Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih saja
Theo yang langsung berlari keruang kesehatan di temani beberapa penjaga sekolah dan orang yang akan menangani Anisa. Miss Priscilla memberikan air pada pengawal Theo.
"Nona akan baik-baik saja Tuan pengawal, saya akan meninggalkan anda, saya harus kedepan."
Theo mengangguk saja tanpa menjawab apapun.
Acara kemah yang asik makan jagung sambil bercerita harus berhenti sebentar lalu lanjut setelah Miss Priscilla membuatnya sedikit tenang.
James datang sendirian dan melihat Theo menunggu Anisa di luar. Masuk James kedalam melihat keadaan Anisa secara langsung dan benar saja leher putih Anisa ada bekas cekikan merah berbentuk jari tangan, Tresan.
"Sialan aku bunuh sekarang!"
"Ayah... Uhukk uhukk, ehem. " Tiba-tiba membuka mata dan mengangkat tangannya.
"Anisa.. " Meraihnya dan mendekat dengan wajah sedihnya, James tak bisa bayangkan bagaimana bisa ada orang berani dan sukarela memberikan nyawanya pada James.
"Aku masih hidupkan?" Ekspresinya sedikit sedih.
"Iya. " Melirik lain arah, gemas juga melihatnya, tidak jadi terlalu sedih rasanya.
"Oh aku kira udah di surga tapi, kenapa masih ada ayah. "
Tersedak sediri dan benar saja dadanya seperti tertusuk sesuatu, apa maksudnya ia tidak berharap bertemu James di akhirat sekalipun, benar-benar Anisa.
"Kau bicara aneh, kau sudah tidak apa-apa?"
Menjauh duduk di dekat Anisa dengan kursi yang di seret mendekat ke tempat Anisa berbaring.
"Aku anak ayah."
Mengangguk saja mendengar Anisa menyombongkan dirinya sebagai anak ayah.
Melihat Anisa bernafas dengan bantuan oksigen ini rasanya ada sesuatu yang perih dan pedih pada James.
Anisa sampai susah bernafas dan perawat memberikan oksigen seperti ini.
Anak sekecil ini benar-benar syok dan sulit melawan karena ia tahu kalo ia menggunakan kekuatannya itu juga akan membuat keluarga Oceanus dalam masalah, padahal kalo Anisa menggunakannya untuk membela diripun James tetap akan membelanya.
"Ayah apakan orang tadi sudah mendapatkan hadiah?"
Alat bantu nafas oksigen sudah terlepas begitu saja.
Tresan di seret pulang oleh Rudolf dan dua penjaga sekolahan. Mereka membawanya ketempat yang seharusnya Tresan datangi.
James mengusap kepala Anisa.
Serasa akan menghancurkan segalanya kalo benar-benar tidak terselamatkan, Anisa adalah putri James Arthur apapun yang terjadi dan siapapun bilang Anisa bukan darah dagingnya, maka James harus mematahkan leher orang itu.
Melihat ekspresi ayahnya kesal tiba-tiba, Anisa memegang tangan ayahnya yang terus mengusap kepalanya sampai berantakan rambutnya.
"Stop, ayah!"
"Mau pulang atau mau melanjutkan kegiatannya?"
Anisa bangun.
Duduk melepaskan alat bantu nafas oksigen nya yang menggantung di lehernya, berbalik kesamping berniat turun.
"Hanya di cekik dan aku tidak mati, aku mau melanjutkan kegiatannya."
Hah!
James bangkit dari kursinya.
"Baiklah kalo itu pilihanmu."
Ada perasaan aneh. Melirik Ayahnya yang langsung setuju Anisa merasa ini alasan penolakan yang di bungkus seolah izin yang gampang di dapatkannya setelah kejadian buruk menimpa nya.
"Hei ayah jangan ajak aku pulang ya, tidak! Pokoknya aku Tidak mau pulang aku sudah bilang mau lanjutkan kegiatannya, ayah terlalu posesif sekali ya, tidak boleh ayah, astaga!"
Cerewet sekali.
Kuping perawat yang dengar sampai terkejut karena ocehan yang bersemangat dan benar-benar mengejutkannya.
James menjauhkan dirinya.
"Iyaa kau tahu."
Membantunya turun dari ranjang pasien.
"Ayah itu memang tidak peka tapi, jangan posesif aku tahu ayah bisa melakukan segalanya tapi, jangan bawa aku pulang sekarang, ayo aku mau di antar ayah kedepan."
Mengangguk saja James tak banyak bicara.
Di gendongnya tiba-tiba tidak di biarkan Anisa berjalan kaki.
"Menurut dan jadi anak yang tenang, kau barusan hampir mati."
Terdiam Anisa mendengar ucapan ayahnya yang sepertinya tenang dan marah dari nada bicaranya.
"Ayah, kalo aku mati apa yah akan menangis?"
"Aku akan mengadakan pesta."
Kaget!
Menjauhkan dirinya dengan kedua tangan menekan bahu ayahnya.
James tak berhenti berjalan.
"Kurang ajar sekali ayah ya, aku sudah jadi anak baik cantik dan menghabiskan uang ayah malah ayah tega bilang begitu. Anisa sedih rasanya.."
James kembali muak.
Anak ini jelas tidak takut apapun dan tidak menangis kencang walaupun ia hampir mati didepan matanya, James saja hampir henti jantung melihat Tresan yang berani mencekik putrinya.
Tiba-tiba Anisa merasakan kalo ayahnya hampir membuat satu sekolahan tertekan dengan kekuatannya.
Di ciumnya pipi James tiba-tiba dan di tepuknya pipi James.
"Jangan marah yaa, ayah aku akan menjaga diriku dengan baik."
Mengangguk dengan suara dehemannya.
"Kenapa kau tidak mematahkan lehernya balik."
"Ayah tidak baik bicara seperti itu, aku masih kecil."
Theo memperhatikan keduanya dari belakang yang kedengarannya ada perubahan sedikit ketika Nonanya lebih banyak bergaul dengan anak seusianya.
"Atau harusnya kau membuatnya gila dengan kekuatan mu."
Berdecak menggeleng.
"Ayah aku tidak suka kekerasan disekolah."
"Oh ya.. Aku hampir pingsan mendengarnya."
*****
James menurunkannya, meminta Mina salah satu pelayan yang ia bawa untuk menggantikan pakaian Anisa, setelah memakaikan pakaian panjang dengan kerah tinggi juga membantu rambutnya diikat dengan simpel Mina mengantar Anisa ke James lagi.
"Kau memang anak cantik dan pintar bahkan suka sekali menghabiskan uangku, jadi kalo kau tiada aku adakan pesta besar-besaran. "
Menendang kaki James kesal tak bisa di tahan.
"Ayah itu benar-benar jahat jadi orang tua ya, untung aku yang jadi anak ayah jadi aku bisa melawan ayah. "
James berlutut dan mencium pipi Anisa.
"Aku benar-benar menyayangimu, Anisa. "
Diam malu pipi nya memerah bahkan matanya berkaca-kaca. Segera di usap sebelum banyak yang lihat.
"Aku juga. "
Leo yang dari kejauhan melihatnya dan sedikit membalik wajahnya lagi tapi, masih bisa memperhatikan Anisa yang masih bersama ayahnya.
Leo sebenarnya yang melihat Anisa ada di toilet belakang yang barusan di buat sebagai tambahan dari toilet lama dan kebetulan Leo di minta tolong mengambil alas tidur ditenda untuk kelompok laki-laki nya.
Mendengar suara orang bicara Anisa dan Tresan ayah dari Maya Serpens.
Segera Leo menyampaikannya pada James yang sulit ia cari akhirnya ketemu di parkiran.
"Tuan, Hufh... Nona Anisa dengan Tuan Tresan di toilet belakang yang baru di bangun keliatannya mereka bertengkar."
James langsung berlari mengarah ke toilet belakang. Theo langsung memanggil penjaga tempat belajar, Miss Priscilla juga langsung bergegas, sedikit kerusuhan tapi, bisa di tangan miss dan Sir yang mengajar disana menggantikan Miss Priscilla.
James melihat Leo baru saja menatap kearahnya.
"Anisa.."
Menoleh melihat James saat berjalan dengan di gendong menuju tempat berkumpul.
"Jika bukan karena Leo, teman laki-laki mu kamu mungkin tak akan sesehat ini, bilang terimakasih padanya dan hadiah apa yang akan kamu berikan padanya..."
James menahan perasaan untuk mengatakan ini tapi, Leo benar-benar membantunya.
"Nanti saja Ayah, aku juga hanya akan mengatakan terimakasih karena laki-laki seperti dia nanti percaya dirinya tinggi kalo di berikan hadiah."
Menyindir langsung ketika melewati Leo di belakangnya.
Leo menatap dengan mata sipitnya.
Anis memberikan ancaman dua jari isyarat dua mataku padamu dengan gerakan dua jarinya dari matanya kearah kedua mata Leo.
Leo tersenyum miring.
Membalas isyarat Anisa payah dengan ibu jari jatuh ke bawah setelah diangkat keatas.