Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda-tanda di Hutan
Yohan mengeluarkan isi kotak jati merah, tiga barang yang menjadi pusaka misterius pertamanya. Rambut ibunya, Jimat Perunggu, dan Peta K-Sumi. Matahari baru saja mengintip di cakrawala, tetapi udara pagi yang dingin Sumiati gagal menghantui rumah membuatnya terasa dingin. Tidak, udara ini tenang karena Ibu mempersiapkan kehadirannya.
Ia melipat peta yang primitif itu dan menyelipkannya di kantong dalam jaketnya. Jimat perunggu, yang terasa sangat berat, diikatkan Yohan pada tali kulit di lehernya. Ia meraih ransel, mengisinya dengan air minum, pisau besar, dan Jurnal Yosef sebagai referensi.
Tepat ketika Yohan mengunci pintu depan rumah warisan yang rapuh itu, asap kental mulai muncul di udara, bukan asap normal, melainkan kabut tebal, kelabu, dan dingin, bergerak berlawanan arah dengan angin yang normalnya meniup dari selatan.
Yohan berhenti. Ia tahu ini bukan kabut biasa. Aroma kamboja busuk menusuk hidungnya dengan kecepatan mengerikan. Dia mendengus kesal. Dia sudah bertekad melakukan ini, dan Sumiati tidak akan menghentikannya kali ini.
“Kamu di sini bukan untuk menghentikan ku, Bu,” kata Yohan tenang, suaranya mantap, penuh kejelasan baru.
“Kamu ada di sini karena kamu ketakutan. Kamu tahu apa yang harus aku temukan di sana. Dan kamu tahu, kalau kamu berhasil menghentikan ku, ikatanmu abadi.”
Sumiati tidak bersuara, tetapi Yohan merasakan ledakan energi melayang masuk ke dalam dirinya, melainkan proyeksi rasa takut murni. Bahaya! Aku tidak ingin kamu terikat! Baliklah, Anakku!
“Kalau aku balik, apa bedanya kamu denganku?” Yohan melangkah satu langkah lebih maju, tangannya menggenggam Jimat Perunggu di bawah jaketnya.
“Ayah menjadikanmu pengorbanan yang tak kamu inginkan. Kamu ingin aku aman dengan menjadi orang asing dan menjual tanah, sama saja mengkhianati tanah. Kita berdua korban janji gila Ayah. Sekarang, aku harus mengakhiri pengorbanan itu.”
Dia tidak meminta izin, dia menyatakan tujuan. Yohan melewatinya. Saat ia menyentuh kabut itu, rasa dingin menusuk tulang, membuatnya hampir terjatuh. Namun, alih-alih menyerangnya, Sumiati hanya menguatkan penolakan emosional.
“Aku pergi, Bu. Aku akan melihat tempat kau terikat. Dan aku akan mengerti Pusaka itu, sebagaimana Ayah mengerti.”
Yohan menerobos batas spiritual itu, berjalan cepat, berusaha mengabaikan sisa-sisa isakan panjang Sumiati yang perlahan pudar di belakangnya.
***
Hutan perbatasan terasa lebih tua dan asing dari hutan biasa. Peta K-Sumi cukup jelas, menunjukkan sungai kecil yang membentang ke hulu, dan titik balik yang ditandai pohon beringin raksasa.
Setengah perjalanan, Yohan menyadari Bahaya Lingkungan yang nyata. Udara terasa panas, tetapi Yohan harus melewati rawa-rawa kecil. Dia harus berjuang menghindari gigitan serangga yang tidak ia kenali dan berpacu melawan waktu. Jurnal Yosef memperingatkannya untuk tidak berada di hutan pada sore hari, terutama di sekitar ‘Titik Bekas’. Kekuatan roh di sana berkumpul pada malam hari.
Tiba di beringin raksasa, Yohan menarik napas lega. Ini persis seperti digambarkan Ayahnya. Pohon itu tidak terlihat seperti pohon Yalimo lainnya; tingginya menjulang, akarnya terlihat melilit batu yang tidak natural.
Setelah menembus dedaunan tebal yang jarang disentuh manusia, ia menemukannya.
Batu Persembahan Kuno.
Yohan tertegun, lututnya nyaris lemas. Itu adalah batu andesit raksasa, ditutupi lumut tua berwarna hijau lumut tebal, ukurannya sebesar mobil pick-up, dan terletak di cekungan alami. Batu itu seolah diletakkan di sana dengan sengaja, tetapi ukirannya halus, menandakan bukan kreasi alam.
Aura batu itu terasa seperti menekan dada. Dinginnya sama persis dengan yang dirasakan Yohan di koridor kamarnya setelah ritual Salman gagal total. Tetapi di sini, dingin itu adalah pusat gempa, tidak seperti hawa dingin residu di rumah.
Yohan berjalan hati-hati ke sekeliling Batu Persembahan. Ia ingat visinya: Sumiati menangis di hadapan sebuah batu besar berlumut, yang seolah-olah mengikatnya dengan rantai tak terlihat. Rasa mual emosional melanda Yohan saat ia sadar ini adalah tempat ibunya tewas atau segera terikat menjadi entitas penjaga.
Di puncak Batu Persembahan, ada sebuah ceruk, tempat cairan dapat dikumpulkan atau dipersembahkan. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, ceruk itu masih berwarna merah gelap kecokelatan yang jelas. Bekas ritual Darah Abadi. Yosef di jurnalnya merinci perlunya ‘darah yang tersimpan’ agar ikatan jiwa tetap abadi. Dia menemukan tempat Janji Darah bermula.
Yohan memanjat sisi batu, berusaha mencapai ceruk. Dia mengeluarkan Jimat Perunggu dari jaketnya. Tiba-tiba, Jimat itu terasa sangat panas di tangannya. Ia meletakkan jimat itu di ceruk darah kering tersebut.
Suara dengung halus muncul dari Batu Persembahan. Suara yang dalam, lambat, seperti bumi sedang bernapas di hadapannya.
“Kau terikat pada ibuku di sini,” bisik Yohan pada batu itu. “Ikatan darah lah yang mengikat. Tapi kau mengikatnya karena diperintah Ayah.”
Tiba-tiba, Yohan melihat kilatan dari masa lalu..
“Jangan lakukan ini padaku, Yosef! Yalimo bisa kau jaga tanpa mengorbankan diriku!” Sumiati menangis dalam kilasan memori yang brutal itu. Yosef hanya terlihat menjawab,
“Tidak ada cara lain, Sumiati! Hanya pengorbanan jiwa yang mampu menahan kejahatan Tambang di masa depan!”
Kilatan masa lalu itu segera menghilang, digantikan oleh tekanan Batu Persembahan. Kenangan itu tidak menguras fisik Yohan, tetapi membelenggu emosinya.
“Pengorbananmu itu keliru, Ayah,” Yohan berbicara. Dia menampar sisi batu.
“Kau menggunakan cinta Ibumu untuk menjadi alat. Itulah mengapa dia menjadi Penjaga Ikatan yang dendam. Karena janji itu tidak dibuat dari niat suci yang sama!”
Yohan duduk di tanah berlumut di samping Batu Persembahan.
Kalian berdua adalah korban obsesi yang menyiksa.
Kepala Yohan kini terasa penuh. Ia tahu sekarang bagaimana Ayahnya diburu. Yosef sadar ritualnya gagal dan berniat membatalkannya. Sesepuh dan konspirator lain, yang takut rencana bisnis mereka akan terhalang oleh pembatalan Janji Darah, kemudian membunuhnya dan menyebarkan kisah bunuh diri Sumiati sebagai alibi untuk mempertahankan batas spiritual mereka.
Ia mengambil Jimat Perunggu yang kini sedikit dingin dan menyimpannya. Rasa ingin tahu sudah berganti menjadi keyakinan kuat. Dia akan segera tahu Pusaka itu benda apa.
***
Yohan segera kembali, menyadari Matahari telah naik terlalu tinggi. Udara di luar hutan perbatasan terasa berbeda, panas dan cemas.
Begitu ia melangkah keluar dari batas rimbun perbatasan yang diproteksi spiritual, dan kembali ke jalan setapak yang menghubungkan ke desa, ia dihadang. Dua orang tetua berotot, dan di antara mereka, berdiri Marta. Marta tampak gelisah, tetapi amarah dan ketakutannya lebih dominan.
“Darimana kamu, Yohan?” tanya Marta dingin. Ketiga orang itu menghalangi jalan Yohan. Mereka mengayunkan cangkul dan tongkat kayu tua.
Yohan tidak perlu menjawab. Tatapannya tegas, menandakan ia telah menemukan rahasia mereka. Ia menatap ke Batu Persembahan yang tersembunyi, lalu ke mata Marta.
“Kalian membuntuti saya, ya? Kalian takut saya temukan apa yang terjadi di tempat suci itu,” Yohan membalas, meletakkan tangannya di atas Jimat Perunggu di dadanya.
“Tidak ada tempat suci. Hanya hutan!” teriak salah satu tetua, suaranya parau.
“Kami hanya memergoki kau berkeliaran di area yang dilarang!”
“Area terlarang yang dipersiapkan Ayahku untuk mengorbankan Ibuku. Di tempat itu Janji Darah dituntut, dan kau, Marta, yang ikut serta,” ujar Yohan, nadanya kini berwibawa.
Wajah Marta membatu, pucat karena marah dan ngeri.
“Kamu hanya menduga-duga. Kamu adalah orang luar yang mencoba menghancurkan desa ini! Kau membawa kehancuran dan trauma! Kami menyembunyikan kebenaran agar roh Ibunda dan Ayahmu tidur! Kami lakukan itu demi ketenangan desa! Dan sekarang kamu datang dan menghidupkan semuanya lagi!” bentak Marta.
“Kalian menyembunyikan karena kalian yang menyalakan api itu,” kata Yohan.
“Aku sudah menemukan peta Ayah. Aku sudah melihat sketsa ritual itu. Apa yang ingin kalian sembunyikan? Ketakutan kalian kehilangan uang dari penambang di seberang sana?”
Mata Marta menyala-nyala. Dia melangkah maju.
“Kamu berbohong! Kami hanya ingin desa ini stabil! Kami hanya mempertahankan Janji Darah karena kami tak mau Kutukan Leluhur Pusaka dilepaskan. Dan kau… kau harus menghentikan pengacauan ini sekarang! Hutan itu bukan milikmu, Yalimo bukan kotamu, dan Janji Darah BUKAN urusanmu!”
Yohan melihat ancaman di tangan Marta, yang kini menyala merah. Ini bukan hanya ancaman mulut. Itu adalah persiapan konfrontasi fisik. Ia kini memiliki Bukti dan Keyakinan. Namun, Marta memegang otoritas Desa.
“Tidak,” jawab Yohan tenang. “Aku adalah Pewaris warisan terikat ini. Itu menjadikan ini tanggung jawabku, Marta.”
“Jika kamu melangkah ke Batu Persembahan itu lagi, atau mencoba membebaskan arwah yang terikat itu, kami akan memberitahu seluruh desa bahwa kau adalah utusan kegilaan Ayahmu! Dan kami tidak akan membiarkanmu tinggal sekejap pun! Kamu akan diusir!” teriak Marta, kepalanya sedikit menggeleng, wajahnya terdistorsi oleh ketakutan absolut yang tak mampu ia sembunyikan.
“Kita akan lihat,” kata Yohan. Dia menerobos maju, bahunya menyenggol bahu seorang tetua yang tersentak kaget. Yohan berjalan terus menuju rumah, membiarkan Marta dan anak buahnya di belakang, merenungi bagaimana membunuhnya, secara adat.
Aku adalah korban yang memilih kembali menjadi Yalimo, pikir Yohan. Aku tidak akan berhenti sampai Ibuku bebas dan kalian mengakui kalian pembunuh.