"Ini adalah Novel Ringan dan Santai".
Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Lolos Final
Suasana kemenangan PH2 yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi sedikit tegang di pinggir lapangan. Gery duduk di atas bangku kayu panjang dengan kaki yang diluruskan, sementara tulang keringnya mulai membengkak keunguan. Vanya datang dengan langkah seribu, wajahnya pucat pasi, membawa handuk hangat yang langsung ia tempelkan ke luka lebam Gery.
"Pelan-pelan, Van... aduh!" ringis Gery saat suhu hangat itu menyentuh kulitnya yang luka.
"Makanya, jangan sok jagoan! Udah tahu mereka main kasar, malah nekat lompat begitu," omel Vanya, meski tangannya bergerak sangat lembut mengompres kaki Gery. Vivi dan Nadia segera menyusul membawa kotak P3K kelas, dengan sigap membantu membalut kaki Gery dengan perban putih agar luka tidak semakin terbuka.
Reno, yang seolah tidak punya urat empati karena terlalu bersemangat, justru melonjak-lonjak di depan Gery. "Ger! Sumpah, itu gol volley tadi gila banget! Lo kayak Captain Tsubasa, muter-muter di udara terus DUAR! Gue rasa kipernya bakal trauma tujuh turunan!"
"Bisa diem nggak, No? Ini temen lo lagi luka!" semprot Vanya galak, membuat Reno langsung menciut dan melakukan gerakan mengunci mulut secara imajiner.
Namun, ketenangan Vanya tidak bertahan lama. Keberadaan Gery yang menjadi pahlawan kemenangan ternyata mengundang "badai" lain. Tiba-tiba, sekumpulan senior wanita dari berbagai jurusan—mulai dari Busana sampai Restoran—berbondong-bondong menghampiri.
"Aduh, Gery ya? Sakit banget nggak kakinya? Ini aku bawain minyak angin," ujar seorang senior dari kelas 3 Busana sambil mencoba mendekat.
"Ini ada air minum dingin, minum dulu biar nggak syok," timpal senior lainnya dari jurusan Resto, mengabaikan botol minum yang sudah dipegang Vanya.
Suasana mendadak riuh oleh suara-suara perhatian yang berlebih. Mereka mengerubungi Gery seolah Gery adalah artis yang baru saja mengalami kecelakaan syuting. Gery yang dasarnya tidak enakan hanya bisa tersenyum canggung sambil berkata, "Iya Kak, makasih... udah mendingan kok."
Vanya, yang tadinya sibuk dengan perban, kini menghentikan aktivitasnya. Wajahnya yang semula penuh kekhawatiran tulus akan luka Gery, kini bertransformasi menjadi wajah penuh siaga satu. Ia menatap para senior itu satu per satu dengan tatapan "ini wilayah gue".
Vanya dengan sengaja merapatkan duduknya ke arah Gery, lalu mengambil alih perban dengan gerakan yang sedikit lebih protektif. "Makasih ya Kakak-kakak semua perhatiannya, tapi Gery udah ditangani sama tim medis kelas kami sendiri kok. Dia juga butuh ketenangan buat persiapan basket sebentar lagi," ucap Vanya dengan nada sopan namun terselip ketegasan yang dingin.
Reno yang melihat itu menyikut Sammy sambil berbisik, "Sam, liat tuh. Gery lebih dalam bahaya dikerubungin cewek-cewek daripada di-tackle senior tadi."
Gery hanya bisa menelan ludah. Ia tahu betul, luka di kakinya mungkin bisa sembuh dengan perban, tapi kalau Vanya sudah memasang mode "singa betina" seperti ini, urusannya bisa jauh lebih panjang.
Peluit panjang untuk semifinal futsal baru saja mereda, menyisakan gemuruh kemenangan yang masih berdenging di telinga para siswa PH2. Namun, euforia itu segera berganti dengan ketegangan baru saat panitia mengumumkan dimulainya semifinal turnamen basket melalui pengeras suara sekolah yang cempreng.
Keputusan tim medis sekolah dan desakan Ibu Ratna tidak bisa diganggu gugat: Gery dilarang keras menginjak lapangan basket. Tulang keringnya yang diperban putih mencolok harus diistirahatkan jika ia masih ingin bermain di babak final besok. Untuk pertama kalinya sejak turnamen dimulai, Gery hanya duduk di bangku cadangan, mengenakan jaket tim dengan kaki yang diselonjorkan di atas kursi plastik.
Melihat Sammy, Reno, dan rekan lainnya berlari di lapangan tanpa dirinya membuat Gery didera kegelisahan yang luar biasa. Jemari tangannya terus bergerak-gerak, seolah sedang men-dribel bola imajiner. Matanya tajam mengikuti setiap pergerakan bola. Berkali-kali ia nyaris berdiri secara refleks saat tim lawan melakukan serangan balik cepat, namun rasa nyeri di kakinya dan tarikan tangan seseorang di sampingnya selalu memaksanya kembali duduk.
"Duduk, Ger. Jangan banyak gerak," bisik Vanya dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Vanya benar-benar menjalankan perannya sebagai "penjaga gerbang" dengan sangat serius. Sejak insiden kerumunan senior wanita di pinggir lapangan futsal tadi, Vanya telah mengaktifkan mode proteksi maksimal. Ia duduk tepat di sisi kanan Gery, bahunya bersentuhan rapat dengan bahu Gery, tidak memberikan celah satu sentimeter pun bagi siapa pun untuk menyisip di antara mereka. Matanya sesekali melirik tajam ke arah kerumunan siswi dari kelas lain yang tampak berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Gery.
Pertandingan berjalan sangat alot. Tanpa kehadiran Gery sebagai motor serangan, Sammy harus bekerja dua kali lebih keras di bawah ring. Skor bergerak sangat lambat dan saling mengejar.
"Ayo Sam! Screen kiri!" teriak Gery dari pinggir lapangan, suaranya parau karena tegang.
Meski Gery gelisah, kedisiplinan tim PH2 ternyata cukup solid. Reno berhasil menutupi celah yang ditinggalkan Gery dengan melakukan beberapa kali steal krusial. Hingga peluit akhir berbunyi, PH2 berhasil mengamankan tiket final basket dengan skor tipis 72-63.
"Kita menang, Ger! Kita ke final!" seru Reno sambil berlari ke pinggir lapangan, namun langkahnya terhenti saat melihat wajah Vanya yang masih tampak "galak" menjaga Gery.
Gery mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Beban di pundaknya sedikit terangkat, meski ia tahu bahwa di final besok, ia tidak boleh hanya menjadi penonton. Ia melirik Vanya yang masih duduk menempel padanya seperti perangko.
"Udah menang tuh, Van. Nggak usah tegang banget mukanya," goda Gery pelan.
Vanya hanya mendengus sambil memperbaiki posisi duduknya yang tetap tidak bergeser sedikit pun. "Gue nggak tegang karena skor. Gue lagi mastiin nggak ada 'lalat' yang berani deket-deket pasien gue. Udah, diem lo."
Sore itu, PH2 resmi mencetak sejarah dengan meloloskan dua tim utama mereka ke babak final. Namun bagi Gery, tantangan sesungguhnya bukan hanya menyembuhkan kaki, tapi juga menghadapi final yang pastinya akan jauh lebih berdarah-darah.
Hari kedua yang penuh drama akhirnya ditutup dengan lembayung senja yang mulai meredup. Langkah Gery terasa berat, setiap tumpuan pada kaki kanannya mengirimkan rasa nyut-nyutan hingga ke pinggang. Vanya dengan sigap berada di sisi kiri Gery, melingkarkan lengan cowok itu di bahunya, membopongnya pelan menuju parkiran motor.
"Ger, lo langsung pulang aja ya. Nggak usah anterin gue," ucap Vanya saat mereka sampai di motor matic Gery. Wajahnya penuh kekhawatiran, ia tidak tega melihat Gery harus menahan sakit saat mengoperasikan motor.
Gery hanya tersenyum tipis, lalu merogoh saku celananya dan menyodorkan ponsel Nokia-nya. Di layar, terpampang sebuah SMS dari Mama Vanya.
From Mama Vanya: "Nak Gery, nanti Tante agak malam pulangnya, minta tolong anterin Vanya lagi ya. Maaf ngerepotin Nak Gery nih."
Vanya mendengus pelan, namun rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan. "Mama nih... ya udah, pelan-pelan bawa motornya ya!" ucapnya pasrah sambil naik ke jok belakang.
Gery memacu motornya sangat lambat, jauh dari gaya berkendaranya yang biasanya "setan jalanan". Tiupan angin malam yang dingin biasanya ia nikmati, namun kali ini ia harus menjaga kakinya agar tidak terlalu banyak terkena tekanan angin.
Sesampainya di rumah Vanya, suasana tampak sepi. Hanya lampu teras yang menyala. "Masuk dulu, Ger. Harus dikompres lagi biar besok bisa tanding final," perintah Vanya mutlak. Gery hanya menurut. Di dalam rumah, hanya ada mereka berdua; Mama Vanya masih di kantor, sementara Vania sedang les ditemani asisten rumah tangga.
Gery duduk berselonjor di atas karpet bulu di ruang tengah, sementara Vanya sibuk di dapur merebus air. Untuk mengusir keheningan, Gery meraih kamera pocket Vanya yang tergeletak di atas meja. Ia mulai menekan tombol navigasi, melihat hasil jepretan Vanya seharian ini.
"Gimana hasilnya? Bagus-bagus kan?" tanya Vanya yang tiba-tiba muncul membawa baskom air hangat dan handuk kecil.
"Iya, bagus banget. Lo pinter ambil angle-nya," puji Gery tulus sambil terus menggeser foto. Ada foto Gery saat slam dunk, foto Reno yang sedang konyol, hingga foto kebersamaan PH2.
Namun, saat Gery menekan tombol "next", jantungnya seolah berhenti berdetak. Layar LCD kecil itu menampilkan foto mereka berdua di Taman Suropati—momen saat bibir Vanya mendarat di pipi Gery. Gery terpaku, wajahnya seketika memerah panas hingga ke telinga.
Vanya yang sedang berlutut untuk mulai mengompres kaki Gery, langsung mendongak. Melihat ekspresi Gery yang salah tingkah, ia langsung tahu foto mana yang sedang tampil di layar.
"Hahaha! Kenapa lo? Muka lo udah kayak kepiting rebus gitu," tawa Vanya pecah. Namun, detik berikutnya suaranya berubah tajam dan penuh ancaman manis. "Awas ya, jangan coba-coba lo hapus itu foto kalau nggak mau luka lo makin bengkak gue remes!"
Gery langsung meletakkan kamera itu kembali ke meja dengan gerakan secepat kilat. Ia tidak berani mengambil risiko; final besok adalah pertaruhan harga diri kelas, dan ia butuh kakinya dalam kondisi terbaik.
"Iya-iya, galak bener... nggak bakal gue hapus kok," gumam Gery sambil memalingkan wajah, mencoba menutupi senyum kecil yang terukir di bibirnya. Di tengah rasa sakit di kakinya, kehangatan kompres air hangat dari Vanya dan rahasia di dalam kamera itu menjadi obat yang jauh lebih ampuh dari apotek manapun.
Gery mencoba menggerakkan pergelangan kakinya. Sensasi nyut-nyutan yang tadi sangat tajam kini mulai tumpul dan terasa lebih ringan berkat kompresan telaten dari Vanya. Baru saja Gery hendak berdiri untuk berpamitan, suara deru mesin mobil dan sorot lampu masuk ke area carport, memecah kesunyian malam di depan rumah.
"Nah, nyokap udah pulang tuh," ujar Vanya sembari membereskan baskom air hangatnya.
Pintu depan terbuka, menampakkan Mama Vanya yang tampak lelah namun tetap terlihat elegan, disusul oleh Vania yang masih menyandang tas lesnya dan asisten rumah tangga yang membawa beberapa kantong belanjaan.
"Loh, Nak Gery masih di sini? Tante pikir sudah pulang dari tadi," sambut Mama Vanya dengan senyum hangat. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan perban putih yang melilit tulang kering Gery. Wajahnya seketika berubah cemas. "Loh, kakinya kenapa, Nak? Sampai dibalut begitu?"
Vanya segera mengambil alih pembicaraan. Ia menjelaskan kronologi pertandingan futsal tadi pagi, tentang tekel keras senior kelas 3 hingga gol kemenangan Gery yang dramatis. Mendengar penjelasan itu, Mama Vanya menghela napas panjang sembari mengusap bahu Gery.
"Duh, jagoan ya kamu. Tapi lain kali harus lebih hati-hati, Nak. Kesehatan itu nomor satu, jangan sampai demi hobi malah cedera serius. Besok kalau tanding lagi, jangan dipaksakan kalau memang masih sakit ya?" nasihat Mama Vanya dengan nada keibuan yang sangat tulus.
Vania, yang sedari tadi hanya menyimak, tiba-tiba menghampiri Gery. Tanpa aba-aba, gadis kecil itu memeluk pinggang Gery erat-erat. Wajah polosnya mendongak menatap Gery dengan mata bulat yang berkaca-kaca.
"Kakak Gery... lain kali hati-hati ya," ucap Vania lirih. "Kalau Kakak sakit begitu, nanti Kakak nggak bisa main ke rumah Vania lagi. Vania nggak punya temen main dan makan martabak lagi nanti."
Gery tertawa kecil, rasa hangat menjalar di dadanya bukan karena air kompresan, melainkan karena perhatian keluarga ini. Ia mengacak pelan rambut Vania. "Iya, Vania sayang. Kakak janji besok-besok lebih hati-hati. Nanti kalau sudah sembuh total, kita makan martabak lagi ya?"
Setelah suasana mencair, Gery akhirnya benar-benar berpamitan. Ia menyalami tangan Mama Vanya dengan hormat, lalu berpamitan pada Vanya dan asisten rumah tangganya yang juga ikut mengantar sampai ke pintu depan.
Vanya berdiri di ambang pintu, menatap Gery yang mulai menaiki motornya dengan hati-hati. "Ger!" panggil Vanya sebelum Gery menyalakan mesin. "Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, dan... good luck buat final besok. Gue dukung lo paling depan."
Gery mengacungkan jempolnya, memberikan senyum terbaiknya sebelum melaju membelah malam. Di kepalanya, ia sudah menyusun satu misi: memenangkan dua piala final besok sebagai hadiah untuk orang-orang yang sudah mengkhawatirkannya malam ini.
Malam yang tenang di rumah Gery sedikit terusik oleh kehadiran tiga sahabat lingkungannya yang sedang berkunjung. Pertanyaan-pertanyaan cemas dari teman-temannya dan raut khawatir dari Mamanya dijawab Gery dengan penjelasan singkat namun penuh keyakinan. Bagi Gery, cedera ini hanyalah kerikil kecil. Setelah makan malam masakan Mamanya yang selalu terasa paling enak, Gery langsung tumbang di tempat tidur, membiarkan tubuhnya melakukan pemulihan alami dalam lelap yang dalam.