NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambisi di Balik Meja Kelas

Cahaya matahari pagi hari keempat terasa lebih menyengat, menembus sisa-sisa embun yang menggantung di dahan pohon sakura di halaman depan sekolah. Udara tidak lagi sedingin kemarin, namun atmosfer di koridor kelas 3-J terasa jauh lebih berat. Berita tentang tumbangnya Tatsuya dan kelompoknya di belakang gedung olahraga telah menyebar secara organik—bukan sebagai ledakan drama, melainkan sebagai bisikan-bisikan tertahan di sudut-sudut loker.

Aku melangkah masuk ke kelas dengan ekspresi yang tetap datar, tenang, dan tanpa beban. Tas sekolah kusampirkan di bahu kiri, sementara tangan kananku memutar-mutar kunci kelas yang baru saja kuambil dari ruang guru.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Status: Mengumpulkan Reaksi Lingkungan]

[Keahlian Analitis: Aktif]

Catatan Sistem: Tingkat kewaspadaan siswa kelas 3-J terhadap subjek meningkat 12%. Variabel 'Ketakutan' pada kelompok pengganggu telah digantikan oleh variabel 'Rasa Hormat yang Terpaksa'.

Aku duduk di bangkuku. Di sebelah kanan, Yukinoshita Yukino sudah berada di posisinya, punggungnya tegak lurus dengan buku terbuka di hadapannya. Ia tidak menyapa, namun aku bisa merasakan tatapannya yang sempat mencuri pandang ke arah pergelangan tanganku—mungkin mencari bekas luka atau memar dari kejadian kemarin.

"Jika kau mencari bukti kekerasan fisik, kau tidak akan menemukannya di sana, Yukinoshita-san," ujarku tanpa menoleh, sembari mengeluarkan buku catatan novelku. "Aku lebih suka bekerja dengan bersih. Jejak permanen biasanya hanya kutinggalkan di memori, bukan di kulit."

Yukino menutup bukunya dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya. "Kau terlalu percaya diri, Saiba-kun. Meskipun kau merasa telah melakukan 'pembersihan', tindakanmu tetap mengundang perhatian yang tidak perlu. Kau adalah variabel yang membuat ekosistem kelas ini menjadi tidak stabil."

"Atau mungkin," aku menoleh, menatap matanya yang dingin namun penuh rasa ingin tahu, "aku adalah katalis yang mempercepat stabilisasi yang selama ini terhambat oleh orang-orang seperti Tatsuya. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri untuk terus memegang kendali, Yukinoshita-san. Terkadang, membiarkan orang lain menarik pelatuknya adalah pilihan yang lebih bijak."

Sebelum Yukino sempat membalas, pintu kelas terbuka dengan kasar. Lima gadis dengan wajah yang hampir identik namun memiliki aura yang sangat berbeda melangkah masuk secara bersamaan. Kembar lima Nakano.

Kehadiran mereka di kelas ini sejak awal semester adalah fenomena yang unik. Meski mereka berada di kelas yang sama, mereka biasanya membentuk orbit mereka sendiri. Namun hari ini, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda. Itsuki Nakano, yang biasanya berjalan paling depan dengan wajah serius, tampak sedang memegang selembar brosur tentang "Lomba Menulis Esai dan Sastra Nasional".

Ia berhenti tepat di depan mejaku, sementara empat saudaranya yang lain—Ichika dengan senyum dewasa yang misterius, Nino yang menatapku dengan tajam, Miku yang bersembunyi di balik headphone-nya, dan Yotsuba yang melambaikan tangan dengan ceria—berkumpul di sekeliling.

"Saiba-kun," Itsuki memulai, suaranya terdengar ragu namun tegas. "Aku dengar dari Yui-san kalau kau... kau cukup ahli dalam hal penulisan dan analisis. Apakah itu benar?"

Aku menyandarkan punggungku, menatap kelima variabel yang sangat kompleks ini. Di dunia fusi ini, mereka bukan sekadar murid yang bodoh dalam pelajaran, melainkan individu-individu yang sedang mencari identitas di tengah keseragaman wajah mereka.

"Ahli adalah kata yang besar, Nakano-san. Aku hanya seseorang yang suka menyusun kata agar dunia terasa sedikit lebih masuk akal," jawabku puitis. "Ada apa? Apakah kalian butuh bantuan untuk memahami variabel sastra yang membingungkan?"

Nino Nakano melangkah maju, menyilangkan tangan di depan dadanya. "Jangan terlalu sombong dulu. Kami butuh bantuan untuk tugas proyek kelompok sastra yang diberikan Hiratsuka-sensei. Dan karena kau 'pahlawan' baru di sekolah ini, kami pikir kau punya waktu untuk mengajari kami... tentu saja jika kau tidak terlalu sibuk dengan urusan 'pembersihan' gedung olahragamu itu."

Aku tersenyum tipis. Nino adalah tipe yang agresif, sebuah mekanisme pertahanan untuk melindungi saudara-saudaranya. "Membantu kalian adalah investasi waktu yang menarik. Tapi kalian harus tahu, aku bukan guru privat yang sabar. Aku adalah editor yang kejam."

"Itu yang kami cari!" Yotsuba menyambar dengan semangat, melompat kecil di samping meja. "Kami ingin sesuatu yang berbeda untuk proyek ini! Tolong bantu kami, Saiba-san!"

Di sudut kelas, aku melihat Utaha Kasumigaoka yang baru saja masuk, berhenti sejenak dan memperhatikan interaksiku dengan kembar lima. Matanya menyipit, sebuah sinyal bahwa ia mencium adanya 'materi baru' atau mungkin... persaingan baru.

[Tujuan Baru: Membangun Kolaborasi dengan Kelompok Nakano]

[Bahasa Sistem: Sinkronisasi Tugas Sastra Teraktivasi]

[Status: Mengintegrasikan Lima Variabel Baru ke dalam Narasi Utama]

"Baiklah," ujarku sembari menutup buku catatanku. "Kita mulai diskusi ini saat jam istirahat. Tapi ada satu syarat: tidak ada dari kalian yang boleh mengeluh jika naskah yang kalian buat kurobek berkali-kali sampai kalian menemukan kejujuran di dalamnya."

Itsuki mengangguk mantap, sementara Miku hanya mengintip dari balik headphone-nya dengan rona merah tipis di pipi. Aku tahu, dengan masuknya kelompok Nakano ke dalam orbitku, naskah hidupku di Akademi Sakura akan menjadi jauh lebih panjang dan penuh warna.

Namun, di balik semua itu, aku tetap waspada. Karena di ambang pintu, Shizuka Hiratsuka baru saja masuk, dan tatapannya yang tertuju padaku memberikan isyarat bahwa 'perjanjian' kami di ruang guru kemarin belum sepenuhnya selesai.

Suasana kelas saat jam istirahat pertama berubah menjadi sebuah panggung kecil yang sunyi namun sarat tekanan. Sebagian besar siswa memilih untuk menuju kantin, meninggalkan ruang kelas 3-J dalam balutan cahaya matahari siang yang menembus jendela kaca. Di sudut belakang, meja milikku kini dikelilingi oleh lima kursi tambahan yang ditarik secara paksa oleh kembar lima Nakano.

Ichika duduk dengan gaya santai, menyilangkan kaki dan menopang dagu, menatapku dengan binar mata yang sulit ditebak. Nino duduk tepat di hadapanku, punggungnya tegak dan tangannya bersedekap, seolah siap melakukan interogasi kapan saja. Itsuki sibuk mengeluarkan buku catatan dan alat tulis dengan rapi, sementara Miku duduk sedikit agak jauh, menarik headphone-nya ke leher dan menatap lantai. Terakhir, Yotsuba berdiri di sampingku dengan energi yang seolah tidak ada habisnya.

"Jadi, Saiba-kun," Ichika memulai, suaranya mengalun seperti madu yang sedikit pedas. "Itsuki bilang kau setuju membantu kami. Tapi melihat tatapanmu yang dingin itu, aku jadi berpikir... apakah kami sedang meminta bantuan pada seorang murid, atau pada seorang eksekutor naskah?"

Aku tidak segera menjawab. Aku membuka buku catatan milik Itsuki yang tadi disodorkan padaku. Di dalamnya tertulis draf kasar proyek sastra mereka—sebuah analisis tentang 'Tragedi dalam Romansa Klasik'. Tulisannya rapi, namun isinya terasa sangat hambar, seperti makanan yang kekurangan bumbu utama.

[Keahlian Penulis Novel: Master - Analisis Struktur Narasi Aktif]

"Masalah kalian bukan pada teknik menulis," ujarku, suaraku rendah namun jelas di tengah keheningan kelas. Aku mengangkat pulpen dan melingkari satu paragraf penuh di draf Itsuki. "Masalah kalian adalah kejujuran. Kalian menulis apa yang menurut kalian ingin didengar oleh Hiratsuka-sensei, bukan apa yang kalian rasakan. Itsuki, kau terlalu kaku. Nino, kau terlalu fokus pada kulit luar. Miku, kau bersembunyi di balik fakta sejarah tanpa memasukkan jiwamu ke sana."

Nino menggebrak meja dengan pelan namun tegas. "Hei! Kau baru membaca tiga halaman dan sudah berani mengkritik kepribadian kami dalam tulisan? Memangnya kau sehebat itu?"

Aku mendongak, menatap Nino dengan pandangan yang tenang namun dominan. "Seorang koki tidak butuh memakan seluruh hidangan untuk tahu kalau garamnya kurang, Nino-san. Begitu juga dengan tulisan. Jika penulisnya saja tidak merasakan debaran jantung saat menuliskan kalimatnya, jangan harap pembaca akan merasakannya."

Miku sedikit mengangkat kepalanya, matanya yang redup menatapku dengan rasa ingin tahu. "Lalu... bagaimana cara memasukkan 'jiwa' ke dalam naskah yang membosankan seperti ini?"

"Dengan cara berhenti menjadi 'Nakano'," jawabku puitis. "Kalian selalu bergerak sebagai satu paket. Dalam tulisan ini, aku tidak melihat individu. Aku hanya melihat lima bayangan yang mencoba menjadi satu suara yang aman. Jika ingin proyek ini berhasil, kalian harus berani menjadi variabel yang saling bertabrakan."

Tepat saat itu, aroma parfum lavender yang tajam dan elegan menyeruak masuk ke dalam lingkaran kami. Utaha Kasumigaoka berdiri di sana, menyandarkan tubuhnya pada meja di sampingku. Ia memegang sebuah buku novel tipis, namun matanya tertuju langsung pada naskah di tanganku.

"Analisis yang cukup tajam untuk seorang amatir, Saiba-kun," sindir Utaha, memberikan senyum tipis yang penuh provokasi ke arah kembar lima. "Tapi memberikan saran berat pada mereka yang bahkan kesulitan membedakan antara 'perasaan' dan 'logika' mungkin adalah pemborosan aset."

Itsuki langsung berdiri, wajahnya memerah karena merasa diremehkan. "Kasumigaoka-senpai! Kami sedang berusaha serius di sini!"

Utaha terkekeh, melangkah lebih dekat hingga ia berdiri tepat di belakang kursiku. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursiku, seolah sedang menegaskan wilayah kekuasaannya. "Aku tahu. Tapi kalian butuh lebih dari sekadar 'usaha'. Kalian butuh stimulasi. Ren, bagaimana kalau kita buat ini lebih menarik? Aku akan mengawasi proyek mereka sebagai juri bayangan. Jika naskah mereka tidak bisa membuatku terkesan, maka kau harus mengaku kalah dalam taruhan naskah kita kemarin."

Aku melirik Utaha dari sudut mataku. Sifat nakalku mulai terpancing. "Menjadikan kembar lima sebagai bidak dalam taruhan kita? Kau sangat licik, Senpai. Tapi aku setuju. Variabel tantangan akan membuat mereka bekerja sepuluh kali lebih keras."

"Tunggu, tunggu!" Yotsuba menyela dengan wajah bingung. "Jadi kami sedang berada di tengah-tengah persaingan antara kalian berdua?"

"Bukan persaingan, Yotsuba-san," jawabku sembari menyerahkan kembali buku catatan itu pada Itsuki. "Ini adalah kolaborasi paksa. Mulai hari ini, jam istirahat kalian adalah milikku. Kita akan membedah naskah ini kata demi kata. Dan jika kalian menangis di tengah jalan, pastikan air mata itu menjadi bagian dari tinta kalian."

Ichika tersenyum lebar, tampak sangat menikmati ketegangan yang ada. "Menarik. Sangat menarik. Aku tidak keberatan memberikan waktuku untuk sutradara sepertimu, Saiba-kun."

Namun, di balik meja guru, aku menyadari Yukino masih memperhatikan kami. Ia tidak bergabung, namun tangannya yang memegang buku tampak mencengkeram sampulnya lebih erat. Ada sebuah variabel kecemburuan intelektual yang mulai tumbuh di sana, sebuah benang takdir yang semakin kusut namun indah.

[Status: Proyek Kolaborasi Sastra Dimulai]

[Target: Mengubah Kelompok Nakano menjadi Penulis yang Jujur]

[Afinitas: Nakano Bersaudara (Meningkat), Utaha Kasumigaoka (Kompetitif-Intim)]

"Pelajaran pertama," ujarku sembari bangkit karena bel masuk mulai berbunyi. "Hapus semua paragraf yang kalian tulis semalam. Kita akan mulai dari satu kalimat yang paling memalukan yang pernah kalian pikirkan tentang cinta."

Nino melongo, Itsuki tampak terkejut, sementara Utaha tertawa puas sembari berjalan pergi meninggalkan kelas. Aku tahu, dengan langkah ini, aku tidak hanya membangun reputasi, tapi aku sedang menjalin ikatan yang akan mengubah peta hubungan di Akademi Sakura selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!