Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Bonus Tutup Mulut
"Obat warung itu ternyata tidak mengandung racun," ucap Dominic. Dia meregangkan kedua lengannya ke atas. Tulang punggungnya berbunyi pelan.
Dia bangkit dari sofa kulit dengan sangat bersemangat. Rasa pusing di kepalanya hilang tak bersisa. Hidungnya sudah bisa menghirup udara dingin ruangan tanpa halangan sedikit pun. Dia kembali menjadi Dominic sang penguasa bisnis yang kejam dan tak terkalahkan. Tubuhnya terasa seringan kapas, seolah flu mematikan tadi hanyalah ilusi semata.
Pintu ruang kerja berderit terbuka. Harper masuk membawa setumpuk map dokumen. Wajah wanita itu tetap datar, seolah tidak pernah terjadi drama suap menyuap bubur instan beberapa saat yang lalu.
"Kau masih hidup rupanya," sindir Harper santai sambil meletakkan tumpukan map itu ke atas meja kerja Dominic. "Kupikir aku harus menghubungi pihak rumah duka hari ini untuk memesan peti mati emas pesananmu."
Dominic merapikan jas mahalnya dan berjalan tegap kembali ke kursi kebesarannya. Dia berdehem pelan, berusaha menutupi rasa gengsi yang mendadak menyerang dadanya. Mengucapkan dua kata terima kasih terasa lebih sulit daripada memecat seratus karyawan sekaligus.
"Sistem kekebalan tubuhku memang luar biasa istimewa," balas Dominic sombong. Dia menyandarkan punggungnya dengan gaya arogan khas seorang pemimpin puncak. "Bakteri mutan itu hancur berantakan melawan antibodi super di dalam darahku. Aku tidak butuh dokter bedah kelas atas lagi."
"Tentu saja. Antibodi super yang dibantu oleh bubur instan dan obat hijau seharga lima ribu rupiah," sahut Harper telak mematahkan kesombongan bosnya. Dia bersiap memutar tubuh untuk kembali ke mejanya di luar.
"Tunggu di situ, Harper."
Dominic menarik keyboard komputernya mendekat. Jari jarinya mengetik dengan sangat cepat di atas tuts. Matanya menatap layar monitor dengan fokus tajam. Dia membuka portal perbankan pribadi tingkat tinggi miliknya.
"Ada apa lagi? Kau mau minta disuapi makan malam sekarang?" tanya Harper tajam.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya sedang membereskan urusan administrasi."
Dominic menekan tombol konfirmasi di komputernya. Suara ketukan enter terdengar nyaring memecah keheningan ruangan.
Tiga detik kemudian, ponsel di saku blazer Harper bergetar pendek.
Harper mengambil ponselnya. Alisnya terangkat sebelah melihat notifikasi dari aplikasi perbankan. Matanya menatap rentetan angka nol yang berbaris rapi di layar. Jumlahnya benar-benar tidak masuk akal untuk ukuran sebuah transfer dadakan.
"Satu miliar?" Harper mendongak, menatap bosnya dengan pandangan penuh selidik. "Kau salah ketik jumlah nol saat mentransfer uang gajian staf?"
"Itu bonus lembur untukmu," jawab Dominic santai tanpa menatap Harper. Dia pura pura sibuk membaca grafik saham yang bergerak naik turun di layarnya.
"Lembur apa? Ini masih jam kerja normal. Aku bahkan belum menyentuh mesin fotokopi sejak tadi siang gara gara mengurus hidung melermu."
"Itu bonus tutup mulut!" Dominic akhirnya menatap Harper dengan rahang mengeras. Wajahnya sedikit memerah menahan gengsi. "Jangan pernah berani menceritakan kejadian konyol tadi pada siapa pun. Kalau sampai ada satu anggota dewan direksi yang tahu aku makan bubur ayam murahan sambil merengek minta disuapi di sofa, aku akan memotong gajimu sampai sepuluh tahun ke depan!"
Harper menatap ponselnya lagi. Dia sama sekali tidak terlihat terkejut atau berniat menolak uang tersebut. Bekerja dengan bos yang gengsinya setinggi langit memang selalu membawa keuntungan finansial yang tidak terduga.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Harper membuka aplikasi belanja barang mewah kelas dunia di ponselnya secara terang terangan. Dia mengetik nama merek terkenal, Vanguard, dan mencari tas kulit buaya asli edisi terbatas yang sudah dia incar selama enam bulan terakhir. Tas itu harganya setara dengan dua buah mobil sport.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselmu di jam kerja?" tegur Dominic.
"Mengamankan bonusku sebelum kau berubah pikiran dan menariknya lagi." Harper mengetuk layarnya tanpa ragu. "Selesai. Tas Vanguard warna hitam ini akan sampai di mejaku lusa. Sisanya akan kugunakan untuk liburan musim dingin ke Eropa bulan depan."
Dominic mendengus kesal melihat tingkah sekretarisnya yang sama sekali tidak punya rasa sungkan. "Kau benar benar wanita materialistis tanpa hati. Uang sebanyak itu kau habiskan hanya dengan memencet layar."
"Dan kau pria arogan yang gengsi mengucapkan terima kasih," balas Harper tenang. Dia memasukkan ponselnya kembali ke saku blazer. "Aku kembali ke mejaku. Berkas itu harus kau tandatangani hari ini juga."
Dominic baru saja mengambil bolpoin mahalnya untuk mulai bekerja. Suasana kantor terasa kembali normal, damai, dan terkendali.
Namun, ketenangan itu hancur berantakan dalam sekejap mata.
Nguing! Nguing! Nguing!
Suara sirine alarm darurat berbunyi sangat nyaring dan memekakkan telinga dari arah langit langit ruangan. Lampu utama kantor seketika padam, digantikan oleh kedipan lampu merah darurat yang berputar putar menyilaukan mata ke segala arah.
Dominic langsung melompat berdiri dari kursinya. Jantungnya berdebar kencang. "Apa apaan ini?! Kenapa alarm kebakaran menyala?!"
Harper yang baru sampai di ambang pintu langsung berbalik. Wajah tenangnya berubah tegang luar biasa. Ponsel di sakunya berdering panik. Dia mengangkatnya dengan cepat, menempelkan benda itu kuat kuat ke telinganya.
"Laporan! Ada apa di bawah?!" teriak Harper menembus bisingnya suara sirine.
Harper mendengarkan laporan dari ujung telepon dengan mata membelalak lebar. Dia mematikan panggilan dan menatap Dominic dengan raut wajah sangat serius dan mengancam.
"Bukan kebakaran biasa, Dom!" lapor Harper cepat, mengabaikan sopan santun sama sekali. "Kepala keamanan baru saja menelepon. Ada ledakan kecil di lantai dasar. Ruang server utama perusahaan kita disabotase orang!"
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣