NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:808
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - GERHANA TERAKHIR DI LEMBAH KABUT

Tuan Besar berdiri dari singgasananya. Pria tua itu melepaskan jubah luarnya, memperlihatkan tubuh yang meskipun renta, namun dipenuhi oleh rajah meridian yang bersinar dengan warna biru gelap yang tidak alami. Ia menarik sebuah pedang lurus panjang dari balik singgasana—Pedang Pembelah Rembulan, pusaka tertinggi sekte yang konon bisa membelah aliran sungai hanya dengan niat pedangnya.

"Kau pikir kau sudah menang karena menghancurkan boneka-boneka itu, Kaelan?" Tuan Besar melangkah turun, setiap pijakannya meninggalkan jejak retakan di marmer. "Aku adalah sumber dari semua teknik yang kau pelajari. Aku adalah rembulan, dan kau hanyalah bayangan yang tidak berarti tanpa cahayaku!"

Tuan Besar menerjang. Kecepatannya jauh melampaui sepuluh monster sebelumnya. Pedangnya menebas secara horizontal, menciptakan gelombang energi sabit yang memotong pilar-pilar batu di sekitar Kaelan seolah-olah itu adalah kertas.

Kaelan menyilangkan kedua belatinya untuk menahan serangan itu.

BANG!

Ledakan energi terjadi di titik benturan. Kaelan terlempar ke belakang, namun ia melakukan salto di udara dan mendarat dengan ujung kaki di atas untaian benang perak yang ia pasang sebelumnya. Ia berdiri seimbang di atas benang tipis itu, menatap Tuan Besar dari ketinggian.

"Kau terlalu banyak bicara untuk seorang pria yang akan mati," ucap Kaelan dingin.

Kaelan melepaskan teknik pamungkasnya: Kedatangan Malam Tanpa Bintang.

Seketika, seluruh cahaya lilin di aula padam. Kegelapan total menyelimuti ruangan. Bagi Tuan Besar, ini adalah buta yang mutlak, namun bagi Kaelan, Domain Kesunyian memberinya pandangan yang lebih jelas dari siang hari.

Kaelan meluncur dari benangnya seperti predator yang jatuh dari langit. Belatunya mengincar leher Tuan Besar.

Clang! Clang! Clang!

Dalam kegelapan, hanya percikan api dari benturan logam yang terlihat. Tuan Besar mengandalkan insting bertarungnya selama puluhan tahun untuk menangkis setiap serangan Kaelan. Namun, ia menyadari sesuatu yang mengerikan: setiap kali pedang mereka beradu, hawa dingin yang menusuk mulai merambat ke lengannya, memperlambat gerakannya.

"Teknik Terlarang: Gerhana Jantung Hitam!" raung Tuan Besar.

Ia menusukkan pedangnya ke lantai aula. Ledakan energi gelap yang masif menyapu seluruh ruangan, memaksa kabut es Kaelan menipis. Cahaya kembali ke aula, namun dalam bentuk api hitam yang membakar oksigen.

Kaelan terdesak ke dinding, pakaiannya mulai hangus. Tuan Besar tidak memberinya ruang untuk bernapas, terus menghujaninya dengan tusukan-tusukan pedang yang mematikan. Salah satu tusukan berhasil menggores bahu Kaelan, mengucurkan darah perak yang berkilau.

"Inilah akhirnya, eksperimen gagal!" Tuan Besar mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk serangan terakhir.

Namun, Kaelan tidak menghindar. Ia justru maju mendekat, membiarkan ujung pedang Tuan Besar menembus bahu kirinya.

Tuan Besar terbelalak. "Kau... kau mencari mati?"

"Tidak," bisik Kaelan. "Aku mencari celah."

Dengan pedang yang masih tertancap di bahunya, Kaelan mencengkeram lengan Tuan Besar dengan tangan kirinya yang bebas. Darah Kaelan yang mengandung racun murni mengalir ke pedang dan langsung menyentuh kulit Tuan Besar.

"Sutra Rembulan: Pengikat Sumsum!"

Dari luka di bahu Kaelan, benang-benang perak keluar dan langsung melilit lengan Tuan Besar, menjalar masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Kaelan mengalirkan seluruh Qi Embun Berbisa miliknya langsung ke jantung sang guru.

"ARGHHHH!" Tuan Besar berteriak saat ia merasakan darahnya sendiri membeku di dalam pembuluh nadinya.

Kaelan menarik belati hitam di tangan kanannya dan dengan satu gerakan melingkar yang indah, ia memenggal kepala pria yang telah menghancurkan masa kecilnya itu.

Kepala Tuan Besar jatuh ke lantai, masih dengan ekspresi kaget yang membeku. Tubuhnya yang tanpa kepala perlahan-lahan berubah menjadi es hitam dan pecah berkeping-keping.

Hening.

Aula besar itu kini benar-benar sunyi. Kaelan mencabut pedang yang tertancap di bahunya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Ia terengah-engah, luka-lukanya mulai tertutup oleh lapisan es tipis sebagai pertolongan pertama.

Ia menoleh ke arah lemari buku tempat Rian bersembunyi. Rian keluar dengan gemetar, melihat pemandangan kehancuran di depannya.

"Semuanya... sudah berakhir?" tanya Rian dengan suara parau.

Kaelan menatap ke arah gerbang aula yang hancur. Di luar sana, matahari mulai terbit di ufuk timur, memberikan warna kemerahan pada salju di Lembah Kabut Abadi.

"Sekte Gerhana Biru sudah mati," jawab Kaelan. "Tapi bagiku, ini adalah awal."

Kaelan berjalan keluar dari aula, meninggalkan mayat-mayat dan masa lalunya yang terbakar. Di bawah sinar matahari pagi, rambut putihnya berkilau lebih indah dari sebelumnya, namun di matanya yang merah, hanya ada satu tujuan baru: menemukan siapa dalang sebenarnya di balik penculikan ribuan anak tujuh tahun lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!