Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Akhirnya Keluar
Keheningan di aula utama terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh kepulan asap kecil dari lantai yang tersiram sup beracun. Nyonya Bai Yun mematung, tangannya yang memegang kipas gemetar hebat hingga terdengar bunyi gemeretak sutra.
Menteri Bai menatap genangan berbuih itu dengan mata membelalak. Sebagai pejabat keuangan, ia tahu itu bukan sekadar lalat. Itu adalah racun peleleh sukma---jenis racun yang bekerja cepat menghentikan detak jantung.
"Apa... apa artinya ini?" suara Menteri Bai parau, ia menatap istrinya dengan pandangan menuntut penjelasan.
Bai Hua tidak memberi kesempatan bagi Nyonya Bai Yun untuk mengarang alibi. Ia condong ke depan, meski tanpa kursi roda, aura kehadirannya terasa begitu menindas.
"Ayah," panggil Bai Hua dengan nada yang sangat tenang, namun menusuk. "Ibu tiri sepertinya terlalu bersemangat menyambut kepulanganku. Dia ingin memastikan aku beristirahat selamanya di rumah ini."
"Bukan! Itu pasti kesalahan pelayan dapur! Aku tidak tahu apa-apa!" teriak Nyonya Bai Yun. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas.
Wan Long tiba-tiba merangkak ke arah genangan sup itu, lalu mencelupkan ujung kincir anginnya ke sana. "Eh? Supnya marah! Lihat, kincir Wan Long jadi hitam!" Ia menunjukkan ujung kincir angin yang kini hangus terbakar cairan asam itu ke wajah Menteri Bai. "Ayah Mertua, apa ini bumbu baru? Wan Long mau kasih tahu Kaisar, supaya Kaisar bisa pakai ini untuk memasak musuh-musuh di perbatasan!"
Menteri Bai memucat. Jika berita tentang percobaan pembunuhan terhadap istri Pangeran Pertama sampai ke telinga istana, terutama saat Kaisar sedang sensitif soal keamanan, kepalanya akan menggelinding di lapangan eksekusi sebelum matahari terbit.
"Diam, Pangeran! Harap jangan bicara sembarangan!" Menteri Bai membentak, namun suaranya bergetar karena takut.
"Berbicara sembarangan?" Bai Hua tertawa hambar. "Pangeran Wan Long hanya mengatakan kebenaran. Dan soal bros itu... Adik Rui, kenapa diam saja? Apa kau masih memikirkan wangi parfum Pangeran Kedua di kamarmu?"
Bai Rui, yang sedari tadi menangis, kini hanya bisa menunduk dalam. Skandal kesucian dan bukti racun di meja makan adalah dua hantaman yang menghancurkan posisi keluarga Bai dalam satu malam.
"Ayah," Bai Hua memanggil kembali, kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Aku bisa saja membiarkan Pangeran Wan Long membawa kincir angin hitam ini ke hadapan Dewan Kekaisaran besok pagi. Atau... Ayah bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi milikku."
Menteri Bai mendongak. "Apa maumu?"
"Kunci gudang harta peninggalan Ibu kandungku," desis Bai Hua. "Aku tahu Ibu meninggalkan banyak tanah dan toko perhiasan yang selama ini dikelola, atau lebih tepatnya dijarah, oleh Nyonya Bai Yun untuk membiayai kemewahan Bai Rui. Kembalikan semuanya padaku malam ini, atau kita semua akan mandi darah di depan pengadilan." ujarnya. Ia enggan berpura pura memanggil Bai Yun dengan sebutan 'ibu'.
"Kau... kau mengancam ayahmu sendiri demi harta?" Menteri Bai menggeram.
Sejak kapan anak kurang ajar ini berubah?!
"Aku tidak punya ayah," balas Bai Hua tajam. "Aku hanya punya musuh yang kebetulan menyumbangkan darahnya untuk tubuh yang lumpuh ini."
Wan Long tiba-tiba berdiri tegak di samping Bai Hua. Ia meletakkan tangannya di bahu Bai Hua, memberikan tekanan yang mantap. "Istri, ayo kita ambil kuncinya! Kalau tidak dikasih, Wan Long mau bakar rumah ini supaya terang benderang seperti pesta kembang api! Hihihi!"
Meskipun kata-katanya terdengar gila, sorot mata Wan Long saat menatap Menteri Bai adalah sorot mata Wang Yu---sang Jenderal Polisi yang siap mengeksekusi targetnya. Menteri Bai merasa nyalinya menciut hingga ke titik nadir.
"Cepat ambil kuncinya!" perintah Menteri Bai pada pelayan pribadinya.
Nyonya Bai Yun mencoba memprotes, "Tapi Tuan, itu harta cadangan kita untuk---"
"DIAM!" bentak Menteri Bai. "Kau sudah hampir membuat kita semua mati karena racun bodohmu! Masuk ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku mengizinkannya!"
Sepuluh menit kemudian, sebuah kotak kayu cendana berisi kunci-kunci emas dan akta kepemilikan tanah diletakkan di depan Bai Hua.
Bai Hua memeriksanya dengan teliti. Sebagai mantan agen mata-mata, ia sangat cepat dalam memverifikasi dokumen asli. "Bagus. Dan satu lagi... aku butuh kursi roda baru. Yang paling mahal, dengan rangka kayu jati hitam dan ukiran perak. Kirimkan ke paviliunku di istana besok pagi."
"Akan kulakukan," sahut Menteri Bai dengan suara lesu.
Wan Long kembali mengangkat tubuh Bai Hua ke dalam gendongannya. "Ayo pulang, Istri! Wan Long mau tidur! Di sini baunya seperti ulat busuk!"
Sambil berjalan keluar aula, Bai Hua sempat menoleh ke arah Bai Rui yang masih terisak. "Adikku tersayang, jaga bros itu baik-baik. Itu adalah bukti bahwa kau hanyalah mainan bagi Pangeran Kedua. Jangan harap dia akan menikahimu setelah skandal ini menyebar."
Mereka meninggalkan kediaman Menteri Bai dengan kemenangan telak. Di atas kuda, dalam perjalanan kembali ke istana melewati hutan yang kini telah bersih dari mayat (karena tim pembersih rahasia yang mungkin dikirim Wan Jin).
"Kerja bagus, Wang Yu," bisik Bai Hua.
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai 'tangan' di kegelapan," sahut Wan Long dengan suara aslinya. "Tapi jangan senang dulu. Harta ibumu baru saja menjadikannya target yang lebih besar bagi Permaisuri."
"Biarkan saja," gumam Bai Hua sambil memejamkan mata. "Sekarang aku punya modal untuk membeli racun yang lebih mematikan dari miliknya."
Wan Long hanya mendengus kecil, namun ia mempererat pelukannya pada pinggang Bai Hua agar wanita itu tidak jatuh saat ia memacu kuda menembus kegelapan malam.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa