Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kode Rahasia Di Balik Struk Belanja
Jakarta Barat di jam dua pagi adalah labirin beton yang berbau asap knalpot tua dan sate padang yang sudah dingin. Aki membawa Genta ke sebuah perumahan padat penduduk yang gangnya hanya cukup untuk satu motor dan satu kucing kurus. Genta terus menoleh ke belakang, merasa setiap bayangan tiang listrik adalah agen berjas hitam yang siap mengubahnya menjadi partikel debu digital.
"Ki, kita benar-benar mau ke minimarket? Jam segini?" bisik Genta saat mereka berhenti di depan sebuah toko kelontong yang papan neonnya berkedip-kedip sekarat.
"Bukan minimarketnya, tapi orang di dalamnya," Aki mengetuk pintu rolling door besi itu dengan pola yang aneh: tiga ketukan lambat, dua cepat, dan satu tendangan kecil di bagian bawah.
Sesaat kemudian, pintu kecil di samping rolling door terbuka. Seorang wanita muda dengan rambut dikuncir kuda asal-asalan muncul. Dia memakai kaos oblong kedodoran bertuliskan 'I Hate Mondays' dan memegang sebuah pemindai barcode (scanner) seperti sedang memegang pistol kaliber tinggi. Matanya yang tajam langsung memindai Genta dari ujung kepala sampai ujung sepatu boot-nya yang berlumpur.
"Aki? Aku pikir kamu sudah mati kena serangan jantung gara-gara kenaikan harga bensin," ujar wanita itu dingin. Suaranya datar tapi punya otoritas yang membuat Genta otomatis berdiri tegak.
"Belum waktunya, Sarah. Aku masih punya urusan dengan sistem. Kenalkan, ini Genta. Dia... eh, dia tidak sengaja mencuri The Shifter."
Sarah menaikkan sebelah alisnya. Dia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke dada Genta. Genta gugup, jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena jatuh cinta lebih karena dia merasa sedang diinterogasi oleh detektif internasional.
"Genta Pratama. Umur 26. Teknisi lift kelas tiga. Suka makan mie instan rasa kari ayam tapi bumbunya cuma dipakai setengah karena takut hipertensi. Punya cicilan motor yang nunggak dua bulan. Benar?" tanya Sarah tanpa berkedip.
Genta melongo. "Kok... kok tahu? Aki yang cerita?"
"Aki tidak tahu apa-apa soal mie instanmu," sahut Sarah sambil berbalik masuk ke dalam. "Aku melihat struk belanjamu selama tiga tahun terakhir di database pusat. Pola konsumsimu menunjukkan kamu orang yang punya kecenderungan bertahan hidup tinggi tapi punya ambisi yang sangat rendah. Tipe orang yang akan lari kalau ada masalah, tapi akan tetap membawa obeng di tangannya. Masuklah."
Genta mengikuti Sarah masuk ke dalam ruangan di belakang toko. Tempat itu penuh dengan tumpukan gulungan kertas struk belanja yang menjulang seperti gunung. Di tengah ruangan, ada sebuah meja dengan enam monitor komputer yang menampilkan grafik yang sangat rumit.
"Kenapa struk belanja?" tanya Genta sambil duduk di kursi plastik.
"Karena manusia paling jujur saat mereka belanja di minimarket, Genta," jawab Sarah sambil mengetik cepat di keyboard-nya. "Kamu bisa bohong di media sosial, kamu bisa bohong di depan pacar, tapi kamu tidak bisa bohong pada apa yang kamu beli. Beli cokelat saat tengah malam? Kamu lagi patah hati. Beli pro mag dan kopi kaleng? Kamu lagi lembur stres. Konsorsium menggunakan data ini untuk memprediksi emosi massa. Mereka mengatur 'kebetulan' berdasarkan apa yang kita beli."
Sarah berbalik, menatap Genta dengan serius. "Dan sekarang, kamu membawa alat yang bisa mengacaukan semua algoritma itu. Berikan remotenya padaku."
Genta menyerahkannya. Sarah mengambil remote itu dengan sarung tangan karet, seolah-olah benda itu mengandung virus mematikan. Dia menyambungkan remote itu ke salah satu komputernya menggunakan kabel modifikasi.
"Luck: +8," gumam Sarah. "Kamu baru saja membuat kekacauan di gudang tua tadi, ya? Seluruh sistem peringatan di Jakarta Barat menyala merah karena 'Anomali Listrik yang Tidak Masuk Akal'. Kamu beruntung masih hidup."
"Itu ide Aki!" bela Genta.
"Ide Aki memang selalu melibatkan ledakan dan air. Klasik," Sarah memutar bola matanya. "Dengar, Genta. The Shifter ini punya tingkat akses. Sekarang kamu masih di level 'User-Noob'. Kamu cuma bisa mengubah hal-hal fisik di sekitarmu. Tapi kalau kamu bisa mencapai level 'Root', kamu bisa mengubah jalan pikiran orang. Kamu bisa membuat musuhmu tiba-tiba lupa kenapa mereka mengejarmu dan malah ingin pulang untuk masak nasi."
"Bisa begitu?" mata Genta berbinar. "Wah, itu lebih berguna daripada bikin pipa meledak."
"Tapi risikonya besar," sela Aki sambil menyeruput kopi hitam yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya. "Semakin tinggi manipulasi yang kamu lakukan, semakin besar 'Hutang Sial' yang kamu kumpulkan. Kalau angkanya sampai minus sepuluh ribu, alam semesta akan melakukan 'Hard Reset' pada keberadaanmu. Kamu akan dianggap tidak pernah lahir."
Genta menelan ludah. "Jadi, saya ini kayak bawa bom waktu di saku?"
"Bukan bom waktu," Sarah memperbaiki. "Kamu itu 'Glitch' yang berjalan. Dan sekarang, Konsorsium sudah mengirim 'The Auditor' untuk mencarimu."
"Auditor? Kedengarannya kayak orang pajak," kata Genta mencoba bercanda.
"Lebih buruk," wajah Sarah menjadi sangat pucat. "Auditor adalah agen yang tidak punya emosi sama sekali. Mereka tidak peduli pada birokrasi. Mereka tidak akan menunggu form absensi atau izin operasional. Mereka hanya punya satu instruksi: temukan anomali, hapus anomali. Dan mereka bisa melacakmu lewat frekuensi detak jantung yang sudah sinkron dengan remote ini."
Tiba-tiba, salah satu monitor Sarah berbunyi 'Bip' yang panjang. Sebuah titik merah besar muncul di peta digital wilayah itu. Titik itu bergerak sangat cepat menuju koordinat mereka.
"Mereka di sini," bisik Sarah. "Cepat sekali. Mereka pasti menggunakan Protokol Jalan Pintas."
"Lewat mana? Keluar lewat gang tadi?" tanya Genta panik.
"Tidak bisa. Mereka sudah menutup kedua ujung gang dengan truk sampah 'kebetulan'," Sarah dengan sigap menarik sebuah tuas di bawah mejanya. Lantai di bawah tumpukan struk belanja itu bergeser, menampakkan sebuah lubang menuju basemen rahasia.
"Basemen lagi? Kenapa hidup saya sekarang isinya cuma lubang dan selokan?" keluh Genta saat dipaksa Aki masuk ke bawah.
"Karena di atas sana, kamu itu target. Di bawah sini, kamu itu rahasia," jawab Sarah. Dia ikut melompat masuk dan menutup kembali lantainya tepat saat suara pintu depan toko hancur ditabrak sesuatu yang sangat berat.
Di dalam kegelapan basemen yang sempit, Genta bisa mendengar suara langkah kaki di atas mereka. Langkahnya berat, teratur, dan tidak alami. DUM. DUM. DUM.
"Itu Auditor," Sarah berbisik tepat di telinga Genta. "Jangan bersuara. Jangan bernapas terlalu keras. Dan demi apa pun, jangan biarkan remotemu berbunyi."
Genta memegang remotenya kuat-kuat. Di layarnya, angka Luck-nya tiba-tiba turun drastis tanpa dia melakukan apa pun.
Luck: +2... +1... 0... -10.
Genta merasa hawa dingin menusuk tulang punggungnya. Dia baru sadar, di depan Auditor, keberuntungan bukanlah sebuah pilihan. Itu adalah sesuatu yang ditarik paksa dari dirimu.
"Genta," bisik Aki di kegelapan. "Persiapkan dirimu. Mulai sekarang, komedinya sudah selesai. Sekarang saatnya kita bermain misteri yang sesungguhnya."
Genta hanya bisa mengangguk, meskipun dia tahu Aki tidak bisa melihatnya. Di atas sana, suara benda-benda pecah terdengar. Auditor sedang membongkar toko Sarah seolah-olah mencari sebutir pasir di padang gurun. Genta menutup matanya, berharap ini semua hanyalah mimpi buruk akibat terlalu banyak menghirup uap oli lift. Tapi denyut hangat dari remote di tangannya mengingatkannya: ini nyata, dan ini baru permulaan yang akan mengubah hidupnya selamanya.