NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Pembersihan di Balik Tirai

Kesetiaan itu seperti kaca; sekali retak, tidak akan pernah bisa mulus lagi meskipun kau memolesnya dengan emas batangan. Aku menatap profil wajah pria paruh baya di layar tablet Rian dengan rahang yang mengeras. Namanya adalah Pak Gunawan, kepala logistik Widowati Group yang sudah mengabdi selama dua puluh tahun. Dia adalah orang yang selalu membungkuk paling dalam saat bertemu denganku, namun ternyata dialah yang memegang kuas untuk menghapus jejak ibuku dari sejarah.

"Bawa mobilnya ke kantor pusat sekarang juga," perintahku pada sopir dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Seeula yang duduk di sampingku tampak meremas jemarinya sendiri. Dia baru saja lolos dari maut di dermaga, namun aku sudah harus membawanya ke medan perang yang lain. Aku meliriknya sekilas, memastikan dia tidak mengalami syok yang berlebihan.

"Yansya, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dulu?" tanya Seeula dengan suara yang masih sedikit goyah.

"Duniaku tidak mengenal kata istirahat bagi pengkhianat, Seeula. Jika kita menunda sampai besok, Gunawan akan menghilang seperti asap," tukasku sambil menatap lurus ke arah jalan raya.

Rian terus memberikan pembaruan data melalui alat komunikasi di telingaku. Dia berhasil melacak komunikasi terakhir Gunawan dengan anak buah Gautama tepat sebelum penyergapan di dermaga gagal. Bajingan tua itu sedang bersiap mengosongkan brankas dokumen di gudang logistik sebelum melarikan diri ke luar negeri.

Sesampainya di gedung Widowati Group, aku tidak melewati lobi utama. Aku membawa Seeula langsung menuju lift barang yang terhubung dengan area pergudangan bawah tanah. Penjaga di sana sempat terperangah melihat kehadiranku di jam yang tidak wajar ini.

"Mana Gunawan?" semprotku sebelum penjaga itu sempat memberikan salam.

"B-beliau ada di dalam, Tuan Yansya. Katanya ada audit mendadak," jawab penjaga itu dengan gugup.

Aku melangkah masuk dengan langkah yang sangat lebar, membiarkan bunyi sepatuku memberikan peringatan pada siapa pun yang ada di dalam. Seeula mengikutiku dengan langkah yang lebih kecil namun tetap terjaga. Di ujung lorong, aku melihat Gunawan sedang memasukkan beberapa map cokelat ke dalam sebuah koper perak.

"Audit jam dua pagi adalah dedikasi yang sangat luar biasa, Pak Gunawan," sindirku dengan nada yang sangat tajam.

Pria tua itu tersentak hingga kopernya jatuh ke lantai. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras. Dia mencoba memaksakan senyum, namun otot wajahnya tampak kaku karena ketakutan yang luar biasa.

"T-Tuan Yansya? Saya hanya sedang merapikan beberapa berkas lama yang sudah tidak terpakai," kilah Gunawan dengan suara yang gemetar.

Aku berjalan mendekat, menendang koper perak itu hingga isinya berserakan. Di sana, aku melihat lembaran dokumen panti asuhan yang tadi kulihat di pinggiran kota. Ada juga foto-foto lama ibuku yang sudah dicoret-coret dengan tinta hitam.

"Berapa Gautama membayarmu untuk mengkhianati perusahaan ini selama dua dekade?" tuntutku sambil menatap matanya dalam-dalam.

Gunawan jatuh terduduk, dia menyadari bahwa semua sandiwaranya telah berakhir malam ini. Seeula yang berdiri di belakangku tampak menutup mulutnya, dia tidak menyangka orang yang dia anggap sebagai paman yang baik ternyata memiliki hati yang sangat busuk.

"Saya tidak punya pilihan, Tuan! Gautama mengancam keluarga saya jika jejak Martha tidak dihapus sepenuhnya!" ratap Gunawan sambil mencoba meraih kakiku.

Aku segera memundurkan langkah, tidak ingin disentuh oleh tangan yang sudah mengotori sejarah hidup ibuku. Aku memberikan isyarat pada Rian untuk mengaktifkan proyektor di ruangan tersebut, menampilkan seluruh transaksi gelap Gunawan selama sepuluh tahun terakhir.

"Kau punya pilihan, Gunawan. Kau bisa memilih untuk jujur padaku saat aku mengambil alih perusahaan ini, tapi kau justru memilih untuk tetap menjadi anjing bagi Gautama," desisku dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.

"Siapa yang memerintahkanmu untuk membunuh ayahku?" tanyaku dengan otoritas yang mutlak.

Gunawan menggelengkan kepala dengan histeris. "Bukan saya! Saya hanya bagian penghapus jejak! Orang yang mengeksekusi rencana itu masih ada di dalam jajaran direksi!"

Kenyataan ini membuat Seeula tersentak lebih keras. Jadi, pembersihan di Widowati Group belum benar-benar selesai. Masih ada duri dalam daging yang harus kucabut satu per satu agar duniaku dan Seeula benar-benar aman.

"Sebutkan namanya sekarang, atau aku akan memastikan kau membusuk di sel yang sama dengan Gautama," ancamku sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi pihak kepolisian.

Gunawan baru saja membuka mulutnya untuk bicara, namun tiba-tiba suara alarm kebakaran di seluruh gedung berbunyi dengan nyaring. Kabut putih dari sistem pemadam otomatis mulai memenuhi ruangan, mengaburkan pandangan kami dalam sekejap.

"Yansya! Aku tidak bisa melihat apa-apa!" jerit Seeula yang mulai panik.

Aku segera menarik Seeula ke dalam pelukanku, melindunginya dari kepulan gas yang menyesakkan. Aku mendengar suara langkah kaki yang berlari menjauh di tengah kekacauan ini. Gunawan mencoba melarikan diri di bawah lindungan asap.

"Rian! Kunci semua akses keluar!" teriakku sambil mencoba menajamkan pendengaranku.

Namun, pengkhianatan ini ternyata jauh lebih terorganisir dari yang kubayangkan. Seseorang telah mematikan aliran listrik cadangan, membuat gedung ini menjadi labirin gelap yang sangat berbahaya. Aku harus membuat keputusan cepat antara mengejar Gunawan atau memastikan Seeula tetap selamat di sisiku.

"Kita keluar dari sini dulu, Seeula. Pegang tanganku erat-erat," bisikku sambil membimbingnya menuju pintu darurat yang sudah kupetakan dalam ingatanku.

Aku menoleh ke arah kegelapan lorong, menyadari bahwa musuh yang sebenarnya bukan lagi pria tua yang tertangkap di dermaga, melainkan seseorang yang memiliki akses tak terbatas pada sistem keamanan gedung ini. Aku mengepalkan tangan, merasakan gairah pertempuran yang semakin membuncah di dalam dadaku.

"Kau pikir bisa lari dariku hanya dengan asap ini?" gumamku dalam hati.

Sesampainya di luar gedung, aku melihat sebuah mobil hitam meluncur kencang meninggalkan area parkir. Rian segera mengonfirmasi bahwa itu adalah mobil yang membawa Gunawan pergi. Namun, ada satu hal yang membuat napasku tertahan sejenak.

"Yansya, lihat ini," ucap Rian melalui tablet yang kini terhubung kembali.

Dia menunjukkan rekaman kamera parkir sebelum sistemnya mati total. Di sana, aku melihat sosok yang sangat kukenali sedang membukakan pintu mobil untuk Gunawan. Itu adalah seseorang yang seharusnya tidak mungkin ada di sana jika logika ceritaku benar.

Aku menatap layar itu dengan mata yang menyipit, menyadari bahwa setiap bidak catur yang aku gerakkan baru saja dibalas dengan langkah yang sangat berani oleh musuh misteriusku.

"Besok pagi, aku ingin seluruh data direksi dibuka kembali, Rian. Tidak boleh ada satu pun yang terlewat," perintahku dengan nada yang sangat dingin.

Seeula menatapku dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan, namun dia memilih untuk tetap diam. Aku merangkul pundaknya, membawanya menuju mobilku sendiri.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!