.

Pintu tertutup kembali.

Chen Long berdiri lama di tempatnya.

Ia memahami satu hal dengan jelas sekarang.

Tekanan belum diarahkan padanya.

Belum pada tokoh tertentu.

Tekanan diarahkan pada ruang di sekitarnya.

Jika ruang itu runtuh...

target berikutnya akan jelas.

Di luar penginapan, sebuah regu penjaga berhenti di depan rumah kecil. Tidak ada tanda khusus. Hanya rumah biasa. Seorang pria tua tinggal di sana bersama cucunya.

Pintu diketuk.

Pria tua itu membuka dengan ragu.

Tidak ada tuduhan.

Tidak ada perlawanan.

Hanya pemeriksaan.

Namun ketika pintu ditutup kembali...

tangisan anak terdengar pelan dari dalam.

Malam itu berlalu tanpa darah.

Namun banyak yang tidak tidur.

Dan ketika fajar mendekat, kota menyadari sesuatu.

Ketertiban masih ada.

Hukum masih berjalan.

Namun bayangan telah masuk ke dalamnya.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!