"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas
Rey beberapa kali mengetukkan pulpennya ke meja sambil menatap kosong buku catatannya yang masih kosong. Ia sedang mengerjakan PR Kimia yang deadlinenya besok. Namun, dirinya sama sekali tak fokus untuk mengerjakan tugas itu.
Meira Adisty.
Ia berkali-kali mengulang nama itu di kepalanya sambil membayangkan wajah pemilik nama tersebut. Cewek itu benar-benar menyita hampir seluruh pikirannya. Bukan hanya wajahnya yang mirip dengan Lyra, tetapi juga misteri yang menyelimuti kehadirannya.
Rey mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Pandangannya beralih pada sebuah foto usang yang terselip di balik buku catatannya, foto seorang gadis yang sedang tertawa riang, sangat mirip dengan Meira, namun dengan binar mata yang berbeda.
"Kenapa harus lo, Mei?" bisik Rey pada kesunyian kamar.
"Apa yang terjadi, Bu? Mama ada dimana?"
"Ibumu sudah tenang, Meira." ucap Bu Resma dengan suara pilu. Ia mengelus punggung tangan Meira lembut. "Dia telah tiada."
"Nggak mungkin." ucap Meira lirih. "Mama nggak mungkin meninggal." Bu Resma memeluk Meira yang mulai menangis.
Tiba-tiba Rey teringat dengan percakapan yang tidak sengaja ia dengar dari Meira dan Bu Resma kemarin lusa di ruangan wanita itu.
"Jadi, Meira anak Bu Arini?" gumam Rey. Pikirannya melayang membayangkan wajah Arini dan hatinya terasa bergejolak seketika.
Rey menyudahi lamunannya ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya. Ia pura-pura kembali fokus pada bukunya. Cowok itu terkejut saat wanita yang diyakini adalah Ibunya membanting transkrip nilai ke arahnya.
"Semenjak ada Meira, nilai-nilaimu jadi anjlok, Rey." katanya kesal.
"Ma, itu baru tes pertama..."
"Kamu gak bisa nyepelein gitu aja. Baru seminggu dia pindah, tapi bisa langsung ngalahin kamu di ulangan pertama. Gimana kalau satu semester ke depan?" Hera menyela ucapan Rey cepat.
Rey menghela napas kasar. "Terus Rey harus gimana?"
"Ya kamu berusaha dong, belajar lebih giat. Jangan cuma diam saja. Kamu harus bisa kejar target kamu untuk masuk Universitas ternama."
Rey mendesah pelan. "Rey juga lagi berusaha, Ma." katanya lesu.
Hera mengelus rambut putranya dengan sebelah tangan ia simpan di bahu cowok itu. "Buktikan ke Mama kalau kamu bisa menang dari dia. Kamu jangan pernah kecewain Mama."
"Ini sekolah, Ma, bukan kompetisi."
Hera melepaskan tangannya dari bahu Rey, sorotan matanya berubah dingin seolah ingin membunuh. "Mama tau. Tapi kamu harus ingat, orang pintar akan lebih mudah mendapatkan tempat yang lebih layak dan selalu diistimewakan." wanita itu menepuk bahu Rey sekali, sebelum akhirnya meninggalkan cowok itu. "Lanjutkan belajarmu, Mama siapkan makan malam."
Rey berdehem sebagai jawaban. Pandangannya mengikuti Hera yang berjalan keluar dari kamarnya. Suara ponsel dari atas tas mengalihkan perhatiannya. Rey meraih ponselnya dan langsung membuka notifikasi dari grup Line kelasnya.
XI IPA 1 Groups...
AyaraMarissa :
Guys, kalian hrs tau. Meira lupa ingatan gara² kejadian tadii!!!!
Ilham22 :
Yg bnr lo??
LanaaaA :
Serius, ay?
Andien1-1 :
Asli wey. Barusan gw chat masa dia bls 'siapa?', tmn sbngkunya aja lupa..
LanaaaA :
Pantes lah dia gk ngenalin lo, org username lo beda sama nama asli lo. Sapi, lo, Ty!
Andien1-1 :
Ini kan nma pnjng gw masa dia gk tau sih.
Ilham22 :
Maklum gk tau, lo bkn seleb.
Andien1-1 :
Diem deh, Ham!!
LanaaaA :
Eh tpi serius gk nih, ay. Dia bnran lupa ingatan?
HarisGans23 :
Emg efek bola basket bisa smpe anemia ya?
Andien1-1 :
AMNESIA, BEGO. bkn Anemia.
HarisGans23 :
Ya itu mksd gw. Maklumin nilai biologi gw bwh rata²
LanaaaA :
Seimbang sma muka lo yekan, haha
HarisGans23 :
Yg ada periksain mata lo, muka mirip Afgan gini masa d bilang d bwh rata²
Meiradisty :
Kenapa? Grup apa ini?
Andien1-1 :
Wait. Lo bnran amnesia mei?
AyaraMarissa :
Gw blng jg apa kan!!
LanaaaA :
Lo serius mei? Kok gw jd parno sama bola ya.
Meiradisty :
Enggak, ayara emang suka berlebihan.
Read more...
Rey menghentikan kegiatan men-scroll chat dari grup kelasnya. Pikirannya kini melayang pada kejadian di UKS bersama Meira siang tadi. Saat ia dan Meira diliputi rasa canggung luar biasa hanya karena Rey memijat kening cewek itu. Rey yakin, Meira juga merasakan kecanggungan itu. Terbukti kalau Meira langsung memaksakan dirinya keluar dari UKS dan beralasan akan beristirahat di kelas. Meira juga memaksa Rey untuk kembali ke pelajaran Pak Dika. Meira bersikeras meminta itu semua. Entah kenapa, Rey tersenyum ketika mengingat kejadian itu.
"Rey, makan malamnya sudah siap."
Teriakan Hera memaksa Rey menyudahi lamunannya. Ia geleng-geleng kepala ketika menyadari kalau dirinya tersenyum. Hanya karena Meira mirip dengan Lyra, bukan berarti Rey menaruh hati pada cewek itu kan?
Tak mau terlalu memikirkan, ia buru-buru melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan menghampiri Hera di meja makan. Berharap di menit berikutnya ia sudah lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya.
...\~\~\~...
"Apaan, sih, Ra. Kalau aku Amnesia beneran, gimana?" Meira menggeleng-gelengkan kepalanya membaca chat di grup yang ramai karena ulah Ayara.
Ayara tertawa. "Ya, nggak gitu lah. Just kidding, Mei, just for fun." cewek itu mengalihkan pandangan kembali pada layar ponselnya. Kemudian kembali mengetikkan sebuah pesan, kali ini tujuan chatnya bukan grup.
"Kenapa? Cepet banget berubahnya." Meira bertanya saat melihat wajah Ayara berubah murung. Ia menyimpan gelas berisi cokelat panas di meja belajarnya.
"Ternyata dikacangin itu sakit, ya." Ayara menatap nanar room chat nya bersama Abil. Dari rentetan pesan yang dikirimnya, belum ada sama sekali yang cowok itu balas sampai sekarang.
Meira melirik ponsel Ayara sekilas lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, Abil?"
"Gue harus gimana lagi coba, biar dia bisa suka balik sama gue." desahnya pelan.
"Kamu terlalu ngejar, sih."
Kepala Ayara langsung menoleh pada Meira, keningnya berkerut. "Maksudnya?"
"Ya, kamu nya terlalu ngejar dia. Coba kamu diemin atau cuekin balik, biar dia tau gimana rasanya digituin." Meira mengambil cokelat panasnya lalu meminumnya sedikit.
"Kalau dia makin dingin gimana?"
"Move on aja kalau gitu."
Ayara membulatkan matanya sampai refleks memukul lengan Meira, membuat cewek itu menumpahkan sedikit cokelat di gelasnya.
"Ayara!" seru Meira kesal. Ia mengibaskan tangannya yang terasa panas akibat tumpahan cokelat.
"Lo kira move on segampang balikin telapak tangan?" Ayara tak menghiraukan kekesalan Meira. "Puyeng ah gue lama-lama." cewek itu mengacak-acak rambutnya frustasi.
Meira menyimpan kembali cokelatnya di meja lalu mengambil dua lembar tissue untuk mengelap tangannya seraya memutar bola matanya malas.
"Berjuang buat seseorang boleh, Ra, tapi kamu juga harus punya batasannya. Abil kayak gitu pasti punya alasan, kamu kan tau sendiri kalo katanya dia udah punya tunangan." Meira mengelus pundak Ayara. "Yakin masih mau berjuang buat orang yang hatinya bukan buat kamu?" lanjutnya.
"Sedih banget, ya, hidup gue. Gue suka sama orang yang udah jelas-jelas gak suka balik sama gue."
Ayara mengerucutkan bibirnya. Dibuangnya napas kasar dari mulutnya. Diliriknya layar ponsel sekali lagi, berharap Abil membalas pesan darinya. Jangankan dibalas, bahkan cowok itu tak membaca pesannya sama sekali.
"Ya udah, itu tandanya kamu emang harus move on dari dia."
"Susah buat lupain orang yang udah kita sayang, Mei." ucap Ayara pasrah.
"Iya aku tau, kamu gak harus lupain orangnya, Ra. Yang harus kamu lupain itu harapan kamu ke dia, berharap sama oranglain emang sering bikin sakit hati. Lagian kamu kok bisa-bisanya langsung suka sama orang yang baru pertama kali ketemu sih? Gampang banget naruh perasaan sama orang lain." Meira terkekeh pelan, berusaha untuk tidak menyakiti Ayara dengan kata-katanya.
Ayara terdiam beberapa saat, mencoba mencerna ucapan Meira. "Kayaknya gue harus ikutin apa kata lo. Gue bakalan coba lupain harapan gue ke Abil, seperti yang lo bilang." serunya.
Meira tersenyum senang melihat semangat Ayara akhirnya kembali. "Nah, gitu dong."
Dering ponsel di tangan Ayara membuat keduanya saling bertukar pandang sesaat. Senyum lebar terbit di wajah Ayara saat melihat nama orang yang meneleponnya.
"Tapi kayaknya gak sekarang-sekarang dulu deh move on nya, ya, Mei." Ayara menaik-turunkan alisnya.
Meira berdecak sekali. "Terserah kamu, deh."
Ayara berdehem untuk menetralkan suaranya, sedetik kemudian ia langsung menjawab panggilan telepon dari Abil.
"Hallo Abil, ada apa? Kamu kangen ya sama aku?" sapa Ayara sambil tersenyum lebar.
Meira merasa geli ketika mendengar Ayara yang mengubah gaya bicaranya dari 'lo-gue' menjadi 'aku-kamu' kepada Abil.
"Buku kimia gue kenapa lo bawa?"
Meira menahan tawa mendengar ucapan Abil yang sangat to the point dari seberang telepon. Begitu pula dengan Ayara, cewek itu mencebikkan bibirnya sebal.
"Ih, Abil. Kamu telpon aku cuma mau nanyain itu doang? Nyebelin banget, sih." maki Ayara.
"Ya, jangan mikir macem-macem." ancamnya.
"Bodoamat. Bukunya aku pinjem, belum selesai nyatet."
"Ada tugas buat besok, kerjain sekalian punya gue kalo gitu."
"Lho, kok dikerjain sama aku?"
"Bukunya ada di lo, gimana gue mau ngerjain."
"Ya, udah, iya." jawab Ayara malas.
"Oke."
"Kamu gak—hallo, Abil." Ayara melihat ponselnya yang mati, pertanda telepon sudah diputus secara sepihak. "Kok udah di matiin aja, sih. Padahal gue masih kepengen ngobrol." Ayara kembali memaki ke arah layar ponselnya.
Meira tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa lepas melihat wajah Ayara yang berubah masam. Mood cewek itu benar-benar telah dipermainkan malam ini oleh Abil. Meira lagi-lagi menggelengkan kepalanya dengan tingkah sahabatnya itu.
"Jadi gimana? Move on gak nih?" ledek Meira.
"Diem, lo, Mei. Gue sumpahin lo jomblo seumur hidup baru tau rasa!" cecar Ayara. Ia membanting bantal yang sedang di dekapnya tepat mengenai wajah Meira, cewek itu masih menertawakan dirinya.
"Mending jomblo, deh, dari pada jatuh cinta sama orang yang salah."
"MEIRA, AWAS LO, YA!"
Meira segera berlari keluar dari kamar untuk melarikan diri dari amukan Ayara, sebelum cewek itu semakin membanting barang lain ke arahnya.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰