Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan yang Tidak Dilepaskan
Beberapa hari setelah insiden kantin, Dimas semakin sering muncul di lantai direksi.
Terlalu sering.
Aurora awalnya tidak menyadari.
Ia hanya berpikir itu bagian dari pekerjaan.
Tapi Arka?
Ia menghitung.
Hari pertama: dua kali ke meja Aurora.
Hari kedua: tiga kali.
Hari ketiga: membawa kopi.
Hari ketiga itulah Arka kehilangan kesabarannya.
“Aurora, saya bawakan kopi favorit kamu,” ujar Dimas sambil meletakkan gelas di meja Aurora.
Aurora tersenyum ramah. “Terima kasih, Dimas. Wah, tahu saja saya suka ini.”
Arka yang baru keluar dari ruangannya berhenti.
“Tahu saja?”
Dimas tersenyum percaya diri. “Kemarin saya lihat dia pesan itu.”
Arka berjalan mendekat.
Aurora merasakan hawa dingin yang familiar.
“Pak Arka…..”
“Meeting lima menit lagi,” potong Arka datar.
“Oh baik, Pak,” jawab Aurora cepat.
Dimas ikut berdiri. “Saya juga ikut, Pak.”
Arka menatapnya lurus.
“Meeting internal.”
Dimas terdiam.
Aurora menunduk, berusaha menahan senyum.
Sore itu, listrik kantor sempat padam sebentar karena gangguan.
Aurora yang sedang mengambil dokumen di ruang arsip sedikit panik saat lampu mati mendadak.
“Arka?” panggilnya refleks.
Beberapa detik kemudian, cahaya darurat menyala redup.
Arka sudah berdiri di ambang pintu.
“Kamu baik-baik saja?”
Aurora mengangguk. “Cuma kaget.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah lain.
Dimas.
“Aurora! Kamu di dalam? Gelap sekali tadi…”
Belum sempat Dimas masuk lebih jauh
Arka tanpa sadar menarik tangan Aurora.
Refleks.
Spontan.
Tangannya menggenggam tangan Aurora erat.
Aurora membeku.
Arka sendiri baru sadar setelah beberapa detik.
Tapi ia tidak melepaskan.
“Dia baik-baik saja,” kata Arka tenang namun tegas.
Dimas berhenti.
“Oh… syukurlah.”
Tatapan Dimas turun ke tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Aurora merasakan panas menjalar ke wajahnya.
Arka baru melepas perlahan… setelah Dimas benar-benar pergi.
Hening.
Aurora menatap tangannya.
“Kamu sadar tadi?”
“Saya tidak ingin kamu tersandung.”
“Saya tidak tersandung.”
Arka menatapnya.
“Kamu bisa saja.”
Aurora menahan senyum.
“Jadi Kamu akan selalu menarikku sebelum aku jatuh?”
Arka menatapnya lebih lama dari biasanya.
“Kalau perlu.”
Jantung Aurora bergetar.
Dan senyum malu mengembang di wajahnya.
Malam itu hujan turun deras.
Aurora terjebak di lobi kantor karena menunggu hujan reda.
Arka turun beberapa menit kemudian.
Melihatnya berdiri sendirian.
“Kenapa belum pulang?”
“Hujannya deras.”
Arka membuka jasnya sedikit, mendekat.
“Kamu takut hujan?”
“Tidak.”
“Gelap?”
Aurora menggeleng.
Arka mendekat satu langkah.
“Lalu apa?”
Aurora menatapnya lurus.
“Aku takut… kalau suatu hari aku terlalu nyaman di dekat kamu.”
Hening.
Hujan terdengar makin jelas.
Arka menelan napas.
“Aurora…”
Ia menyebut namanya pelan.
Sangat pelan.
“Sejak kamu datang, hidup ku tidak lagi tenang.”
Aurora membeku.
“Bukan karena masalah.”
Arka mendekat.
“Tapi karena kamu.”
Jarak mereka tinggal satu langkah.
“Aku tidak tahu ini salah atau tidak…”
Aurora terdiam.
“Kalau aku bilang… aku tidak ingin melihatmu bersama pria lain…”
Aurora hampir berhenti bernapas.
“Kalau aku bilang… kamu bukan lagi sekadar partner bisnisku…”
Arka mengangkat tangan, menyentuh pipi Aurora sangat pelan.
Dan tepat saat ia hendak melanjutkan.
Ponselnya berbunyi.
Nama yang muncul:
Surya Pradana.
Arka menutup mata sesaat.
Mengabaikan panggilan itu.
Tapi detik berikutnya….
Ponsel Aurora ikut berbunyi.
Pesan masuk.
Aurora membacanya.
Wajahnya langsung pucat.
“Arka…”
“Apa?”
Aurora menunjukkan layar ponselnya.
Sebuah foto.
Foto lama.
Foto seorang pria yang tertabrak mobil.
Dan seorang anak kecil menangis di jalan.
Arka terdiam.
Itu…
"Om Adiyaksa" suara hatinya
Dan anak kecil itu….
"siapa dia?"
Pesan di bawahnya:
“Tanya siapa yang menabraknya.”
Pengirim: nomor tak dikenal.
Arka perlahan menurunkan tangan dari wajah Aurora.
Suasana berubah.
Romantis tadi lenyap.
Diganti ketegangan yang mencekik.
Aurora gemetar.
“Kenapa saya ada di foto itu…?”
Arka menatap foto itu lagi.
Potongan memori kecil muncul di kepalanya.
Anak kecil.
Tangisan.
Nama yang dipanggil.
“Ara…”
Ia menatap Aurora.
Kali ini bukan sebagai wanita yang ia sukai.
Tapi sebagai misteri yang semakin dekat dengan masa lalunya.
Dan mungkin….
Sebagai pusat dari semua kebencian lama.
“Apa anak kecil di foto ini kamu?”Arka bertanya
“Ya….anak kecil di foto ini aku”
“Lantas apa kamu mengenal pria di foto ini?”
“Aku tidak mengingatnya, apa kamu mengenalnya?”
“Ya….pria di foto ini adalah Om Adiyaksa sahabat Papa ku”.
Surya berdiri di ruang kerjanya.
Lampu redup.
Foto yang sama ada di mejanya.
Ia tersenyum tipis.
“Maafkan aku, Aurora,” gumamnya pelan.
“Tapi jika kamu terlalu dekat dengan Arka… maka waktunya tiba.”
Ia mengambil satu map tua.
Di dalamnya ada dokumen kecelakaan.
Nama pengemudi tercatat jelas.
Surya Pradana.
Namun dokumen itu diberi cap: Dihentikan.
Seseorang pernah menghentikan penyelidikan itu.
Dan nama perusahaan yang terlibat…
Wiryamanta Group.
Di Lobi Kantor !!!
Arka menatap Aurora yang masih gemetar.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus melindunginya dari apa.
Dari masa lalu?
Atau dari ayahnya sendiri?
Dan pertanyaan paling berbahaya mulai muncul di benaknya.
Apakah semua ini kebetulan…
Atau Aurora memang dikirim untuk menghancurkan mereka?
😭😭😭