NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Kecupan Pertama

Lampu kamar 305 sudah dipadamkan. Suara dengkur halus Sammy dan napas teratur Dion serta Adrian menandakan mereka sudah menjelajah alam mimpi. Gery sendiri sudah berada di ambang ketidaksadaran, namun getaran pelan dari ponsel di samping bantalnya memaksanya membuka mata.

Zzt... Zzt...

Gery menyipitkan mata, melihat layar ponsel yang terang benderang.

From Vanya: "Ger, bangun. Gue di depan kamar lo. Keluar bentar."

Gery tersentak. Ia melirik jam—sudah hampir tengah malam. Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak membangunkan macan tidur seperti Sammy, Gery turun dari kasur dan membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka sedikit, sosok Vanya sudah berdiri di sana dengan jaket tipis dan senyum yang sulit diartikan.

"Kenapa, Van? Ada apa sama Nadia?" bisik Gery panik, mengira terjadi sesuatu yang darurat.

Tanpa menjawab, Vanya justru meraih pergelangan tangan Gery dan menariknya keluar. Ia menuntun Gery menyusuri koridor yang sepi, melewati lift, hingga akhirnya mereka sampai di area taman terbuka di belakang hotel yang hanya diterangi lampu-lampu taman yang temaram.

Gery terus bertanya sepanjang jalan, namun Vanya hanya diam sampai mereka berhenti di bawah pohon kamboja yang harum. Vanya berbalik, menatap Gery dengan tatapan yang lembut, namun ada binar genit yang sangat khas di matanya.

"Ger, makasih ya buat hari ini," ucap Vanya pelan. "Gue seneng banget. Makasih udah mau nurutin mau gue buat jagain Nadia, makasih udah dengerin cerita gue di lapangan basket tadi pagi, dan makasih udah sabar ngadepin semua drama gue."

Gery yang tadinya tegang dan kebingungan, perlahan mengembuskan napas lega. Bahunya merosot santai, dan sebuah senyuman tulus muncul di wajahnya. "Gue kira ada apa, Van. Bikin jantung mau copot aja."

Vanya melangkah satu tindak lebih dekat, hingga jarak mereka sangat tipis. "Gue sengaja narik lo ke sini sekarang karena gue merasa rugi. Dari pagi sampai tadi di bus, gue nggak dapet kesempatan banyak buat deket sama pacar gue sendiri gara-gara gue harus ngalah sama Nadia."

Vanya memiringkan kepalanya, menatap Gery dengan manja. "Malam ini, di sisa waktu kita di Jogja, gue mau 'rebut' waktu itu kembali. Cuma kita berdua, tanpa gangguan siapa pun."

Gery terkekeh kecil. Ia tidak menyangka sisi posesif Vanya akan muncul dengan cara yang manis seperti ini setelah seharian menunjukkan kedewasaan yang luar biasa. Gery menyandarkan punggungnya di bangku taman, membiarkan angin malam Yogyakarta meniup rambutnya.

"Oke," sahut Gery lembut. "Waktu gue malam ini resmi jadi punya lo. Mau bahas apa sekarang?"

Vanya duduk di samping Gery, menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu—posisi yang sama seperti yang dilakukan Nadia di bus, namun kali ini Gery merasakannya dengan getaran yang sangat berbeda. Di tengah kesunyian taman hotel, mereka berdua seolah memiliki dunia sendiri, menutup hari yang panjang dengan sebuah kebersamaan yang jujur.

Suasana taman hotel yang sunyi menjadi saksi pengakuan demi pengakuan yang mengalir di antara mereka. Di bawah temaram lampu taman, Vanya memulai cerita yang membuat detak jantung Gery sedikit lebih kencang dari biasanya.

"Ger, gue udah cerita ke Nyokap kalau gue punya pacar lagi," ucap Vanya pelan. "Gue ceritain semuanya tentang lo. Tentang sifat lo yang tenang, cara lo dengerin gue... pokoknya semua tentang lo, Ger."

Gery sedikit terperanjat. "Lah, terus respons Nyokap lo gimana, Van?"

Vanya tersenyum penuh arti, matanya berbinar menatap Gery. "Dia mau lo dateng bertamu ke rumah. Nyokap gue penasaran banget sama sosok yang bisa bikin anaknya ini betah cerita berjam-jam."

Gery terkekeh, mencoba menutupi kegugupannya dengan candaan. "Waduh, berat nih. Gue harus bawa Nyokap Bokap gue juga gitu? Apa sekalian bawain seserahan ke rumah lo?"

Tawa Vanya pecah seketika, memecah kesunyian malam. "Gila lo! Emang mau lamaran? Enggak gitu juga, Ger. Dia cuma penasaran aja karena cerita gue tentang lo kedengarannya 'terlalu sempurna' di telinga dia."

"Ya udah, nanti kalau ada waktu luang, gue bakal mampir ke rumah lo," sahut Gery dengan senyum tulus.

Vanya kemudian mengubah arah pembicaraan. Rasa penasarannya mulai mengulik masa lalu cowok di sampingnya ini. "Ger, lo pas SMP pernah punya pacar nggak sih?"

"Pacar sih belum," jawab Gery jujur. "Tapi kalau cewek yang gue sukai... ada."

"Siapa? Gimana ceritanya?" kejar Vanya, posisinya kini menghadap penuh ke arah Gery.

Gery menarik napas panjang, menatap ke arah kegelapan taman seolah sedang memutar kembali memori lama. "Dulu gue nggak terlalu semangat bahas cinta-cintaan, Van. Tapi ada satu momen yang bikin gue naruh hati sama dia. Waktu SMP, gue bisa dibilang 'bader' atau nakal. Gue suka ikut tawuran antar sekolah."

Vanya terbelalak. Sosok Gery yang ia kenal sebagai siswa PH2 yang kalem, tertib, dan terorganisir ternyata memiliki sisi brutal di masa lalu. "Gimana? Tawuran? Serius lo, Ger?"

Gery mengangguk pelan. Untuk membuktikan ucapannya, ia sedikit mengangkat bagian bawah kausnya dan sedikit berbalik. "Nih, kenang-kenangannya."

Gery menunjukkan sebuah bekas luka yang cukup panjang di bagian pinggang belakang sebelah kanannya—bekas luka goresan senjata tajam yang sudah mengering dan membekas permanen.

Vanya terkesiap. Wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus ngeri. Dengan jari yang sedikit gemetar, Vanya perlahan meraba tekstur luka menonjol itu. Sentuhan lembut jari Vanya membuat Gery sedikit bergidik, namun ia membiarkannya.

"Ini... ini gara-gara tawuran itu?" bisik Vanya lirih. "Gue nggak pernah nyangka lo punya sisi seberani—atau senekat ini, Ger."

Malam itu, di mata Vanya, sosok Gery tidak lagi hanya sekadar "pacar pelindung" yang tenang, tapi seorang penyintas yang membawa luka masa lalu di balik kemeja rapinya.

Vanya masih belum melepaskan jarinya dari bekas luka di pinggang Gery. Rasa penasaran di kepalanya jauh lebih besar daripada rasa ngeri yang tadi sempat singgah.

"Terus, hubungannya apa antara lo tawuran sampai dapet luka ini sama cewek yang lo sukai itu, Ger?" tanya Vanya, menatap Gery menuntut penjelasan.

Gery merapikan kembali kausnya dan duduk tegap, mencoba mengatur napasnya saat memori Jakarta Timur beberapa tahun lalu kembali berputar di otaknya.

"Waktu itu kejadiannya di daerah Jakarta Timur," kenang Gery. "Suasananya kacau banget. Pas Satpol PP sama polisi tiba-tiba muncul buat ngebubarin, rombongan gue pecah. Gue lari sekuat tenaga ke arah perkampungan warga sambil megangin pinggang gue. Darahnya udah nembus seragam, perih banget kena sabetan celurit."

Vanya mendengarkan tanpa berkedip, membayangkan sosok Gery yang masih SMP sedang bersimbah darah.

"Pas gue lagi buntu mau lari ke mana, tiba-tiba ada satu cewek pake motor matic berhenti di depan gue. Seragamnya sama kayak gue. Dia nggak teriak atau takut, dia cuma bilang, 'Woi, cepetan naik kalo ga mau ketangkep!'. Gue yang udah lemes langsung aja naik ke boncengannya. Dia bawa motornya lincah banget masuk ke gang-gang tikus buat ngehindarin kejaran aparat."

Gery tersenyum tipis mengingat momen itu. "Pas udah ngerasa jauh dan aman, dia berhenti di salah satu kompleks perumahan elit. Ternyata dia tinggal di sana. Dia turun dari motor, ngeliat seragam gue yang merah karena darah, terus nanya datar aja, 'Pinggang lo nggak apa-apa?'. Gue jawab, 'Enggak apa-apa, makasih ya'. Pas gue mau pergi, dia nyebutin namanya. Namanya Angela."

Vanya menyipitkan mata, seolah sedang menganalisis alur cerita Gery. "Bentar... kok satu sekolahan baru kenalan di situ sih? Masa lo nggak pernah liat dia di sekolah?"

"Dia ternyata adek kelas gue, Van. Waktu itu dia baru kelas satu, sedangkan gue udah kelas tiga. Sekolah kita kan gede, mana sempet gue perhatiin adek kelas satu-satu," jawab Gery logis.

Vanya menyenggol bahu Gery dengan tatapan usil. "Terus... lo langsung jatuh cinta gitu sama dia gara-gara dia jadi malaikat penyelamat lo? Love at first sight pas lagi berdarah-darah?"

Gery langsung mendelik, lalu tertawa kecil. "Ya enggaklah! Ngaco aja lu. Emang gue cowok apaan? Masa ditolongin sekali langsung baper dan suka sama orang? Nggak seinstan itu kali."

Vanya tertawa geli melihat reaksi Gery yang sedikit defensif. "Ya siapa tahu kan? Biasanya di film-film gitu, pahlawan kesiangan dapet cintanya."

"Gue bukan aktor film, Van," sahut Gery sambil menjentikkan jarinya ke dahi Vanya pelan. "Ada prosesnya kenapa akhirnya gue bisa naruh hati sama dia. Dan bukan cuma karena urusan motor itu doang."

Vanya tertawa mendengar cerita Gery, sesekali ia merapatkan jaketnya karena angin malam yang semakin menusuk, namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa dinginnya. Ia menyenggol lengan Gery dengan bahunya, mendesak cowok itu untuk bercerita lebih jauh. "Terus, terus? Masa ceritanya cuma berhenti di parkiran kompleks doang? Gimana caranya dari kejadian kabur-kaburan itu bisa jadi rasa suka?".

Gery menarik napas dalam, membiarkan memori masa SMP itu mengalir lebih detail. "Abis dia berhenti di depan gerbang rumahnya, dia ngelihat muka gue yang udah pucat pasi. Dia maksa gue buat masuk, katanya luka gue harus dibersihin sekarang juga kalau nggak mau infeksi. Gue awalnya nolak karena segen, tapi karena kepala gue beneran udah keliyengan karena kekurangan darah, akhirnya pertahanan gue runtuh juga. Gue nurutin permintaan dia dengan langkah gontai. Lo tahu nggak, Van, gimana bentuk rumahnya?"

Vanya memutar bola matanya sambil tertawa geli. "Mana gue tahu, oneng! Emang gue satu sekolah atau satu geng sama lo pas SMP? Kita aja baru ketemu di SMK!"

Gery tertawa pelan, menyadari kebodohan pertanyaannya sendiri. "Iya juga ya. Pokoknya, rumahnya gede banget, Van. Tipe rumah mewah yang halamannya luas. Pas di depan pintu, ada asisten rumah tangganya yang langsung sigap nolongin gue masuk ke dalam. Di ruang tengah, gue ketemu sama nyokapnya. Ternyata, nyokap Angela itu seorang dokter spesialis di salah satu rumah sakit besar di daerah Kelapa Gading. Beruntungnya gue, hari itu beliau lagi ada jadwal libur."

Vanya menyimak dengan serius, membayangkan Gery yang "bader" harus berhadapan dengan seorang dokter di rumah mewah.

"Nyokapnya sigap banget, Van. Gue langsung dibaringin di sofa panjang, alat medis lengkap langsung keluar. Sambil mulai ngejait luka di pinggang gue tanpa bius total—yang rasanya perihnya bukan main—nyokapnya nanya dengan nada selidik, 'Kenapa kamu bisa kena sabetan begini? Tawuran ya?'. Gue udah siap-siap mau jujur atau malah mau kabur, tapi sebelum satu kata pun keluar dari mulut gue, Angela langsung motong."

Gery tersenyum mengingat kecerdikan adik kelasnya itu. "Dia pasang muka paling polos sedunia. Dia bilang, 'Ma, tadi Ela—dia manggil dirinya sendiri Ela kalau di depan nyokapnya, kelihatan manja banget—tadi Ela pas pulang sekolah ngelihat ada kerumunan tawuran. Ela takut, jadi lewat jalur tikus. Eh, tiba-tiba petugas datang, mereka yang tawuran lari pecah ke mana-mana. Terus Ela lihat kakak kelas ini lagi jalan tenang di trotoar, eh malah disabet sama salah satu orang yang tawuran. Dikira kakak ini musuh mereka, padahal dia cuma mau pulang'."

Vanya menyela sambil menepuk paha Gery, matanya membelalak. "Wah, gila! Adek kelas lo ternyata pinter banget bohong sama nyokapnya ya? Bakat aktris itu mah!"

Gery terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Ya kagaklah, Van. Jangan dibilang bohong, dia cuma pinter 'berdalih' buat nyelamatin nyawa gue. Dia tahu kalau nyokapnya tahu gue peserta tawuran, bukan cuma luka gue yang dijait, tapi telinga gue juga bakal 'dijait' sama ceramah medis sepanjang malem. Nyokapnya akhirnya percaya aja, beliau malah bersyukur karena sabetannya nggak sampai kena organ dalam atau tulang rusuk."

"Terus, lo cuma diem aja pas dia bohong gitu?" tanya Vanya, masih terheran-heran.

"Gue cuma bisa nunduk sambil nahan sakit dijait, Van. Di satu sisi gue ngerasa berdosa, tapi di sisi lain, gue takjub. Ada ya cewek yang berani ambil risiko buat nyelamatin orang asing yang jelas-jelas bermasalah kayak gue. Itulah awal mula gue mulai ngelihat dia beda," jawab Gery pelan.

Vanya terdiam, ia bisa merasakan bahwa Angela bukan sekadar orang yang menolong, tapi orang yang memberikan Gery "kesempatan kedua" untuk berubah. Namun, ada sedikit rasa penasaran (atau mungkin kecemburuan kecil) yang muncul di hati Vanya saat mendengar cara Gery menceritakan Angela dengan begitu detail.

Vanya semakin merapatkan duduknya ke arah Gery, seolah tidak mau kehilangan satu detail pun dari cerita masa lalu cowok itu. "Terus gimana lagi? Masa lo dibiarin pulang gitu aja dalam kondisi baru dijahit?"

Gery terkekeh pelan, bayangan Angela yang keras kepala kembali muncul di benaknya. "Setelah jahitan selesai dan gue mau pamit pulang, ibunya Angela langsung melotot. Beliau nggak izinin gue pulang sendiri, apalagi naik angkot. Beliau nyuruh Angela buat nganterin gue sampai depan rumah. Gue sempat nolak halus karena ngerasa bantuannya sudah lebih dari cukup, tapi ya lo tahu sendiri gimana kalau nyokap-nyokap dokter udah ngasih perintah? Gue menyerah, akhirnya gue naik lagi ke boncengan motor Angela."

"Di perjalanan, suasana makin aneh," lanjut Gery. "Gue antara nahan sakit sama ngerasa ngantuk banget—entah efek sisa bius lokal atau emang karena gue kehabisan darah banyak tadi. Tanpa sadar, kepala gue tersandar di punggung Angela. Pas dia ngerem mendadak, gue langsung tersentak kaget karena dia nepuk-nepuk tangan gue. Dia nanya dengan nada polos banget, 'Kak, rumah lo sebenarnya di mana ya?'."

Gery meledak dalam tawa kecil, diikuti Vanya yang langsung menyela dengan wajah tidak percaya. "Hah?! Jadi dari tadi dia bawa motor keluar dari rumahnya tanpa tahu tujuan? Angela itu oneng atau gimana sih, Ger?" Vanya bertanya sambil tertawa geli.

"Ho'oh," jawab Gery sambil mengangguk. "Gue langsung melek dan ketawa kencang meskipun pinggang gue perih banget. Bayangin, dia udah muter-muter beberapa blok tapi baru sadar kalau dia nggak tahu alamat gue. Dia ikut ketawa juga pas liat gue ketawa, mukanya malu-malu gitu karena sadar sama ke-oneng-annya sendiri."

"Akhirnya," Gery menyambung, "Gue tawarin biar gue aja yang bawa motornya karena gue kasihan liat dia kebingungan. Dia setuju dan kita tukar posisi. Pas gue yang pegang kemudi, dia mulai nanya-nanya dari belakang. 'Kakak yang kelas 3-2 kan?'. Gue kaget, 'Kok lo tahu?'. Terus dia nanya lagi, 'Kakak juga yang masuk tim inti basket sekolah kan?'. Gue makin bingung, ternyata dia juga ikut ekskul basket. Dia bilang, 'Kapan-kapan ajarin aku main basket ya Kak? Tapi nanti kalau kakak udah sembuh'."

Vanya tiba-tiba teringat sesuatu dan menyela dengan nada menyelidik. "Bentar, Ger. Berarti lo beneran jago main basket? Bukan cuma gaya-gayaan doang?"

Gery menoleh ke arah Vanya. "Lho, bukannya gue udah pernah bilang ya? Gue itu ahlinya di basket. Kalau futsal, gue cuma sekadar bisa, nggak ahli-ahli banget."

Vanya mencibir sambil bercanda. "Lah, gue kira selama ini lo bilang gitu cuma buat alasan doang kalau setiap main futsal di sekolah selalu kalah mulu sama Reno dan Dion!"

Gery tertawa menanggapi ejekan Vanya. "Kalau soal futsal, mereka berdua emang jagonya, Van. Terutama Reno, jam terbang dia udah jauh banget. Dia emang 'monster' kalau di lapangan hijau. Tapi kalau lo kasih gue bola basket, ceritanya bakal beda."

Vanya tersenyum, ia mulai melihat kepingan-kepingan masa lalu Gery yang membentuknya menjadi sosok sekarang. Namun, dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya: sejauh mana "Angela" masih tersisa di ingatan Gery?

Udara dingin Yogyakarta yang menyusup ke sela-sela pepohonan taman hotel seolah membeku sesaat ketika ponsel di genggaman Vanya bergetar hebat. Nama Nadia berkedip di layar, memecah gelembung nostalgia yang baru saja dibangun Gery tentang masa lalunya.

Vanya mengangkat telepon itu, mendengarkan isakan kecil dan suara parau sahabatnya di seberang sana. Setelah beberapa saat bergumam menenangkan, Vanya menurunkan ponselnya dan menatap Gery dengan tatapan menyesal.

"Nadia, Ger... Dia butuh temen curhat lagi. Sepertinya bayangan kejadian di Malioboro tadi balik lagi pas dia mau tidur," ucap Vanya sambil berdiri, merapikan jaketnya yang sedikit berantakan.

Gery mengangguk paham. Ia tahu persis bahwa luka Nadia tidak akan sembuh hanya dengan sekali tawa di bus. "Gak apa-apa, Van. Temenin dia. Dia lebih butuh lo sekarang."

Vanya tersenyum, namun sebelum melangkah pergi, ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke matanya sendiri lalu menunjuk ke arah mata Gery—isyarat I'm watching you. "Cerita soal Angela belum selesai ya, Tuan Basket. Besok kita lanjutin di bus pas jalan ke Borobudur. Gue tandain lo!"

Gery hanya terkekeh pelan melihat tingkah posesif namun menggemaskan itu. Vanya mulai membalikkan badan dan berlari kecil menuju pintu lobi hotel yang masih benderang. Gery menarik napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi taman yang dingin, lalu mendongakkan kepalanya menatap hamparan bintang yang samar di langit malam. Pikirannya melayang antara memori Angela dan realita Vanya yang ada di depannya sekarang.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

Tiba-tiba, deru langkah kaki yang cepat kembali mendekat. Belum sempat Gery menoleh sepenuhnya, sebuah aroma parfum yang sangat ia kenali menyeruak. Dalam sekejap, ia merasakan sentuhan lembut dan hangat mendarat di pipi kanannya—sebuah kecupan singkat namun penuh penekanan.

Cup!

"Selamat malam, sayangku!" bisik Vanya tepat di telinganya, suaranya mengandung nada nakal sekaligus tulus.

Gery tersentak, tubuhnya kaku seketika. Saat ia menoleh dengan mata membelalak, Vanya sudah berlari menjauh sambil terkekeh riang, melambaikan tangan tanpa menoleh lagi ke belakang hingga sosoknya hilang di balik pintu kaca hotel.

Gery terpaku. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia dikejar Satpol PP waktu SMP dulu. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh bekas hangat yang ditinggalkan bibir Vanya di pipinya. Rasa panas menjalar ke seluruh wajahnya, dan tanpa bisa ditahan, sebuah senyum lebar merekah di bibirnya.

"Dasar nekat," gumamnya pelan pada kesunyian malam.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!