Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susahnya Menjadi Guru
Pagi di Lembah Sunyi selalu datang tanpa izin.
Kabut turun pelan seperti napas orang sakit, menutup bebatuan, pohon kering, dan pondok reyot tempat Ci Lung biasa duduk melamun sambil mikir hal yang sama setiap hari:
“Kenapa aku masih hidup?”
Di sampingnya, seorang bocah kurus berumur sepuluh tahun duduk bersila dengan posisi… aneh.
Punggungnya tegak tapi bahunya terlalu kaku. Tangannya di paha tapi jarinya gemetar sedikit. Napasnya terdengar pendek, terpotong-potong, seperti orang yang takut salah bernapas.
Ci Lung melirik sekilas.
“…kamu kenapa kayak patung kuil runtuh gitu?”
Bocah itu langsung panik.
“A-Apakah posisi saya salah, Guru?!”
Ci Lung menghela napas panjang. Bukan napas kultivator. Napas orang capek hidup.
“aku nggak bilang apa-apa.”
“Tapi Guru melihat saya…”
“Karena kamu duduk di depan mukaku.”
Bocah itu terdiam. Lalu, dengan ekspresi serius yang nggak seharusnya dimiliki anak umur sepuluh tahun, dia memperbaiki posisi duduknya lagi. Kali ini… lebih rapi. Terlalu rapi.
Ci Lung mengernyit.
“…kamu dengerin aku ya. aku bukan ngajarin kamu meditasi.”
“Baik, Guru.”
“kamu juga nggak perlu duduk bersila tiap pagi.”
“Baik, Guru.”
“Dan berhenti manggil aku Guru.”
“Baik, Guru.”
Ci Lung menutup mata.
Percuma.
Sudah beberapa hari ini bocah itu nempel terus. Bangun bareng. Makan bareng. Duduk diem bareng. Bahkan waktu Ci Lung bengong satu jam penuh sambil natap batu, bocah itu ikut natap batu yang sama, seolah-olah batu itu kitab rahasia tingkat dewa.
Padahal Ci Lung cuma lagi mikir:
“Kalau aku mati sekarang, sistem bakal ribut nggak ya?”
Hari itu Ci Lung memutuskan sesuatu.
Dia berdiri.
“kamu laper?”
Mata bocah itu langsung berbinar.
“Iya, Guru!”
“Berisik.”
Ci Lung jalan ke dapur kecil pondok. Nggak ada apa-apa selain nasi sisa kemarin dan sup bening yang rasanya… ya, air panas dikasih niat.
Ci Lung nyuap satu sendok, meringis.
“…Makan pelan.”
Bocah itu yang lagi lahap langsung berhenti.
“Pelan… seperti ini?”
Dia mulai mengunyah lambat. Terlalu lambat.
Ci Lung ngetuk meja.
“Jangan kayak orang ngitung dosa.”
“Oh… iya, Guru.”
Mereka makan dalam diam.
Yang Ci Lung nggak tahu—dan sistem sengaja diam—adalah setiap kali bocah itu mengikuti perintah receh tadi, aliran qi dalam tubuhnya menjadi stabil.
Bukan cepat.
Tapi bersih.
Tanpa sumbatan.
Tanpa kegaduhan.
Tanpa deviasi.
—
Sore hari, Ci Lung duduk di batu favoritnya.
Bocah itu berdiri di samping, memegang pancing bambu.
“Guru, aku boleh mancing?”
“Kalau ikan mau.”
Dia duduk.
Ci Lung menguap.
“kamu kalau napas, jangan ditahan.”
Bocah itu refleks menarik napas… lalu menghembuskannya perlahan.
Sesuatu klik di dalam tubuhnya.
Qi yang selama ini berkumpul di dada—yang seharusnya nggak mungkin terjadi pada anak umur sepuluh tahun—turun ke dantian bawah dengan alami.
Tanpa teknik.
Tanpa metode.
Tanpa elixir.
Kalau ada kultivator luar lihat ini, mereka bakal muntah darah.
Anak umur sepuluh tahun, tanpa fondasi buatan, sedang membentuk pondasi alami.
Ci Lung? Lagi mikir ikan apa yang enak digoreng.
“kamu jangan napas pendek-pendek,” katanya lagi malas.
“Capek.”
“Baik, Guru.”
Pancingan bergerak.
Bocah itu narik tali. Seekor ikan kecil keangkat.
“Guru! Saya dapat!”
Ci Lung melirik sekilas.
“Hmm.”
Bocah itu tersenyum lebar.
Dan pada saat itu—
Qi-nya naik.
Diam-diam.
Tanpa suara.
Tanpa kilat.
Tanpa fenomena langit.
—
Malamnya, bocah itu tidur cepat.
Ci Lung duduk sendirian di depan api kecil.
Sistem akhirnya muncul.
[Peringatan Sistem]
Murid terdeteksi memasuki Qi Refining layer 3.
Ci Lung mengernyit.
“…Hah?”
Dia menatap bocah yang lagi tidur pulas, sambil meluk ikan.
“…Kebetulan.”
Sistem diam.
[Peringatan Sistem]
Kemajuan murid: tidak normal.
“Lu ribut amat,” gumam Ci Lung.
“Dia cuma anak kecil.”
Padahal dunia tahu satu hal:
Anak umur 10 tahun TIDAK BISA kultivasi normal.
Yang paling jenius pun cuma bisa menyiapkan tubuh pakai elixir.
Naik Qi Refining? Mustahil.
Kecuali…
Lingkungan sekitarnya terlalu bersih.
Dan Ci Lung—yang hidup pasif, malas, nggak niat—adalah pusat kebersihan itu.
—
Hari keempat.
Bocah itu tiba-tiba pingsan saat nyapu halaman.
Ci Lung refleks nangkep.
“…Oi.”
Dia cek napas. Normal.
Qi? Stabil.
Terlalu stabil.
“Capek,” simpul Ci Lung.
“Dasar bocah.”
Dia mindahin bocah itu ke kasur.
Satu jam kemudian, bocah itu bangun.
“Guru…”
“Minum.”
Bocah itu nurut.
Dan tanpa disadari Ci Lung—
Qi-nya menembus Qi Refining layer 4.
Tanpa rasa sakit.
Tanpa konflik.
Tanpa drama.
Seolah-olah tubuh bocah itu berkata:
“Oh… begini toh caranya hidup.”
Ci Lung duduk di samping kasur.
Dalam hati, muncul pikiran yang jarang sekali dia akui:
“Wah… kalau murid ini jenius langka kayak aku…”
“…bayangin aja bakal jadi apaan dia di masa depan.”
Dia mendengus.
“Pasti ribet.”
Api di luar pondok berkedip.
Dan jauh di luar lembah—
Beberapa kultivator merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan tekanan.
Bukan aura.
Tapi keheningan yang terlalu sempurna.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠