NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Panggilan yang Melemahkan Bos Besar, Raja Iblis

​Kirana menjadi orang pertama yang keluar dari ruang rias setelah transformasinya selesai. Begitu ia melangkah keluar, atmosfer di lokasi syuting seolah berubah.

Ia mengenakan busana pendekar yang rapi namun sederhana. Tidak banyak hiasan, hanya kain berkualitas tinggi yang dipotong presisi agar memudahkan gerakan.

Rambutnya diikat tinggi dalam kuncir kuda tegas, menampilkan wajah yang bersih dan berkarakter. Alisnya dirias sedikit lebih hitam dan tebal dari biasanya, membuat tatapannya tampak semakin tajam.

Penampilannya hari ini benar-benar sigap, mencerminkan sosok yang lebih mengandalkan kemampuan fisik dan ketajaman pikiran daripada kemewahan status.

Aura yang terpancar darinya tenang, tetapi berwibawa dan sulit diabaikan.

Inilah gambaran Laura Pitaloka di usia enam belas tahun—masih belia, namun telah menyimpan ketegasan dan keberanian seorang pejuang yang dibesarkan dalam lingkungan militer.

Bahkan para pemain yang biasanya memandang Kirana dengan sinis kini terdiam.

Mereka tak bisa menyangkal bahwa penampilannya sangat tepat. Seolah karakter Laura Pitaloka memang diciptakan khusus untuknya.

Sutradara Galang yang sebelumnya sempat khawatir karena mengira Kirana—aktris dengan kecantikan modern dan lembut—hanya cocok untuk satu tipe peran, kini merasa lega.

Siapa sangka Kirana bisa sefleksibel ini dalam mengubah auranya?

Dengan puas, Galang memberi beberapa pujian tulus. Namun sebagai sutradara perfeksionis, ia tetap menambahkan nasihat dengan nada waspada.

"Kirana, nanti saat kamera mulai merekam, kamu harus lebih rileks. Jangan terlalu memikirkan apakah kamu terlihat cantik di kamera atau tidak, mengerti? Dalam adegan ini, semakin kasar dan ‘preman’ penampilanmu, hasilnya justru akan semakin bagus."

Kirana tersenyum tipis. Matanya memancarkan keyakinan.

"Tenang saja, Sutradara. Saya pasti bisa melakukannya dengan baik."

Tepat saat itu, tirai ruang ganti pria tersingkap. Yono Barsa keluar dengan kostum lengkap.

Helaan napas terkejut terdengar serempak dari sekitar lokasi.

Bahkan Kirana ikut mengangkat alis, jelas tidak menyangka transformasinya sedrastis itu.

Setelah dirias, kesan berandalan dan sombong yang tadi melekat pada Yono seolah menguap.

Ia mengenakan jubah panjang bernuansa biru lembut dengan sulaman halus menyerupai ragam hias klasik.

Kulitnya yang biasanya tampak segar karena sering beraktivitas di luar ruangan kini dipulas agar terlihat lebih cerah dan bersih, memberi kesan pria yang jarang terkena matahari karena menghabiskan waktunya di perpustakaan atau ruang pengobatan.

Raut wajahnya lembut dan tenang, namun tetap menyimpan wibawa seorang bangsawan muda dari kisah istana lama.

Ia benar-benar tampak seperti dokter jenius yang rapuh namun bijaksana.

Dengan raut puas, Yono melirik ke arah Kirana yang masih menatapnya heran.

Ia mendekat lalu berbisik pelan, cukup untuk Kirana saja.

"Bagaimana? Bukankah abangmu ini cukup tampan untuk membelah langit?"

Kirana mendengus dalam hati.

'Sayang sekali semua kesan elegan itu hancur saat dia membuka mulutnya,' batin Kirana.

Namun demi menjaga profesionalitas di depan orang banyak, ia tetap mempertahankan ekspresi tenang.

Ia berdiri tegak, seolah sedang mendiskusikan rencana akting, padahal balasan yang ia berikan tajam.

"Heh. Membelah apel dengan tangan saja kau mungkin tidak mampu karena terlihat terlalu lemah."

Yono sedikit terkejut.

"Kamu..."

"Aku apa? Maaf saja, Yono. Tapi di film ini, nasibmu ada di tanganku. Kau akan sepenuhnya ditindas olehku," ujar Kirana sambil tersenyum penuh kemenangan.

Yono menaikkan sebelah alis dengan gaya menantang.

"Benarkah? Lalu kenapa aku ingat ada adegan di mana aku melakukan serangan balik kepadamu di paruh kedua film? Lagipula, jangan lupa kita punya adegan ranjang nanti. Ck... kita lihat siapa yang ditindas saat itu."

Wajah Kirana terasa sedikit memanas, tetapi ia tetap tenang.

Ia mendekatkan wajah dan berbisik sangat pelan.

"Haha, itu kau sebut serangan balik? Berdasarkan naskah, tenaga karaktermu sangat kecil."

"Kupikir seranganmu itu... jarumnya saja nyaris takkan terasa," ejeknya halus.

Yono tertegun. Matanya menyipit mendengar kalimat “jarum tak terasa” itu. Ia hendak membalas, tetapi Kirana sudah berbalik lebih dulu darinya.

​Tidak jauh dari sana, Qiana Putri berdiri dengan tangan mengepal. Ia memandang dua orang yang sejak tadi saling menunduk dan berbisik satu sama lain.

Rasa iri membakar hatinya hingga nyaris melumpuhkan kewarasannya.

Sejak tiba di lokasi, Yono Barsa langsung memusatkan seluruh perhatian pada Kirana.

Jangankan menyapa, melirik ke arahnya pun tidak. Padahal Qiana sengaja berdiri di tempat paling terlihat, berharap idolanya menyadari kehadirannya.

Di sampingnya, Aruna mengamati kemarahan itu.

Ia mendekat dan mulai menjalankan “tugasnya” untuk menghibur, meski setiap kalimatnya sebenarnya adalah provokasi halus.

"Qiana, jangan marah lagi. Keadaan sudah seperti ini," ucap Aruna lembut, terdengar penuh simpati.

"Lagipula di industri hiburan, keberuntungan juga bagian dari kekuatan. Kita harus menerima kalau saat ini Mbak Kirana memang sedang sangat beruntung."

Aruna menghela napas panjang dan mengalihkan pandangan ke arah Kirana yang sedang berbincang dengan sutradara.

"Mbak Kirana beruntung bisa mendapat kesempatan berakting sedekat itu dengan Yono Barsa. Kurasa setelah drama ini selesai, popularitasnya akan langsung meroket."

"Setidaknya dia akan masuk jajaran aktor tingkat dua. Mungkin bahkan tingkat satu dalam waktu singkat."

"Ck! Tingkat satu?" Wajah Qiana yang cantik berubah masam penuh kebencian. "Mencuri peranku, lalu sekarang mau mencuri popularitas dari Yono? Apa kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?"

Aruna buru-buru memegang lengannya seolah menenangkan.

"Qiana, jangan impulsif. Aku dengar dari manajemen perusahaan sudah siap mengerahkan banyak dana dan upaya untuk membina Mbak Kirana sebagai bintang baru."

"Kalau kau bertengkar dengannya sekarang, aku khawatir posisimu di perusahaan bisa terancam..."

"Lalu kenapa kalau aku bertengkar dengannya?" desis Qiana tertahan. "Kenapa aku harus takut pada wanita licik yang cuma tahu cara merayu laki-laki demi naik ke atas?"

Mendengar bahwa agensi Starlight siap memprioritaskan Kirana dibanding dirinya, amarah Qiana makin memuncak.

Apalagi secara spesifikasi peran, tipe karakter mereka hampir sama.

Jika perusahaan mendukung Kirana, berarti sumber daya, kontrak iklan, dan naskah bagus yang seharusnya untuk Qiana akan dialihkan kepadanya.

Melihat Qiana benar-benar terpancing dan siap meledak, Aruna diam-diam menyunggingkan senyum tipis.

Ia puas.

Dengan menjadikan Qiana sebagai senjata, ia tak perlu mengotori tangannya sendiri. Ia hanya perlu duduk santai dan membiarkan dua wanita itu saling menghancurkan.

Namun di dalam hati, Aruna juga mulai waspada.

'Keberuntungan Kirana belakangan ini terlalu tidak wajar. Aku harus mencari tahu siapa yang sebenarnya berdiri di belakangnya,' batinnya.

"Di mana Pak Parto? Propertinya sudah siap?" teriak Sutradara Galang memecah suasana.

"Ini, ini! Sutradara, apakah ini oke?" Manajer properti berlari membawa seutas tali rami tebal yang tampak kokoh.

Galang memeriksa teksturnya lalu mengangguk puas. Ia memberi isyarat pada Yono yang berdiri santai.

"Yono, aku harus merepotkanmu sebentar untuk adegan pembuka ini."

"Tidak masalah, Sutradara. Ini memang perlu demi estetika syuting kita," jawab Yono penuh dedikasi.

Yono berjalan menuju ranjang besar berukir yang menjadi set utama hari itu.

Ia berbaring tenang, membiarkan manajer properti mengikat pergelangan tangan dan kakinya pada tiang ranjang.

Benar seperti kata sutradara tadi, adegan ini memang cukup menegangkan.

Dalam skenario, Laura Pitaloka menyatakan perasaannya kepada Rama Pranata. Namun karena ditolak secara halus, Laura yang keras kepala dan terobsesi memutuskan menculik Rama dan membawanya pulang secara paksa.

Para gadis yang menonton di lokasi, termasuk staf dan asisten wanita, langsung heboh.

"Ahhh! Lihat itu! Konsep perbudakan Yono! Bahkan di mimpi paling liar pun aku ingin mengikatnya dan melemparkannya ke ranjang seperti itu!"

"Kenapa kamu yang heboh? Kamu kan bukan Kirana yang bakal melakukan adegan itu!"

"Aku kesal! Kenapa harus perempuan itu yang beruntung bisa melakukan adegan ini?!"

"Serius, menyebalkan. Tidak bisakah Yono menyuruh sutradara mengganti pemeran wanitanya saja? Dia sama sekali tidak pantas menyentuh Yono kita!"

Gumaman iri dan benci mengalir tanpa henti, tetapi Kirana seolah menulikan semuanya.

"Ehem!" Sutradara Galang berdeham keras, memberi sinyal agar suasana kembali fokus. Ia bertepuk tangan sekali. "Semua kru di posisi! Cahaya, kamera, suara siap! Tiga, dua, satu... Action!"

Begitu aba-aba terdengar, Kirana sepenuhnya terlepas dari kebisingan sekitar.

Sorot matanya berubah seketika.

Ia telah menjelma menjadi sang Iblis Kecil—Laura Pitaloka.

Tatapannya kini milik seorang gadis enam belas tahun yang dimanjakan namun terluka: jernih, hidup, tetapi menyimpan kilatan keberanian yang menakutkan.

Seluruh ekspresi acuhnya lenyap tanpa jejak.

​Laura Pitaloka—karakter yang diperankan Kirana—melangkah cepat menuju pintu kamar kayu.

Ia tidak mengetuk.

Ia langsung mengangkat kaki dan menendangnya hingga pintu terbuka dengan dentuman keras yang menggema di studio.

Kamera segera mengikuti gerakannya menuju ranjang.

Di atas ranjang, Rama Pranata—yang diperankan Yono Barsa—terbaring dengan tangan dan kaki terikat.

Selimut merah tua di bawah tubuhnya membuat wajahnya tampak semakin pucat, memberi kesan intelektual muda tak berdaya di hadapan pendekar wanita agresif.

Mendengar pintu didobrak, Rama perlahan membuka mata. Tatapannya masih samar dan bingung saat melihat sosok gadis yang berjalan mendekat.

Siluet Laura diterangi cahaya matahari dari pintu terbuka, membuatnya tampak seperti penakluk.

Laura duduk santai di tepi ranjang.

Dari lipatan pakaian di dadanya, ia mengeluarkan bungkusan kecil kertas minyak. Aroma kacang manis tercium samar.

"Kacang manis dari Kedai Surya. Aku harus mengantre lama untuk mendapatkannya karena banyak orang berebut. Mau mencoba?" tanyanya ceria, namun bernada menuntut.

Rama memalingkan wajah dan menutup mata rapat, menolak menjawab.

Laura tersenyum nakal.

Ia mengupas sebutir kacang lalu memasukkannya ke mulut sendiri.

"Tidak mau? Baiklah. Kalau begitu aku yang akan menyuapimu secara paksa. Dengan cara yang mungkin... membuatmu tersipu."

"Kau—" Rama membuka mata dan menatap tajam. Marah, malu, dan jijik bercampur di sorot matanya. "Bagaimana bisa seorang gadis terhormat bersikap tak tahu malu seperti ini? Menculik pria dan membawanya ke kamar sendiri?"

Laura mengangkat alis menantang. "Malu? Apa gunanya malu bagiku? Bisa menumbangkan musuh di medan perang? Atau menghadiahimu menantu untuk ibumu?"

Wajah Rama memerah menahan kesal.

"Keluarga Pitaloka telah mengabdi pada negeri ini turun-temurun dengan kehormatan tinggi. Leluhurmu selalu di garis depan pertempuran. Namun kau—kau malah menghabiskan hari sebagai pengacau jalanan tak berguna."

Ia menatap tajam.

"Tidakkah kau malu pada nama besar keluargamu?"

Ucapan seperti itu sudah terlalu sering didengar Laura.

Ia menutup satu telinga dengan jari, tetap mengunyah kacang dengan santai.

"Kau sendiri sudah cukup umur tapi belum beristri. Padahal kau anak tunggal. Bukankah itu juga sulit kau pertanggungjawabkan di hadapan leluhurmu, Rama?"

Tubuh Rama menegang.

"Itu... berbeda. Aku punya cita-cita lebih besar untuk pengobatan rakyat daripada sekadar urusan rumah tangga."

Laura tiba-tiba menjejakkan satu kaki di sisi ranjang, berdiri dominan.

Di tangannya kini ada cambuk kulit.

Dengan ujung cambuk, ia menepuk bahu Rama pelan—lembut, tapi mengancam.

Lalu ujung cambuk itu mengangkat dagu Rama.

Gerakannya halus, namun jelas menunjukkan siapa yang memegang kendali.

Senyumnya licik, seperti rubah kecil yang baru menemukan mainan menarik.

"Tabib Rama, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Aku saja yang menjadi istrimu. Jika aku menjadi istrimu, aku berjanji akan patuh pada semua perkataanmu," bisik Laura.

Ia mendekatkan wajah.

"Kalau kau menyuruhku pergi ke timur, aku takkan melangkah ke barat. Kalau kau ingin aku jadi wanita lembut, aku akan menurut dengan senang hati."

Suaranya turun menjadi bisikan intim.

"Dengan begitu... bukankah kita tak perlu malu lagi pada leluhur kita masing-masing? Masalah selesai, bukan?"

Rama tertegun.

Ekspresi bingung dan panik melintas di wajahnya.

"Kau... jangan bicara sembarangan! Pernikahan bukan mainan!"

Melihat reaksinya, Laura justru makin tertarik.

Ia mendekat sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Napas mereka saling beradu dalam keheningan menyesakkan.

"Hm? Tabib Rama, lihat pipimu memerah. Jadi kau memang menyukaiku, bukan? Kau hanya terlalu malu mengakuinya. Kalau begitu... bagaimana kalau sekarang kita melakukan sesuatu yang nyata? Sesuatu yang tak bisa ditarik kembali?"

"Cut! Bagus! Sempurna!" seru Sutradara Galang penuh antusias.

Begitu kata itu terdengar, lokasi syuting yang tadi hening langsung pecah.

"Ehh?! Kenapa berhenti di situ?! Lanjutkan sedikit lagi! Kami mau lihat apa 'sesuatu' itu benar-benar terjadi!" teriak seorang staf wanita kecewa.

Kedua aktor itu terlihat sangat serasi di depan kamera.

Penampilan mereka luar biasa—terutama Kirana, yang berhasil menyeret emosi penonton masuk sepenuhnya ke dalam adegan.

Kemampuannya menampilkan sisi predator Laura Pitaloka seolah menghapus semua prasangka buruk terhadap aktingnya.

Awalnya tak ada staf wanita yang rela melihat Kirana menyentuh idola mereka.

Namun setelah menyaksikan adegan itu, perasaan mereka berubah.

Mereka justru berharap adegan lebih berani segera dilakukan. Melihat Kirana melakukannya terasa sama memuaskannya seolah mereka sendiri yang berada di posisi itu.

Tentu saja, setelah kesadaran kembali, iri hati tetap ada.

Begitu adegan selesai, para asisten dan kru langsung mengerumuni Yono Barsa—membantu melepas ikatan, menanyakan keadaannya, sekaligus memuji aktingnya tanpa henti.

​Hari ini, selain Qiana Putri yang merasa sangat terhina, orang yang paling murung mungkin adalah Raka Pramudya.

Awalnya, Raka adalah bintang paling populer di lokasi syuting. Posisinya paling tinggi, penggemarnya paling banyak. Namun sejak kedatangan Yono Barsa, semua perhatian itu berpindah dalam sekejap.

Sekarang Raka merasa "dingin" dan terabaikan, seolah dia hanyalah figuran yang kebetulan lewat.

Di sisi lain, orang yang paling bahagia tentu saja Sutradara Galang. Seluruh adegan antara Kirana dan Yono hari ini berjalan mulus tanpa kendala berarti. Interaksi mereka terasa alami, seperti dua aktor yang sudah mengulang adegan itu ratusan kali.

Bagi Kirana sendiri, hari ini bisa dirangkum dalam dua frasa: bangkit dari keterpurukan, dan merasakan hidup setelah bencana.

Dia puas.

Begitu pengambilan gambar selesai, kerumunan orang langsung mengepung Yono Barsa. Mereka ingin mengajaknya makan malam sebagai acara penyambutan. Yono menanggapi dengan senyum ramah yang tampak sedikit lelah, namun tetap memikat.

Kirana sedang merapikan barang-barangnya ke dalam tas ketika ponselnya berdering. Dia merogoh tas dan melihat layar.

Nama yang muncul membuat alisnya berkerut.

Arion Santoso.

Adik dari sang Raja Iblis Agung, Bryan Santoso. Pria yang terkenal sebagai Casanova kelas atas.

Arion memaksanya menyimpan nomor itu beberapa hari lalu saat mereka bertemu di rumah keluarga Santoso, dengan alasan, "untuk keadaan darurat keluarga."

"Mengapa orang ini meneleponku? Tumben sekali..." gumam Kirana.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia segera mencari sudut yang agak sepi dari keramaian kru sebelum mengangkat panggilan.

"Halo? Ada apa, Tuan Muda Kedua Arion?"

"Ki... Kirana..." Suara di ujung telepon terdengar lemah dan gemetar, seperti orang yang baru saja berlari maraton atau baru disedot energinya oleh vampir tak kasatmata.

Kirana terdiam sesaat. "Ada apa dengan suaramu? Apa yang terjadi?"

"Apa yang terjadi?! Akulah yang mau bertanya begitu padamu!" teriak Arion tiba-tiba. Nada suaranya melonjak drastis.

"Maksudmu apa? Apa yang kau bicarakan?"

"Apa yang kau lakukan pada abangku semalam?!"

Kirana tersentak. Ingatannya langsung melompat ke kejadian pagi tadi saat dia bangun di kamar Bryan.

"Hah? Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa! Apa yang bisa kulakukan pada pria sekuat dia?"

"Kalau kau tidak melakukan apa-apa, kenapa hari ini abangku marah besar?! Mood-nya mengerikan! Kami dipaksa rapat tanpa henti sejak jam delapan pagi sampai sekarang! Ini sudah lewat dua belas jam!" keluh Arion putus asa.

Dia benar-benar tidak tahan menghadapi perubahan suasana hati kakaknya yang mendadak berubah dingin dan kejam, lalu melampiaskannya pada semua bawahan.

"Eh... Arion, bukankah itu urusan internal perusahaanmu? Seharusnya tidak ada hubungannya denganku, kan? Mungkin dia stres karena cuti terlalu lama dan pekerjaan menumpuk?" ujar Kirana, mencoba berpikir logis.

"Tidak mungkin! Aku mengenal abangku puluhan tahun. Aku tahu apa yang dia pikirkan hanya dari ekspresinya. Dan aku berani bertaruh nyawa, aura pembunuh yang dia keluarkan hari ini pasti ada hubungannya denganmu!" seru Arion mantap.

'Kenapa aku selalu dituduh tanpa bukti begini?' batin Kirana kesal.

"Kaulah penyebab semua ini! Kau yang menyalakan api, jadi kau juga yang harus memadamkannya! Hentikan kegilaan abangku!" desak Arion.

"Kalau tidak, saat kami semua mati kelelahan dan jadi hantu, kami bersumpah tidak akan membiarkanmu hidup tenang! Kepala Departemen Keuangan kami sudah pingsan tadi—dibantai pertanyaan sampai tumbang!"

"Arwahnya mungkin sudah terbang mencarimu sekarang..."

Klik.

Telepon langsung mati.

"..."

Kirana hanya menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa, apalagi harus berbuat apa.

Bagaimanapun juga, dia orang luar. Tidak mungkin dia tiba-tiba datang ke gedung SantoPrime, masuk ke ruang rapat rahasia, lalu menasihati sang Raja Iblis Agung agar bersikap lembut.

Itu sama saja masuk kandang singa sambil membawa papan bertuliskan: Silakan makan saya.

'Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka? Apa Bryan benar-benar semengerikan itu hari ini?'

Saat Kirana masih tenggelam dalam kecemasan, ponselnya berbunyi lagi.

Notifikasi pesan gambar.

Arion mengirim dua foto.

Foto pertama memperlihatkan seorang pria paruh baya tak sadarkan diri, sedang ditandu petugas medis menuju ambulans di lobi kantor.

Foto kedua menunjukkan ruang rapat utama. Para petinggi perusahaan duduk mengelilingi meja berbentuk U dengan wajah tegang seperti narapidana menunggu vonis mati.

Di ujung meja, duduk sang Raja Iblis Agung di singgasananya.

Meski hanya tampak dari samping, wibawanya terasa menekan. Seolah satu kalimat darinya cukup untuk menentukan hidup-mati karier orang-orang di ruangan itu.

Kirana bahkan merasa hawa dingin merembes keluar dari layar ponselnya.

Bryan Santoso sedang memainkan peran "Hakim Terakhir" dengan sempurna.

'Lalu kenapa aku yang harus menyelamatkan mereka? Itu kan urusan pekerjaan mereka...' batin Kirana mencoba membela diri.

Dia tahu dia sedang mencari alasan untuk menjauh. Terutama setelah melihat tatapan mata Bryan di foto itu—dingin, tajam, tanpa ampun.

'Arion benar-benar tidak masuk akal. Ini bukan urusanku.'

Namun anehnya, jauh di dalam hatinya, ada secuil rasa bersalah yang mengganggu.

"Sialan... kenapa aku harus peduli?" gumamnya frustrasi.

Saat dia hendak mengabaikan semua pesan itu, notifikasi lain muncul.

Video.

Kirana membuka kiriman Arion.

Di layar, wajah Bryan terlihat tajam dan tanpa ekspresi. Matanya seperti mampu menembus kamera dan langsung menatapnya. Kirana merinding.

Bryan menatap lurus ke arah kamera tersembunyi itu, lalu berkata dengan suara berat:

"Arion. Kau punya waktu tiga puluh menit untuk mengerjakan ulang seluruh proposal ini dari awal. Kerjakan di sini, sekarang, di depanku. Jika tidak selesai tepat waktu, silakan ke departemen keuangan dan ambil gaji terakhirmu sebagai pesangon keluar."

Layar langsung gelap.

"..."

Kirana terdiam.

Sedetik sebelum video berakhir, dia hampir yakin mendengar jeritan putus asa Arion dari kejauhan.

Bahkan orang awam pun tahu: menyusun ulang proposal besar dalam tiga puluh menit itu mustahil.

Itu bukan perintah kerja.

Itu vonis pemecatan yang dibungkus formalitas.

Masalahnya—Kirana sama sekali tidak tahu cara menolongnya.

Otaknya berputar cepat. Dia mencoba mengingat taktik dari buku Tiga Puluh Enam Strategi yang pernah dipelajarinya demi peran dulu.

"Menunggu musuh kelelahan? Tidak bisa. Kalau aku menunggu, hantu Arion benar-benar akan datang menghantuiku..."

"Mengalahkan musuh dengan menangkap pemimpin mereka? Masalahnya Bryan itu pemimpin mutlak..."

'Lalu... jebakan madu? Tidak, tidak. Itu terlalu memalukan!' batinnya gelisah.

Tiba-tiba—

Plak!

Kirana menepuk jidatnya sendiri.

"Ada satu cara."

Matanya menyala.

"Pancing harimau keluar dari guanya."

Dia menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya, lalu menekan nomor pribadi Bryan Santoso.

​Sementara itu, di kantor pusat SantoPrime.

Di dalam ruang rapat yang menegang, proyektor besar yang terhubung ke ponsel Bryan menampilkan grafik data internal perusahaan yang rumit dan padat.

Sekelompok manajer senior menatap layar tanpa berani berkedip. Mereka tahu, sebentar lagi Bryan akan melontarkan pertanyaan teknis yang mematikan satu per satu.

Rasa takut mereka bahkan melampaui ketakutan murid sekolah dasar yang belum mengerjakan PR saat guru killer mulai menunjuk nama di kelas.

Tepat di momen paling kritis itu, ponsel pribadi Bryan yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar.

Bryan melirik layar dengan malas.

Namun begitu melihat nama yang muncul—Kirana—retakan halus muncul di wajah dinginnya. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terlukis di sudut bibirnya.

Tanpa ragu, ia langsung menekan tombol terima.

Sedetik kemudian, suara gadis lembut terdengar melalui pengeras suara ruang rapat yang masih otomatis terhubung ke sistem audio.

"Halo... Bryan? Apakah kamu sedang sibuk sekarang?"

"Hah?!!!"

Ruangan yang tadinya tegang langsung membeku.

Para manajer senior ternganga. Wajah pucat mereka dipenuhi syok dan kebingungan.

"Apa yang terjadi?"

"Itu... itu ponsel pribadi Bos Besar, kan?"

"Seorang wanita... menelepon langsung... dan memanggil namanya tanpa gelar?"

Namun yang paling mengejutkan bukan panggilannya.

Melainkan reaksi Bryan.

Sang Iblis Agung yang tadi memancarkan tekanan menyesakkan kini berubah halus. Ketajamannya melunak, seolah angin musim semi tiba-tiba berhembus di ruang yang sebelumnya terasa seperti ruang interogasi.

Arion, yang masih terjebak mengerjakan proposal mustahil, hampir menangis haru saat mendengar suara itu.

'Kakak ipar... kau benar-benar malaikat penyelamatku... hiks...' batinnya lirih.

Bryan tiba-tiba sadar ponselnya masih tersambung ke sistem ruangan.

Dengan gerakan cepat, ia memutus koneksi Bluetooth.

Ia mengangkat ponsel ke telinga, berusaha mempertahankan nada suara dingin dan berwibawa, meski tatapannya kini jauh lebih hangat.

"Apa yang kau inginkan?"

Di ujung telepon, Kirana sempat ingin menutup panggilan begitu mendengar nada formal itu.

Namun demi menyelamatkan Arion dan para staf malang lainnya, ia menahan diri.

Ia menarik napas, lalu memaksakan nada suara lembut—hampir manja—meski ada getar ragu di ujung kalimatnya.

"Itu... kamu akan pulang malam ini, kan? Kamu ingat janji kita pada Kael untuk makan hot pot bersama hari ini?"

Wajah Bryan kembali datar di hadapan stafnya.

"Tidak yakin. Pekerjaan saya menumpuk. Saya sangat sibuk."

Bersambung...

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!