Aisyah yang mendampingi Ammar dari nol dan membantu ekonominya, malah wanita lain yang dia nikahi.
Aisyah yang enam tahun membantu Ammar sampai berpangkat dicampakkan saat calon mertuanya menginginkan menantu yang bergelar. Kecewa, karena Ammar tak membelanya justru menerima perjodohan itu, Aisyah memutuskan pergi ke kota lain.
Aisyah akhirnya diterima bekerja pada suatu perusahaan. Sebulan bekerja, dia baru tahu ternyata hamil anaknya Ammar.
CEO tempatnya bekerja menjadi simpatik dan penuh perhatian karena kasihan melihat dia hamil tanpa ada keluarga. Mereka menjadi dekat.
Beberapa waktu kemudian, tanpa sengaja Aisyah kembali bertemu dengan Ammar. Pria itu terkejut melihat wajah anaknya Aisyah yang begitu mirip dengannya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ammar akan mencari tahu siapa ayah dari anak Aisyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Bukan Donatur
Aisyah segera masuk ke kamar. Dia membasuh wajahnya. Dari tadi dia merasa gugup karena dikerjain suaminya.
"Kenapa aku punya pikiran kalau dia mau minta berhubungan? Aduh, Aisyah ... walau kamu telah menikah dengan Alby, tapi dia masih haram untukmu. Masih menunggu anak ini lahir," ucap Aisyah bermonolog pada dirinya sendiri.
Aisyah lalu membuka bajunya dan membersihkan tubuhnya. Dia mengenakan kimono handuk saat keluar dari kamar. Masih malu jika tubuhnya di lihat Alby.
Saat pintu terbuka dia melihat suaminya itu sedang asyik dengan laptopnya. Aisyah segera mengganti baju. Setelah itu keluar kamar untuk membuatkan susu hamil untuknya dan susu hangat untuk sang suami.
"Mas, ini minumnya. Jangan malam-malam banget mandinya," ucap Aisyah, dia meletakan susu di atas meja dekat suaminya duduk.
"Terima kasih, Aisyah. Sebenarnya aku tak minum susu. Hanya sesekali saja. Aku lebih suka kopi kalau malam hari," balas Alby.
"Mulai hari ini aku tak mau Mas minum kopi lagi kalau malam hari. Selain nanti bisa buat Mas begadang, tak baik juga untuk kesehatan. Cukup sekali di kantor saja minum kopinya," ucap Aisyah.
Alby mematikan laptop dan menutupnya. Dia lalu tersenyum dan meminta Aisyah duduk di pangkuannya, dengan menepuk pahanya.
"Duduklah di sini!" perintah Alby.
"Badanku berat. Malu ...," balas Aisyah.
"Seberapa sih berat badanmu." Alby menarik tangan Aisyah pelan dan memintanya duduk di atas pangkuannya.
"Pertama kita jumpa, kamu tuh duduk di pahaku juga'kan?" tanya Alby.
Pertanyaan Alby membuat Aisyah jadi teringat awal mereka bertemu. Dia jadi malu. Wajahnya tampak memerah, membuat pria itu jadi tersenyum.
"Itu tak sengaja," balas Aisyah dengan menunduk.
Alby mengangkat dagu Aisyah dan mengecup bibirnya pelan. Hal itu kembali membuat wajah wanita itu memerah.
"Aisyah, sekarang kamu itu istriku. Suamimu ini seorang CEO. Aku tak mau kamu menunduk jika bicara dengan lawan. Seolah kamu takut. Tatap wajah orang yang mengajak kita mengobrol!"
"Iya, Mas." jawab Aisyah singkat.
Alby tersenyum dan memandang Aisyah dengan mata yang penuh kasih sayang. "Aku ingin kamu percaya diri, Aisyah. Kamu adalah istriku, dan aku ingin kamu menjadi diri sendiri tanpa rasa takut," kata Alby dengan suara yang hangat.
Aisyah membalas memandang Alby dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Aku akan mencoba, Mas," ucap Aisyah dengan suara yang lembut.
Alby mengecup bibir Aisyah lagi, dan kali ini lebih lama. Aisyah merasa jantungnya berdebar-debar, tapi dia juga merasa bahagia karena memiliki suami yang mencintainya.
"Aku cinta kamu, Aisyah," ucap Alby dengan suara yang lembut.
"Aku juga, Mas," jawab Aisyah dengan suara yang tak kalah lembut.
"Kamu kenapa?" tanya Alby pura-pura tak paham.
"Aku juga suka kamu," jawab Aisyah. Saat dia hendak menunduk, Alby melarang dan memeluknya.
"Tetaplah di sampingku walau apa pun yang terjadi, Asiyah. Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anakmu," ujar Alby selanjutnya. Aisyah mengangguk sebagai jawaban. Dia tak mau berjanji, karena perasaan seseorang itu dengan mudah dapat berubah. Siapa tahu, suatu hari nanti Alby berubah sikapnya, tak mungkin dia akan tetap bertahan. Bukankah dia belum mengenal pria itu dengan baik.
Mereka berdua duduk di sofa, menikmati kebersamaan mereka sebagai suami istri. Alby memeluk Aisyah erat, dan Aisyah merasa sangat bahagia karena memiliki suami yang mencintainya.
***
Sementara itu, ditempat berbeda. Ammar yang baru pulang kerja, langsung menuju kamar. Dia tak melihat ada sang istri. Pergi ke dapur juga tak ada.
"Bi, Bu Mia mana?" tanya Ammar.
"Belum pulang, Pak," jawab Bibi.
Ammar lalu berjalan menuju meja makan. Selalu saja begini. Dia makan sendiri. Istrinya pulang praktek terkadang hingga jam dua belas malam.
Pagi hari saat dia akan pergi kerja, terkadang sang istri masih tertidur. Sarapan lagi-lagi dilakukan seorang diri.
"Aku ini punya istri, tapi seperti masih lajang. Semua dilakukan sendiri," gumam Ammar.
Dia menyuap nasi dengan malas. Tiba-tiba dia teringat Aisyah.
"Aisyah, kamu dimana? Apakah kamu telah melupakan aku? Jika saja aku menikah denganmu, aku yakin kau akan selalu menemaniku. Kau pasti akan di rumah menunggu aku pulang," ucap Ammar dalam hatinya.
Ammar meneruskan makannya, pikirannya masih teringat pada Aisyah. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia masih memiliki perasaan terhadap wanita itu. Dia merasa bahwa Aisyah adalah wanita yang tepat untuknya, dan dia menyesali keputusannya yang dulu. Seharusnya dia memperjuangkan orang yang dia cintai tersebut.
"Seandainya aku tak mengikuti kata Mama, pasti saat ini aku telah bahagia dengan Aisyah," gumam Ammar lagi.
Setelah selesai makan, Ammar membersihkan meja dan kemudian menuju ruang tamu. Dia duduk di sofa dan memandang ke luar jendela, pikirannya masih terlarut dalam kenangan tentang Aisyah.
Saat dia sedang melamun, tak menyadari kedatangan istrinya. Wanita itu lalu duduk di samping Ammar. Melihat suaminya hanya diam, akhirnya dia angkat suara.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mia dengan suara lantang.
Ammar tersadar dari lamunannya. Dia memandangi istrinya dengan tatapan sedikit tajam. Mia yang menyadari itu menjadi tak suka.
"Kenapa kamu memandangi aku seperti itu?" Kembali Mia bertanya.
"Apakah di rumah sakit itu tak ada jadwalnya dan tak ada dokter lain sehingga kamu harus bekerja dari pagi hingga malam?" tanya Ammar.
"Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu tak suka?" Bukannya menjawab pertanyaan Ammar, Mia balik bertanya.
"Kapan waktumu ada untukku, Mia. Setiap aku pulang kerja, kamu masih praktek!" seru Ammar dengan sedikit suara yang agak tinggi.
Mia sepertinya tak senang dengan ucapan sang suami. Dia langsung berdiri. Menatap tajam dengan sang suami.
"Jangan mengatur! Kamu itu bukan donaturku! Gajimu saja hanya cukup buat menggaji Bibi. Semua kebutuhan lain, aku dan papa yang penuhi. Jadi yang boleh mengaturku adalah papa sebagai donatur dalam hidupku!" ucap Mia dengan nada yang lebih tinggi.
Mia lalu melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah, dia membalikan tubuhnya menghadap sang suami. "Keluarga kamu saja bergantung hidup denganku. Jadi terima saja semua. Yang penting aku bukan selingkuh, aku hanya bekerja!"
Setelah mengucapkan itu, Mia kembali berjalan menuju kamar. Tak peduli dengan Ammar yang masih syok mendengar jawaban sang istri.