NovelToon NovelToon
Still You

Still You

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.

Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.

Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.

Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.

Still you.

Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Ayahku

Langit sore itu mendung.

 Bukan mendung yang mengancam hujan, tapi mendung yang menggantung berat,  seperti perasaan yang belum selesai sepenuhnya.

Caliandra duduk diam di dalam mobil beberapa menit sebelum akhirnya membuka pintu. Bangunan abu-abu tinggi di depannya berdiri kaku. Dindingnya dingin. Besinya tegas. Tak ada celah untuk nostalgia, tak ada ruang untuk kenangan.

Penjara!!!

Tempat Surya menghabiskan sisa hidupnya.

Vonis seumur hidup.

Semua orang menyebutnya adil.

Beberapa menyebutnya karma.

Cali tidak tahu harus menyebutnya apa.

Yang ia tahu hanya satu,

Ia ingin datang sebagai anak.

Bukan sebagai korban.

Bukan sebagai saksi.

Bukan sebagai perempuan yang pernah disakiti oleh keputusan-keputusan masa lalu.

Namun hanya sebagai anak.

Langkahnya terasa berat, tapi ia tetap berjalan.

Ruang kunjungan itu sederhana. Meja panjang. Kursi besi. Sekat kaca di beberapa sisi. Bau antiseptik dan sunyi yang terlalu rapi.

Dan di sana,

Surya duduk.

Rambutnya lebih memutih. Tubuhnya lebih kurus. Tapi sorot matanya masih sama.

Hangat.

"Ayo keluar ada yang berkunjung" suara sipir menggema di lorong ruang sel

Surya terkejut..."Siapa yang ingin menemuiku?" dia bertanya dalam hati

Lalu dia berjalan ke ruang berkunjung.

Saat melihat Cali...langkahnya terhenti, matanya melebar namun penuh air mata.

“Ara…”

Suara itu.

Suara yang dulu membangunkannya setiap pagi untuk sekolah.

Suara yang dulu membacakan dongeng dengan nada dramatis berlebihan.

Suara yang dulu menenangkan ketika ia jatuh dari sepeda dan menangis lebay.

Cali tersenyum tipis.

“Hai Ayah….”

Kata itu keluar begitu saja.

Ayah!!!

Bukan Surya.

Bukan Pak Surya.

Dan untuk pertama kalinya sejak persidangan selesai, mata Surya berkaca-kaca.

Mereka duduk berhadapan.

Sunyi beberapa detik.

“Ayah terlihat kurus,” kata Cali pelan.

Surya tertawa kecil. “Makanan di sini tidak sebaik masakan kamu.”

Cali ikut tersenyum.

“Padahal dulu Ayah selalu protes kalau aku masak terlalu asin.”

“Karena kamu memang selalu kebanyakan garam,” Surya membalas cepat, nada bercandanya masih sama.

Dan entah bagaimana, suasana itu perlahan mencair.

Seperti dua orang yang memilih berhenti mengingat bagaimana semuanya hancur ,dan hanya mengingat bagaimana semuanya pernah indah.

“Ayah…” Cali menarik napas panjang. “Aku sudah lama ingin datang. Tapi aku takut.”

“Takut membenciku?” tanya Surya lembut.

Cali menggeleng.

“Takut hatiku belum siap.”

Surya menunduk sebentar.

“Kamu berhak marah.”

Kalimat itu tidak dibantah.

Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan.

Hanya penerimaan.

“Ayah memang bersalah,” lanjut Surya.

“Cara Ayah membalas sakit hati itu salah. Seharusnya Ayah tidak melibatkan siapa pun. Apalagi kamu.”

Cali terdiam.

Ia tahu luka Surya bukan luka kecil.

Dikhianati, kehilangan, Ditinggalkan dengan harga diri yang hancur. Sakit hati itu nyata. Bisa dimengerti.

Tapi pilihan untuk membalas dengan cara yang salah …. tetaplah salah.

“Aku mengerti rasa sakit dan dendam ayah,” suara Cali lembut, dewasa.

“Aku mengerti Ayah merasa kehilangan segalanya, namun cara Ayah… memang salah.”

Surya mengangguk.

“Ayah tidak akan membela diri.”

Sunyi lagi.

Kali ini tidak sesakit tadi.

“Semua sudah terjadi,” lanjut Cali pelan.

 “Tidak bisa diputar kembali. Tidak bisa diperbaiki. Yang bisa aku lakukan sekarang cuma satu.”

Surya menatapnya.

“Aku memaafkan Ayah.”

Kalimat itu tidak keras.

Tidak dramatis.

Tapi cukup untuk membuat Surya menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Bahu lelaki itu bergetar.

“Ayah tidak pantas dimaafkan secepat ini.”

“Bukan untuk Ayah,” jawab Cali. “Untuk aku.”

Ia tersenyum tipis.

“Aku tidak ingin hidupku masih dibayang- bayangi masa lalu buruk itu ayah.”

“Hatiku ingin melepaskan semua yang kelam”

Surya menatapnya lagi. Kali ini lebih dalam.

“Kamu jadi perempuan hebat.”

Cali tertawa kecil.

“Ayah yang mendidikku begitu.”

Dan itu bukan basa-basi.

Adiyaksa memang ayah kandungnya.

Darahnya mungkin dari sana.

Tapi yang mengajarinya naik sepeda adalah Surya.

Yang menunggui saat ia demam semalaman adalah Surya.

Yang menepuk punggungnya saat ia gagal pertama kali adalah Surya.

“Ayah ingat waktu aku kelas dua SD dan bilang mau kabur dari rumah karena nggak boleh punya hamster?”

Surya tertawa kecil. “Kamu bawa tas sekolah, isi cuma boneka dan biskuit.”

“Ayah pura-pura nggak lihat aku ngumpet di balik pagar.”

“Ayah biarin lima menit, baru pura-pura nyari kamu panik.”

Cali tertawa, kali ini lebih lepas.

“Dan aku nangis karena takut beneran ditinggal.”

Surya ikut tertawa, meski suaranya parau.

“Kamu selalu paling keras kalau bilang mau pergi. Tapi paling nggak tahan kalau benar-benar sendiri.”

Cali terdiam.

Kalimat itu terasa dalam.

Mungkin benar.

Mungkin itulah sebabnya ia memilih memaafkan.

Karena kehilangan lagi bukan pilihan.

“Ayah menyesal?” tanyanya pelan.

“Setiap hari.”

Jawaban itu jujur.

“Tapi Jika waktu bisa diulang… Ayah tetap akan memilih membesarkan kamu.”

Air mata Cali jatuh.

“Ayah bukan ayah sempurna,” lanjut Surya. “Tapi Ayah mencintaimu dengan cara yang Ayah tahu.”

Dan cinta kadang memang tidak selalu hadir dengan cara yang benar.

Tapi cinta itu tetap nyata.

 Beberapa menit kemudian, langkah lain memasuki ruangan.

Arka.

Cali menoleh.

Ia berdiri di sana dengan senyum hangat, membawa ketenangan yang selalu berhasil menenangkan dunia Cali.

Surya melihatnya.

“Jadi tetap dia prianya...pria keras kepala ini?”

Arka tersenyum sopan. “Saya sudah belajar lebih sabar, Om.”

“Belum,” jawab Surya cepat. “Tatapanmu masih posesif.”

Cali mendesah pelan.

“Yah…”

Arka tertawa kecil lalu duduk di samping Cali.

Sebelum Cali masuk….

“Aku mau ikut,” katanya lembut pada Cali tadi di mobil. “Karena aku ingin menemui beliau sebagai calon suamimu.”

Dan sekarang ia benar-benar melakukannya.

Arka menatap Surya dengan hormat.

“Saya tahu mungkin saya bukan orang yang berhak datang kemari dan meminta apa pun. Tapi saya ingin tetap melakukannya dengan cara yang benar.”

Surya mengamati pria di depannya.

“Cara benar?” ulangnya.

“Saya ingin menikahi Cali.”

Ruangan itu sunyi.

Cali menoleh cepat.

Arka menggenggam tangannya.

“Saya mencintainya. Dengan semua lukanya, dengan semua ceritanya. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun melukainya lagi. Termasuk diri saya sendiri.”

Surya terdiam lama.

“Kamu tahu dia keras kepala?”

“Sudah.”

“Cerewet?”

“Sering.”

“Kalau marah suka diam tapi matanya berkaca-kaca?”

Arka tersenyum lembut.

“Itu yang paling saya takutkan.”

Cali menahan tangisnya.

Surya memandang keduanya.

Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat benar-benar lega.

“Kamu tidak perlu izin dariku,” katanya akhirnya. “Tapi kalau kamu tetap ingin restuku…”

Ia menatap Arka dalam-dalam.

“Jangan pernah buat dia merasa sendirian.”

Arka mengangguk mantap.

“Saya janji.”

Surya menoleh pada Cali.

“Kamu bahagia?”

Cali menggenggam tangan Arka lebih erat.

“Sangat.”

“Kalau begitu Ayah sudah tidak punya alasan untuk khawatir lagi.”

Waktu kunjungan hampir habis.

Petugas memberi tanda.

Cali berdiri perlahan.

Ia tidak tahu kapan bisa datang lagi. Atau apakah ia akan cukup kuat untuk sering-sering kembali.

Tapi hari itu cukup.

Ia melangkah mendekat dan menempelkan tangannya pada meja, dekat tangan Surya.

“Ayah jaga diri ya.”

"Aku menyayangi ayah..."

Surya tersenyum.

“Ayah lebih menyayangimu" balas surya

“Terima kasih sudah membesarkanku.”

Suara itu pecah di akhir.

Surya tersenyum tipis.

“Terima kasih sudah tetap datang.”

Cali berbalik sebelum air matanya jatuh lebih deras.

Arka merangkulnya keluar.

Langit masih mendung.

Tapi kali ini terasa lebih ringan.

“Sudah selesai?” tanya Arka lembut.

Cali mengangguk.

“Sudah. Sekarang aku bisa melangkah tanpa beban.”

Arka mencium keningnya.

“Love You,” bisiknya.

Cali tersenyum di antara sisa air mata.

“Love you more.”

Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi ,

Memaafkan tidak terasa seperti kekalahan.

Melainkan kemenangan paling sunyi.

1
Azahra Wicaksono
👏👏 happy ending 🥰
Retno Isusiloningtyas
aaaaaaa.....
😭😭😭
Azahra Wicaksono
bagus banget thorr nangis aku tuh😭 kasian Aurora
Azahra Wicaksono
suka banget visualnya thorrr😍
Agustin Hariyani: terimakasih readers ku...
total 1 replies
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr👍
Azahra Wicaksono
seru bangettt thorrr, lanjutttt
Azahra Wicaksono
suka bangetttt😍
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!