Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Pertemuan di Jalan
Perjalanan seorang diri adalah sebuah ujian, tetapi bagi Jiang Chen, itu adalah sebuah kemewahan. Jauh dari intrik dan perhatian di Kota Awan Bambu, ia akhirnya bisa bernapas dengan lega. Jalanan yang membentang di hadapannya adalah kanvas kosong.
Selama dua minggu pertama, ia tidak terburu-buru. Siang hari, ia membiarkan kudanya berlari dengan kecepatan sedang, menikmati pemandangan pegunungan dan hutan yang belum pernah ia lihat. Malam hari, ia akan mencari tempat terpencil, mengeluarkan beberapa inti monster dari cincin penyimpanannya, dan berkultivasi untuk memantapkan fondasinya di tingkat keenam. Jiwa Spiritualnya yang kuat bertindak sebagai radar yang sempurna, memberinya peringatan dini akan adanya binatang buas atau bahaya lain dari jarak ratusan meter.
Ia melewati beberapa kota kecil dan desa. Di sana, ia mendengar desas-desus dan cerita tentang dunia yang lebih luas. Nama Sekte Langit Berkabut sering disebut dengan nada hormat dan kagum. Ia juga mendengar tentang sekte-sekte besar lainnya, tentang keluarga-keluarga bangsawan di ibukota kerajaan, dan tentang para penjahat terkenal yang berkeliaran di alam liar.
Dunia ini jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan oleh penduduk Kota Awan Bambu.
Pada hari kelima belas perjalanannya, saat ia sedang melintasi sebuah jalur pegunungan yang terkenal rawan, Jiwa Spiritualnya tiba-tiba merasakan gelombang Qi yang kacau di depan. Ada suara benturan senjata, teriakan marah, dan jeritan ketakutan.
"Perampok," gumam Jiang Chen.
Ia biasanya tidak akan ikut campur. Dunia ini keras, dan kejadian seperti ini adalah hal biasa. Namun, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di antara para perampok, ada satu aura yang cukup kuat, sekitar tingkat ketujuh Alam Pengumpul Qi. Sementara di sisi yang diserang, meskipun jumlah mereka lebih banyak, kekuatan tertinggi mereka hanya di tingkat keenam. Pertarungan itu jelas tidak seimbang.
Didorong oleh sedikit rasa ingin tahu, ia mengikat kudanya di balik pepohonan dan mendekat dengan diam-diam, menggunakan bayang-bayang untuk bersembunyi.
Di sebuah kelokan jalan, sebuah karavan dagang yang terdiri dari lima gerobak besar sedang dikepung. Bendera mereka bertuliskan "Paviliun Harta Karun". Sekitar dua puluh penjaga berjuang mati-matian melawan tiga puluh perampok berwajah garang.
"Hahaha! Serahkan semua barang dan wanitamu, dan kami mungkin akan membiarkan kalian hidup!" raung pemimpin perampok itu, seorang pria bertubuh besar dengan penutup mata dan bekas luka mengerikan di wajahnya. Dia adalah pria dengan kultivasi tingkat ketujuh.
"Berhenti bermimpi, Serigala Mata Satu!" balas pemimpin penjaga, seorang pria paruh baya yang bahunya sudah berlumuran darah. "Kami dari Paviliun Harta Karun tidak akan pernah tunduk pada bandit sepertimu!"
"Kalau begitu mati saja!"
Serigala Mata Satu menebaskan goloknya yang besar, memaksa pemimpin penjaga itu mundur dengan susah payah. Jelas sekali bahwa penjaga itu sudah berada di ambang kekalahan.
Para perampok lainnya, yang terinspirasi oleh pemimpin mereka, bertarung dengan lebih ganas. Para penjaga mulai berjatuhan satu per satu.
Di belakang salah satu gerobak, seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun, yang mengenakan pakaian sutra halus, menatap pemandangan itu dengan wajah pucat namun penuh tekad. Ia memegang belati kecil di tangannya, siap untuk mengakhiri hidupnya sendiri jika para perampok berhasil menembus pertahanan terakhir.
"Nona Muda, cepat lari!" teriak pemimpin penjaga yang terluka itu, yang dipanggil Paman Zhong oleh gadis itu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Paman Zhong!" balas gadis itu, matanya berkaca-kaca.
"Dasar bodoh!" raung Serigala Mata Satu. Ia berhasil melukai Paman Zhong di bagian kaki, membuatnya berlutut. "Sekarang, giliranmu, gadis manis!"
Ia berjalan mendekati gadis itu dengan seringai menjijikkan.
Dari tempat persembunyiannya, Jiang Chen menghela napas. Ia sebenarnya tidak ingin ikut campur. Tapi tatapan putus asa namun penuh perlawanan di mata gadis itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya yang jauh.
"Yah, anggap saja ini pemanasan," gumamnya.
Ia tidak keluar. Ia hanya membungkuk dan mengambil sebuah kerikil kecil dari tanah. Dengan santai, ia menyalurkan sedikit Qi ke dalam kerikil itu, membuatnya bergetar dengan energi yang terkompresi.
Kemudian, dengan jentikan jarinya, kerikil itu melesat.
SWOOOSH!
Kerikil itu terbang menembus udara seperti peluru, tanpa suara, jauh lebih cepat daripada anak panah mana pun.
Serigala Mata Satu, yang sedang berjalan menuju gadis itu, tiba-tiba merasakan bahaya yang mematikan. Nalurinya menjerit. Ia mencoba berbalik, tetapi sudah terlambat.
PLOP!
Kerikil itu menghantam bagian belakang kepalanya.
Untuk sesaat, tidak ada yang terjadi. Serigala Mata Satu berhenti, ekspresi bingung muncul di wajahnya. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh kepalanya.
Lalu, kepalanya meledak seperti semangka yang dihantam palu.
Darah dan materi otak berhamburan ke mana-mana, menyirami beberapa perampok di dekatnya.
Keheningan yang mengerikan langsung menyelimuti medan perang. Pertarungan berhenti seketika. Semua orang, baik perampok maupun penjaga, menatap dengan ngeri pada tubuh tanpa kepala pemimpin mereka yang ambruk ke tanah.
"A... apa yang terjadi?" gagap salah satu perampok.
"Bos... Bos sudah mati!" teriak yang lain dengan panik.
Kehilangan pemimpin mereka dalam sekejap dengan cara yang begitu mengerikan benar-benar menghancurkan moral mereka. Mereka tidak tahu dari mana serangan itu berasal. Itu membuat mereka merasa seolah-olah sedang dilawan oleh hantu.
"Ada... ada ahli tersembunyi!"
"Lari! Lari untuk hidup kalian!"
Tanpa komando, para perampok yang tersisa membuang senjata mereka dan lari tunggang langgang ke dalam hutan, menghilang dalam hitungan detik.
Para penjaga dari Paviliun Harta Karun masih berdiri membeku, terlalu terkejut untuk bereaksi. Gadis muda itu menatap tubuh tanpa kepala di hadapannya, lalu menyapu pandangannya ke sekeliling hutan dengan ekspresi bingung dan penuh terima kasih.
"Siapa... siapa pun Anda, terima kasih telah menyelamatkan kami!" teriaknya ke arah hutan. "Paviliun Harta Karun akan selamanya berhutang budi pada Anda!"
Tidak ada jawaban.
Setelah beberapa saat, Paman Zhong yang terluka tertatih-tatih mendekatinya. "Nona, kita harus berterima kasih pada ahli misterius itu. Tapi kita harus segera pergi dari sini sebelum para perampok itu kembali atau sebelum bahaya lain muncul."
Gadis itu mengangguk. Saat para penjaga dengan cepat membereskan kekacauan, ia terus menatap ke dalam hutan, mencoba mencari jejak penyelamat misterius mereka.
Jauh di dalam hutan, Jiang Chen sudah kembali ke kudanya. Ia melompat ke pelana dan menepuk leher kudanya.
"Ayo pergi. Urusan orang lain bukanlah urusan kita."