Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Kejaran di Ujung Takdir
Malam itu turun dengan perlahan, membawa udara dingin yang menyusup ke sela-sela jendela rumah Arga. Alya duduk di ruang tengah, menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Kata-kata Arga siang tadi masih terngiang di kepalanya.
"Saat aku nanti tidak ada di rumah kamu jangan kemana-mana ya..."
Alya menghela napas panjang. Hatinya diliputi kegelisahan, seolah ada firasat buruk yang tak bisa ia jelaskan. Tangannya menggenggam ponsel, berharap Arga segera pulang.
Sementara itu, di luar, langkah kaki Rayhan bergerak cepat di antara bayangan malam. Wajahnya tertutup penutup kepala, jaket gelap menyamarkan sosoknya dari sorotan lampu jalan. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.
“Sudah waktunya,” gumamnya pelan.
Ia berhenti tak jauh dari rumah Arga. Dari balik pagar, Rayhan mengamati sekeliling. Sunyi. Terlalu sunyi. Ia memastikan tak ada orang yang memperhatikan. Dengan cekatan, ia melompati pagar dan bergerak menuju pintu belakang.
Alya yang tengah duduk tiba-tiba merasa merinding. Suara gesekan kecil terdengar dari arah dapur. Jantungnya berdegup kencang.
“Siapa di sana?” tanyanya ragu.
Tak ada jawaban.
Alya berdiri perlahan, melangkah mendekati dapur. Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu. Baru saja ia hendak membukanya, sebuah tangan kuat menariknya dari belakang.
“Jangan teriak,” bisik Rayhan dingin.
Alya terkejut, tubuhnya kaku. Mulutnya dibekap, membuatnya sulit bernapas.
“Rayhan...?” lirih Alya, nyaris tak terdengar.
Rayhan menyeringai. “Akhirnya aku menemukanmu.”
Alya meronta, mencoba melepaskan diri, namun tenaga Rayhan terlalu kuat. Dengan cepat, Rayhan menyeretnya keluar melalui pintu belakang. Malam menjadi saksi bisu saat Alya dipaksa masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan.
Mobil itu melaju kencang, meninggalkan rumah Arga dalam keheningan.
Tak lama kemudian, Arga pulang.
Ia membuka pintu dengan perasaan yang aneh. Rumah terasa berbeda. Sunyi, terlalu sunyi.
“Al...” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Arga melangkah masuk, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia menuju ruang tengah, lalu dapur. Sebuah gelas terjatuh di lantai, pecahannya berserakan.
Arga membeku.
“Tidak...” desahnya.
Ia segera mengeluarkan ponsel, menelepon Alya berkali-kali. Tak ada jawaban. Pesan-pesannya hanya centang satu.
Arga menggertakkan gigi, amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu.
“Rayhan...” gumamnya penuh tekanan.
Tanpa membuang waktu, Arga berlari keluar, masuk ke mobil, dan menyalakan mesin. Instingnya berkata, Rayhan adalah dalangnya.
Arga melaju menyusuri jalanan malam, matanya awas memperhatikan setiap kendaraan mencurigakan. Detak jantungnya berpacu seirama dengan deru mesin.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam melintas cepat. Nalurinya menjerit.
“Itu dia.”
Arga menginjak gas lebih dalam, mengejar mobil tersebut. Kejaran dimulai di tengah malam yang lengang. Lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan bayangan panjang di sepanjang jalan.
Rayhan melirik spion, melihat mobil Arga semakin mendekat.
“Cepat juga,” gumamnya kesal.
Ia menekan pedal gas, mencoba menjauh. Mobil melaju kencang, berbelok tajam memasuki jalan sempit di pinggiran kota.
Alya di kursi belakang mencoba melepaskan ikatan di tangannya. Air matanya mengalir, namun ia berusaha tetap kuat.
“Arga pasti datang,” bisiknya dalam hati.
Arga tak mengendurkan kecepatan. Ia mengendalikan setir dengan penuh fokus, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menyelamatkan istrinya.
“Bertahanlah, Al,” gumamnya.
Mobil Rayhan berbelok ke arah kawasan industri yang sudah lama tak digunakan. Bangunan-bangunan tua berdiri seperti saksi bisu kejahatan yang kerap terjadi di sana.
Rayhan menghentikan mobil di sebuah gudang kosong. Ia menyeret Alya keluar, membawanya masuk ke dalam bangunan gelap itu.
Tak lama kemudian, suara mobil berhenti di luar. Arga turun dengan langkah tergesa. Matanya menyapu sekitar, mencari tanda keberadaan Alya.
“Rayhan!” teriak Arga lantang.
Gaung suaranya menggema di antara dinding gudang.
Rayhan muncul dari balik bayangan, mendorong Alya ke depan. Alya terhuyung, nyaris jatuh, namun Rayhan menahannya kasar.
“Lepaskan dia,” ujar Arga dengan suara tertahan.
Rayhan tertawa kecil. “Kau pikir semudah itu?”
“Apa maumu sebenarnya?” tanya Arga tegas.
Rayhan menatapnya dengan mata penuh dendam. “Kau telah merenggut segalanya dariku. Sekarang, aku hanya mengambil apa yang paling berharga bagimu.”
Alya menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. “Ga...”
Arga melangkah maju, namun Rayhan segera menarik Alya ke belakangnya.
“Satu langkah lagi, dan semuanya berakhir,” ancam Rayhan.
Arga menghentikan langkahnya. Napasnya memburu, emosinya bergejolak.
“Kita bisa bicarakan ini,” ujar Arga berusaha tenang. “Lepaskan dia. Aku yang kau inginkan, bukan Alya.”
Rayhan menyeringai sinis. “Terlambat.”
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Seorang pria paruh baya muncul dari kegelapan. Tatapannya tegas, wajahnya penuh garis keras kehidupan.
“Cukup, Rayhan.”
Arga tertegun. Matanya membelalak.
“Ayah...?”
Pria itu melangkah mendekat. Sosok yang selama ini menghilang dari hidup Arga, kini berdiri di hadapannya.
“Sudah lama aku mengawasimu,” ujar ayah Arga dengan suara berat. “Dan malam ini, semuanya harus berakhir.”
Rayhan menegang. “Tuan, ini bukan urusan Anda.”
“Justru ini urusanku,” jawab pria itu. “Kau telah melangkah terlalu jauh.”
Situasi semakin menegang. Alya memanfaatkan kelengahan Rayhan, menggigit tangannya dan berusaha melepaskan diri. Rayhan terkejut, refleks melepas cengkeramannya.
“Al!” teriak Arga.
Dalam sekejap, Arga berlari menghampiri Alya, memeluknya erat. Rayhan tersentak, mencoba mengejar, namun ayah Arga menghalanginya.
“Sudah cukup,” tegasnya.
Rayhan menatap mereka dengan amarah yang membara. Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melarikan diri ke dalam kegelapan gudang.
Arga mengusap wajah Alya yang basah oleh air mata.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya cemas.
Alya mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja...”
Arga memeluknya lebih erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Di belakang mereka, ayah Arga berdiri terdiam, menatap anaknya dengan perasaan campur aduk.
“Maafkan ayah,” ucapnya lirih. “Ayah seharusnya ada di sisimu sejak awal.”
Arga menoleh, matanya berkaca-kaca. “Kenapa ayah baru muncul sekarang?”
“Ayah ingin melindungimu dari jauh,” jawab pria itu. “Tapi ternyata, caraku salah.”
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya suara angin malam yang berbisik di antara bangunan tua.
“Yang penting sekarang Alya selamat,” ujar Arga akhirnya.
Namun jauh di dalam hatinya, Arga tahu—ini belum benar-benar berakhir. Rayhan masih bebas, dan ancaman itu belum sepenuhnya lenyap.
Malam itu, mereka pulang dengan langkah berat, membawa luka, trauma, dan harapan baru.
Dan di balik gelapnya malam, Rayhan bersumpah akan kembali..
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰