NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua puluh Delapan

Abil menghela napas berat seraya menatap pemandangan beberapa siswa yang berkeliaran di lapangan sekolahnya dari atas. Tangannya memegang erat besi penghalang dinding rooftop.

"Abil? Are you okay?" tanya Ayara hati-hati. Cewek itu masih setia berada di sampingnya menunggu penjelasan Abil tentang apa yang baru saja ia bicarakan. Ia menatap Meira yang duduk di kursi yang berada di sudut atap.

"Dulu, pas MPLS SMP, gue kenalan sama satu cewek yang waktu itu satu kelompok. Dan secara kebetulan juga, dia sekelas sama gue. Kebetulan itu bikin gue makin deket sama dia seiring berjalannya hari. Gue juga satu kelas sama Ilham dan Rey saat itu."

"Namanya Lyra." lanjut Abil, suaranya terdengar parau. "Gue, Ilham, Rey, dan Lyra akhirnya jadi teman dekat. Kemana-mana berempat. Dulu, kita ngerasa dunia ini kecil karena cuma kita yang paling tahu satu sama lain."

Abil menjeda, jemarinya mengetuk-ngetuk besi pembatas dengan ritme yang tidak beraturan. "Tapi setahun kemudian, pertemanan itu berubah. Gue sadar kalau gue punya perasaan lebih ke Lyra. Dan dari cara dia memperlakukan gue, gue tahu dia juga punya perasaan yang sama."

Ayara terdiam, menyimak setiap kata yang meluncur dari bibir cowok itu. Meira yang posisinya tak jauh dari Ayara dan Abil, masih bisa mendengar jelas penjelasan dari cowok itu. Ia hanya mendengarkan dalam diam di tempatnya.

"Tapi ternyata gue nggak sendirian. Lewat Ilham, gue tahu kalau Rey juga suka sama Lyra. Dari situ semuanya mulai berantakan." Abil tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan kepahitan. "Kita terjebak cinta segitiga yang konyol. Rey nggak pernah mau kalah setiap kali Lyra lebih dekat sama gue. Suasana yang tadinya hangat jadi dingin. Rey mulai terang-terangan nunjukin rasa nggak sukanya ke gue."

"Konflik kita sampai pada puncaknya. Gue dan Rey sama-sama kalut. Ego kita sebagai remaja saat itu bener-bener menguasai akal sehat. Kita berdua malah saling jauhin satu sama lain dan gak tau kenapa kita berdua juga ikut jauhin Lyra tanpa sadar. Gue waktu itu mikir pengen coba mengalah. Gue pikir kalau gue menjauh, hubungan Lyra sama Rey bisa lebih dekat. Tapi kayaknya Rey juga lakuin hal yang sama ke gue, dia mikir kalau Lyra bisa lebih bahagia sama gue. Gara-gara miss komunikasi itu, kita akhirnya malah buat dia seolah-olah jadi penyebab hancurnya persahabatan kita. Kita biarin dia sendirian di tengah kebingungannya karena dia nggak bisa milih salah satu di antara kita."

Abil memejamkan matanya rapat-rapat, seolah adegan masa lalu itu terputar kembali seperti film horor di kepalanya.

"Sampai akhirnya..." Napas Abil tercekat.

"Gue, Ilham dan Rey dapat kabar kalau Lyra lompat dari jembatan ke sungai. Dia bunuh diri. Waktu itu dia lagi ada masalah, kita malah buat dia sendirian disaat dia lagi butuh orang buat jadi sandaran. Dia ninggalin surat yang bilang kalau kehadirannya cuma jadi masalah bagi keluarganya dan juga teman-temannya. Dia ngerasa kalau dia hilang, dunia bakal lebih baik tanpanya."

Ayara menutup mulutnya dengan tangan, matanya kembali berkaca-kaca. Sementara Meira mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan rasa sakit yang luar biasa dari cerita Abil.

"Penyesalan terbesar gue adalah gue nggak sempat minta maaf. Gue nggak sempat bilang kalau dia jauh lebih berharga daripada ego gue dan Rey. Sejak saat itu, Rey yang sikap dasarnya dingin, makin menjadi setelah kejadian itu. Dia jadi orang yang sangat tertutup dan penuh rahasia. Dan gue? Gue milih buat naruh tembok besar ke setiap cewek yang deketin gue. Itulah alasan kenapa gue pake Kak Rania buat bohongin lo, Ra. Gue takut ada orang lain yang bernasib sama kayak Lyra gara-gara gue."

Suasana rooftop seketika menjadi sunyi senyap. Angin sore berhembus kencang, menerbangkan helai rambut mereka, namun tak mampu mendinginkan suasana hati yang sedang membara oleh masa lalu yang kelam.

"Dan yang perlu lo tahu." Abil menoleh ke arah Meira dengan mata yang merah karena menahan tangisannya. "Kenapa Rey sensitif banget soal lo, Mei? Karena di matanya, lo itu Lyra yang kembali hidup. Dia nggak mau gagal buat kedua kalinya. Tanpa bisa dipungkiri, lo emang mirip banget sama Lyra. Mei. Kita bertiga sempet kaget waktu lo pertama kali datang kesini, dan bikin gue ngerasa kalau kehadiran lo itu hukuman buat kita bertiga yang bersalah saat itu."

Meira terpaku di kursinya. Kalimat terakhir Abil terasa seperti hantaman keras yang membuatnya sesak napas. Jadi, selama ini perhatian, tatapan tajam, bahkan sikap dingin Rey kepadanya hanyalah refleksi dari rasa bersalah masa lalu? Ia bukan Meira di mata mereka, melainkan bayang-bayang seorang gadis bernama Lyra.

Abil menelan ludah dan mendongak ke atas, melihat langit yang mulai terik karena hari menuju siang. "Setelah kepergian Lyra, gue bersikeras buat nutup hati, pada siapapun. Tapi, gue baru sadar kalau ternyata secara gak sadar gue lagi membodohi diri sendiri. Gue selalu bayangin Lyra bisa berada disisi gue selamanya, tanpa sadar bahwa hidup terus berjalan maju."

"Gue terlalu nutup hati, sampai gak sadar bahwa ada orang yang selalu berjuang buat masuk ke hati gue."

Tatapan Ayara tak beralih sedetikpun. "Abil, aku..."

Abil tak berani menatap Ayara, ia kembali memalingkan wajahnya ke arah lapangan yang mulai sepi. Sementara Meira hanya bisa terdiam, tak tahu harus merespons apa atas tragedi yang ternyata menyelimuti lingkaran pertemanan mereka.

"Maafin gue, Ay, gue cuma takut, apa yang terjadi pada Lyra bakal terjadi lagi sama lo. Gue nggak mau kehilangan kesempatan minta maaf buat yang kedua kalinya. Semua yang lo lihat hari kemarin itu salah paham. Gue sama Meira gak sengaja ketemu di Panti, seterusnya bisa kamu tanyakan sendiri pada Meira. Gak ada apa-apa diantara gue dan Meira." Abil balas menatap Ayara dalam.

"Jadi, kamu kesini mau klarifikasi tunangan kamu sekaligus kejadian kemarin?" Ayara memberanikan untuk bersuara. "Oke, aku—"

BRAK!

Ketiganya tersentak. Sosok Rey berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu. Matanya yang biasanya datar dan dingin, kini menyala penuh amarah. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, dan dari sorot matanya, jelas sekali bahwa ia telah mendengar sebagian besar, atau mungkin seluruh dari cerita Abil.

"Lo pikir dengan cerita kayak gini ke mereka, Lyra bakal balik, Bil?" suara Rey rendah, namun terdengar sangat mengancam.

Rey melangkah maju, mendekati Abil dengan langkah lebar. Meira bangkit dari duduknya dengan perasaan was-was, sementara Ayara refleks maju beberapa langkah untuk melindungi Abil.

"Lo nggak berhak bawa-bawa nama dia di depan orang baru!" bentak Rey tepat di depan wajah Abil.

"Dia perlu tahu, Rey!" balas Abil tak kalah tinggi. "Meira berhak tahu kenapa kita bersikap aneh sama dia! Lo mau bikin dia terus-terusan bingung kenapa lo selalu ada di sekitar dia dengan tatapan benci tapi juga protektif itu?"

Rey mencengkeram kerah baju Abil dengan kasar. "Gue nggak benci dia. Gue benci diri gue sendiri karena setiap kali gue lihat dia, gue diingetin betapa pengecutnya gue dulu!"

"Rey, lepasin!" teriak Ayara. Ia berusaha melerai keduanya. "Ini bukan salah Abil! Gue yang minta penjelasan!"

Rey melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Abil terhuyung ke belakang. Napasnya masih tidak teratur. Ia mengalihkan pandangannya pada Meira yang berdiri mematung beberapa langkah di sampingnya dengan tatapan yang sama, tatapan yang sekarang Meira pahami sebagai perpaduan antara kerinduan dan luka yang mendalam.

"Jangan pernah berpikir lo itu dia, Meira." ucap Rey dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Karena lo nggak akan pernah bisa gantiin lubang yang dia tinggalin. Dan gue nggak butuh pahlawan atau penebus dosa. Jadi jangan bersikap seolah lo akhirnya ngerti perasaan gue."

Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Rey berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan suasana rooftop yang jauh lebih hancur daripada sebelumnya.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!