Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Rencana Pertunangan Ghania
Malam di pesantren selalu turun dengan cara yang tenang. Dan selalu ada kedamaian.
Tidak pernah benar-benar sunyi, tapi juga tidak pernah bising. Ada suara jangkrik dari sela taman, langkah santri yang masih lalu-lalang menuju kamar, dan sesekali suara pintu kayu ditutup pelan.
Hanin baru saja menyelesaikan salat Isya ketika ia kembali ke kamar.
Kamar itu sederhana. Dua ranjang, satu lemari kayu, dan meja kecil di dekat jendela. Lampu kuning menggantung di tengah, cahayanya hangat dan akrab.
Ghania sudah duduk di atas sajadah ketika Hanin masuk.
“Udah solatnya?” tanyanya sambil melipat mukena.
Hanin mengangguk. “Udah.”
Mereka lalu duduk berdampingan. Beberapa menit dihabiskan dengan mengaji bersama seperti biasanya. Suara mereka pelan, berirama, mengisi kamar dengan ketenangan yang hanya dimengerti oleh mereka yang terbiasa hidup dengan rutinitas seperti ini.
Setelah selesai, Ghania menutup mushafnya. Ia menoleh.
Ekspresinya bukan sekadar penasaran. Lebih ke arah ingin tahu yang tidak bisa ditahan sejak pagi.
“Hanin,” panggil Ghania dengan suara pelan.
“Hm?”
“Katanya kamu sama Aisyah ngajarin ngaji seorang pemuda?”
Hanin berhenti merapikan mukena. Ia menatap Ghania.
Lalu tersenyum kecil. “Iya.”
Mata Ghania langsung membesar. “Serius?”
“Iya, serius.”
“Pemuda luar pesantren?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Ghania mendekat sedikit. “Ganteng nggak?”
Hanin refleks menghela napas. “Pertanyaan kamu tuh ya .…”
Ghania tertawa kecil. “Ya aku penasaran lah.”
Hanin memikirkan sejenak. Wajah Arsenio sempat terlintas di kepalanya. Cara dia menunduk saat bilang tidak bisa mengaji. Cara dia serius mengulang huruf.
Dan entah kenapa, sikap dan cara dia tampak seperti seseorang yang menyimpan sesuatu. Hanin mengalihkan pikirannya.
“Biasa aja. Bisa dibilang ganteng, bisa nggak. Karena ganteng itu menurut penilaian masing-masing,” jawab Hanin akhirnya.
Ghania menyipitkan mata. “Kalau kamu bilang biasa aja, biasanya justru nggak biasa.”
Hanin menggeleng. “Beneran.”
“Namanya siapa?”
“Arsenio.”
Ghania mengangguk pelan. Nama itu terdengar asing. Tidak seperti nama yang biasa ia dengar di lingkungan pesantren.
“Dia kenapa belajar di sini?”
Hanin menjawab jujur. “Katanya memang belum bisa ngaji.”
“Dari nol?”
“Iya. Nol banget.”
Ghania tampak kaget. “Masa sih?”
“Iya. Bahkan huruf Alif aja dia nggak tahu.”
Beberapa detik Ghania diam. “Terus … dia malu nggak?”
“Enggak.”
“Serius?”
“Iya.”
Hanin tersenyum kecil. “Dia malah jujur banget. Langsung bilang nggak bisa.”
Ghania tampak berpikir. “Berarti niat ya.”
Hanin tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jendela. Angin malam bergerak pelan, membuat tirai tipis bergoyang sedikit.
“Iya,” ucapnya pelan.
“Niat banget ya belajarnya.”
Hening sejenak. Ghania lalu merebahkan punggungnya ke dinding.
“Unik juga ya.”
“Hm?”
“Biasanya orang di luar sana malu kalau nggak bisa ngaji. Apalagi kalau udah dewasa.”
Hanin mengangguk. “Iya.”
Ghania menoleh lagi. “Kamu nyaman ngajarnya?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa membuat Hanin berpikir sedikit lebih lama.
“Nyaman,” jawab Hanin setelah beberapa saat berpikir. “Dia serius belajarnya.”
Ghania tersenyum. “Bagus dong.”
Lalu, seperti baru teringat sesuatu, ekspresinya berubah. Tidak sedramatis sedih.
Tapi cukup untuk membuat Hanin menyadari ada hal lain yang ingin ia katakan.
“Hanin .…”
“Hm?”
“Mungkin tahun depan aku nggak sekamar lagi sama kamu.”
Hanin langsung menoleh. “Kenapa?”
Nada suaranya bukan panik. Lebih ke arah tidak menyangka.
Ghania menggigit bibir bawahnya sebentar. “Aku … mau nikah.”
Hanin benar-benar terdiam. “Serius?”
Ghania mengangguk. “Iya.”
“Kapan?”
“InsyaAllah setelah Ramadan tahun depan.”
Hanin masih menatapnya. Seolah mencoba memastikan bahwa ini bukan candaan.
“Terus .…”
Ghania tersenyum kecil. “Bulan depan aku tunangan.”
Kali ini Hanin benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Cepat banget?”
Ghania tertawa pelan. “Iya, ya? Tapi Abah tak mau niat baik ditunda, jadi tak ada salahnya dipercepat semua."
“Siapa?”
"Anaknya sahabat Abi."
Hanin mencoba mengingat apakah Ghania pernah bercerita tentang seseorang. Sepertinya pernah. Walau hanya sekilas.
“Yang kerja di Bandung itu?”
Ghania mengangguk. “Iya.”
Hanin bersandar ke dinding. “MasyaAllah .…”
Ghania tertawa kecil. “Aku juga masih ngerasa aneh.”
“Takut?”
Ghania diam sejenak. “Iya.”
“Senang?” tanya Hanin lagi.
“Iya juga.”
Mereka tertawa kecil bersama. Perasaan itu memang sering datang bersamaan. Takut dan senang. Seperti dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.
“Udah kenal lama?” tanya Hanin.
“Aku baru sekali bertemu saat perkenalan saja.”
“Baik orangnya?”
“Baik sih kalau saat bertemu kemarin.”
Hanin mengangguk.
Ghania menatap langit-langit. “Dia nggak masalah aku mengajar di pesantren.”
“Itu penting,” kata Hanin.
“Iya.”
Hening lagi.
Malam terasa semakin dalam. Beberapa santri di kamar sebelah masih terdengar bercakap pelan.
“Hanin .…”
“Hm?”
“Nanti kamu sendirian di kamar.”
Hanin tersenyum. “Nggak apa-apa.”
“Bohong.”
Hanin tertawa kecil. “Ya … mungkin agak sepi.”
Ghania ikut tersenyum. “Maaf ya.”
“Kenapa minta maaf?”
“Karena ninggalin kamu.”
Hanin menggeleng. “Itu bukan ninggalin.”
“Terus?”
“Itu melangkah.”
Ghania menatapnya.
Hanin melanjutkan pelan. “Kita semua pasti akan sampai di fase itu.”
Ghania menarik napas panjang. “Iya juga. Semoga kamu cepat menyusul.”
"Aku belum berpikir kesana, Nia."
Beberapa detik mereka diam.
Lalu Ghania menyeringai. “Eh, nanti kalau aku tunangan, kamu harus temani ya.”
“Pasti.”
“Dan jangan nangis.”
Hanin mengangkat alis. “Kamu yang jangan nangis.”
Ghania tertawa. “Kayaknya aku pasti nangis.”
“Biasanya gitu.”
“Terus kamu gimana?”
“Hm?”
“Kapan nikah?”
Hanin langsung memalingkan wajah.
“Sudah aku bilang, aku belum kepikiran.”
“Belum ketemu yang pas, nanti kalau ada pria yang kamu suka pasti berubah pikiran.”
Hanin tersenyum menanggapi ucapannya.
Ghania menyenggol bahunya pelan. “Siapa tahu … murid ngaji kamu.”
Hanin langsung menoleh cepat. “Ghania!”
Ghania tertawa. “Aku cuma bercanda!”
Hanin menghela napas. Namun entah kenapa, bayangan Arsenio kembali muncul di pikirannya.
Cara dia berkata, “Saya benar-benar tidak tahu.”
Cara dia mengulang huruf tanpa gengsi. Cara dia duduk bersila di lantai seperti santri kecil.
Hanin segera mengalihkan pikiran. “Dia cuma belajar.”
“Iya, iya.”
Ghania tersenyum penuh arti. “Aku percaya. Aku doakan kamu dapat pria yang baik.”
Malam semakin larut. Lampu kamar masih menyala, tapi suasana sudah lebih tenang.
Ghania merebahkan diri di ranjangnya.
“Hanin?”
“Iya?”
“Makasih ya … selama ini.”
Hanin menatapnya. “Untuk?”
“Untuk jadi teman sekamar terbaik.”
Hanin tersenyum hangat.
“Sama-sama.”
“Jangan ganti aku ya.”
Hanin tertawa kecil. “Nggak bisa diganti.”
Beberapa detik mereka saling diam. Ada rasa yang tidak diucapkan.
Rasa yang hanya bisa dipahami oleh dua orang yang telah berbagi ruang, waktu, dan cerita. Di luar, angin malam berhembus pelan.
Di tempat lain, seorang pria bernama Arsenio masih terjaga di dalam kamarnya.
Buku Iqro terbuka di meja. Huruf Alif … Ba … Ta .…
Ia menatapnya lama. Lalu berbisik pelan. “Maafkan aku, Hanin .…”
Ia tahu, cepat atau lambat, kebenaran akan datang. Dan saat itu tiba, ia hanya berharap satu hal. Maaf.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??