Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam ini, Seyra sedang bersiap pergi ke rumah Agha. Namun, baru saja dia membuka pintu ayahnya sudah berdiri di depannya. Seyra menaikan satu alisnya ke atas, seakan bertanya 'Apa' pada ayahnya.
"Di bawah ada pacar kamu, dia baru aja datang." Ujar Lewin, suaranya sedikit serak.
Seyra mengangguk dia sudah menduga kalau Arthur akan muncul. Namun, Seyra merasa aneh sebab ayahnya tak kunjung pergi dari hadapannya.
"Kenapa lagi, Pa?" tanya Seyra heran.
Pupil mata Lewin bergetar penuh keraguan, pria itu berkali-kali menarik dan membuang napas dengan kasar.
"Ada yang ingin Papa kasih tau sama kamu."
"Ya, katakan saja, Pa." Jawab Seyra santai.
Lewin mengangguk, "Sebenarnya... Papa mau mengajak wanita itu tinggal bersama kita di rumah ini. Bagaimana menurutmu?"
"Terserah, kalo itu keputusan Papa aku nggak masalah." Jawab Seyra cepat, dia tak ingin terlibat lebih jauh dengan masalah orang tua barunya.
Senyum merekah di bibir Lewin, dia memeluk Seyra erat. "Makasih sayang, dia wanita yang baik. Dia pasti bakal menyukai kamu."
Seyra membalas pelukan ayahnya, dia menepuk pelan punggung Lewin lalu menjawab secara rasional.
"Ya, jika dia nggak suka aku juga nggak masalah. Semua orang punya pendapat masing-masing, aku nggak bisa maksa seseorang untuk suka sama aku, Pa."
"Apa maksud kamu? dia pasti bisa sayang sama kamu seperti anaknya sendiri, Seyra." Ucap Lewin seraya melepas pelukannya dan menangkup wajah putrinya.
Seyra terkekeh, dia tak membutuhkan hal seperti itu. Sejujurnya dia tak peduli mau ada atau tidak orang tua dalam hidupnya, selagi dia bisa mengurus dirinya sendiri dia tetap akan bertahan hidup bagaimana pun caranya.
"Papa yakin? mama aja yang ibu kandung aku benci sama aku, apa lagi orang asing." Seyra melepas tangan ayahnya dari pipinya, "Aku turun dulu, Pa."
Raut wajah Lewin berubah sendu, ternyata ada luka tak kasat mata yang sudah mengakar di dalam hati putri kecilnya. "Maafin Papa, Sey." Gumam Lewin merasa bersalah.
Seyra bergegas menuruni tangga tanpa menunggu jawaban ayahnya, begitu sampai di ruang tamu. Dia melihat Arthur sedang duduk sambil bermain ponsel.
"Kenapa lo datang ke sini? bukannya lo pergi sama teman lo?" cetus Seyra menghampiri Arthur.
Begitu wajah pemuda itu mendongak, Seyra tercengang melihat lebam di wajah dan juga lengan pemuda itu.
Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, Arthur langsung menarik pergelangan gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan. Arthur menyandarkan kepalanya di ceruk leher Seyra, hembusan napas hangat menerpa leher jenjang gadis itu yang terekspos.
"Gue sakit, Sey." Lirih Arthur lemah.
Seyra menghela napas, dia berusaha mendorong Arthur menjauh. Akan tetapi, pemuda itu justru mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu.
"Kalo sakit ngapain ke sini? sana ke rumah sakit."
"Obati," rengek pemuda itu.
Seyra bergumam kesal, dia menatap Arthur tajam. Jika saja hati nuraninya tidak bekerja, pasti sekarang Seyra sudah membanting tubuh Arthur ke lantai. Dan membuat tulang punggung pemuda itu patah.
"Ck, ngerepotin lo jadi orang." Sinis Seyra.
Arthur terkekeh dan semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kekasih, menghirup aroma gadis itu dengan rakus.
Dia berniat pergi namun Arthur tak kunjung melepaskannya, "Minggir, gue mau ambil P3K, Ar."
Dengan terpaksa Arthur membiarkan Seyra pergi menuju lemari dan mengambil kotak obat, dia menyodorkan kotak itu pada Arthur.
"Nih, obatin sendiri." Ujarnya malas.
Arthur mendongak, "Tangan gue luka, gue nggak bisa gerak."
"Lo sengaja, kan. Mau jadiin gue ba-"
Arthur berdiri dari duduknya lalu membekap mulut Seyra dengan tangan kanannya, "Bawel."
Seyra menepis tangan Arthur yang membekap mulutnya dengan kasar, "Gue hajar lo!"
"Gue cium lo," balas Arthur tersenyum. Pemuda itu menarik pinggang Seyra agar kembali duduk di sampingnya.
Arthur menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, dia menatap Seyra yang kini wajahnya tengah memerah. "Lo salting, Sey?"
"Eng-enggak, kok. Siapa juga yang salting." Jawab Seyra berusaha menetralisir degup jantungnya yang mendadak tak menentu.
Arthur terkekeh, dia menyodorkan tangannya yang terluka. "Obati, Sayang."
Dengan raut jengkel yang tak kunjung hilang, Seyra membuka kotak obat dan mulai mengoleskan anti septik pada luka pemuda itu.
"Kenapa lo bisa luka begini?" tanya Seyra ketika menempelkan plester di luka tersebut.
"Jatuh."
Tatapannya masih tertuju pada wajah Seyra, gadis berambut hitam pekat yang sangat jarang dia temui di sekolahnya membuat gadis itu tampak menonjol tanpa melakukan riasan apa pun pada wajahnya.
Seyra mendongak, dia berniat mengobati sudut bibir Arthur yang robek. Namun, netranya bertemu langsung dengan netra Arthur yang berwarna gelap, seperti malam tanpa bulan.
Perlahan Seyra mendekatkan wajahnya, membuat Arthur menahan napas secara tiba-tiba. Semakin wajah Seyra mendekat, jantung Arthur kian berdegup kencang. Saat jarak mereka tinggal satu jengkal, Arthur menutup mata detik itu juga tawa Seyra pecah.
"Haha, lo pikir gue mau nyium lo, Ar?" ledek Seyra, seraya menempelkan plester di sudut bibir Arthur.
Arthur membuka matanya perlahan. Tatapannya berubah bukan lagi malu atau canggung, melainkan tajam dan penuh perhitungan.
"Seyra…" suaranya rendah.
Seyra masih tersenyum puas. "Geer banget sih lo."
Belum sempat dia menjauh, tangan Arthur bergerak cepat menarik pergelangannya. Tubuh Seyra kehilangan keseimbangan dan kembali jatuh tepat di atas pangkuan pemuda itu.
"Ar! Lepasin—"
Arthur tidak memberi kesempatan. Satu tangannya menahan pinggang Seyra agar tidak kabur, sementara tangan lainnya mengangkat dagu gadis itu perlahan.
"Lo yang mulai," bisiknya.
Seyra hendak membalas dengan kalimat pedas seperti biasa. Namun kalimat itu tertelan saat Arthur menunduk dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Seyra.
Kali ini bukan sekadar ancaman. Ciuman itu nyata. Seyra membelalak. Tangannya refleks mencengkeram bahu Arthur, berniat mendorong. Namun tubuhnya justru terasa membeku. Napasnya tercekat ketika Arthur memperdalam ciuman itu, membuat pikirannya kosong seketika.
Detik-detik terasa melambat. Hanya ada suara napas mereka yang saling bertabrakan.
Arthur tidak terburu-buru. Dia menahan Seyra tetap dekat, seolah ingin memastikan gadis itu berhenti mengejeknya. Sampai akhirnya, perlahan, tubuh Seyra benar-benar terdiam tak berkutik.
Beberapa saat kemudian Arthur menjauh sedikit, masih cukup dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Napasnya hangat menyapu wajah Seyra.
"Sekarang…" gumamnya pelan, "siapa yang geer?"
Wajah Seyra memerah drastis seperti kepiting rebus. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dia butuh beberapa detik sebelum akhirnya menemukan kembali kesadarannya.
Dengan sisa harga diri yang masih ada, dia mendorong dada Arthur. "Sialan, lo curang."
Arthur mengangkat kedua bahunya acuh. "Siapa suruh pake mancing-mancing segala."
"Lo nyebelin tahu!"
"Tap lo suka, kan?" kata Arthur menaik turunkan kedua alisnya, yang membuat wajah Seyra semakin memerah.