"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERTANGKAP BASAH
"Dan berhenti mengatakan kita orang asing, darah kita sudah lama menyatu," bisik Leo, lagi.
Aurora tersenyum kecil, dia tidak pernah menyangka ternyata pelindung yang sering Ayah nya ceritakan dari dulu, adalah sosok seperti Leo.
"Baiklah, sekarang habiskan ini, atau aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini," ucap Aurora meraih gelas berisi ramuan hijau yang masih tersisa separuh,
"Tidak bisakah kita akhiri momen manis ini tanpa harus meminum racun itu lagi?" tanya Leo mengerang frustrasi, menatap cairan kental itu dengan ngeri.
"Tidak ada negosiasi, Tuan Pelindung. Minum!" perintah Aurora dengan nada tegas, namun kali ini ada senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"Baiklah, demi masa depan, dan demi tidak duel dengan Raja Wallace," ucap Leo menghela napas panjang, menerima gelas itu dengan pasrah.
Leo terdiam sejenak, menikmati momen langka di mana Aurora menjatuhkan dinding pertahanannya, dia bisa mencium aroma mawar dan salju dari rambut gadis itu, aroma yang selalu membuatnya tenang.
"Sama-sama, Putri Galak," bisik Leo, dengan suara berat nya.
"Dan berhenti mengatakan kita orang asing, darah kita sudah lama menyatu," bisik Leo, lagi.
Aurora tersenyum kecil, dia tidak pernah menyangka ternyata pelindung yang sering Ayah nya ceritakan dari dulu, adalah sosok seperti Leo.
"Baiklah, sekarang habiskan ini, atau aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini," ucap Aurora meraih gelas berisi ramuan hijau yang masih tersisa separuh,
"Tidak bisakah kita akhiri momen manis ini tanpa harus meminum racun itu lagi?" tanya Leo mengerang frustrasi, menatap cairan kental itu dengan ngeri.
"Tidak ada negosiasi, Tuan Pelindung. Minum!" perintah Aurora dengan nada tegas, namun kali ini ada senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"Baiklah, demi masa depan, dan demi tidak duel dengan Raja Wallace," ucap Leo menghela napas panjang, menerima gelas itu dengan pasrah.
Saat Leo meminum ramuannya dengan wajah tersiksa, Aurora hanya duduk di sampingnya, menjaga pria itu dengan tatapan yang kini penuh dengan janji, bahwa mulai saat ini, dia tidak akan lagi membiarkan serigala keras kepala ini berjuang sendirian.
Aurora membersihkan sudut bibir Leo, yang ada bekas ramuan yang Leo minum.
Sentuhan jari Aurora di sudut bibirnya terasa seperti sengatan listrik statis bagi Leo.
Tangan Aurora dingin, namun entah mengapa memicu api yang menjalar cepat ke seluruh dadanya, dan aroma mawar dari tubuh Aurora kini memenuhi indra penciumannya, mengalahkan bau menyengat ramuan herbal yang baru saja ia telan.
"Nah, sudah bersih. Berhenti memasang wajah konyol seperti itu, Leo," gumam Aurora, lembut, hampir menyerupai bisikan.
Leo masih terpaku, matanya tidak bisa beralih dari iris perak Aurora yang kini berkilau terkena cahaya perapian, jarak mereka begitu dekat hingga Leo bisa merasakan hembusan napas tenang sang Putri di kulit wajahnya.
"Jantungmu..." ucap Aurora mengernyitkan dahi, tangannya yang tadi berada di bibir Leo kini turun dan tanpa sengaja menyentuh dada kiri pria itu yang tidak tertutup kain.
"Kenapa berdetak secepat ini? Apa ramuannya membuat efek samping pada jantung serigala mu?" tanya Aurora, khawatir.
Leo tertawa kecil, suara seraknya terdengar sedikit gugup, dia meraih pergelangan tangan Aurora, menahannya tepat di atas detak jantungnya yang menggila.
"Ini bukan karena ramuan, Putri," ucap Leo dengan nada rendah yang dalam.
"Tapi ini karena kamu, ternyata, berada dekat denganmu tanpa memegang pedang jauh lebih berbahaya bagi keselamatanku daripada melawan sepuluh ksatria vampir sekaligus," ucap Leo, mulai berani mengeluarkan gombalan maut nya.
Blush
Pipi Aurora mendadak merona merah, pemandangan langka yang biasanya mustahil terjadi pada seorang bangsawan vampir yang dikenal sedingin es.
Aurora mencoba menarik tangannya, namun genggaman Leo yang hangat dan mantap menahannya di sana.
"Leo, lepaskan, kamu sedang sakit," bisik Aurora, meski dia sendiri tidak benar-benar berusaha menjauh.
"Justru karena aku sakit, aku butuh obatnya tetap di sini," jawab Leo nakal, namun matanya memancarkan ketulusan.
Suasana kamar mendadak terasa begitu sunyi, menyisakan suara kayu bakar yang meletup di perapian.
Jarak di antara mereka kini hampir tidak ada, hingga Aurora bisa mencium aroma hutan dan maskulin dari tubuh Leo, sementara Leo terhipnotis oleh wangi mawar yang seolah memabukkannya lebih dari ramuan manapun.
Perlahan, Aurora memberanikan diri, dia mengangkat tangan dingin nya, mengelus rahang tegas Leo dengan lembut, menghapus sisa-sisa debu pertempuran yang masih tertinggal di sana.
"Jika kamu mati tadi, aku tidak akan pernah memaafkan mu, Leo Alistair," gumam Aurora, matanya menatap bibir Leo yang kini melengkung membentuk senyum tipis.
"Kalau begitu, aku berjanji untuk tetap hidup," jawab Leo, sedikit mengangkat kepalanya, memperkecil jarak yang tersisa.
"Agar kamu punya alasan untuk terus memarahiku selama seribu tahun ke depan," lanjut Leo, tersenyum kecil.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, sebuah suara deheman keras terdengar dari arah pintu yang sedikit terbuka.
"Ehem! Sepertinya ramuannya bekerja sangat baik ya, sampai-sampai pasiennya sudah bisa melakukan olahraga jantung?"
Sontak, Aurora menarik diri dengan gerakan secepat kilat, wajahnya memerah padam hingga ke telinga, dia segera berdiri dan pura-pura sibuk merapikan botol obat di meja, sementara Leo langsung terjatuh kembali ke bantalnya dengan erangan kesakitan yang dipaksakan.
"Aduh! Punggungku! Aduh, sakit sekali!" seru Leo dramatis, menutupi rasa malunya.
Di ambang pintu, tampak Raja Arion berdiri dengan tangan bersedekap dan sebelah alis terangkat, didampingi Ratu Serena yang sedang berusaha keras menahan tawa di balik telapak tangannya.
"Ayah! A-aku hanya sedang memeriksa detak jantungnya! Ya, memeriksa apakah ada racun yang tersisa!" kilah Aurora dengan nada bicara yang terlalu cepat.
Arion berjalan masuk dengan langkah tenang, matanya melirik Leo yang kini memejamkan mata rapat-rapat, pura-pura pingsan.
"Memeriksa detak jantung dengan jarak sedekat itu? Teknik medis dari Kerajaan Wallace memang sangat unik ya, Putriku?" goda Arion sambil menepuk bahu Aurora pelan.
"Sudahlah, Arion, biarkan mereka, seperti kamu tidak pernah muda saja, yang penting Serigala Kecil ini sudah kembali bersemangat," ucap Ratu Serena mendekat dan mengelus rambut Aurora.
"Leo, bangunlah, jangan pura-pura mati, aku membawa perban baru yang tidak akan membuatmu mengerang seperti bayi lagi," goda Ratu Serena, melihat Leo yang memejamkan mata nya.
Leo membuka satu matanya, menatap Serena dengan memelas.
"Ratu, tolong katakan pada Raja Arion untuk tidak menghukum ku, aku ini sedang sakit," rengek Leo, mirip yang sering dia lakukan pada ibunya.
"Hukuman?" ulang Raja Arion tertawa kecil, aura tegasnya melembut.
"Aku tidak akan menghukum pria yang baru saja membuktikan bahwa jantung hatinya adalah hal yang paling berharga baginya. Tapi Leo..." ucap Raja Arion membungkuk sedikit ke arah telinga Leo.