Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin dan nggak ada perasaan
Zea berjalan masuk ke rumah dengan langkah yang cepat, wajahnya yang tampak kesal dan terlihat bibirnya mencuat maju.
"Queen."
Saat akan membuka pintu kamarnya, terdengar suara seseorang memanggil dirinya dari ruang tamu.
Suara itu terdengar begitu familiar, zea spontan berbalik, dan seketika napasnya tercekat saat melihat sosok yang sangat ia rindukan berdiri di rumah itu. Satu-satunya orang yang selalu memanggilnya dengan nama tengahnya, orang yang menyayanginya lebih dari apa pun.
Tanpa berpikir panjang, zea langsung berlari kecIl lalu melompat ke pelukan laki-laki muda itu, memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya lagi.
"Kak aka! kok baru pulang?" tanya zea dengan nada yang penuh kegembiraan.
Raka tertawa dan membalas pelukan sang adik. "Maaf ya, kampus kakak baru libur." jawab raka sambil membelai rambut zea.
Wajah kesal zea beberapa saat yang lalu langsung hilang, sekarang digantikan dengan senyum bahagia.
"Gue kangen banget sama kakak." kata zea sambil memandang raka dengan mata yang berbinar.
"Kakak juga kangen banget sama adek kakak." kata raka sambil tersenyum dan mengajak zea untuk duduk disebelahnya. Mereka berdua duduk di sofa dengan zea masih memeluk lengan raka erat.
"Tadi kenapa muka lo keliatan kesal banget?" tanya raka sambil memperhatikan wajah zea dengan penuh perhatian.
Zea menghela nafas dan memandang kakaknya dengan mata yang sedikit sedih. "Pengen kesal aja, soalnya tugas sekolah numpuk." jawab zea asal, dengan nada sedikit mengeluh.
Raka tertawa dan menggelengkan kepala, kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantongnya dan memberikannya kepada zea.
"Kakak ada hadiah kecil buat lo." kata raka tersenyum.
Zea membuka kotak itu dan menemukan sebuah kalung kecil dengan liontin yang sangat cantik.
"Bagus banget!" kata zea.
"Syukur kalo lo suka." kata raka, dan membantu zea memakai kalungnya.
"Makasih banyak kak, gue suka banget." kata zea.
Zea kembali memeluk raka dengan bahagia. Raka membalas pelukan zea dengan hangat dan kembali membelai rambut adiknya.
"Sudah, sana ke kamar, ganti baju dulu terus istirahat, lo kan baru pulang sekolah pasti capek." kata raka sambil tersenyum lembut.
Zea mengangguk dan berdiri, mengikuti perintah kakaknya tersebut. "Iya kak, zea ke kamar dulu ya." zea berlalu pergi berjalan menuju kamarnya.
****
Keesokan harinya....
Zea berjalan menuju lapangan basket dengan langkah santai, tentu saja dua teman karibnya mengikuti dari belakang.
Dari kejauhan, zea melihat leo tengah bermain basket bersama beberapa temannya. Ia tampak begitu fokus, menggiring bola dengan lincah, lalu melompat dan melemparkannya ke arah ring. Bola itu meluncur mulus dan masuk dengan sempurna, membuat zea tanpa sadar terpaku menatapnya.
"YEEYYY."
"KAK LEO, KAK LEO."
"KAK LEO SEMANGAT."
"GUE DUKUNG LO, AYO CETAK POIN LAGI KAK."
Zea berteriak sekeras mungkin sambil melambaikan tangannya dengan antusias, asyik sendiri tanpa memedulikan sekitar. Sontak, semua murid di lapangan basket menoleh ke arahnya, terkejut oleh teriakan semangat yang tiba-tiba itu.
Tatapan mereka tertuju pada zea, sebagian memandangnya heran, sementara yang lain tersenyum kecil dan mulai berbisik-bisik di antara mereka.
"Ze jangan malu-maluin deh, lo kayak komentator bola aja." kata chacha.
"Gue bukan komentator bola cha, tapi gue komentator cinta! dan kak leo adalah bintang utamanya!" kata zea namun matanya tetap fokus mengikuti kemana arah leo berlari menggiring bola.
"Oh iya ngel, minuman kesukaan kak leo apa ya?" tanya zea kepada angel dengan suara terdengar cukup pelan.
Angel tampak berpikir sejenak, ia mengerutkan keningnya sambil mencoba mengingat. "Hmm....gue rasa dia suka pocari sweat deh, gue sering liat dia minum pocari sweat tiap kali habis olahraga." kata angel dengan yakin.
"Oke thanks ngel, gue pergi beli dulu."
"Ehh ze lo mau bali dimana?" tanya chacha menghentikan zea yang akan berlari pergi.
"Di kantin." jawab zea.
"Lo nggak capek apa? dari kemarin dicuekin mulu sama kak leo, dan lo masih mau buang-buang waktu lo buat dia, mending lo cari cowok lain aja yang jelas-jelas suka sama lo." kata chacha.
"Iya ze, gue aja ragu kalo kak leo bakal suka balik, karna dia itu dingin banget kayak batu es berlapis tujuh kali lipat, dan susah banget buat nebak perasaannya." kata angel.
"No no no, gue nggak bakal kapok buat ngejar kak leo! karena gue, bifolla queen zealia, yang akan membuatnya mencair suatu hari nanti." kata zea dengan nada centil dan percaya diri.
"Ya ampun ze, lo emang nggak ada obatnya ya? gue aja dari kemarin kasian liat lo ngejar-ngejar kak leo yang jelas-jelas kayak batu granit, keras banget dan nggak ada celah buat lo." kata angel dengan nada yang sedikit geli penuh ampun.
"Gue yakin bakal bisa, karna gue ibarat kucing yang terus mengejar tikus, nggak bakal berhenti sampai gue dapatin, dan akhirnya gue bakal jadi pemburu tikus profesional." kata zea dengan percaya diri.
"Gimana kalo kak leo malah jadi pembasmi kucing liar?." ujar angel sambil tersenyum.
"Nggak mungkin, gue yakin kak leo bakal jatuh cinta sama gue! gue jamin itu." kata zea dengan tekad kuat.
"Udah ah, gue ke kantin dulu." Lanjut zea.
Zea berlari kecil menuju kantin sekolah, diikuti chacha dan angel di belakangnya. Ketiganya memasuki kantin yang tampak ramai oleh siswa-siswi yang sedang mengantri makanan dan minuman. Maklum saja, bel istirahat baru saja berbunyi.
Tanpa membuang waktu zea langsung menuju etalase minuman dan mengambil sebotol pocari sweat. Setelah membayarnya, ia segera bergegas kembali ke lapangan sekolah. Chacha dan angel saling berpandangan, lalu menghela napas kecil.
"Sumpah deh, zea sok sibuk banget melebihi tukang ojek online, dari pagi sampai siang hari." kata angel.
"Selama kurang lebih 10 tahun gue sahabatan sama zea, baru kali ini gue liat zea ngejar cowok! ditambah lagi cowoknya modelan kayak kak leo dingin dan keras! ngalahin kulkas yang baru keluar dari pabrik, kayak nggak pernah diisi makanan cinta sama sekali." ujar chacha.
"Gue juga heran, kenapa zea bisa sebodoh itu." kata angel.
Chacha dan angel menyusul zea, terlihat zea yang semakin jauh dari pandangan mereka membuat mereka berlari mencoba untuk menyusul zea.
Zea melihat leo yang sudah selesai bermain basket, cowok itu kini duduk di bangku penonton bersama teman-temannya, tanpa ragu, zea langsung menghampirinya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Chacha dan angel yang baru tiba di lapangan memilih berhenti beberapa langkah dari sana. Mereka saling berpandangan, seolah sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kak leo, minum dulu!" ujar zea ceria sambil menyodorkan pocari sweat yang tadi ia beli.
Leo melirik sekilas botol itu dengan ekspresi datar. Ia tidak mengambilnya, bahkan tak menyentuhnya sama sekali. Sebaliknya, ia justru meneguk air putih dari botol yang dipegang digo di sampingnya.
Zea masih berdiri dengan tangan terulur, sementara leo sama sekali tidak memedulikannya, seolah kehadirannya tak lebih dari angin yang berlalu.
"Kak, ini gue beli khusus buat kak leo. Capek loh gue belinya." ujar zea dengan napas sedikit terengah, menatap leo penuh harap agar cowok itu setidaknya menunjukkan sedikit perhatian.
"Lo sendiri yang mau capek-capek beli, gua nggak nyuruh." jawab leo singkat, tanpa ekspresi.
"Tapi kan setidaknya hargain usaha gue, gue udah effort, loh kak." balas zea, nada kesalnya mulai terdengar.
"Kenapa sih lo nggak ngerti? gua nggak butuh!" tegas leo, kini menatap zea dengan sorot mata yang jelas menunjukkan kejengkelan.
Suasana di sekitar mereka mendadak terasa canggung.
"Yaudah, sini buat gue aja, eh… siapa sih nama lo?" sela digo santai.
"Nama gue bifolla queen zealia, panggil aja zea." jawabnya cepat, masih dengan raut kesa.
"Dan ini nggak bisa gue kasih ke lo, karena ini khusus buat kak leo." lanjut zea sambil mengangkat botol pocari sweat itu sedikit lebih tinggi, seolah menegaskan.
"Leo nya nggak mau, mending kasih gua aja." ujar digo lagi, setengah bercanda.
"NGGAK!" seru zea tanpa ragu.
"Serius, le? lo nolak cewek secakep ini?" goda sony sambil tertawa, menepuk bahu leo.
"Iya, kok bisa sih cewek secantik zea rela capek-capek beliin minum buat lo, tapi lo malah nge-blow off gini?" tambah dani dengan nada menggoda, diiringi tawa yang makin memperkeruh suasana.
Leo tidak menanggapi godaan teman-temannya. Ia berbalik dan mulai berjalan pergi namun, zea dengan cepat dan gesit menghadang langkahnya.
"Kak leo, tunggu!" cegat zea
"Apa lagi sih?" tanya leo kesal.
Zea menarik napas, lalu berkata dengan penuh percaya diri.
"Kak leo tau nggak? kakak itu ganteng banget, kayak bulan purnama di malam hari, menerangi hati gue dengan ketampanan yang luar biasa. Gue yakin, pasti hati kak leo juga baik dan tulus, semulus muka kakak."
Beberapa siswa yang masih berada di sekitar mereka mulai memperhatikan.
"Jadi… tolong kak leo terima ini dengan segenap hati." zea menyodorkan botol pocari sweat itu sambil membungkukkan badan, bak rakyat yang sedang memberi persembahan kepada rajanya.
Leo menatapnya datar. "Lo nggak waras?"
"Gue waras kok! kalau gue sakit jiwa, kak leo pasti nggak suka sama gue!" balas zea cepat.
"Gue nggak suka sama lo. Jadi, lo nggak waras." ujar leo sarkastis.
Zea terdiam sepersekian detik, lalu mendengus kesal.
"Yaudah kalau gitu." katanya.
Tiba-tiba ia berdiri tegak dan berteriak lantang.
"GUE, BIFOLLA QUEEN ZEALIA, MENYATAKAN KALAU GUE NGGAK WARAS! GUE GILA! IYA, GUE TERGILA-GILA SAMA KAK LEO!"
"Gila lo." gumam leo jengah.
"GUE EMANG GILA!" sahut zea tanpa ragu.
"Jadi sebelum ‘gila’ gue kambuh, kak Leo harus ambil ini." Ia kembali menyodorkan botol itu dengan penuh tekad.
Leo hanya menatapnya sekilas dengan wajah tanpa ekspresi, lalu melangkah pergi begitu saja, melewati zea tanpa sedikit pun menoleh.
"KAK LEO! LO KAYAK BATU ES, DINGIN DAN NGGAK PUNYA PERASAAN!" teriak zea kesal, suaranya menggema di sekitar lapangan.
Zea berdiri kaku disana menggenggam botol itu erat-erat, sementara pipinya mulai memanas antara malu, kesal, dan kecewa.
Tentunya hal itu terdengar jelas oleh leo dan teman-temannya. Bahkan murid-murid di sekitar lapangan pun ikut terkejut. Berani sekali cewek mungil seperti yakult meneriaki leo yang tingginya bak gapura kabupaten! beberapa siswi tampak tidak terima melihat kejadian itu.
"Hahaha, gila… berani banget." kata sony sambil tertawa lepas.
"Kata gue sih fix, zea masuk kategori cewek paling nekat yang pernah ngejar-ngejar leo." timpal digo.
"Zea emang beda, gila sih." sahut dani, disusul tawa mereka.
"Ampun, suhu." celetuk digo lagi sambil mengangkat tangan menyerah.
Leo mendengus pelan. Cewek stres, bagaimana bisa gadis aneh itu mengganggunya sejak kemarin? kesalahan apa yang pernah ia lakukan di masa lalu sampai harus dipertemukan dengan makhluk seunik zea?
Namun leo tetap berjalan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Langkahnya mantap ke depan, tanpa sedikit pun menoleh atau menunjukkan reaksi terhadap teriakan zea.
Di pinggir lapangan basket, angel dan chacha menghampiri zea yang masih berdiri sendiri.
"Sabar ze, udah kita bilang juga, kan? kak Leo itu kulkas berjalan." kata chacha sambil mengelus punggung zea lembut.
"Jadi lo masih mau ngejar kak leo yang nggak punya perasaan itu?" tanya angel dengan nada mengejek.
Zea menoleh ke arah mereka, tatapannya yang tajam perlahan melunak melihat wajah kedua sahabatnya yang penuh perhatian.
"Nggak punya perasaan?" zea tersenyum kecil.
"Justru itu yang bikin gue penasaran.Gue mau tau… apa yang ada di dalam kulkas itu." lanjutnya dengan sorot mata penuh tekad.
"Ze, kak leo itu kayak tembok, nggak ada yang bisa nembus!" ujar angel pasrah.
"Ngel, jangan ngomongin kak Leo kayak gitu. Lo kan sepupunya, nggak sopan tau sama kakak sendiri." balas zea cepat.
Angel terkekeh pelan. "Hahaha, kak leo aja cuek ke gue. Kayak robot yang baterainya mau habis."
"Padahal gue sepupunya sendiri, tapi dia kayak nggak punya sinyal buat peduli." tambahnya dengan nada malas.
Zea hanya tersenyum tipis, alih-alih mundur, tekadnya justru semakin kuat, kalau leo memang tembok, maka dia akan jadi retakan pertama yang muncul di sana.
Tringg....
Suara bel masuk berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir.
“Jam istirahat udah habis, ayo cepat masuk kelas!” ajak chacha.
Mereka bertiga pun berlari menuju kelas dengan langkah tergesa-gesa. Jangan sampai terlambat pada pelajaran kali ini, apalagi setelahnya ada kelas dengan guru killer yang terkenal galak dan tidak memberi toleransi sedikit pun.
Bersambung