NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 MASAK BESAR

Suara langkah kaki Ibu terdengar cepat dari dapur, semakin lama semakin dekat. Tak lama kemudian, pintu kamar Ara terbuka. Cahaya matahari pagi menyusup lewat celah tirai membuat Ara menyipitkan mata.

Ibu berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat sedikit lelah matanya agak merah karena kurang tidur.

“Ara! Bangun Nak! Bangun sekarang juga!” serunya tegas seperti alarm darurat

Ara mendengus pelan, menarik bantal menutup wajahnya “Hah… Bu… masih pagi banget…”

Ibu mengangkat alis “Masih pagi? Jam delapan itu pagi atau siang coba?” katanya setengah geli setengah kesal “Ayo bangun. Ayo bantuin Ibu soalnya hari ini ibu sibuk”

“Apa sih yang penting…” gumam Ara sambil menguap panjang

Ibu duduk di tepi kasur, mengelus rambut Ara lembut namun tegas “Kita mau masak buat makan siang pegawai di kandang. Kata Ayah beberapa sapi terjual kemarin. Jadi mau syukuran kecil. Kamu kan lagi pulang dari Jakarta masa cuma tidur terus?”

Ara berguling malas “Syukuran kecil aja kan Bu. Beli nasi padang juga bisa…”

Ibu tersenyum tipis “Pegawai di kandang itu sudah seperti keluarga. Masak sendiri itu lebih berkesan lagian, kamu katanya kangen suasana kampung”

Ara membuka sebelah mata, lalu menghela napas panjang.m “Yaudah… tapi jangan protes kalau masakanku gagal dan aku nanti gangguin Ibu”

Ibu terkekeh “Belum apa-apa sudah pesimis. Ayo kita lihat nanti siapa yang lebih jago”

Dengan langkah berat, Ara akhirnya turun dari kasur. Ia membuka tirai lebar-lebar. Halaman rumah terlihat cerah ayam berkokok di kejauhan. Suasana kampung terasa hangat dan damai.

Di dapur, aroma bawang goreng dan rempah sudah menguar. Ibu sibuk menyiapkan bahan. Daging sapi, sayuran, dan sambal tersusun rapi di meja.

“Ara tolong potong sayurnya. Jangan tebal-tebal” kata Ibu sambil menyerahkan pisau

Ara memegang talenan dengan hati-hati “Bu ini licin deh… aku takut jariku kepotong”

Ibu tertawa kecil “Kamu itu terlalu takut. Pegang yang mantap jangan ragu dan tetap fokus”

Ara mulai memotong perlahan. Sementara itu, Ibu menumis bumbu. Aroma harum segera memenuhi dapur.

“Wah… lapar banget aku” ujar Ara sambil menghirup aromanya

“Nggak boleh curi start” sahut Ibu “Kalau lapar, makan roti dulu. Nanti kita makan bareng”

Ara tersenyum tipis. Meski tadi malas bangun, kini ia mulai menikmati suasananya.

“Bu… kok Ayah dan pegawai nggak pernah bosan ya makan masakan Ibu?” tanyanya.

Ibu tersenyum tanpa berhenti mengaduk “Karena masaknya pakai hati. Kalau niatnya baik rasanya beda”

Ara terdiam sejenak, hatinya terasa hangat

“Makanya kamu belajar” lanjut Ibu santai “Siapa tahu nanti kamu masak untuk keluargamu sendiri”

Ara pura-pura acuh “Kalau ada suami nanti, semoga dia nggak rewel dan gak komplain kalo aku gak terlalu bisa masak”

Ibu tertawa “Rewel atau nggak, yang penting kamu tulus ngelayani dia”

Beberapa jam kemudian, masakan hampir siap. Panci besar berisi sayur dan daging tersusun rapi. Ara mulai merasa bangga melihat hasil kerja dia dan Ibunya.

“Cukup nggak ya buat semua?” tanya Ara dengan nada sedikit khawatir

“Cukup. Kalau kurang, tambahin nasi yang penting kebersamaan” jawab Ibu ringan

Mereka membawa masakan ke kandang, dibantu Ayah dan beberapa pegawai. Bangku panjang sudah disusun. Suasana terasa ramai dan hangat

“Wah Ara pulang dari Jakarta langsung turun dapur!” goda salah satu pegawai.

Ara tersenyum malu “Masih belajar Pak”

Ibu menatapnya bangga “Nah jangan cuma jadi anak kota”

Tak lama, syukuran kecil dimulai. Ibu membagikan piring, Ara membantu menyajikan lauk

“Ayo makan dulu semuanya” kata Ibu dengan nada ceria

Saat mengambil sambal, Ara mencicipi sedikit “Bu, pedas banget nggak sih?”

“Namanya sambal harus pedas” jawab Ibu sambil tertawa

Ara diam-diam menambahkan sedikit air. Namun tangannya hampir terpeleset dan panci sedikit menetes ke lantai.

“Astaga! Hampir tumpah” serunya panik.

Pegawai yang melihat justru tertawa “Santai Ara!”

Ara ikut tertawa, meski pipinya memerah. Ia segera membersihkan lantai.

Tak lama, semua duduk makan bersama. Angin siang berhembus pelan, membawa aroma rumput dan tanah. Suara tawa bercampur denting sendok.

“Enak Bu!” seru salah satu pegawai.

“Itu Ara yang bantu” kata Ibu bangga.

Ara menggeleng cepat “Cuma bantu sedikit kok selebihnya yang masak Ibu”

Ayah tersenyum “Sedikit-sedikit lama-lama bisa”

Hati Ara terasa hangat. Ia menatap sekeliling—langit biru, sapi merumput, wajah-wajah yang tersenyum tulus.

“Bu… ternyata seru ya” bisiknya

Ibu menoleh lembut “Karena ini rumahmu, Nak”

Ara tersenyum. Ia teringat kehidupan di Jakarta yang sibuk dan bising. Di sini, semuanya terasa lebih sederhana, tapi lebih penuh.

Salah satu pegawai bercanda “Nanti kalau sudah menikah, jangan lupa bikin sambal begini ya”

Ara tersedak kecil “Ih, Bapak ini…”

Semua tertawa. Ara pura-pura fokus ke piringnya tapi dalam hati ia teringat rencana minggu depan.

Setelah selesai makan, ia membantu membereskan piring—kali ini tanpa insiden.

Saat kembali ke rumah membawa panci kosong, langkahnya terasa ringan.

“Bu… makasih ya udah bangunin aku tadi” katanya pelan.

Ibu tersenyum lembut “Iya karena suatu hari nanti, kamu akan kangen momen seperti ini”

Ara terdiam. Angin siang menyentuh wajahnya.

Langkah mereka pelan menyusuri jalan setapak menuju rumah. Panci-panci kosong bergoyang ringan di tangan Ara, beradu pelan setiap kali ia melangkah. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya lebih lembut dibanding pagi tadi.

Sesampainya di dapur, Ibu langsung merendam peralatan masak. Ara ikut membantu tanpa diminta membilas piring besar, mengelap meja, lalu menyusun kembali kursi yang tadi dipakai.

“Tumben nggak langsung kabur ke kamar? Apa gak capek?" goda Ibu sambil tersenyum.

Ara tertawa kecil “Gak ah biar cepet selesai takut Ibu ngomel kalo gak bantuin. Capek sih… tapi enak capeknya”

Ibu berhenti sejenak, menatap Ara dengan mata lembut “Capek karena berbagi itu memang beda rasanya”

Ara mengangguk pelan. Ia sendiri merasakannya lelahnya bukan karena terpaksa, tapi karena ikut ambil bagian.

Setelah dapur kembali rapi, Ibu menyeduh teh hangat. Mereka duduk berdampingan di ruang makan yang kini lebih sunyi. Dari luar terdengar suara sapi di belakang rumah walaupun jauh jaraknya tapi suaranya terdengar sampai sini dan sesekali angin menyapu dedaunan.

“Ara” Ibu membuka percakapan pelan “kamu senang hari ini?”

Ara memutar cangkir tehnya sebentar sebelum menjawab “Senang, Bu. Ternyata hal sederhana begini bikin hati penuh”

Ibu tersenyum tipis “Hidup itu memang bukan soal besar kecilnya acara tapi soal kebersamaan”

Ara menatap meja kayu di depannya. Ia teringat pagi tadi saat ia mengeluh malas bangun. Sekarang rasanya seperti momen itu jauh sekali.

“Bu… dulu waktu aku kecil, kita sering begini ya?” tanyanya tiba-tiba

Ibu tertawa pelan “Sering. Kamu malah dulu paling semangat kalau ada acara di kandang. Lari-lari ke sana ke mari”

Ara tersenyum mengenang “Sekarang malah kebanyakan tidur”

“Namanya juga sudah besar” sahut Ibu lembut

Kalimat itu membuat Ara terdiam sejenak.

Sore makin turun. Cahaya jingga masuk dari jendela, memantulkan bayangan mereka di lantai. Rumah terasa tenang, hangat, dan akrab.

Ara berdiri lalu memeluk Ibu dari samping.

“Bu… makasih ya”

Ibu terkejut kecil, lalu membalas pelukan itu “Untuk apa?”

“Untuk semuanya”

Ibu tersenyum, menepuk punggung Ara perlahan.

Malamnya, setelah mandi dan berganti pakaian, Ara duduk di tepi tempat tidurnya. Tubuhnya lelah, tapi hatinya ringan.

Ia membuka jendela sedikit. Udara malam kampung masuk perlahan, membawa aroma tanah dan suara jangkrik yang bersahutan.

Hari itu sederhana. mata, senyum kecil masih terukir di wajahnya.

Pulang kampung kali ini terasa berbeda—bukan sekadar kembali ke tempat lama, tapi kembali ke bagian dirinya yang dulu.

Dan malam itu, ia tidur dengan perasaan damai.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!