NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. The Silent Truth and a Forced Kiss

Suara hujan yang menghantam atap seng pondok menjadi satu-satunya melodi di antara mereka. Di lantai kayu yang dingin, Julian berlutut. Tangannya yang biasa memegang mikrofon di depan jutaan orang, kini gemetar memunguti butiran manik-manik merah yang tadi ia putuskan dengan kasar.

"Berhenti menangis, Al... kumohon," bisik Julian. Suaranya pecah. Dengan kikuk, ia mencoba menyambung kembali tali merah itu. Ia benci benda ini—benda yang menandakan keberadaan Sean—tapi ia lebih benci melihat air mata Alice. "Aku akan memperbaikinya. Aku akan mengembalikannya padamu, asal kau berhenti menangis."

Alice menghapus air matanya, menatap Julian dengan tatapan kosong. "Kenapa kau begini, Julian? Kenapa kau begitu marah melihatku dengan Sean?"

Julian berhenti bergerak. Rahangnya mengeras. "Karena kau tidak pantas dibohongi pria seperti dia. Aku kesal, Alice! Aku tidak tahan melihatmu tersenyum padanya sementara aku harus melihatmu dari balik layar ponsel seperti orang asing."

"Kau punya Ellena, Julian," balas Alice pelan. "Dunia mendukungmu. Aku bahkan... aku selalu mendukungmu. Aku mendengarkan setiap lagumu selama empat tahun ini. Aku senang kau sukses. Aku bahkan setuju kau dengan Ellena, kalian sangat serasi."

Julian mendongak, matanya berkilat marah. "Kau setuju? Kau benar-benar ingin aku dengannya?"

"Tentu saja," Alice mengangguk, mencoba denial dari perasaannya sendiri. "Bahkan soal lagu barumu... kau tidak perlu terlalu posesif, Julian. Kasihan Ellena, dia punya karier. Kalau dia ingin kolaborasi dengan penyanyi pria, itu hanya profesionalisme. Kau harus lebih dewasa, jangan mengekangnya."

"Kau pikir lagu itu untuknya?" Julian berdiri, tawanya terdengar getir dan tajam. "Kau benar-benar tidak mengerti, atau kau pura-pura bodoh, Alice?"

"Apa maksudmu? Seluruh dunia tahu itu untuk Ellena!"

"Dunia tidak tahu apa-apa!" bentak Julian. Ia melangkah maju, memerangkap tubuh Alice di antara dirinya dan dinding kayu pondok. Napasnya memburu, frustasi karena Alice terus-menerus mendorongnya ke arah wanita lain. "Kau bicara soal karier Ellena, soal perasaanku padanya... tapi kau tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku padamu!"

"Julian, lepaskan—"

Julian tidak bisa menahan ledakan di dadanya lagi. Tanpa peringatan, ia menunduk dan mencium bibir Alice dengan paksa. Ciuman itu kasar, penuh dengan rasa frustasi, cemburu, dan kerinduan yang sudah ia pendam selama empat tahun.

Alice terbelalak. Ia memberontak, memukul dada Julian dan mencoba memalingkan wajahnya. "Mmmph! Julian, hentikan!"

Namun Julian tidak berhenti. Ia justru memperdalam ciumannya, tangannya menangkup wajah Alice dengan protektif. Perlahan, perlawanan Alice melemah. Rasa familiar dari sentuhan Julian—pria yang selama ini ia puja dalam diam—mulai merayap masuk. Alice memejamkan matanya, tangannya yang tadinya memukul kini perlahan meremas jaket kulit Julian. Ia diam, membiarkan dirinya tenggelam dalam ciuman yang seharusnya tidak terjadi itu.

Saat Julian melepaskan tautan mereka, keduanya terengah-engah. Keheningan yang sangat canggung menyelimuti ruangan. Julian menatap bibir Alice yang sedikit membengkak, ingin mengatakan 'aku mencintaimu', tapi lidahnya kelu. Ia masih terikat kontrak dan drama dengan Ellena. Ia tidak mau menjanjikan surga saat dirinya masih berada di neraka.

"Ayo pulang," ujar Julian singkat, suaranya kembali dingin untuk menutupi kecanggungannya. "Aku akan mengantarmu."

Perjalanan pulang diisi dengan keheningan. Julian memacu mobilnya menuju rumah keluarga Alice di pinggiran kota, jauh dari kebisingan Manhattan. Sementara itu, Sean dan Katty di resort sedang kalap menelepon polisi dan mencari ke sana kemari tanpa hasil.

Saat mobil Julian berhenti di depan sebuah rumah bergaya American Classic yang asri dengan lampu kuning yang hangat, seorang pria dan wanita paruh baya langsung keluar dari pintu depan.

"Alice! Ya Tuhan, kau dari mana saja? Ponselmu tidak bisa dihubungi!" teriak Ibu Alice sambil memeluk putrinya yang baru turun dari mobil.

Ayah Alice menatap pria yang keluar dari kursi kemudi. "Julian? Kau yang bersamanya?"

"Maaf, Om. Tadi ada sedikit masalah di jalan, dan Alice butuh ketenangan," Julian menjawab dengan sopan, sangat berbeda dengan sosok liar yang menculik Alice beberapa jam lalu.

Keluarga Alice menyambut mereka dengan sangat hangat. Di dalam rumah, aroma kue kayu manis dan teh hangat menyerbak. Ibu Alice segera menyelimuti bahu Alice dan Julian dengan kain hangat. Ayah Alice menepuk bahu Julian, mengajaknya duduk di dekat perapian.

Julian tertegun. Ia melihat bagaimana ayah Alice merangkul istrinya, bagaimana mereka menatap Alice dengan cinta yang tulus tanpa menuntut apa pun. Tidak ada kamera, tidak ada kontrak, tidak ada drama persaingan. Hanya sebuah "Keluarga Cemara" yang selama ini hanya bisa Julian lihat di film-film.

Di tengah kehangatan itu, Julian merasakan sesak di dadanya. Ia ingin menjadi bagian dari ketenangan ini. Ia ingin memiliki Alice, bukan sebagai Muse dalam lagunya, tapi sebagai bagian dari hidup yang normal seperti ini.

Namun, saat ia melirik ponselnya yang bergetar—menampilkan sepuluh panggilan tak terjawab dari Ellena dan manajernya—Julian tersadar. Ia belum bebas. Ia masih seorang Julian Reed yang terjebak dalam rantai emas industrinya sendiri.

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!