Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
curahan hati
"Nak, kamu jangan lupa, malam ini kamu harus mandi tengah malam" bisik suara Suro yang bisa di dengar Anjas.
Anjas terbangun, dia melihat jam hampir jam dua belas malam dan bersiap ke kamar mandi. tak ada ritual khusus, hanya mandi yang di lakukan Anjas dengan Matra yang dulu dia hafal saat Suro memandikan dia di gubuk miliknya.
"Hihihihi...."
Terdengar suara perempuan di luar kamar mandi Anjas dan saat dia keluar, langsung tercium wangi bunga kenanga di seluruh kamarnya. Anjas tahu itu adalah Kinasih yang hanya ingin mengecek apakah Anjas sudah melakukan tugasnya atau tidak.
"Juno, apa itu kamu?" tanya Anjas karena ada seseorang yang turun dari tangga dan berjalan ke arah dapur.
Anjas berjalan ke arah dapur karena dia juga merasa haus dan akan mengambil air minum, sebelum turun dia sudah memeriksa Adisti yang tertidur sambil memeluk boneka pemberian Juno untuknya.
"Juno"
"Ya kak"
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Anjas
"Iya, Kakak kenapa mandi malam malam, jangan bilang kakak mimpi basah" ledek Juno yang sedang duduk sambil memakan camilan dengan segelas air mineral di atas meja makan.
"Kamu laki laki jadi pasti tahu apa kebutuhan laki laki" jawab Anjas berbohong
"Makanya menikah saja lagi, jangan membuat semua karyawan perempuan di perusahaan baper lihat kakak" cibir Juno
"Kenapa kamu? patah hati ya?" ledek Anjas
"Juno kesal karena orang yang Juno suka menyukai kak Anjas" jawab Juno melirik sinis Anjas
"Begitu ya, mau bagaimana lagi kakak memang tampan"
"Astagfirullah bukannya prihatin dia malah membanggakan dirinya sendiri" gerutu Juno membuat Anjas tertawa.
Ini yang Anjas khawatirkan, dia tidak perlu banyak bergerak semua perempuan sudah memujanya, dan cukup menyebutkan nama perempuan itu sambil menatap matanya, maka si perempuan akan tunduk padanya seperti Triana saat ini.
"Ini malam Jum'at loh kak, rumah kita sedikit seram karena tidak di huni perempuan" ungkap Juno
"Ada Bi Tari dan Lilis, mungkin kamu mau sama mereka" jawab Anjas
"Ya ampun, sejak pulang dari luar kota Kak Anjas sekarang jadi menyebalkan!" kesal Juno
"Hahaha, mungkin karena setelah dari sana semuanya berangsur membaik Juno" jawab Anjas
Anjas mengusap rambut Juno, adiknya yang punya selisih usia sepuluh tahun dengannya itu dulu begitu manja, tapi saat dia melihat Anjas terpuruk karena perselingkuhan Triana, Juno tiba tiba saja berubah jadi lelaki yang mandiri dan mengurus semua kebutuhan Anjas begitupula Adisti, itu sebabnya Adisti juga begitu dekat dengan Juno.
"Kakak akan carikan seseorang yang menyayangi kamu dengan tulus, dia harus perempuan yang baik dan setia, kakak tidak mau kamu bernasib seperti kakak" ungkap Anjas
"Kakak bicara apa sih, Juno Ingin Kak Anjas bahagia lagi, ingin melihat Adisti punya mama lagi baru setelah itu Juno akan membangun keluarga Juno sendiri" ungkap Juno
"Terima kasih, Terima kasih karena kamu tidak meninggalkan kakak padahal kamu bisa pergi kapanpun, kamu punya kesempatan bekerja di luar negri dengan karir yang bagus tapi kamu menolaknya demi mengurus kakak" ucap Anjas
"Apa kakak masih dendam pada Triana?" tanya Juno
"Sekarang kakak sudah tidak ingin membalas dia, dia sudah mendapatkan hukuman dari apa yang dia lakukan, Hengki juga tidak akan bisa melawan kita, dia tidak punya kemampuan untuk menghancurkan perusahaan kakak" jawab Anjas karena memang tujuannya sudah tercapai, Triana tergila gila padanya sampai gila.
"Kak, kata Lilis gurunya Adisti kemarin lusa ke sini ya? apa kalian pacaran?" tanya Juno
"Kakak sudah melamarnya, tapi dia belum menjawab" jawab Anjas
Trak.
"Apa!" pekik Juno menjatuhkan sendok yang dia pegang
"Biasa saja reaksinya tidak usah berlebihan begitu" gemas Anjas mencubit hidung Juno
"Kakak main lamar saja, dia itu perempuan bersuami, suaminya pemarah dan tukang ngancam, pernah ada orang yang menyapa Bu Aisyah dan dia di pukuli suaminya itu" ucap Juno
"Dia bukan suaminya, dia itu mantan tunangan Bu Aisyah tapi tidak terima di putuskan, dia selingkuh dengan teman bu Aisyah sendiri, bayangkan sakitnya, itu tuh dua kali lipat sama seperti rasa sakit kakak dulu, makanya kakak ingin dia jadi istri kakak, tapi dia sulit di taklukan" ungkap Anjas
"Bagitu ya, Bu Aisyah memang cantik sih, tapi dia tidak bisa di sentuh" ucap Juno kembali di jewer Anjas
"Mesum" ucap Anjas
"Kakak juga sama, sampai mandi malam malam, pasti memimpikan Bu Aisyah ya, hati hati ketahuan" ledek Juno
"Anak kecil diam saja" ucap Anjas
Mereka masih mengobrol sampai jam dua pagi Anjas pamit untuk kembali tidur karena dia sudah mulai mengantuk, tapi Juno masih di sana menatap punggung kakaknya yang berjalan menjauh dengan tatapan dalam. Juno sadar ada yang berubah dalam diri Anjas, sekarang Anjas terlihat lebih tenang dan tidak lagi memikirkan banyak hal secara berlebihan dan itu membuat Juno bahagia.
××××××××
Pagi hari.
"Adis, kamu jangan keluar dari kelas kalau tidak dengan ibu guru ya" ucap Anjas yang sudah mengantar Adisti ke sekolahnya.
"Iya pa, tapi kemalin pas istilahat ada Om Om datang dan kasih Adis coklat, Om itu juga usap lambut adis lalu pelgi" jawab Adisti
"Kenapa Adis baru bilang ke papa?" tanya Anjas khawatir
"Adis lupa pa"
"Ya sudah sekarang Adis masuk ya, nanti papa minta ibu guru jaga kamu supaya tidak ada yang datang untuk ganggu Adis lagi" bujuk Anjas
"Iya pa"
Adisti masuk setelah memeluk dan mencium tangan Anjas, Anjas pergi ke ruang guru tapi tidak menemukan Aisyah yang ternyata masih belum datang. Akhirnya Anjas menunggu di sana karena dia tidak mau Adisti kenapa napa.
"Pak Anjas" sapa Aisyah
"Ais, katanya kemarin ada yang menemui Adisti dan memberikan coklat untuk dia, aku harap kamu tidak mengijinkan orang itu untuk menemui Adisti lagi" ucap Anjas
"Katanya orang itu saudara pak Anjas dan kenal dengan ibunya Adisti pak" jawab Aisyah
"Bukan, itu pasti selingkuhan ibunya Adisti, saya tidak mau orang itu mengganggu keluargaku lagi" jawab Anjas
"Astagfirullah, maafkan saya pak saya tidak akan mengulangi itu lagi" ungkap Aisyah
"Ini bukan salah kamu, ini salahku, maafkan aku ya, dan bicara padaku dengan santai jangan terlalu formal" ucap Anjas
"Akan saya usahakan" jawab Aisyah
"Aku... Aku usahakan bukan saya"
"Iya.. Aku"
"Cincinnya kamu pakai kan?" tanya Anjas dan Aisyah menunjukkan cincin yang tidak bisa dia buka bahkan untuk sekedar mandi sekalipun.
"Bagus , pakai supaya orang orang tahu kalau kamu itu sudah punya pasangan" ungkap Anjas mengusap kepala Aisya yang berbalut hijab berwarna hitam.