NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 2) Bukannya liburan malah jualan

Keesokannya, malam tiba-tiba sudah menyambut dengan sangat ramah. Namun tidak dengan Laila.

"Laila, keluarlah." Teriak Bella sudah mempersiapkan diri, bergegas menghadiri Black Hot Party.

"Iya Bu CEO," Laila keluar dari bilik kamar mandi dengan gelagat yang tidak nyaman. "Maaf, tapi bisakah aku mengenakan pakaian yang lain? Dress ini terlalu terlalu terbuka." Keluhnya karena kurang nyaman, terhadap pakaian yang ia kenakan.

Dress panjang itu bercorak bunga-bunga dengan warna dasar merah maroon yang cukup sensual dan terbuka, hingga memperlihatkan belahan dada juga kaki jenjangnya.

"Wha. Kau sangat cocok memakai baju itu, Laila. Seperti selebritis papan atas," puji Aini terkesima.

"Ta--tapi..."

Belum sempat Laila melanjutkan perkataannya, Bella memotong obrolan. "Yang dikatakan Aini, benar. Lagipula, sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari pakaian lain. Masa kau mau memakai baju formal? Kita kan, ingin pergi ke pesta. Bukan rapat."

Laila sudah tidak ada cela untuk menyela soal pakaian. "Kalau begitu, tunggu sebentar." Ia pun berbalik mengambil beberapa helai brosur yang bersemayam dalam koper, sudah ia persiapkan sebelum berangkat ke Brazil.

"Apa itu?" kening Bella berkerut, bingung.

"Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan brosur-brosur ini untuk mempromosikan perusahaan kita kepada calon investor asing, Bu CEO." Jelas Laila, membuat Bella melebarkan senyum.

"Aku memang tidak salah memilihmu, Laila." Ujar Bella dengan bangga.

Meski berat hati karena pakaiannya tidak sesuai dengan keinginan diri, Laila tetap berangkat ke tempat tujuan bersama sang atasan.

Doa-doa yang disertai harapan pun, menyertai perjalanan mereka. Sebab besar keinginan Laila agar perjalanan bisnis tersebut berjalan lancar, supaya ia bisa mendapatkan bonus seratus juta, guna membantu biaya pengobatan sang suami yang sudah dua tahun menjalin ikatan pernikahan dengannya.

Di sebuah kapal pesiar dengan cahaya lampu kelap-kelip yang meremang, orang-orang nampak menari-nari menikmati alunan musik seraya mengangkat gelas wine mereka masing-masing.

Terlihat asyik dan ramai. Nampak jelas dari gelak tawa yang mengalun tanpa henti. Hanya David yang terduduk sendiri. Dengan sorot mata yang dingin, ia memandangi kegiatan para orang-orang berduit itu.

"Hei, brother." Tiba-tiba seorang pria merangkulnya, sebut saja namanya Adam. "Kenapa diam saja? Let's dancing, man."

David menepis rangkulan itu. Membuat Adam yang merupakan sahabat dekatnya itu berdecih. "Kau memang pria yang dingin, kaku dan membosankan. Pantas saja tidak ada wanita yang berani mendekatimu."

Adam melemparkan tatapannya ke arah wanita-wanita yang tampak mencuri-curi pandang kearahnya dan tentunya David, si bintang utama pada malam itu.

David hanya menoleh sebentar, lalu kembali meneguk minumannya. Adam sudah terbiasa dengan sifat datar sahabat karibnya itu.

Sejak kecil, David dibina oleh pamannya dalam lingkungan yang keras. Sesosok pengganti figur ayah yang amat dihormatinya. Namun kematian sang paman, membuat David berubah dan kesulitan untuk menunjukkan perasaannya.

Karakter dingin dan kejam itu semakin kental, kala David menduduki jabatan CEO di ODM Company. Sehingga tudingan-tudingan yang mengatakan kalau dialah penyebab kematian sang paman karena kekayaan dan kuasa, langsung menyebar sampai jadi rumor yang terus melekat di dirinya.

Tetapi tidak pernah ada yang tahu bagaimana perasaan David, serta apa yang sebenarnya terjadi dibalik kematian sang paman.

Mengulas tentang kisah itu, Adam lantas mendengus. Menepak bahu David dan mengatakan, "nanti kalau ada gadis yang kau suka, kabari aku. Aku mau bersenang-senang."

Kemudian, Adam berjalan sempoyongan dengan botol minuman keras di tangan, menghampiri para wanita yang tengah asyik bergoyang.

Di sisi lain, Laila kelihatan sibuk sejak menginjakkan kaki di kapal pesiar itu. Ia bahkan tidak sempat meneguk segelas minum.

Ia menjadi penerjemah dadakan sang atasan yang berusaha menarik investor, hingga menyebar brosur kesana-kemari layaknya seorang sales.

Laila benar-benar berusaha keras. Tetapi rasa penat, meluluhlantakkan dirinya. Ketika Bella lengah, Laila pun mengendap-endap melarikan diri untuk sekedar beristirahat.

Laila mengedar pandangan. Matanya menemukan sesosok pria yang nampak berkilauan tapi juga kesepian. Apalagi di atas mejanya, terdapat air mineral yang masih belum dibuka.

Laila meneguk salivanya. Sedari awal, yang dilihatnya hanya minuman beralkohol. Karenanya, tanpa berpikir panjang Laila mendekati pria itu untuk meminta salah satu dari botol air mineral tersebut. Siapa tau, dia mau berbelas kasih. Alih-alih mengambil kesempatan buat mempromosikan perusahaan, tempat dimana dia bekerja.

"Maaf, tuan. Apa boleh saya duduk?" lirih Laila dengan sopan, menggenggam erat brosurnya.

David tersentak, begitu pun dengan para pengawalnya yang menyebar di sekelilingnya dan tampak bersiap untuk menghadang Laila.

David segera mengangkat telunjuknya. Mengkode anak buahnya tersebut agar tidak bertindak, dan membiarkan wanita yang nampak seperti turis asing itu untuk menyampaikan tujuannya mendekati pria paling disegani di Sao Paulo.

Anak buahnya pun kembali ke posisi semula. Seolah mereka dan David tidak memiliki hubungan apa-apa.

"Duduklah," David lantas mempersilahkan Laila untuk duduk disebelahnya. Dengan anggun, Laila menapaki kursi.

"Kau... seorang turis kah?" lanjut David, bertanya seraya memicingkan mata mencoba mencari-tahu niat wanita asing itu sebenarnya.

Laila tersenyum, "iya tuan."

David sontak mengangkat kedua alisnya dan membatin, "pantas saja dia tanpa rasa takut, menghampiri seorang David Mendoza. Entah apa yang dia inginkan."

David bergelut sejenak dengan pikirannya. Mata tajamnya mengamati Laila. "Dia pasti orang asia. Kulitnya berwarna kuning langsat, rambutnya hitam pekat dan badannya kurus seperti kambing yang tidak terurus. Dadanya juga cukup besar. Dan..."

David mengerutkan keningnya, "dia cantik."

David segera menyadarkan diri dari lamunan itu. "Kau sangat lancar menggunakan bahasa Portugis," Lanjutnya dengan kaku.

"Terima kasih atas pujiannya, tuan. Semua berkat kecanggihan teknologi zaman sekarang," balas Laila mengembangkan senyum manisnya, seraya mengulurkan sebuah brosur iklan.

David menatap sipit brosur itu. Dan tanpa diminta Laila pun menjelaskan, "kebetulan saya bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Indonesia. Kami memiliki kantor cabang di Sao Paulo ini, dan sedang dalam tahap pembangunan."

"Miu Corp, adalah nama perusahaan kami. Sebuah perusahaan teknologi yang baru-baru ini menciptakan aplikasi berbahasa. Fitur-fiturnya memudahkan kita untuk belajar berbagai bahasa di seluruh penjuru dunia. Itulah alasan mengapa, saya sangat lancar menggunakan bahasa Portugis. Semua berkat Miu Language Apk." Tutur Laila yang memberitahukan secara elegan.

Tanpa tersadar, David terkekeh. Ia terkesima sekaligus tidak menduga jikalau wanita itu bukan datang untuk menggodanya seperti yang biasa dilakukan wanita lain pada umumnya, melainkan mengiklankan produk perusahaan mereka.

"Bahkan di suasana pesta pun, kau bekerja?" tanya David menahan tawanya pecah.

Laila mengangguk. Wajahnya sedikit malu-malu.

"Astaga," David menggelengkan kepala. "Turis macam apa kau ini? Bukannya berlibur tapi malah jualan."

Hardikan itu membuat Laila mendadak kesal. Pria aneh itu, tidak tahu-menahu bahwa ia berjuang keras demi sang suami tercinta yang tengah melawan penyakit mematikan. Laila merasa seolah tak dihargai. Sedih bercampur sakit hati.

Mulutnya sudah mulai manyun, dan wajahnya memerah karena menahan amarah. Laila lantas mengambil brosur itu, hendak berdiri seraya mengatakan, "sepertinya anda bukan orang yang tepat. Saya permisi dulu."

Happp.

Tetapi tiba-tiba, haluan itu tertahan kala David meraih tangannya. "Tunggu."

"Kenapa? Apa anda masih belum puas mengejek saya?" ketus Laila.

"Tidak. Bukan itu maksudku. Hanya saja... kau belum mengatakan dengan jelas, maksud dan tujuanmu memperkenalkan produk perusahaanmu itu kepadaku, apa?" balas David, menyadarkan Laila.

Laila mendengus berat, kemudian merenggut paksa sebotol air mineral milik David lalu meneguknya dengan brutal.

Gluk... Gluk... Gluk.

Air itu sukses melewati kerongkongan Laila. Memberikan kesejukan dan kelegaan yang tiada tara.

Laila mengelap genangan air yang menempel di ujung bibir indahnya. Setelahnya, dengan gelagat yang seakan menahan malu, ia akhirnya menjelaskan maksud dan tujuannya mendekati David. Yaitu, karena dia ingin mendapatkan investor untuk menanamkan saham di Miu Company supaya dapat bonus seratus juta.

Laila menguraikannya dengan raut yang sangat serius. Entah mengapa, David mendadak tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik itu. Ia terus melebarkan senyum tanpa jeda sedikitpun. Sampai tak terasa waktu kian berlalu.

"Begitulah pak, ceritanya." Laila mengakhiri presentasinya.

David tersentak, hanya itu kalimat terakhir yang didengarnya. Namun ia berlagak seolah mendengar semuanya. "Sekarang, aku mengerti."

"Lalu, apa keputusan anda?" tanya Laila, grogi.

David memicingkan senyumnya. Memandang botol minum bekas Laila dan kemudian mengambilnya sembari menyampaikan, "ya. Aku sih mau-mau saja berinvestasi."

"Benarkah, pak?" Laila tampak tersenyum bahagia.

David mengangguk, "tentu. Karena itulah, datanglah ke La Reina Coffe besok pada pukul tiga sore."

"Hah? Untuk apa?" Laila memiringkan kepala, bingung.

"Untuk melanjutkan pembahasan kita." Jawab David, yang kemudian menghabiskan air di botol bekas sentuhan bibir Laila.

Gluk... Gluk... Gluk.

"Akkkh," David pun mengembangkan senyumnya yang licik dan penuh arti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!