Karena keinginan Laras, Rangga melepas semua beban yang selama ini menghimpit dadanya. Satu kata talak sudah cukup untuk mengakhiri pengabdian tulus yang selama ini diinjak-injak.
Namun, dunia seolah berputar. Saat Rangga mulai menata hidup yang baru, Laras yang dulu menghancurkannya kini bersimpuh di kakinya. Memohon satu kesempatan yang sudah mustahil untuk diberikan.
"Jangan mengejar apa yang sudah kau buang, karena hatiku bukan tempat untuk pulang bagi pengkhianat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHILANGAN YANG MENYAKITKAN
Lampu ruang operasi yang padam meninggalkan kesunyian yang lebih mengerikan daripada guntur di Lembang tadi. Dokter itu melepas maskernya, wajahnya tampak lelah, garis-memar di bawah matanya menunjukkan betapa kerasnya perjuangan di dalam sana. Rangga berdiri mematung, napasnya tertahan di kerongkongan, matanya yang sembab menatap bibir dokter itu, menunggu satu kalimat yang akan menentukan apakah dia masih punya alasan untuk hidup atau tidak.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin..." Dokter itu menghela napas panjang, kepalanya tertunduk sedikit. "Ibu Syakira berhasil kami stabilkan. Tapi... kami sangat menyesal, janinnya tidak bisa diselamatkan. Perdarahannya terlalu hebat akibat stres fisik dan guncangan mental yang ekstrem. Ibu Syakira kehilangan bayinya."
DUARRR!
Bukan guntur di luar sana, tapi dunia di dalam kepala Rangga yang meledak. Kakinya lemas, tulang-tulangnya terasa seperti berubah jadi abu. Ia merosot, berlutut di lantai rumah sakit yang dingin dan berbau karbol yang tajam. Suara tangis Pak Mansyur pecah, sebuah raungan pria tua yang kehilangan cucunya.
"Anakku..." Pak Mansyur menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat.
Rangga tidak bisa bersuara. Tenggorokannya terkunci oleh rasa bersalah yang begitu pekat, seolah-olah dia baru saja menelan cairan timah panas. Bayangan daster putih Syakira yang merah karena darah terus berputar di matanya. Dia yang melakukannya. Mulutnya, egonya, kesombongan angkringannya yang sukses—semua itu tidak ada artinya sekarang. Dia adalah pembunuh anaknya sendiri.
"Mas..." sebuah suara lirih memecah keheningan di dalam kepalanya.
Rangga mendongak. Brankar Syakira didorong keluar dari ruang operasi menuju ruang pemulihan. Wajah Syakira seputih kapas, nyaris transparan di bawah lampu neon lorong rumah sakit. Matanya sayu, menatap kosong ke langit-langit. Rangga mencoba meraih tangan istrinya, tapi Pak Mansyur dengan kasar menepis tangan Rangga.
"Jangan sentuh dia! Pergi kamu!" Pak Mansyur membentak dengan suara parau yang penuh kebencian.
Rangga hanya bisa menatap dari kejauhan saat istrinya dibawa menjauh. Syakira sempat melirik ke arahnya sesaat—hanya sesaat—tapi di dalam mata itu tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah kehampaan yang luar biasa. Syakira hancur secara mental. Tatapan itu lebih menyakitkan daripada pukulan Pak Mansyur di rahangnya tadi. Istrinya telah "pergi", meski raga masih bernapas.
Pukul 04.30 WIB. Rangga duduk di bangku taman rumah sakit yang basah oleh embun. Bau tanah yang lembap biasanya menenangkan hatinya, tapi sekarang bau itu hanya mengingatkannya pada liang lahat yang sedang disiapkan untuk calon anaknya. Ponselnya bergetar di saku. Ia melihat layar yang retak itu. Galih, manajer operasional kepercayaannya di Bandung.
Rangga mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Ya, Lih?"
"Mas... Mas Rangga di mana?" Suara Galih terdengar panik, ada deru mesin truk dan suara teriakan di latar belakang teleponnya.
"Aku di rumah sakit. Syakira... Syakira keguguran, Lih," bisik Rangga, air matanya kembali menetes di atas aspal bawah kakinya.
Ada jeda di seberang telepon. Galih terdiam sesaat, seolah ikut merasakan hancurnya hati bosnya. "Innalillahi... Ya Allah, Mas... saya ikut berduka. Tapi... tapi Mas harus tahu. Kondisi di lapangan kacau."
"Ada apa lagi?" Rangga bertanya dengan nada datar. Dia merasa sudah tidak ada lagi yang bisa membuatnya lebih hancur dari ini.
"Truk pasokan bahan pokok kita dari bandung dihadang di perbatasan, Mas! Tiga truk dicegat orang-orang nggak dikenal. Mereka pakai masker, bawa balok kayu. Sopir-sopir kita dipukuli, bahan makanan dibuang ke jalanan, ban-ban truk disilet semua. Mereka bilang, 'Bilang sama bosmu, jangan macam-macam di Jakarta kalau nggak mau mati pelan-pelan'."
Rangga memejamkan mata rapat-rapat. Nama Haji Sodikin langsung terlintas di kepalanya. Pria tua itu dan anaknya, Anwar, benar-benar tidak memberi celah untuknya bernapas. Di saat istrinya baru saja kehilangan bayi karena ulahnya sendiri, mereka malah menyerang lumbung hidupnya.
"Ciri-cirinya?"
"Ada tato kalajengking di lengan salah satu pelakunya, Mas. Itu pasti orang-orang suruhan Haji Sodikin atau Anwar. Mereka tahu Mas lagi lengah. Mereka mau matiin suplai ke seluruh cabang angkringan kita pagi ini. Kalau stok nggak masuk, ribuan pelanggan kita bakal kecewa dan bisnis kita bisa lumpuh dalam sehari."
Rangga mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang dingin mulai merayap di dadanya, bercampur dengan rasa duka yang belum usai. "Tahan semuanya, Lih. Jangan ada yang melawan dulu. Biarkan mereka ambil apa yang mereka mau. Fokus selamatkan para sopir."
"Tapi Mas, kerugiannya ratusan juta!"
"Uang bisa dicari, Lih! Nyawa dan keselamatan orang-orangku lebih penting! Tunggu aku di sana!" Rangga mematikan teleponnya.
Ia berdiri, menatap ke arah jendela kamar rawat Syakira di lantai tiga. Di sana, di balik kaca itu, istrinya sedang terbaring meratapi janin yang hilang. Dan di luar sana, musuh-musuhnya sedang tertawa merayakan kehancurannya.
Rangga berjalan kembali ke dalam gedung rumah sakit. Ia ingin melihat Syakira sekali lagi sebelum ia mengurus kekacauan di gudang. Saat ia melewati lorong menuju ruang rawat kelas satu, ia berpapasan dengan Pak Mansyur yang baru saja keluar dari kamar Syakira.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Pak Mansyur dingin. Beliau tampak jauh lebih tua hanya dalam hitungan jam.
"Saya cuma mau lihat Syakira, Pak. Sebentar saja."
"Dia nggak mau lihat kamu, Rangga. Begitu dia sadar tadi, kata pertama yang dia ucapkan adalah bertanya kenapa kamu tega. Dia bilang... dia lebih baik kehilangan hartanya daripada kehilangan anak ini. Tapi kamu? Kamu lebih pilih ego dan amarahmu." Pak Mansyur melangkah mendekat, jarinya menunjuk dada Rangga. "Tadi dia menangis sampai sesak napas. Dia trauma, Rangga. Setiap kali dengar suara pintu terbuka, dia menggigil ketakutan. Dia pikir itu kamu yang datang mau membentaknya lagi."
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat jantung Rangga. Dia ingin berteriak bahwa dia menyesal, tapi kata "maaf" terasa terlalu murah untuk dibayar dengan nyawa seorang bayi.
"Pulanglah. Urus saja dirimu dan angkringanmu yang lebih penting dari keluarga itu. Biar Syakira saya yang jaga. Mulai hari ini, anggap saja putriku sudah tidak punya suami."
Pak Mansyur masuk kembali dan mengunci pintu dari dalam. Rangga berdiri membeku di depan pintu kayu itu. Panca inderanya menangkap suara isak tangis tertahan dari dalam kamar. Itu suara Syakira. Suara yang dulu selalu menyambutnya dengan hangat saat ia pulang berjualan, kini terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahan mereka.
Bau obat-obatan rumah sakit yang menusuk seolah mengejeknya. Rangga berbalik, berjalan gontai menuju parkiran. Ia masuk ke dalam mobilnya, mencengkeram kemudi dengan sangat keras. Di jok samping, ia melihat mainan kecil yang baru ia beli kemarin—sebuah sepatu bayi mungil yang rencananya akan ia berikan pada Syakira sebagai kejutan.
Sepatu itu kini tampak seperti nisan kecil.
Rangga menghidupkan mesin mobilnya dengan kasar. Ia harus pergi ke gudang. Ia harus menghadapi orang-orang Haji Sodikin. Tapi di dalam benaknya, hanya ada satu gambaran yang terus menyiksanya: Syakira yang meringkuk di lantai rumah sakit, memeluk dirinya sendiri, hancur berkeping-keping.
Saat ia memacu mobilnya keluar dari area rumah sakit, sebuah motor trail besar tampak mengikuti dari kejauhan. Di atas motor itu, seseorang dengan jaket hitam tertawa kecil di balik helmnya, memperhatikan kehancuran Rangga dengan puas.
Di dalam kamar rawat, Syakira membuka matanya perlahan. Tangannya meraba perutnya yang kini terasa kosong dan dingin. Ia meringis, bukan karena luka operasinya, tapi karena rasa sakit di jiwanya yang seolah-olah dicabut paksa.
"Mas... kenapa..." rintihnya pelan, air matanya membasahi bantal.
Tiba-tiba, ponsel di atas nakas di samping tempat tidur Syakira bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Ini baru permulaan, Syakira. Rangga akan kehilangan semuanya, termasuk kamu. Lihatlah siapa yang benar-benar menjagamu”
Syakira melempar ponsel itu ke lantai hingga pecah, persis seperti hatinya saat ini. Sementara di jalanan Bandung yang mulai diterangi cahaya fajar yang abu-abu, Rangga tidak tahu bahwa bukan hanya pasokan bahan pokoknya yang sedang dihadang, tapi sebuah rencana yang jauh lebih gelap sedang disiapkan untuk menghapus namanya dari muka bumi.
Lampu lalu lintas berubah merah, dan di tengah persimpangan yang sepi, mobil Rangga dikepung oleh empat motor besar yang tiba-tiba muncul dari kegelapan gang.
"Turun kamu, Lelaki sampah!" teriak salah satu dari mereka sambil menghantamkan rantai besi ke kaca depan mobil Rangga.
PRANGGG!
Kaca mobil Rangga pecah berantakan.
Di rumah sakit, istrinya sedang sekarat secara mental, dan di jalanan, ajalnya seolah sudah di depan mata.