Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membesarkan Seekor Ular
Hingga beberapa hari setelah itu, seorang pria perlente dengan mobil sedan hitam berhenti di depan bengkel kumuh Agus.
"Anda Pak Agus? Saya dengar anda punya stok pasir dan semen berkualitas dengan harga kompetitif untuk proyek renovasi gedung di Sudirman?" tanya pria itu.
Agus tergagap, "I-iya, benar Pak. Tapi kami baru buka...," belum sempat Agus menyelesaikan perkataannya, pria itu sudah bersuara.
"Tidak masalah, seseorang merekomendasikan anda dan ini kontrak pertamanya. Kalau bagus, kita lanjut ke proyek yang lebih besar," ucap pria itu sambil menyodorkan map dokumen.
Agus gemetar saat menandatangani dokumen itu, ia tidak tahu bahwa pria itu adalah bawahan lama Ayahnya yang pernah dibantu Karina dalam kasus hukum beberapa tahun silam dan kini membalas budi melalui rekomendasi misterius via email.
Malam harinya, mereka merayakan kontrak pertama dengan makan nasi uduk di pinggir jalan, Agus tampak sangat bersemangat dan bicaranya mulai tinggi.
"Lihat kan, sayang? Aku memang punya bakat bisnis. Orang besar pun langsung tahu kalau aku ini kompeten, uang tabungan kamu itu cuma pemicu, tapi otakku yang bikin ini jalan!" seru Agus dengan bangga.
Karina hanya tersenyum tipis, ia tidak butuh pengakuan. Karina senang melihat suaminya bahagia dan ia tidak menyadari bahwa setiap keberhasilan yang ia rancang secara diam-diam justru mulai menumbuhkan benih kesombongan di hati Agus.
"Mas, jangan lupa dicatat ya pengeluarannya, tadi aku sudah buatkan buku kasnya," ucap Karina lembut.
Agus mengibaskan tangannya, "Iya, sayang. Aku bahagia sekali, semoga usahaku ini bisa sukses dan hidup kita menjadi lebih baik," ucap Agus.
"Aku senang kalau Mas senang," ucap Karina.
Waktu berlalu seperti putaran roda yang tak terelakkan, sepuluh tahun pertama pernikahan mereka adalah masa-masa penuh peluh dan pengorbanan yang tak kasat mata bagi orang lain, Karina sering begadang untuk mengatur buku keuangan dan menghubungkan sumber daya untuk Agus, Karina yang mengurus semuanya hingga keuangannya stabil.
Bukan hanya mengurus bisnis saja, Karina juga merawat mertua yang lanjut usia dengan sepenuh hati, ia menangani semua pekerjaan rumah tangga dan pendidikan anak, bahkan Karina melahirkan sepasang kembar perempuan dan mengatur rumah tangga dengan sangat rapi dan teratur.
Semuanya Karina lakukan dengan begitu telaten dan tidak pernah mengeluh, ia mendukung usaha Agus dan juga membantunya secara diam-diam.
Hingga kesuksesan besar akhirnya datang dan berkat bantuan yang dilakukan Karina melalui jaringan lamanya, perusahaan Agus berhasil memenangkan tender pembangunan kompleks perkantoran elite di pusat Jakarta dan keuntungan yang diraup tidak lagi puluhan juta, melainkan miliaran rupiah.
Namun, seiring dengan bertambahnya angka di saldo bank, tumbuh pula sebuah ego yang mulai menjulang tinggi di dalam diri Agus.
"Sayang, lihat mobil baru ini! Toyota Alphard terbaru. Ini baru namanya mobil pengusaha!" seru Agus suatu sore, memamerkan kunci mobil dengan logo perak yang mengkilat.
Karina yang baru saja selesai memandikan si kembar Ella dan Aisha yang kini berusia lima tahun, Karina keluar dengan daster yang sedikit basah lalu tersenyum, meski ada rasa lelah yang menggelayut di matanya.
"Bagus, Mas. Tapi apa tidak terlalu mewah? Kita kan masih harus bayar tagihan vendor untuk proyek di Sudirman," tanya Karina.
Agus mendengus, senyumnya sedikit memudar berganti dengan nada meremehkan. "Kamu ini, sayang. Selalu saja bicara soal tagihan dan hitungan, kamu pikir siapa yang memenangkan tender itu? Aku, sayang! Relasiku sekarang orang-orang hebat. Kamu jangan bawa mental penjaga toko kamu ke level hidup kita yang sekarang," ucap Agus.
Karina tertegun, kata-kata itu menusuk, namun ia segera menepisnya dan menganggap suaminya hanya sedang terlalu bersemangat. Lagipula, Agus masih menunjukkan perhatiannya dengan caranya sendiri.
Malam harinya, Agus membawakan sebuah tas belanja dari butik ternama. "Ini buat kamu, aku mau besok kamu pakai ini ke acara syukuran perusahaan. Aku ingin semua orang lihat kalau istriku itu cantik," ucapnya sambil mengusap kepala Karina.
Karina membuka tas itu, isinya sebuah gaun malam yang sangat terbuka di bagian bahu dan harganya mungkin setara dengan gaji satu tahun mereka di masa lalu.
"Terima kasih, Mas. Kamu perhatian sekali," jawab Karina.
Agus memeluk Karina dari belakang, mencium tengkuknya. "Aku begini karena aku sayang kamu, sayang. Aku ingin kamu terlihat setara denganku sekarang, aku tidak mau rekan-bisnisku menganggap aku sukses tapi istrinya masih terlihat seperti pembantu," ucap Agus.
Meski kalimat itu bernada perhatian, Karina merasakan ada sesuatu yang janggal. Perhatian Agus bukan lagi tentang kenyamanan Karina, melainkan tentang citra diri Agus.
## Flashback Off ##
Masih banyak pengorbanan Karina selama dua puluh tahun menikah dengan Agus, sayangnya Agus seolah lupa dengan semua pengorbanan itu bahkan dengan tega Agus menceraikan dirinya.
Karina tersentak dari lamunannya ketika suara petir yang sangat keras menggelegar, menggetarkan kaca jendela kamar kos yang kusam itu. Karina mengerjapkan mata dan menyadari bahwa pipinya sudah basah oleh air mata, kenangan masa lalu itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya berkali-kali.
Di hadapannya, di atas kasur sempit yang seprai hijaunya sudah memudar, Ella dan Aisha tidur saling berpelukan. Wajah mereka yang polos masih menyiratkan sisa-sisa kesedihan, Karina mendekat dan menyelimuti kaki mereka yang kedinginan dengan kain panjang yang ia temukan di koper.
"Maafkan Mama, dulu Mama pikir cinta bisa menaklukkan segalanya. Ternyata selama dua puluh tahun, Mama hanya sedang membesarkan seekor ular di dalam rumah kita," uca Karina.
.
Cahaya matahari pagi yang malu-malu menembus celah gorden kusam di kamar, suara klakson kendaraan dan teriakan pedagang sayur di gang bawah mulai memenuhi udara dan menggantikan sunyinya badai semalam.
Karina terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, tulang punggungnya kaku karena semalaman bersandar di dinding, namun matanya yang sembab kini menatap lurus dengan binar yang berbeda.
Tidak ada lagi air mata, yang tersisa hanyalah tekad sedingin es, ia melihat Ella dan Aisha mulai menggeliat. Kedua putrinya itu tampak kebingungan sejenak melihat langit-langit kamar yang penuh noda rembesan air, sebelum kenyataan pahit menghantam ingatan mereka.
"Pagi, Ma," bisik Ella lirih dan ia segera bangun memeluk ibunya.
"Mama tidak tidur semalaman?" tanya Ella.
"Mama tidur kok, sekarang kalian mandi dulu ya. Terus sekolah," ucap Karina.
"Kenapa harus sekolah?" tanya Aisha.
"Loh kok tanya kenapa, sekolah itu penting sayang," jawab Karina lalu mengeluarkan seragam sekolah kedua putrinya yang memang ia bawa.
Setelah memastikan Ella dan Aisha masuk ke gerbang sekolah dengan sisa-sisa semangat yang dipaksakan, Karina berdiri mematung di pinggir jalan raya yang bising. Seragam sekolah swasta elit yang dikenakan putrinya tampak sangat kontras dengan kehidupan mereka saat ini.
Karina menarik napas dalam, paru-parunya terasa sesak oleh polusi Jakarta, uang di dompetnya hanya tersisa beberapa ratus ribu dan tentu saja tidak cukup untuk kebutuhannya dan juga kebutuhan kedua putrinya.
"Aku tidak boleh tumbang, dua puluh tahun aku membangun kerajaan untuk pengkhianat itu. Sekarang, aku akan membangun benteng untuk anak-anakku," gumam Karina.
.
.
.
Bersambung.....