Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad
Sesak. Pengap.
Rasanya ingin mati saja. Sehingga tidak bisa merasakan kesakitan yang luar biasa. Luka hati yang teramat perih. Nara mengusap air matanya yang masih saja merembes.
Dewa dan Gita duduk bersebelahan. Lelaki yang dicintainya itu merangkul serta menenangkan si sepupu.
Siapa sebenarnya yang disakiti? Siapa yang sebenarnya salah? Nara ingin sekali menjambak Gita. Juga memukul Dewa.
"Tenang, Nara." bisik Rahmat, mengusap punggung putrinya yang terlihat syok.
Keluarga besar itu duduk di bawah, di atas karpet. Yuni dan Mansyur tampak malu atas insiden mesum tersebut.
Hanya Risna yang tidak mau duduk untuk membicarakan masalah yang pelik. Risna mengurung diri di kamarnya.
"Rencana pernikahan Dewa dan Nara aku batalkan. Silakan Nak Dewa nikahi Gita. Mas Mansyur, hubungan keluarga kita kemungkinan tidak akan seperti semula." Rahmat menghela napas berat, lalu melanjutkan, "Aku ikhlas calon mantuku menjadi menantumu. Segera nikahkan, sepertinya mereka kebelet kawin."
Tidak ada yang menanggapi.
"Sebagai lelaki, kamu seperti banci, Dewa. Jika tidak menginginkan Nara sebagai calon istri, bilang baik-baik. Dan, kamu Gita, kelakuanmu sangat murahan," cibir Rahman.
"Anakku bukan wanita murahan." pekik Yuni.
"Baiklah, lebih tepatnya rongsokan. Sampah! Jangan membantah dan membela sesuatu yang salah, Yun!". Rahmat melotot tajam.
"Ayo pulang, Nara. Jangan menangisi lelaki banci." Rahmat menarik lengan Nara. Wajah Rahman memendam amarah. Tetapi dia bisa berkepala dingin.
"Karena kamu tepos, kamu juga nggak punya pekerjaan tetap. Mas Dewa mengatakan hal itu." ucap Gita, tidak tahu malu.
Nara menoleh ke belakang. Mengibaskan tangan Rahmat.
"Nara, tenang!" Rahmat memegangi perut putrinya yang bagai kuda liar. Hendak menyerang Dewa dan Gita.
Dewa terlihat belingsatan. Agak kebingungan mencari pembelaan.
"Selamat ya, kamu bisa mendapatkan Mas Dewa." Nara makin tersedu, pasrah saja waktu Rahmat membimbingnya keluar dari rumah Mansyur.
Di luar, banyak orang yang ingin tahu. Kebanyakan ibu-ibu yang rewang. Rahmat merangkul bahu Nara saat melewati kerumunan.
Nara masuk kamar, menuntaskan air mata di peraduan. Tangisnya terdengar memilukan. Rahmat menutup pintu kamar, membiarkan Nara untuk sementara sendirian.
"Pak Rahmat, apa besok tetap lanjut masak? Maaf, aku dengar kalau....."
"Tetap lanjut masak, Bu Rere. Pernikahan besok pagi tetap diselenggarakan." sela Rahmat.
Bu Rere hanya mengangguk kebingungan. Bertanya-tanya dalam hati, siapa calon mempelai pengganti?
Rahmat masuk ke kamarnya sendiri, melihat Risna berbaring miring.
"Bu, Nara tetap menikah ...."
Risna berbalik, kedua matanya memerah karena sempat menangis cukup lama.
"Pak, dengan siapa? Lelaki mana yang mau? Apakah Nara juga mau dan setuju?"
"Nara pasti mau." sahut Rahman, mengambil jaket di balik pintu.
"Aku pergi dulu. Jagain Nara, Bu."
"Sudah larut malam, Pak." cegah Risna.
Rahmat mengendarai motor Revo nya. Menembus pekat malam.
Di rumah sebelah, Mansyur menuntut Dewa segera menikahi Gita. Karena Gita blak-blakan telah berhubungan layaknya suami istri sah. Melakukannya sebanyak tiga kali.
Awal mulanya, dua bulan yang lalu Dewa tanpa sengaja bertemu Gita di warung makan. Waktu itu hujan deras, keduanya ngobrol lama. Hingga setan membujuk mereka mampir ke hotel.
Dewa tidak ingin melanjutkan perselingkuhan itu, namun selalu luluh setiap kali bertemu Gita. Kalau bisa, Dewa ingin memiliki Nara dan Gita.
"Aku telat seminggu. Belum periksa sih. Tapi aku yakin, aku hamil...." Gita tersenyum lebar. Tidak ada rasa bersalah di ekspresi wajahnya.
"Gimana ini? Jadi bahan omongan tetangga." Mansyur mengembuskan napas berat. Reputasi keluarganya menjadi taruhan.
"Harus dihadapi, Pakde. Maksudku Pak Mansyur. Aku akan menikahi Gita." Dewa menggenggam tangan Gita. Sudah terlanjur, sekalian basah. Tentu prosesnya tidak akan mudah karena Gita hamil.
"Kamu nanti dipecat, Dewa." Yuni hanya bisa pasrah. Mau marah, tidak ada gunanya. Setidaknya Dewa lebih baik ketimbang Rama yang tidak punya pekerjaan tetap.
"Kemungkinan tidak, Bu. Karena aku mau bertanggung jawab." tukas Dewa.
******************
"Kamu tetap menikah esok hari Nara." kata Risna, duduk di sebelah Nara yang sedang menyobek foto-foto bersama Dewa.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Cinta pertama. Pacar pertama. Juga patah hati pertama. Rasanya sangat menyakitkan.
"Nara, bapakmu bersikukuh kamu tetap menikah. Apa kamu setuju?" tanya Risna.
"Buk, bagaimana mungkin aku menikah? Aku nggak bisa, Buk...." Nara mulai menangis lagi.
"Lagi pula lelaki mana yang mau nikah sama aku?"
"Bapakmu bilang, sedang mengaturnya ....." gumam Risna.
"Udah, jangan nangis lagi. Dewa nggak pantes ditangisi, Nara."
"Sakit banget, Buk." Nara mengusap air mata di pipi. Lalu memeluk kedua kakinya sendiri.
Risna merangkul putrinya. Dia juga merasakan sakit hati. Melihat sosok Dewa yang baik hati selama ini. Lelaki berusia dua puluh empat tahun itu sudah dianggap anak sendiri.
"Ibu buatkan teh, mau? Mungkin bisa sedikit meredakan luka." Risna merapikan rambut Nara yang panjang dn kusut.
Yara mengangguk. Sebenarnya tidak ada yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Hanya berharap waktu cepat berlalu.
Risna keluar kamar, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Perselingkuhan Dewa dan Gita sudah menyebar luas sebelum matahari terbit. Kondisi rumah sepi, ibu-ibu yang rewang akan datang subuh-subuh.
Teh hangat itu hanya mampu menghangatkan tenggorokan Nara. Bukan hati yang terkoyak.
Saking sakit hati, Nara tidak bisa tidur nyenyak. Beberapa kali terbangun. Kedua mata Nara mengamati jam dinding. Pukul tiga dini hari. Di sebelahnya, ibunya tidur tampak pulas. Berselimut kain tipis. Nara mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Kemudian suara pintu terbuka.
"Nara...." Rahmat membuka pintu kamar.
"Kamu akan menikah dengan lelaki pilihan bapak." katanya.
Nara termangu, melihat kedua mata bapaknya yang merah. Tampak kelelahan berbaur dengan kesedihan dan kemarahan.
"Bapak ...." Nara tidak mampu meneruskan ucapannya. Ingin menolak tetapi tidak tega.
"Dia lelaki yang baik, yang akan menjadi suami bertanggung jawab. Bapak yakin mengenai itu." Suara Rahmat terdengar sengau karena menahan sesak di dada. Alasan klasik, Rahmat tidak ingin membatalkan rencana pernikahan putri sulungnya. Walaupun harus mengganti mempelai laki-laki.
Risna terbangun. Melihat suaminya tersenyum tipis dan mengangguk sebagai kode. Rahmat kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri. Istirahat sejenak.
"Ibu siapkan air hangat dulu buat kamu mandi." Risna turun dari pembaringan. Berjalan keluar kamar sembari menggelung rambutnya.
Nara menghela napas panjang. Entah siapa lelaki pilihan bapaknya, Nara tidak peduli.
Empat jam kemudian, Nara sudah selesai make up. Memakai kebaya klasik hitam, sanggul besar dengan hiasan melati dan cunduk mentul. Terlihat sangat cantik dan manglingi.
Nara berusaha tetap kuat dan tidak menangis.
Rumah Mansyur tertutup rapat. Entah kemana keluarga itu pergi. Desas desus kehamilan Gita terdengar dari ibu-ibu yang rewang. Membuat Nara makin terpuruk.
"Nara, senyum dikit." Risna memberikan contoh dengan mengulas senyum.
"Ibuk, nggak bisa." Nara yang duduk di kursi menggeleng.
"Siapa calon suamiku, Buk?"
"Nanti juga kamu tahu." sahut risna.
Calon mempelai pengganti sedang memakai pakaian adat di kamar sebelah. Nara belum tahu, karena sibuk di make up oleh perias.
Akad nikah akhirnya tiba. Nara dibimbing ibunya dan perias ke meja akad.
Nara melihat lelaki bertubuh tinggi duduk bersama sang ayah, penghulu, dan saksi. Makin dekat, makin dekat......
Lelaki itu menoleh ke belakang, tersenyum pada Nara. Langkah Nara terhenti sebentar karena terkejut melihat Rama.
Ya, itu, Rama. Nara mengenalinya walaupun rahang Rama sudah bersih dari bulu-bulu halus. Tidak ada kumis. Tidak ada rambut acak-acakan.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬